Baju Lebaran Untuk Sang Inspirasiku




Karya:  Putri Amalia

Aku menatap kesal pecahan botol parfumku yang telah pecah, dan berserakan diatas lantai kamarku. Dengan perasaan kesal yang berkecambuk dalam diriku, aku berteriak memanggil sebuah nama yang sangat ku yakini telah memecahkan botol parfumku. “Nissaaaa!” Tak lama setelah namanya ku panggil, sesosok gadis kecil masuk ke dalam kamarku. Ia menatapku takut, lalu menunduk dan membisu. “Ini pasti ulah kamu kan?” Suaraku semakin tinggi menambah rasa takut dalam batin adikku itu. “Maaf ka”. Ucapan singkat adikku itu membuatku kian memerah. Dengan sesegera aku mencubit cuping telinganya, lalu mendorong badan mungilnya keluar. Kulihat dari bola matanya keluar beberapa butiran air mata, butiran air mata itu membuatku sedikit merasa bersalah.



“Kenapa si jann? Kok marah-marah sama adiknya?” Ujar seorang perempuan paruh baya mendekati aku dan Nissa yang sedang berada dalam suasana getir.

“Tanya aja sama dia!” Aku mengarahkan pandanganku ke arah nissa. Gadis kecil itu menundukkan kepalanya, dan air matanya terlihat semakin deras keluar dari matanya. Ummi menyeringaikan bibirnya kearah Nissa, lalu melirik kearah pintu kamar Nissa. Sebagai tanda agar Nissa kembali ke kamarnya.

Aku Mengernyitkan dahiku, dan menjadikan pintu kamarku sebagai tumpuan punggungku bersandar. Kulihat Ummi telah beberapa detik menatapku tanpa berkata sepatah katapun padaku. Aku mencoba menerawang pikiran Ummi. Marahkah Ummi padaku, karena telah memarahi Nissa seorang gadis kecil berumur 5 tahun hanya karna sebuah parfum yang baru ku beli pekan lalu. Analisaku mengenai apa yang dipikirkan Ummi terus mengada-ada. Selesai menatapku, digapainya jari-jemariku hendak mengajakku menuju kamarnya.

Aku memasuki kamar yang dipenuhi dengan wallpaper polkadot itu, lalu duduk di pinggir kasur yang sudah tertata rapi dengan sprei bermotif garis-garis. Setelah menemukan sebuah map biru dari rak bukunya, Ummi menghampiriku.

“Apa itu mi?” Ujarku mulai penasaran.

“Nanti dulu! Sebelumnya Ummi mau Tanya Janna puasa gak?” Ummi menatapku curiga seolah-olah aku adalah orang yang baru melakukan kesalahan.

“Ya, puasa lah mi! Aku belum makan dan minum sejak subuh tadi kok!” Aku sedikit membentak Ummi, karena rasa tersinggungku. Ummi seolah-olah tidak percaya akan ibadah yang kulakukan ini.

“Tapi, kenapa Janna marah-marah terus?” Ummi menatapku dan terlihat sedikit menahan marah karena bentakkanku tadi.

“Sesuatu yang bikin aku kesel, pasti aku marah-marah lah mi.” Aku mulai merasa kesal. Pertanyaan Ummi seolah-olah memojokkanku tentang pertengkaranku dengan Nissa tadi.

“Sayang, puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum, tapi kamu juga harus menahan hawa nafsu kamu. Jaga hati kamu, jaga mata kamu, jaga telinga kamu, dan jaga lisan kamu! Ingat loh Allah gak suka sama hambanya yang suka marah”. Ummi mulai menceramahiku. Aku sudah berkali-kali mendengar perkataan itu, namun aku hanya mendengar dan tak pernah ku cerna apa maknanya.

“Aku udah tau mi!” Jawabku masam, Ummi hanya tersenyum, lalu, menyodorkanku sebuah map yang sudah dipegangnya sedari tadi. Aku menerima map itu, namun mataku masih memandang Ummi mencoba menerka apa yang Ummi rencanakan dan apa isi dari map ini.

Aku membuka map pemberian Ummi, lalu kubaca kata demi kata. Setelah setengah kubaca isi map itu, aku merasa telah memiliki tanduk di kepalaku. Alisku mengkerut, bola mataku seperti akan lepas dari rongganya. Aku bangkit dari dudukku, lalu membuang map berisi formulir masuk Pesentren yang sudah diisi dengan identitasku itu diatas kasur.

“Maksud Ummi apa? Ummi gak mau liat aku lagi? Ummi benci sama aku gara-gara aku udah marahin anak nakal kesayangan Ummi itu? Kalau Ummi gak mau liat aku lagi, aku akan pergi, tapi bukan dengan cara ngusir aku secara halus gini mi! aku gak mau pisah sama temen-temen sekolah aku!” Bentakku pada Ummi. Ummi berusaha menenangkanku dengan mengelu-elus pundakku.

“Ummi cuma ingin kamu jadi lebih baik lagi dan lebih tau tentang agama”. Perkataan Ummi yang dibuat untuk meredam emosiku malah membuatku semakin bertanduk. Apa menurutnya aku bukan anak yang baik? Segala macam pikiran negative melayang-layang di kepalaku.

Aku melepaskan tangan halus Ummi dari pundakku dan berlari menuju kamarku “Kenapa aku harus memiliki seorang ibu yang begitu pilih kasih?” Keluhku dengan air mata yang mulai membanjiri pipiku sambil menatap sebuah bingkai bertulisan nama Allah didinding dekat pintu kamarku.

***

Aku  keluar dari kamarku dengan menggunakan kemeja panjang putih, rok abu-abu dan jilbab putih yang menutupi rambut panjangku. Aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar rumah. Dari belakang kudengar suara langkah kaki semakin dekat mendekatiku sambil memanggil namaku, akupun membalikkan badanku menghadapkannya kepada wajah Ummi. “Kamu naik angkot aja ya Jann, Ayah mau anterin Nissa ke rumah sakit jadinya gak kerja, dan gak bisa berangkat bareng” Ujar Ummi sambil memberikan uang bernominal 20 ribu padaku. Aku sama sekali tak menyeringaikan bibirku menyambut ibuku dan meminta tambahan uang jajan seperti biasanya. Hatiku begitu resah setelah mendengar perkataan Ummi mengenai Nissa. Ingin rasanya bertanya. Ada apa dengan Nissa? Namun rasa kesalku mengenai kejadian kemarin pada Ummi dan Nissa mengalahkan rasa resahku terhadap Nissa. “Gausah! Aku masih punya uang!” Ujarku, menolak uang Ummi, karena menyadari uang simpananku yang telah lama kusimpan untuk membeli handycam incaranku. Aku melengos lalu pergi tanpa mencium punggung tangan Ummi. Apalagi berpamitan dengan ayahku.

Diperjalanan menuju sekolah yang jauhnya kira-kira 2 km dari rumahku, aku melihat seorang gadis kecil yang dapat dilihat dari postur tubuhnya berumur 8 tahun. Dengan menggunakan kaos dan rok panjang yang terlihat kusam sambil membawa karung yang ukurannya lebih besar dari ukuran tubuhnya ia berjalan menyusuri trotoar jalanan. Aku terus memperhatikan gadis kecil itu dari dalam angkot sambil mengingat Nissa yang mungkin sedang merintih sakit entah apa sakitnya. Tak lama, ditengah lampu merah saat itu, tanpa disengaja karung besar yang dibawanya jatuh ke jalanan. Beberapa kali gadis itu mencoba mengambil kembali karungnya namun badan kecilnya agak kesulitan menarik karungnya ditambah beberapa kendaraan yang mulai berlalu-lalang karna lampu lalu lintas sudah menampilkan warna hijau. Dengan perasaan iba yang mulai mencabik hatiku melihat anak yang mengingatkanku pada Nissa itu kesulitan mengambil karung yang menurutnya amat berharga itu, aku segera turun dari dalam angkutan umum yg kutumpangi dan mengeluarkan uang senilai 3 ribu dari sakuku dan langsung menghampiri anak itu. Tiba didekatnya aku mulai mencoba memberhentikan mobil yang hampir melaju menabrak karungnya, dan dengan sesegera mengambil karungnya namun beberapa barang-barang bekas didalam karungnya mulai berhamburan dijalanan dan cukup sulit untuk diambil satu-persatu karna ramainya kendaraan yang melintas pada saat itu.

“Terima kasih ka.” Ujar anak itu setelah menerima karungnya dari tanganku. Mata anak itu masih tak lepas pada kardus dan botol-botol kecil yang sudah berhamburan dijalanan dan telah tertindas oleh kendaraan yang  berlalu lalang.

“Sini biar kaka bantuin bawa karungnya. Ukuran karungnya terlalu besar buat kamu,” aku menawarkan diri. Rasa ibaku mulai melekat dihatiku.

“Gausah ka. Kakak mau sekolah kan?” Tolak gadis kecil itu lalu tersenyum manis padaku.

“gak apa-apa kok. Nanti kakak izin aja kesekolah. Biar kaka bantuin aja daripada barangnya jatuh lagi, gimana?” ujarku berharap gadis kecil ini menerima niat baikku. Gadis kecil itu terdiam. Aku menganggap diamnya adalah perwakilan kata ‘Ya’. Akupun mulai membantunya menjinjing bagian kiri karungnya dan gadis kecil itu menjinjing bagian kanan karungnya.

***

Aku dan gadis kecil yang ternyata bernama Rara ini tiba dijalanan bertanah yang sedikit digenangi air. Aku dan Rara sudah cukup jauh berjalan. Bahkan aku hampir tidak bisa menahan rasa hausku dan berniat membatalkan puasaku. Namun, aku melihat sebuah wajah yang mulai diguyuri keringat tanpa lelah dan tanpa keluh dari bibirnya berjalan dengan semangatnya agar dapat memperoleh segenggam uang yang menurutnya amat berarti. Melihat Rara itu aku mengurungkan niat burukku membatalkan puasaku.

“Apa kamu sering jalan jauh gini?” Aku menatap gadis kecil nan kuat itu. Rara mengangguk sambil tersenyum manis padaku. Ia tak terlihat lelah walaupun keringat mulai mengguyurinya. Ia tak terlihat haus dan lapar walaupun matahari nan terik melandanya. Aku seolah-olah ingin menutup wajahku yang terlihat begitu lemah dihadapan gadis belia nan kuat ini.

“Kamu gak haus dan lapar?” Tanyaku lagi yang mulai penasaran apa yang membuat gadis yang masih belia ini begitu kuat jika harus terus berjalan sejauh ini dengan keadaan berpusa dan matahari yang memancarkan cahaya panasnya.

“Enggak kok kak. Aku udah biasa nahan haus dan lapar dibulan puasa ataupun bukan” perkataan itu menggiringku ke dalam suasana haru. Gadis kecil yang harus bekerja padahal anak-anak seusianya tak mungkin sekuat dia. Bekerja dan berpuasa.

“kak, itu tempatnya!” Rara mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah tempat yang dipenuhi tumpukkan botol-botol dan kardus-kardus bekas.

Rara mengajakku mempercepat langkahku. Tiba ditempat itu Rara segera menghampiri laki-laki yang sedang duduk dan mnyerahkan karung bawaannya. Laki-laki itupun menimbang karung rara, lalu memberikan rara uang pecahan 30 ribu rupiah. Setelah menerima uang itu Nampak senyum dibibir rara. Namun, matanya terlihat murung.

“Kamu keliatan sedih?” Ujarku. Namun, Rara belum menjawab. Ia berjalan menuju sebuah pohon teduh dan duduk dibawah pohon itu. Aku mengikutinya dan masih menunggu jawabannya.

“Dari kemarin aku sengaja kumpulin barang-barang bekas itu sampe banyak. Supaya bisa beliin ibu obat dan beliin ade baju lebaran, tapi beberapa barang-barang yang udah aku kumpulin malah jatoh dan aku Cuma dapet uang 30 ribu dari pengepul.” Rara menatap uang pecahan 30 ribu digenggamannya. Kini wajah yang sedari tadi terlihat begitu tabah dan manis, berubah seketika bagaikan awan mendung yang akan menurunkan rintik-rintik hujannya.

“Memangnya ibu sakit apa?” Tanyaku semakin iba.

“Aku gak tau ka. Ibu sering batuk-batuk dan sering pingsan. Aku kasian sama ibu kalo terus batuk-batuk apalagi sampe keluar darah. Aku pengen banget ibu sembuh. Dan aku juga pengen liat ade bahagia dengan beliin dia baju lebaran. Dia gak pernah beli baju baru semenjak ayah meninggal.” Rara menunduk. Namun, aku masih dapat melihat tetesan air mata Rara. Tanpa kusadari air matakupun ikut terjatuh menndengar niat baik Rara. Ia masih begitu belia tapi sudah menjadi tulang punggung keluarganya. Dengan keadaan yang sangat menyesakkan dada, ia tak pernah mengeluarkan ucapan keluh kepada tuhannya, ia tak pernah lelah walaupun berbagai rintangan kehidupan harus dilalulinya. Ia juga memiliki rasa kasih sayang yang sangat besar terhadap keluarganya.

“Sabar ya Ra! Allah pasti akan nyembuhin ibu dan kasih adik kamu baju baru suatu saat nanti” Aku berusaha menghibur Rara. Begitu banyak hal yang ingin kutanyakan pada Rara namun aku tak ingin membuatnya semakin mengingat bagian sedih dikehidupannya.

“Rara, kaka boleh kerumah kamu liat ibu sama adik kamu?” Rasa ingin tahuku mengenai kehidupan yang terdengar kelam dari anak tabah ini semakin melekat di kepalaku. Rara hanya mengangguk tanpa berkata.

***

Aku masuk kedalam sebuah rumah kecil yang hanya diisi oleh kasur lantai dan lemari ukuran kecil. Sebuah mukena ukuran dewasa digantung didinding yang terbuat dari kayu bilik ini. Sebuah Al-quran yang cover nya sudah tak ada diletakkan diatas lemari kecil disamping kasur lantai. Tak terlihat ruangan lain selain ruangan yang terlihat seperti kamar tapi dapat dikatakan sebagai ruang tamu pula. Tak ada TV, bangku, meja, bahkan kompor. Kudengar dari Rara ia memiliki tungku masak dengan bahan bakar kayu dibelakang rumahnya dan kamar mandi kecil yang letaknya berada dibelakang rumahnya juga, namun tanpa atap.

Didalam rumah itu seorang perempuan yang belum terlihat terlalu tua namun, sudah sedikit beruban sedang berbaring diatas kasur lantai dengan sarung sebagai pelindung tubuhnya dari rasa dingin yang dapat menyentuh tubuh lemahnya, Ia tertidur dengan wajahnya yang terlihat pucat pasi. Mendengar ucapan salam dibarengi suara pintu yang terbuka, wanita itu membuka matanya dan menyambut anak kesayangannya itu pulang. Wajahnya tersenyum namun hatinya tak tega harus melihat anak yang ia banggakan harus merelakkan masa depannya untuk menghidupi keluarganya.

Dulu kehidupan Rara tidak sekelam ini. sebelum ibu Rara sakit, ia adalah seorang buruh cuci dikampungnya. Dan ayah Rara adalah juru parkir di suatu mini market. Walaupun gajinya tak seberapa namun ayah dan ibu Rara sempat bisa menyekolahkan Rara di suatu SD negeri. Namun saat Rara menginjak kelas 2 SD, ayah Rara meninggal dunia karena penyakit yang Rara dan keluarganya sendiri tak tau apa. Keadaan ekonomi yang memaksa mereka menahan diri dari memeriksa kesehatan ke dokter. Selang 3 bulan dari kematian ayah Rara, kesehatan ibu Rara semakin menurun. Rasa lelah, dan keseringannya saat pingsan, bahkan batuk-batuk darah yang melanda ibu Rara memaksa ibu Rara berhenti menerima order baju kotor dari tetangga. Sehingga hanya Raralah harapan keluarga satu-atunya mengingat adik Rara yang masih sangat kecil.

“Ibu abis pingsan lagi?” Rara menghampiri ibunya dan mencium tangan ibunya.

“Ndak ko ndok, tadi Cuma sedikit pusing masuk angin aja kali. Ini siapa toh ndok?” Ujar ibu Rara mencoba menghilangkan rasa khawatir pada diri Rara.

“Assalamualaikum bu, aku temennya Rara.” Aku ikut mencium punggung tangan ibu Rara. Ibu Rara tersenyum ramah padaku. Terdengar suara langkah kaki adik Rara menghampiri kakanya menanyakan baju baru pada kakanya.

“Mba Rara gak bawa baju baru buat lebaran?” Suara mungil itu menatap Rara penuh harap.

“Iya, nanti mba bawain. Lia sabar dulu. Pasti nanti mba beliin. Lia mau liat ibu sembuh dulu kan? Mba beli obat dulu buat ibu. Abis itu mba janji akan beliin Lia baju lebaran. Puasanya dulu ya dijalanin.” Ujar Rara pada adiknya itu. Tak henti aku ucapkan kata ‘Subhanallah’ dalam hatiku. Rara gadis berumur 8 tahun dapat begitu bijaksana pada keluarganya. Tak pernah marah pada adiknya walau beban yang dipikulnya begitu berat. Aku begitu malu aku adalah wanita berumur 16 tahun, namun kekuatanku hanya sejengkal dari kekuatan Rara. Kebijaksanaanku hanya secuil kebijaksanaan Rara. Mataku berkaca-kaca melihat keluarga ini. Melihat keteguhan hati Rara.

Aku baru dapat mencerna apa arti puasa. Bukan hanya sekedar menahan makan dan minum. Dalam puasa ini aku dapat merasakan apa yang Rara rasakan setiap hari. Seringnya ia menahan makan. Menahan nafsunya dari perbuatan buruk. Betapa baiknya Allah menghindarkan orang-orang berpuasa dari perbuatan keji. Orang-Orang seperti Rara yang keadaannya sangat memprihatinkan saja dapat taat akan perintah Allah mengapa aku tidak?.

Aku mulai mengingat Ibuku dan Nissa yang sedang sakit dirumah. Hasratku mulai mengajakku pulang dan ingin rasanya memeluk Nissa, dan mencium ibu sambil mengucapkan kata maaf yang memang seharusnya ku katakan.

***

Aku menapaki kakiku diatas lantai rumah yang sudah tak asing bagiku. Ku lihat kearah arloji di tanganku, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku melirik ke seluruh sudut ruangan mencari Ummi dan lainnya. Namun tak dapat kulihat dari pandanganku. Aku mulai mencarinya ke kamar Ummi dan ayah. Namun, tak ada satupun makhluk hidup disana. Pikiranku terasa bercampur dengan penasaran dan kesedihan. Apa Nissa dirawat di rumah sakit? Akupun mulai mencari didalam kamar Nissa. Kubuka pintu kamar perlahan. Kulihat adik kecilku sedang berbaring diatas kasurnya sambil memeluk boneka bear coklat kesayangannya. Kulihat pula Ummi sedang mengambil obat yang akan ia berikan pada Nissa.

“Assalamualaikum, mi.” Aku mencium punggung tangan ibuku, dan mencium kening Nissa.

“Waalaikum salam. Kamu udah pulang? Alhamdulillah! Ayah lagi nyariin kamu. Ummi fikir kamu marah dan memutuskan kabur dari rumah, karena keputusan Ummi yang Ummi dan ayah ambil tanpa persetujuan kamu. Maafin Ummi ya Jann. Ummi gak akan maksa kamu ko.” Ummi memelukku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku benar-benar baru merasakan kasih sayang Ummi. Padahal Ummi sudah sering memelukku. Hatiku serasa baru terbuka setelah sekian lama terkunci.

“Maafin Nissa juga ya kak. Udah bikin parfum kaka tumpah dan pecah.” Nissa menatapku sedikit takut.

“Janna yang harusnya minta maaf. Janna yang udah sering marah sama Ummi, ayah, dan Nissa. Janna gak tau rasa syukur selama ini. Janna janji Janna akan nurut sama Ummi dan ayah. Janna juga gak akan marah-marah lagi sama Nissa.” Aku mulai menangis, Ummi ikut terharu dan semakin erat memelukku. Nissa hanya mengangguk lalu tersenyum manis kearahku.

***

“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar. Lailahailallah huallah huakbar. Allahuakbar Walillah ilham” suara takbir mulai bergema dan begitu indah terdengar di dalam telinga. Hari kemenangan dimana semua umat muslim merayakannya namun menyisakan rasa sedih karena harus meninggalkan bulan suci ramadhan yang begitu banyak rahmat dan berkah dari sang kuasa.

Saat burung-burung berkicau seolah menyapa selamat pagi padaku, dan orang-orang yang mulai sibuk berlalu-lalang untuk saling meminta maaf dan kebanyakan dari mereka mengenakan baju baru. Aku langsung teringat oleh salah satu inspirasiku. Gadis kecil yang kutemui 2 hari yang lalu. Aku sudah merencanakan untuk mengajak keluargaku ke rumah Rara. Akupun sudah membelikan Rara dan keluarganya baju baru yang kubeli dengan sebagian uang simpananku yang sebenarnya akan ku pakai untuk membeli handycam impianku. Namun, bagiku saat ini kebahagiaan Rara lebih berharga daripada sebuah Handycam.

Aku dan keluargaku tiba dirumah Rara. Sambil membawa 2 tas yang berisi kejutan untuk Rara dan keluarganya, kuketuk pintu Rara dibarengi ucapan salam dari bibirku. Tak lama seorang anak berpostur sepahaku membuka pintunya dan menyambutku dengan senyuman manisnnya. Lia mengajakku dan keluargaku masuk kerumah sederhananya. Kulihat Rara langsung menghampiriku dengan bahagianya lalu mencium tanganku, begitupun tangan kedua orang tuaku. Sedangkan ibu Rara langsung bangkit dari baringannya, lalu mengajakku dan keluargaku duduk diatas lantai yang sudah dibaluti tikar diatasnya. Keluarga itupun menyuguhi kami sepiring singkong rebus, dan air bening. Tanpa berlama-lama aku segera memberikan tas yang kubawa kepada Rara. Rarapun membuka tas itu, dan dengan bahagianya ia mengeluarkan baju-baju yang kubeli khusus untuk Rara dan keluarganya. Kulihat pula senyuman bahagia dari adik Rara dan Ibunya. Rara langsung memelukku “Terimakasih ka”. Betapa bahagianya aku melihat senyuman tulus dari bibir seorang gadis belia yang telah memberikanku suatu pelajaran yang amat mahal harganya.

Setelah beberapa lama aku dan keluargaku berbincang dengan keluarga sederhana yang tabah ini. Kami berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang aku memberikan uang yang kudapat dari Ummi, ayah dan sisa uang simpananku yang belum seberapa jika dibandingkan pelajaran yang telah kudapat. Aku memberikannya pada ibu Rara, kulihat matanya menjatuhkan air mata. Ucapan terimakasih terucap dari bibir ibu Rara. Aku bahagia melihat keluarga ini bahagia. Aku bahagia telah mengenal keluarga nan tabah ini.

Ucapan syukur pada tuhanku tak hentinya ku ucapkan pada tuhanku, karena petunjuknyalah aku bisa mengerti mana yang benar dan mana yang buruk. Karena rasa kasih sayangnyalah aku bisa merasakan nikmat yang begitu besar.

--SEKIAN--

Komentar

share!