BAJU LEBARAN UNTUK EMA.




Karya:  Zahramanda Al-Kahfi

Cahaya Ramadan telah datang menuntun pijakan kaki ini dalam pelarian menyambut waktu berbuka tiba, menuju rumah sederhana berlantai tanah dan bahkan tak  mampu bagi sang matahari kecil menerangi, hanya sekedar obor minyak kelapa yang menemani kami dalam penantian  pukulan bedug berbunyi. Inilah keluarga kami Sang Pengembara Ramadan, tiga pemuda yang mencari kesejahteraan. Ali Masyhad adalah anak tertua dari tiga bersaudara yaitu Marham Nabawi dan Humairi. Kami sering kali jengkel bahkan tidak suka ketika nama kami bertiga dipanggil bersamaan, karena jika dipanggil bersamaan nama kami menjadi ALMARHUM (Al-Mar-Hum). Masyarakat sekitar mungkin bingung untuk menyebut status kewarganegaraan kami, hidup tanpa akte kelahiran apalagi KTP  karena itu apakah kelahiran kami dianggap oleh Negara atau tidak, tapi kami bersyukur  mempunya orang tua yang selalu menganggap kami ada.


Tiga tahun berlalu penyakit itu mengantarkan sang ayah pada Sang Penciptanya, dan dari saat itulah Ali mulai memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga disamping ibunya yang sudah tua renta. Semenjak itu, Al memutuskan pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan yang lebih layak,  karena menurutnya disanalah kesuksesan dapat terlahir.” Ma, Ali mau minta restu merantau ke Jakarta untu,kerja! Jika Ali sukses, Ali janji tidak akan jadi macam Malin Kundang” Pintanya pada Ema,” Tapi Ali, tidak sebaiknya disini saja kau bekerja!” Jawab Ema,” Ma, tolong ijinkanlah Ali untuk kerja ke Jakarta! Ali ingin bisa belikan Ema baju lebaran.”, “ Masyaallah anaku , baiklah Ema ijinkan kamu pergi ke Jakarta, tapi jaga dirimu baik-baik ya!” pesan Ema untuknya.
Tepat pagi hari setelah shalat subuh Ali pergi ke Jakarta…..
Aroma Jakarta telah menyambut kedatangannya di terminal dan suasana berbedapun telah terasa olehnya. Segalanya tidak seperti apa yang ia harapkan pekerjaan , makan, dan tempat tinggalpun semuanya sulit apalalgi untuk seorang  pemuda kampung yang hanya lulusan SD. Enam bulan berlalu, status pengangguran yang ia miliki meningkat dari pemula menjadi penetap,  dari sekian penolakan bekerja yang Ali terima hanya satu pekerjaan yang awalnya memungkinkan, dan bahkan memaksanya bekerja yaitu untuk menjadi  seorang pengemis. Rekrutor pengemis itu merekrut para pendatang Jakarta yang berkemungkinan menjadi gelandangan termasuk Ali. Tapi tidak sedikit pekerja yang ia rekrut, kini telah menjadi pekerja yang sukses bahkan dengan omset melebihi gaji PNS. Tapi, Ali menolak untuk itu ia tidak ingin menjadi seorang peminta seperti mereka.
Di bawah teriknya badan Jakarta dan derasnya aliran keringat menuntun Ali ke sebuah persinggahan untuk sekedar manampung kelelahan. Di persinggahan itulah terlahir takdir pekerjaan baginya,  lewat surat kabar kusam mantan bungkus gorengan itulah berita lowongan pekerjaan berada  untuk menjadi seorang pedagang asongan di kawasan terminal Jakarta. Ali mencoba  melamarkan diri dan akhirnya setelah interview terakhir ia resmi diterima menjadi anggota pedagang asongan wilayah Jakarta.
Dua kali lebaran Ali menjadi pedagang asongan tapi tidak kunjung pulang kampung, karena apa daya tangan tak sampai apalagi untuk sekedar membeli sebuah baju lebaran untuk Ema di kampung. Menjelang Ramadan tahun ketiga, seperti biasa profesi Ali beralih jadwal dari siang menjadi malam menjelang waktu berbuka sampai sahur tiba, dan ketika fajar menjemput ia menjadi pemulung untuk membantu menyambung hidup.
Bulan Ramadan tiba,tradisi ngabuburitpun marak dijumpai dimana -mana dengan bermacam kegiatan dalam menanti pukulan bedug magrib berbunyi. Lain halnya dengan Ali dan para penghuni terminal lain, ketika sang mentari berjalan menuju upuk barat maka terminalpun akan berangsur sepi. Mereka tak pergi kemana, tapi mereka berlomba untuk menjadi yang pertama datang ke pasar, bukan untuk belanja atau berfoya-foya tapi hanya sekedar untuk mendapat takjil gratis dari seorang penjual yang dermawan. Setiap Ali datang, tempatnya selalu dipenuhi para manusia sejenisnya. Pemburuan takjil itu diikuti oleh banyak orang dan untuk mendapat takjil pertama mereka datang 2 jam lebih awal dan bahkan 1 menit sebelum adzanpun ada ialah sang pengasong Ali Marsyhad.
Bulan Ramadan tak  lengkap rasanya tanpa salat tarawih dan begitu juga dengan Ali.  Walaupun hanya pedagang asongan tidak mengurungkan niatnya untuk beribadah di masjid asongan juga, ia memilih beribadah di rumah Allah SWT yang lebih indah. Di Jakarta, tarawih tidak akan seru tanpa adanya kasus penculikan sandal dan dari saat itulah bukan hanya mahluk hidup yang mempunyai nama tapi sandalpun memunyai nama. Tapi Ali tak pernah khawatir tentang  hal itu, karena ia pikir hanya pencuri yang tidak sekolah yang berhasrat mencuri sandal butut milik seorang pengasong.
Tiga minggu menjelang lebaran Ali masih berjualan, dengan sekuat tenaga ia bekerja tapi tak kunjung pula uang terkumpul. Malam yang dingin dan lebatnya hujan yang turun menuntut Ali untuk mencari peneduhan sejenak  hingga ia terdampar pada sebuah persinggahan warung kopi, “Permisi mas, boleh minta air hangatnya?” pinta Ali disana,” Kopinya mau Mas?”Tanya sang pedagang pada Ali,”Gak usah  mas, saya bawa kopi sendiri ..!”jawab Ali sambil membuka jas hujan yang menutupi tempat dagangannya ,”Oh iya, tunggu sebentar”Balas sang pedagang dengan keramahannya. Secangkir kopilah yang menjadi menu sahurnya untuk hari ini, tiba-tiba pandangan Ali terpusat pada sebuah tayangan TV yang menampilkan acara quiz  hologram kopi dengan hadiah jutaan rupiah, dimana siapapun yang berhasil mendapatkan hologram emas pada kemasan kopi itu berhak mendapatkan hadiah. Semenjak itulah banyak orang berbondong-bondong membeli kopi untuk sekedar melihat kemasannya, tapi lain halnya dengan Ali ia tidak begitu berharap mendapatkannya, karena ia pikir hanya ada satu dari sekian kopi yang ada dan hanya orang beruntunglah yang akan mendapatkannya.
Dua minggu menjelang lebaran, dibawah pandangannya ratusan orang bersukaria mempersiapkan kedatangan hari raya, tapi Ali cukup berharap berada disana dan seperti biasanya disaat mereka disana maka Ali disini, ia sibuk membereskan dan membersihkan sampah kemasan-kemasan untuk ia jual pada pemulung lain. Pada  salah satu tumpukkan sampah itu tiba-tiba Ali melihat kilauan yang memantulkan cahaya matahari, yang ternyata itu adalah hologram emas  yang sekian banyak orang cari. Tubuhnya menjadi kaku seperti mayat dan mungkin jantungnya juga berhenti berdetak untuk sekejap, karena tidak tahu rasa syukur seperti apa yang harus ia lakukan.
Satu minggu menjelang lebaran Ali tidak lagi di Jakarta, tapi ia sedang dalam perjalanan menuju kampung halamannya di Aceh dengan membawa baju lebaran impian untuk Ema. Sekian lama Ali menunggu  dalam perjalanan yang panjang akhirnya  terketuklah pintu rapuh yang sudah lama ia tinggalkan tapi tidak ada tanda kehidupan didalamnya. Jantungnya mulai berdetak kencang dengan pikiran negatif di otaknya, kemudian terdengar gerakan lidi yang menyapu tanah dari sebuah tempat tepat di belakang rumah. Tanpa berpikir lama pijakan kakinya berlari menuju sumber suara, disana ia melihat seorang nenek yang tak berdaya dengan dua lelaki disampingnya dan akhirnya raganyapun bersuara,
“Ema…..Ali pulang..”sapa rindu sang anak ,“Ali?..Ali anak Ema? Alhamdulillah ya Allah anak Ema pulang.”Balas sang ibu,“Abang….dari mana saja kamu bang? “ serentak kedua lelaki itu memeluk Ali,”Ma, Mar dan Hum Ali mau minta maaf….Ali baru pulang… ini Ma Ali bawa baju lebaran untuk Ema… ”  Haru dan pilu menyelimuti keluarga Ali antara sedih dan bahagia  bersatu bak tercampurnya semua adonan kue yang rata dan tak dapat di pisahkan lagi.
Akhirnya, Ali dapat melaksanakan hari raya bersama keluarga dirumah dengan baju lebaran kebanggaan mereka. Walaupun dalam kesederhanaan keluarganya tapi ia yakin bahwa Ramadan bukan hanya lebaran, Ramadan bukan hanya kesedihan, tapi Ramadan punya cerita keajaiban.
Tamat

Komentar

share!