BABAK BARU DALAM HIDUPKU YANG ‘NIKMAT’




Karya:  Abdul Haris Lubis

Masa-masa SMA akan segera berakhir dan aku akan memasuki satu tahap baru di dalam kehidupanku. Berbagai pilihan yang harus kupilih mulai bermunculan, apakah aku akan bekerja atau sebaliknya memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebetulnya aku lebih mempersiapkan diri untuk menuju pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan berkerja, karena aku ingin memiliki ilmu yang cukup ketika nanti akan terjun ke dunia kerja. Akhirnya bersama teman-teman satu angkatan yang berencana untuk  melanjutkan pendidikan,  kami mulai mencari-cari informasi mengenai berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia terutama yang negeri dan mengenai cara yang digunakan untuk memasuki tahap seleksi. Sesungguhnya aku sangat ingin memasuki perguruan tinggi sebab akan memiliki kualitas yang sangat baik dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan swasta. Untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti Ujian Nasional dan juga seleksi masuk perguruan tinggi negeri, aku mengikuti kegiatan bimbingan belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah. Lambat laun, berbagai pendaftaran PTN dan PTS pun dibuka terutama yang menggunakan nontulis dan hanya menggunakan nilai rapor saja. Aku turut mengikuti seleksi dengan menggunakan nilai rapor tersebut di salah satu PTN di Yogyakarta. Pengumuman seleksi berdasarkan informasi-informasi yang terdahulu dilakukan sebelum dilakukan Ujian Nasional, sehingga akan menjadi penyemangat sekali jika sudah diterima sehingga tidak perlu pusing memikirkan lagi akan melanjutkan destinasi kemana selanjutnya. Benar saja, pada suatu siang di hari-hari terakhir menjelang ujian nasional guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah saya memanggil nama-nama siswa yang mengikuti seleksi tersebut. Awalnya, saya tidak mengetahui maksud dan tujuan beliau memanggil kami. Akhirnya, dia menuturkan dengan sejelas mungkin mengenai seleksi yang satu bulan lalu diikuti sudah diumumkan mahasiswa yang diterima. Saya sangat excited sekaligus degdegan mendengarnya. Berdasarkan penerimaan tahun sebelumnya, saya berpikir bahwa saya dan teman yang mendaftar akan diterima semua karena sangat sedikit yang mendaftar. Tetapi, kenyataannya berbeda. Ada kabar baik dan buruk yang harus diketahui dalam waktu yang bersamaan. Kabar baiknya adalah bahwa saya diterima pada seleksi yang dilakukan. Saya sangat senang mendengarnya dan mengucap syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan jalan-Nya. Namun, kabar buruknya adalah bahwa hanya saya saja yang diterima. Saya mengatakan bahwa kabar ini buruk sebab saya akan benar-benar mengurus semuanya sendiri tanpa ada teman yang dapat diajak sharingmengenai tetek-bengek selama awal perkuliahan hingga nantinya akan lulus. Namun, memang seperti itu adanya. Akhirnya, saya seorang diri mulai mencari informasi-informasi yang diperlukan dengan bertanya baik kepada institusi terkait maupun kakak kelas saya yang sudah terlebih dulu kuliah disana. Semuaya dimulai pada pertengahan bulan Juni, yaitu saya harus segera berangkat ke Jogjakarta karena harus melakukan daftar ulang dan menjalani masa matrikulasi. Pada keberangkatan ini, saya sangat excited saya tahu bahwa saya akan memasuki dunia yang baru, dunia perkuliahan dan memulai kehidupan yang lebih serius. Semuanya akan terasa baru dan saya akan tinggal jauh dari keluarga dan menjalani hidup yang mandiri. Sekali lagi, saya begitu senang menyambutnya sebab ketika dibangku sekolah hal ini yang saya inginkan, hidup jauh dari orangtua. Untuk pertama ke tempat menetap yang baru ini, saya diantar oleh ibu saya hingga ia akan kembali lagi ke Bekasi. Sesampainya di Jogja, keesokan harinya saya melakukan registrasi ulang dan akan memulai perkuliahan singkat (matrikulasi) pada hari senin. Pada hari minggunya, saya mengantarkan ibu saya ke stasiun sebab ia harus kembali lagi ke Jakarta untuk mengurus keluarga di rumah. Disini semuanya dimulai. Ya, semuanya benar-benar dimulai. Setelah keberangkatan ibuku ke Jakarta, semuanya terasa benar-benar berubah bagaikan tersengat listrik. Aku merasa benar-benar berada dalam kehidupan yang sangat asing dan tidak nyaman. Satu-satunya hal yang kuinginkan saat itu hanya ingin kembali ke tempat asalku. Aku tidak ingin melakukan apapun hari itu. Namun, karena hari mulai malam akhirnya aku menenangkan diri dan mencoba berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja. Besoknya, aku mulai masuk kuliah dan bertemu dengan orang-orang baru. Ya, bahkan benar-benar baru. Tidak ada satupun yang pernah kukenal sebelumnya disini. Tahukah apa yang kurasakan ketika masuk di hari pertama kuliah ini ? Ya, sama persis seperti kemarin ketika ibuku sudah pulang ke Jakarta. Pikiran itu kembali datang. Aku ingin pulang, sangat ingin. Aku merasa sangat menyesal dengan pilihanku ini. Sore harinya, ibuku menelepon dan menanyakan bagaimana kabarku hari ini. Tak banyak yang dapat kukatakan padanya. Bukan karena tak ingin, tetapi aku paling tidak bisa berbiara dengan ibuku dalam jarak yang berjauhan. Aku pasti akan menangis karena rindu padanya. Dan lagipula tak dapat kukatakan padanya bahwa aku tak nyaman disini, sebab ini adalah pilihanku sehingga aku harus membuat semuanya menjadi baik-baik saja. Percakapan kami selesai dengan sebentar kala itu. Bulan Ramadhan juga akan segera tiba dalam beberapa hari ke depan. Itu berarti aku harus menjalankan ibadah puasa disini. Ya disini dan tanpa keluarga. Aku kembali menyesali pilihan yang telah kuambil ini. Masa matrikuasi sudah berlangsung dalam beberapa hari, keakraban dengan beberapa teman di kelas juga mulai terjalin. Banyak juga yang berasal dari luar kota dan mereka juga baik dan ramah. Selain itu, mereka juga bercerita bahwa mereka juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Apa itu ? Ya, betul. Homesick. HOMESICK. Bukan, bukan rumah sakit. Itu semacam perasaan rindu akan rumah ketika kita berada di tempat lain yang masih asing. Bahkan, salah satu dari mereka ada yang menangis setiap kali di kosan. Oh, iya aku baru ingat. Bahkan ada yang sampai pulang ke kota asalnya karena merasa tidak kuat untuk menjalaninya. Salah satu dosenku juga mengatakan bahwa itu homesick itu sebenarnya suatu hal yang sangat wajar. Beliau juga mengatakan bahwa ketika kuliah dulu ia mengalami hal yang sama dengan apa yang kita rasakan saat ini. 


Setelah beberapa hari, hari pertama puasa di Bulan Ramadhan pun datang. Malam ini, aku shalat taraweh di mushola yang dekat dengan kosanku. Setelah itu, aku membuka buku sebentar lalu tidur sebab pada dini hari harus bangun untuk sahur. Sekitar pukul 3 pagi, aku bangun karena alarm di handphoneku berbunyi. Akhirnya, aku mulai menyiapkan makanan untuk sahur. Karena kupikir akan banyak orang yang berjualan makanan saat sahur, aku pergi ke luar dan mencari makanan. Namun dugaanku salah, disini sangat sepi sekali pada waktu sahur dan tidak ada satupun orang yang berjualan. Akhirnya aku kembali ke kosan dan mamasak mie dan susu yang ada. Disini, aku lagi-lagi merindukan rumah. Aku merasa sangat sedih, ini adalah kali pertama aku berpuasa yang jauh dari orangtua. Aku harus menyiapkan makanan untuk sahur sendiri dan makan sendiri. Biasanya ketika di rumah ibuku yang akan menyiapkan semuanya, sedangkan ayahku akan membangunkanku dan kakakku dan kita akan makan bersama-sama di meja makan sambil menonton acara di tv yang menghibur di waktu sahur. Ah, aku benar-benar merindukan rumah. Makanan yang kumakan saat sahur ini seperti tidak memiliki rasa. Hambar. Lalu, ibuku meneleponku setelah sahur. Lagi-lagi tidak banyak percakapan yang kami lakukan karena aku tidak akan tahan dan akan membuatnya khawatir.
Masa-masa matrikulasi ini akan berlangsung selama satu bulan dan akan selesai beberapa hari sebelum hari raya iedul fitri. Aku berusaha menjalani semuanya meskipun benar-benar terasa berat. Sahur dan berbuka pun kulakukan meskipun tidak di rumah namun lama-kelamaan aku merasa hingga aku merasa “sedikit” terbiasa. Hingga masa-masa akhir perkuliahanpun datang. Aku sudah memesan tiket kereta untuk pulang. Aku sudah sangat ingin pulang ke rumah meskipun setelah idul fitri nanti aku akan kembali kesini lagi dan akan menghabiskan waktu lebih lama disini. Namun, aku tak memperdulikan hal itu. Dalam waktu dekat ini, aku hanya ingin pulang dan bercengkrama dengan keluargaku di rumah. Akhir matrikulasi ini akan ditutup dengan UAS sebelum akhirnya akan libur dalam beberapa minggu. Meskipun aku sudah sangat ingin pulang, namun aku tetap belajar dengan serius dalam menghadapi UAS. Aku tidak ingin perjuanganku selama satu bulan disini hingga menjalankan ibadah puasa jauh dari orangtua terbuang sia-sia dengan hasil yang nihil dan tidak memuaskan.
Ketika sudah berada di rumah dan masih dalam suasana bulan Ramadhan, aku sangat senang dan merasa sangat rindu dengan rumah ini. Oh Tuhan, aku kembali kesini. Aku dapat merasakan kembali sahur dan buka puasa bersama di rumah ini. Di luar kesedihanku selama di Jogja saat matrikulasi, ada begitu banyak pelajaran yang dapat kupetik. Suasana  Ramadhan ini benar-benar memberikan suasana yang berbeda. Ramadhan yang tidak pernah kuduga sebelumnya namun memberikan banyak pelajaran akan hidup. Aku belajar bagaimana hidup mandiri, aku belajar memahami bahwa aku sangat membutuhkan orangtuaku. Ketika di bangku sekolah, hampir setiap hari aku bertemu mereka sehingga semuanya hanya sebagai rutinitas. Disana dan aku tidak dapat melihat mereka setiap hari, dan ketika pulang aku ingin selalu dekat dengan mereka karena tanpa mereka aku takkan bisa. Hubungan kami menjadi lebih dekat dan intens, hal yang tidak terlalu kuperhatikan ketika aku duduk di bangku sekolah dulu. Dulu, aku selalu mengatakan bosan berada di rumah dan ingin main ke luar. Tetapi, setelah masa kuliah singkat itu aku hanya ingin berada di rumah dan menghabiskan banyak waktu bersama orangtua dan keluargaku. Waktu kebersamaan yang telah banyak kubuang. Aku juga mendapatkan banyak pengalaman baru disana. Mendapatkan ilmu baru, bertemu dengan orang-orang bar yang juga luar biasa. Ramadhan pertama menjadi mahasiswa ini memberikanku pengalaman hidup yang luar biasa, pengalaman yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku ingin bertemu denganmu tahun depan dan seterusnya, Bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah dan kenikmatan. Amin.

Komentar

share!