BAJU TURUNAN




Karya:  Nausagi

Anton mengintip dari balik pintu kayu berwarna coklat yang tidak tertutup rapat, disana kamar Ibunya. Ia bisa melihat Ibunya sedang sibuk dengan mesin jahitnya. Entah apa yang sedang Ibu lakukan; membuat baju atau apa. Anton ingin sekali masuk dan bertanya apa yang sedang Ibunya kerjakan, namun dalam hati ia berusaha menahan hal itu. 


Untuk kesekian kalinya, Anton melirik kalender usang satu-satunya yang tergantung di dinding. Seminggu lagi seluruh umat muslim akan merayakan hari Lebaran. Namun, hingga detik ini belum ada tanda-tanda Ibu akan membelikannya baju baru. Ia jadi teringat beberapa hari yang lalu saat hari terakhir sekolah, teman-temannya sudah sibuk bercerita tentang baju baru mereka yang sudah siap di lemari dan akan dikenakan pada hari Lebaran. Bahkan mereka punya beberapa setel baju untuk dikenakan hingga hari Lebaran ketiga.
Anton tak butuh banyak baju, satu setel baju saja sudah cukup untuknya. Yang penting ia bisa merasakan bagaimana rasanya memakai baju koko baru. Ia sadar keuangan keluarganya saat ini sangat prihatin, belum lagi Ibunya yang kini menanggung segalanya sendirian karena Ayahnya sudah tiada sejak Anton masih bayi. Tapi, sebagai seorang anak-anak yang masih duduk dikelas 4 SD, tidak bisa dipungkiri ada keinginan dalam hati untuk memiliki baju baru seperti teman-temannya.
“Bagaimana ini,” gumam Anton. Ia berjalan mendekati kursi kayu yang sudah terlihat rapuh dan duduk disana dengan lesu.
Adzan Ashar telah berkumandang, membuat Anton tersadar dari lamunannya. Sebelum Ibu menyuruhnya sholat, ia segera beranjak mengambil air wudhu kemudian mengenakan sarung, peci, dan berlari menuju Masjid yang terletak hanya berjarak dua rumah dari rumah kecilnya.
“Bu, Anton ke Masjid. Assalamualaikum!” ujar Anton setengah berteriak.
“Waalaikumsalam. Hati-hati, nak,” jawab Ibu dari dalam kamarnya.
Anton sudah biasa melaksanakan sholat fardhu berjamaah di Masjid. Ia juga ikut belajar mengaji dengan Ustad Imron disana. Ustad Imron dengan senang hati mengajarinya mengaji dengan gratis. Ia ingat betapa berterima kasih Ibu pada beliau sehingga dalam hati Anton bertekad untuk belajar mengaji sebaik mungkin.
Seusai sholat ashar, Anton memutuskan untuk tetap diam di Masjid. Ia ingin menenangkan hatinya yang gundah. Ia tidak ingin kembali ke rumah dengan perasaan sedih, Ibunya sudah pasti langsung menyadari itu.
“Assalamualaikum, Anton,” suara seseorang menyapanya.
“Waalaikumsalam, Ustad,” jawab Anton sambil mencium tangan Ustad Imron.
“Kenapa belum pulang? Hari ini, kan, tidak ada jadwal mengaji.”
“Anton mau duduk-duduk dulu disini, Ustad,” jawab Anton dengan wajah menunduk. Ia tidak berani menatap Ustad Imron, beliau pasti bisa menebak kesedihannya.
“Oh, begitu. Tapi kalau tidak ada lagi yang kamu kerjakan, lebih baik kamu bantu Ibu di rumah, Ton. Bantu menyiapkan untuk berbuka, misalnya,” kata Ustad Imron.
Anton mengangguk. “Iya, Ustad. Sebentar lagi Anton pulang.”
Mata Ustad Imron menyipit sambil melihat Anton. “Ada yang mau kamu ceritakan ke Ustad?”
Anton terdiam selama beberapa saat. Akhirnya ia memutuskan untuk menggelengkan kepalanya. “Nggak ada, Ustad.”
“Ya sudah,” Ustad Imron menepuk bahu Anton dengan pelan.
“Anton pulang dulu, Ustad,” ia pamit sambil mencium tangan Ustad Imron. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Anton berjalan kembali ke rumah dengan langkah gontai dan kegelisahan hebat dihatinya. Saat ini ia tidak mau menceritakan apa-apa pada siapapun. Biarlah ia menyimpan permasalahannya ini sendiri untuk sementara waktu.
***
“Assalamualaikum,” sahut Anton saat telah tiba di rumah.
“Waalaikumsalam. Anton, kesini sebentar, nak!” suara Ibu terdengar dari dalam kamarnya.
Anton berjalan menuju kamar Ibu. Sebelum masuk, ia diam sebentar kemudian menghela nafas. Apapun yang terjadi, ia harus terlihat biasa saja.
“Kenapa, bu?” tanya Anton sambil mendekati Ibu yang duduk didepan mesin jahitnya. Perut Anton terasa mulas saat matanya mendapati tangan Ibu yang memegang sebuah baju. Baju turunan. Lagi.
“Ini, Ibu baru saja selesai mengecilkan baju punya abang kamu. Bajunya masih bagus, seperti baru. Ayo dicoba dulu.” Ibu membentangkan baju koko putih ditangannya dan mendekatkannya ke tubuh kurus Anton. “Wah, pasti pas. Ayo, Ton, coba dipakai.”
Anton menunduk, ia berusaha keras menahan agar airmatanya tidak turun. Ia merasa sangat bodoh karena ingin menangis. Tapi, entah kenapa hatinya terasa begitu sedih saat mengetahui kalau lagi-lagi ia mendapat baju turunan. Padahal, ia ingin sekali mendapat baju baru khusus untuknya, bukan baju yang pernah dipakai abangnya lalu diberi padanya.
“Anton, kenapa?” Ibu mulai menyadari perubahan sikap Anton. Ia menarik lengan Anton dengan pelan dan mendudukkannya dipinggir ranjang. “Ada apa, nak? Ada sesuatu yang mengganggumu? Cerita sama Ibu.”
Mendengar ucapan Ibunya barusan, Anton tak kuasa menahan tangis. Ia berusaha menghentikan tangisnya dan menyeka airmata dengan punggung tangannya, namun bukannya berhenti menangis, ia malah semakin menangis.
Ibu sangat shock melihat anak bungsunya yang tiba-tiba menangis. Biasanya bocah lelaki itu tak pernah terlihat sedih, bahkan seringkali ia bersikap layaknya beberapa tahun lebih tua dari umur sebenarnya. Ibu segera merangkul Anton sambil menunggu anaknya kembali tenang. Ia sendiri kebingungan dengan apa yang terjadi.
“Bu…” panggil Anton pelan saat tangisnya sudah cukup reda.
“Kenapa, nak?” Ibu menyeka airmata yang masih tersisa di wajah tirus Anton.
“Bu, tak bisakah sekali saja Anton punya baju baru?” kata Anton terpatah-patah. Ia kembali menangis, bukan karena ia sangat menginginkan baju baru, tapi karena hatinya sakit setelah mengucapkan kalimat itu.
Ibu terdiam selama beberapa saat. Tanpa disadari, airmatanya ikut menetes. Kini ia tahu apa yang mengganggu fikiran anak bungsunya. Hatinya mencelos, rasanya ada lubang tak kasat mata disana. Dalam hati ia berpikir, mungkin ia sudah keterlaluan karena terus-terusan memberi anaknya baju turunan. Namun apa daya, ia tidak punya banyak uang untuk membeli baju baru. Uangnya habis untuk keperluan sehari-hari, belum lagi Edo, abang Anton, sudah menginjak bangku SMA dan akan segera kuliah. Ia harus banyak menabung demi Edo dan Anton.
“Anton, maafkan Ibu ya, nak. Maaf,” ucap Ibu lirih.
Jantung Anton terasa tertusuk saat mendengar permintaan maaf yang diucapkan Ibunya. Salah, seharusnya ia yang minta maaf. Ia sudah menjadi anak durhaka karena membuat Ibunya menangis.
“Ibu.. ta-tadi Anton tak sengaja. Anton menyesal, bu. Anton ti-tidak bermaksud begitu,” jawabnya dengan nafas memburu. Ia masih tidak dapat mengontrol bicaranya karena tangisannya membuat ia sulit bernafas.
Ibu menggeleng dan memeluk Anton. “Tidak apa-apa, nak. Memang seharusnya kamu punya baju baru sekali-kali. Ibu akan berusaha supaya kamu punya baju baru tahun ini.” Ibu membelai rambut Anton dengan sayang, kemudian mengecup kening anak laki-lakinya. “Sekarang, kamu simpan dulu baju ini, ya, untuk jaga-jaga.”
Anton mengambil baju yang disodorkan Ibunya. Ia masih menundukkan kepala, ia tidak berani melihat Ibunya yang menangis karenanya.
“Sudah, simpanlah bajunya di lemarimu,” kata Ibu.
Perlahan, Anton beranjak dan berjalan menuju kamarnya—kamar dia dan abang. Dirumahnya memang hanya ada dua kamar kecil. Namun, ia dan abang menempati kamar yang lebih luas dari kamar Ibu. Ibu bilang, mereka lebih baik mendapatkan kamar yang lebih luas karena mereka menempatinya berdua.
Dikamar, Anton membentangkan baju itu dengan tangannya yang kurus kering. Ia mendekatkan baju itu ke tubuhnya dan melihat pantulan sosoknya dicermin. Sebenarnya, memang baju itu terlihat seperti baru. Mungkin Ibu sudah mencucinya dengan pemutih atau entah apa yang dilakukan Ibu sehingga baju itu terlihat seperti baru.
Anton melipat baju koko itu lalu menyimpannya dengan rapi di lemari pakaian yang juga digunakan berdua dengan abangnya. Ia duduk dipinggir ranjang dengan fikiran yang terbang kemana-mana. Masih terekam jelas diotaknya kejadian barusan dan betapa ia merasa sangat bersalah karena membuat Ibunya menangis sekaligus terbebani.
“Bodoh!” Anton berbicara pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya. “Dasar, anak durhaka!” desisnya.
Ia merebahkan diri dikasur sambil menatap langit-langit kamarnya yang berupa atap rumah. Lagi-lagi teringat olehnya wajah Ibu yang menangis. Jelas sekali ia sudah menyakiti hati Ibu. Anton menangis lagi, namun kali ini ia menutup wajahnya dengan bantal agar Ibu tidak mendengar tangisannya dari kamar sebelah.
***
“Anton, ayo bangun!” suara itu membuat Anton membuka matanya perlahan.
Anton membuka matanya lebar kemudian segera duduk. Terasa agak pusing dikepalanya karena bangun tiba-tiba. Ia mengucek matanya kemudian memicingkan mata. Dihadapannya ada Bang Edo yang sudah mengenakan pakaian rumah.
“Eh, abang sudah pulang,” kata Anton.
“Iya, sudah mandi juga. Ayo mandi, Ton! Sudah hampir jam 5. Kita disuruh Ibu susun makanan di meja untuk buka puasa. Hari ini ada tempe goreng kesukaan kamu,” tukas Bang Edo sambil menyisir rambutnya.
“Ibu kemana, bang?” tanya Anton dengan kening berkerut.
Edo mengedikkan bahu. “Abang tidak tahu. Tadi waktu abang sampai rumah, Ibu bilang mau pergi dulu. Katanya cari kerja tambahan karena ada keperluan. Kamu tahu keperluan apa?” Edo duduk disamping Anton dengan tatapan penuh tanya.
Anton menggigit bibirnya, ia panik. “Anton mau nyusul Ibu, bang!”
“Eh, kamu mau kemana!” Edo segera menarik tangan Anton, membuat adiknya duduk kembali. “Emang kamu tahu Ibu kemana?” tanya Edo dan Anton menggeleng. “Ada apa, Ton? Kenapa kamu mau nyusul Ibu?”
Wajah Anton terlihat makin panik dan pucat. Namun akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu Edo apa yang terjadi. Ia akhirnya menceritakan tentang baju turunan untuk Lebaran dan merasa bersalah karena sepertinya Ibu mencari uang untuk membeli baju koko baru.
Edo menghela nafas saat adiknya selesai bercerita. Dari sudut mata, ia bisa melihat Anton yang menatapnya dengan takut. Ia menepuk bahu adiknya itu. “Ton, abang tak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya. Memang, ucapan kamu pasti bikin Ibu sedih. Kamu tahu sendiri kan, kita bukan orang kaya yang punya banyak uang.”
“Iya bang, makanya Anton menyesal,” jawab Anton sambil menunduk.
“Tapi, kamu masih anak-anak, Ton. Ada kalanya kamu mau memiliki apa yang teman kamu punya. Lagipula, abang sadar kalau selama ini baju kamu turunan dari abang semua.”  Lagi-lagi Edo menghela nafas. “Sayangnya, kita tidak bisa memaksakan apa yang kita mau. Kita harus menahannya, Ton. Sekarang, lebih baik kita berusaha untuk belajar yang rajin supaya nanti bisa jadi orang sukses. Jadi, kita bisa bikin Ibu bahagia dan kamu bisa beli baju baru sendiri.”
“Iya, bang. Anton minta maaf, Anton menyesal, bang,” jawab Anton dengan suara bergetar. Ia jadi ingin menangis lagi. “Anton pasti akan belajar yang rajin. Anton akan sukses supaya bisa bikin Ibu senang.”
Edo tersenyum dan mengacak rambut adiknya. “Anak pintar! Sekarang, jangan lagi pikirkan masalah baju itu ya, Ton. Kamu harus tahu, Ibu tidak pernah bermaksud untuk tidak membelikan kamu baju baru. Abang dibelikan karena abang anak pertama, jadi tidak ada yang bisa nurunin baju ke abang. Ngerti?”
“Ngerti bang.” Anton mengangguk.
“Sekarang kamu mandi dulu lalu bantu abang bereskan meja sambil menunggu Ibu pulang. Ibu bilang cuma pergi sebentar.”
***
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Anton dan Edo. Anton segera berlari menuju pintu rumah setelah mendengar suara Ibunya.
“Ibu,” panggil Anton sambil memeluk Ibu.
Ibu terlihat bingung. “Kenapa, nak?”
“Ibu, Anton minta maaf ya, bu. Ibu tidak perlu beli baju baru untuk Anton. Baju yang tadi sudah cukup kok, bu. Bajunya juga masih bagus.”
“Anton…” Ibu berjongkok menyejajarkan tingginya dengan Anton. “Tadi Ibu sudah berusaha cari tambahan uang. Misalnya memang ada, Ibu akan membelikan baju baru—”
“Tidak usah, bu!” potong Anton.
Ibu menggeleng sambil mengusap kepala Anton. “Kalau ada, berarti memang rezeki itu diberi Allah untuk membelikan kamu baju. Seandainya memang Ibu tidak bisa mendapat uang, terpaksa kamu harus memakai baju tadi. Mengerti?”
“Ngerti, bu,” jawab Anton. “Tapi Ibu tidak perlu memaksakan diri, bu. Tidak apa-apa kalau Anton pakai baju yang tadi.”
“Iya, Ton. Ibu tahu. Tapi tak apa sekali-kali membelikan baju baru untuk anak bungsu Ibu.”
“Maaf bu,” kata Anton sambil memeluk Ibunya lagi.
“Sudah nak, sudah,” bisik Ibu. Matanya berkaca-kaca.
“Ayo, kumpul di meja aja. Makanannya sudah kami tata loh, bu!” Edo datang sambil tersenyum kecil. Ia sendiri tak kuasa melihat adik dan Ibunya yang berpelukan, rasanya ingin sekali menangis dan memeluk mereka berdua juga.
“Ayo kita ke meja. Anak-anak Ibu memang pintar!” Ibu berdiri dan menggandeng tangan Anton, menuntun anak bungsunya menuju meja makan bersamaan dengan adzan maghrib yang berkumandang.
Bagi Anton, ada yang berbeda dari Ramadhan tahun ini. Perbedaannya, ia menjadi lebih bijak dalam bersikap dan lapang hati dengan keterbatasan yang ada. Sekarang, ia tidak peduli apakah bajunya turunan atau tidak, yang penting ia bisa menikmati senyum bahagia diwajah teduh milik Ibunya.
***

Komentar

  1. wah bener2 nyentuh banget! aku bahkan netesin air mata pas ibunya anton minta maaf. keren banget nih Nausagi!! aku juga sering baca cerpen2 Nausagi di blok peibadinya. emang keren2 cerpennya!! <3

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!