BERKAH RAMADHAN TAHUN INI



Karya:  Lisnawati


Aku duduk termenung sambil terus menatap wajah ibu. Bagiku ibu adalah wanita terhebat, bahkan ia masih mampu dan terus berusaha menyekolahkanku sepeninggalan ayah. Ayahku meninggal dalam tragedi tabrakan beruntun yang terjadi delapan tahun silam. Saat itu ibu sedang mengandungku. Dan saat aku lahir aku sudah tidak bisa melihat bahkan merasakan kehadiran seorang ayah. Aku memandangi ibu yang tengah asyik mempersiapkan makan sahur.



“Ibu, Aisyah sayang sekali sama ibu,” ibu tersenyum saat mendengar aku mengatakan sayang.

“Sayang ibu lebih lagi besar,” jawab ibu sambil terus menyiapkan makan sahur.

Kami tinggal di sebuah rumah yang sangat besar. Ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga disana. Aku berteman baik dengan anak pemilik rumah itu. Dia seumuran denganku, aku sering bermain dengannya. Papa dan mamanya juga tidak pernah melarang Putri untuk berteman denganku. Suatu hari aku melihat Putri tengah merenung di dekat kolam renang di belakang rumahnya. Aku mendekatinya untuk menanyai ada apa gerangan.

“Putri, apa yang sedang kamu pikirkan? Ayo cerita sama aku. Kita kan teman,” aku terus berusaha membujuknya. Namun tampaknya ia masih tak mau buka mulut tentang persoalan yang sedang dialaminya. Aku juga tak berani terus memaksanya. Akhirnya aku menyerah dan beranjak untuk kembali membantu ibu di dapur.

“Errr.... Aisyahh,” Putri menarik lenganku untuk menahan kepergianku.

“Ayo Putri, katakan saja. Aku akan memberi solusi semampuku,” aku kembali duduk didekatnya dan bersiap mendengar semua curahan hati Putri.

“Ais, aku sebenarnya iri dengan kamu. Kamu sahur dan berbuka bersama ibumu. Sedangkan aku? Saat tarawih saja orang tuaku sibuk bekerja,” tak terasa Putri mulai meneteskan air mata.

“Putri, apa kamu sudah pernah membicarakan hal ini kepada kedua orang tuamu?” aku mencoba memberi saran sambil menyeka air mata Putri. Putri menggeleng pelan. Kemudian aku menyarankan kepadanya untuk membicarakan terlebih dahulu sebelum bertindak ke rencana selanjutnya. Aku memang sudah menyiapkan rencana B jika rencana awal ini tidak berhasil.

Setelah berterima kasih kepadaku, Putri segera beranjak untuk menghubungi mamanya. Namun, lagi dan lagi ia harus menelan kekecewaan saat mengetahui mamanya tidak menjawab panggilannya. Tidak hanya itu mamanya juga menonaktifkan ponselnya sesaat setelah Putri menghubungi. Belum juga menyerah, Putri kembali menghubungi ponsel papanya. Ternyata ponsel papanya malah sedang sibuk. Aku menghela nafas sesaat sebelum mendekati Putri.

“Sudah, lebih baik tunggu mereka pulang saja. Kalau ini juga tidak berhasil, ayo kita jalankan rencana selanjutnya,” aku berusaha menyemangati Putri. Melihat Putri dapat tersenyum kembali adalah kebahagianku juga.

Aku menarik lengan Putri untuk mengajaknya berbuka puasa saat terdengar adzan magrib berkumandang. Ia sangat bersemangat, terlihat dari ia mampu melahap habis semua makanan yang tersedia di meja makannya. Ibuku mengingatkan Putri agar tidak makan terlalu banyak makan mengingat kami akan melaksanakan shalat tarawih setelah maghrib. Putri hanya tersipu malu. Aku bahagia melihat Putri dapat sejenak melupakan masalahnya. Saat akan berangkat menuju masjid, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.

“Itu pasti mama sama papa,” Putri bergegas keluar untuk menemui orang tuanya.

“Ma, pa, ayo kita tarawih bareng. Mumpung belum adzan Isya,” rayu Putri sambil bergelayutan di lengan mamanya.

“Putri sayang, mama sama papa dirumah saja ya. Mama sama papa masih sangat lelah setelah rapat seharian,” tolak mamanya sambil mencium kening Putri. Putri menunjukkan wajah cemberutnya, namun sayang mama dan papa sudah tak lagi dihadapannya.

“Putri, ayo kita ke masjid, nanti kita gak dapat tempat lo,” aku merangkul pundak Putri dan membawanya menuju masjid, diikuti oleh ibuku yang selalu menemani kami tarawih. Aku sangat bersyukur karena papa dan mama Putri mengizinkan ibu untuk tidak bekerja saat jam shalat tarawih.

Sepulang sekolah aku dan Putri pergi ke beberapa tempat untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan usia kami.

“Putri, apa kau kekurangan uang jajan sehingga mencari pekerjaan seperti ini? Mana ada orang yang mau mempekerjakan anak seusia kita,” kataku putus asa. Aku mengajak Putri untuk menyerah.

“Aisyah, apa kamu sungguh berpikir ini untuk uang jajan? Ikut saja. Pada akhirnya kamu juga akan mengerti,” Putri kembali merangkulku dan mengajakku untuk mempercayainya. Melihat semangat yang terpancar di wajahnya aku tak berani mengatakan apapun lagi selain mengiyakan perkataannya dan percaya padanya.

“Tentu saja aku ikut. Kita kan teman,”

Aku merasa bahagia saat melihat Putri mampu tersenyum lepas seperti hari ini. Walaupun Putri sedang berpuasa bahkan ditengah terik matahari, ia juga tidak menyerah untuk mendapatkan pekerjaan. Aku semakin percaya bahwa apa yang dilakukan Putri hari ini bukan untuk sekadar uang jajan. Ia pasti menyimpan sesuatu yang hebat dibalik kerja kerasnya hari ini. Aku hanya berharap apapun yang sedang direncanakan Putri semoga saja semuanya berjalan lancar. Jadi, semangat dan usahanya hari ini tidaklah sia-sia.

Setelah lelah berjalan sampai sore, akhirnya Allah menjawab semua doa kami. Kami diterima untuk bekerja di sebuah kafe bintang lima yang tak jauh dari sekolah kami. Berdasarkan penjelasan direktur, upah yang akan kami terima tidak terlalu besar mengingat pekerjaan kami hanya office girl. Direktur kafe tidak mempercayakan anak sekecil kami untuk melakukan hal yang lebih dari itu. Padahal aku ingin membantah direktur tersebut karena meremehkan kami. Akan tetapi, Putri menahanku dan memintaku untuk bersabar. “Aisyah, sudahlah kita terima saja. Dari tadi kita berjalan akhirnya Allah memberi kita pekerjaan, yaa walau hanya sebagai office girl,” Putri mencoba membuatku mengerti. Aku berkali-kali mengucap istighfar saat mengetahui diriku telah menjadi seorang yang kufur nikmat. Putri menepuk-nepuk pundakku sebelum akhirnya mengajakku pulang karena kami baru aktif bekerja besok. Kami hanya diminta bekerja sehari sekali, yaitu ketika sore hari agar kafe terlihat bersih saat orang-orang akan berbuka puasa di kafe itu.

“Aisyah, dari mana saja kamu sayang? Kenapa hari ini terlambat?” ibuku terus menanyaiku saat melihatku pulang sore dan masih mengenakan seragam sekolah.

“Bahkan orang tuaku tak pernah mengkhawatirkanku,” Putri terlihat putus asa saat mengucapkan kalimat itu. Aku dapat menangkap dengan cepat perubahan di wajahnya. Aku mencoba mengalihkan perhatiannya. “Wuahh, sudah hampir buka nih, ayo cepat Putri kita mandi!”

“Benarkah?” dengan cepat Putri melupakan kesedihannya dan bergegas pergi ke kamar mandi. Aku dan ibu hanya mampu mengelus dada. “Putri itu anak yang kuat ya bu,” aku menggenggam erat tangan ibu. Aku tak bisa membayangkan jika aku berada di posisi Putri. “Anak ibu juga gak kalah kuat kok,” ujar ibu sambil mengelus-elus kepalaku tanda sayangnya padaku. “Aku merasa sangat bersyukur terlahir sebagai anakmu, ibu,” aku membalas ucapan ibu sebelum beranjak mandi.

Keesokan harinya, kami datang lebih cepat dari perkiraan sang direktur. Direktur tersenyum melihat kami benar-benar hadir. Akan tetapi, ia tidak sedang mempermainkan kami sehingga ia segera menyuruh kami untuk membersihkan seluruh ruangan kafe. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan direktur memberi kami upah. Kami memang meminta upah per hari mengingat kami tidak bekerja lama di tempat itu. Kami hanya akan mengumpulkan uang sampai sesuatu yang ingin kami beli tercapai. Begitulah kata Putri walaupun sampai saat ini aku belum tahu apa yang ingin Putri beli. Putri bahkan menyarankanku untuk membeli apa yang Putri beli nanti. Putri juga meminta untuk merahasiakan hal ini dari orang tua Putri juga orang tuaku. Aku lagi-lagi mengiyakan permintaan Putri karena aku merasakan sebuah rencana hebat sedang dirancang oleh Putri.

Hari ini tepat seminggu kami bekerja di kafe bintang lima tersebut. Banyak pengalaman yang kami peroleh dari sana. Kami juga mendapatkan banyak teman walaupun usia kami terlampau jauh dari mereka. Tetapi mereka benar-benar menyayangi kami bahkan kadang membantu meringankan perkerjaan kami. Walaupun lelah, aku dan Putri tidak pernah berpikir untuk membatalkan puasa sebelum magrib. Kami bahkan tidak pernah lupa untuk menunaikan shalat lima waktu. Setelah uang yang ditabung kami rasa cukup, Putri mengajakku berhenti bekerja. Banyak dari pegawai kafe tersebut merasa kehilangan kami. Mereka meminta agar kami sering-sering berkunjung. Bahkan direktur kafe itu berjanji akan memberikan makanan gratis setiap kami berkunjung.

“Saya dan Putri mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan kakak-kakak selama kami bekerja disini. Kepada bapak direktur, terima kasih sudah mengizinkan kami bekerja paruh waktu padahal kami masih sangat anak-anak. Untuk mempercayai kami, saya mewakili Putri mengucapkan terima kasih banyak,”

Setelah mengucapkan salam perpisahan, aku dan Putri menuju sebuah toko butik. Sedikit demi sedikit aku seperti paham apa yang akan dibeli oleh Putri. “Apa Putri ingin menghadiahkan mukena dan kopiah untuk orang tuanya?” gumamku pada diri sendiri. “Anak pintar,” Putri tiba-tiba hadir dan mengejutkanku. Ia segera menarik lenganku dan mengajakku melihat-lihat. Ia juga menyuruhku membelikan mukena baru untuk ibu. Setelah mendapatkan mukena dan kopiah yang cocok untuk orang tua Putri juga mukena untuk ibuku, Putri mengajakku pulang. Malam ini setelah berbuka puasa kami ingin segera memberikan hadiah ini kepada orang tua kami.

Namun sebelum Putri menemui orang tuanya, ia ingin terlebih dahulu melihatku memberikannya pada ibu. Aku menuruti permintaan Putri. Segera kutemui ibu yang baru saja menyelesaikan shalat Maghrib.

“Ibu, apa Aisyah boleh mengatakan sesuatu,” aku menghampiri ibu dengan perasaan malu-malu.

“Sayang, ada apa denganmu. Ayo katakan, apapun itu ibu akan tetap mendengarmu,” ibu menghampiri dan memelukku erat.

“Ibu, Aisyah membelikan ibu mukena baru. Ini dari uang Aisyah sendiri. Maaf karena tidak memberitahu ibu kalau Aisyah bekerja untuk ini,” aku mengatakannya sambil menunduk karena takut ibu akan tersinggung dan memarahiku.

“Sayang, harusnya Aisyah tidak perlu melakukan ini. Aisyah, tapi ibu bangga padamu nak. Ibu akan selalu menyayangimu. Terima kasih nak sudah hadir dalam hidup ibu. Terima kasih sudah terlahir sebagai anak ibu dan ayah. Kalau saja ayah masih hidup dan melihatmu tumbuh dengan baik, ia pasti akan sangat bangga padamu, seperti yang ibu rasakan saat ini,” ibu terus berkata-kata walaupun air mata haru telah membasahi mukena lamanya yang belum sempat ia lepas. Putri yang sedari tadi bersembunyi juga tak kuat menahan haru. Ia berharap orang tuanya juga akan mengatakan hal yang sama kepada dirinya.

Putri kemudian mengajak aku dan ibuku untuk menemaninya bertemu mama dan papa yang baru saja pulang bertugas. Ia mengetuk pintu perlahan sambil memegangi hasil dari kerja kerasnya.

“Oh, Putri, kamu datang disaat yang tepat. Mama dan papa baru saja ingin menemuimu untuk menanyakan sesuatu padamu. Kami harap kamu jawab dengan jujur,” perkataan papa membuat jantung Putri berdetak kencang.

“Apa benar kamu dan Aisyah bekerja paruh waktu di sebuah kafe?” tanya papa dengan nada tinggi. Mama hanya bisa mengingatkan agar tidak terlalu bersikap keras kepada Putri.

“Pa... Pa... Papa tahu dari mana?” Putri terus saja beristighfar dan menyebut nama Allah di dalam hatinya. Ia berharap emosi papanya dapat sedikit reda dan mau mendengarkan penjelasan Putri.

“Ahhh... Itu tidak penting. Apa uang jajan yang papa berikan tidak cukup?” tanya ayah kembali masih dengan suara lantang. Aku yang menyaksikan kejadian itu dari celah pintu merasa sangat kesal. Tetapi ibu melarangku ikut campur. Ibu yakin Putri akan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Putri melakukan itu untuk ini,” Putri mengeluarkan sebuah mukena dan kopiah yang sedari tadi disembunyikannya. Ia meminta papa dan mamanya untuk mendengarkan permintaannya. Dengan air mata yang terus mengalir putri mulai mengeluarkan suara.

“Putri ingin shalat tarawih bersama papa dan mama. Maka dari itu Putri membelikan papa dan mama mukena dan kopiah baru. Putri sedih saat melihat semua anak pergi tarawih bersama keluarga mereka. Padahal orang tua mereka juga sibuk, tetapi mereka masih menyempatkan waktu untuk melakukan itu bersama-sama. Aisyah, ibunya selalu menemani Aisyah tarawih, berbuka puasa bersama. Putri juga ingin melakukan itu bersama mama dan papa. Tetapi, mama dan papa tak pernah mau mendengarkan Putri,”

Putri kembali terisak saat mengakhiri ceritanya. Ia juga melihat papa dan mamanya menangis. Mereka lalu mengambil mukena dan kopiah dari tangan Putri. Putri segera memeluk kedua orang tuanya. Tak henti-hentinya mama dan papa mengucapkan kata maaf kepada Putri, mereka juga berterima kasih karena Putri tak pernah menyerah mengingatkan kedua orang tuanya. “Terima kasih sayang sudah hadir dalam hidup kami. Terima kasih sudah menyadarkan kami,” kata-kata yang sudah lama ingin didengar oleh Putri akhirnya terucap juga langsung dari mulut mamanya.

“Apa kita sudah terlambat untuk memulai tarawih malam ini?” tiba-tiba papa mengingatkan Putri dan mamanya untuk segera bersiap-siap.
“Putri rasa tidak,” jawab Putri sambil tersenyum.

Aku merasa sangat senang akhirnya Putri berhasil membujuk orang tuanya. Malam ini bukan hanya ibuku yang menemani aku dan Putri tarawih tetapi juga mama dan papanya Putri. Aku merasa sangat bahagia terlebih saat melihat ibuku mengenakan mukena baru pemberianku. Putri juga tersenyum sepanjang perjalanan menuju masjid, ia terus saja bergandengan tangan dengan orang tuanya. Hal yang baru pertama sekali dirasakannya, yaitu tarawih bersama orang tuanya. Keberkahan ramadhan yang kami rasakan tahun ini membuat aku dan Putri tak henti-hentinya mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah swt.


TAMAT

Komentar

share!