Ayam Gephok




Karya: Fadli Feros


Kemarin, Mei, kota, panas, ramai, kampus, kos, pagi, penjual roti goreng, dingin, ngantuk, mandi, sabun, shampoo, kamar mandi, dingin, teman, bersama, sarapan, keluar, beli, warung, 12.000, hangat, minum, kuliah, belajar, siang, lapar, istirahat, kantin, makan, 14.000,  berbincang, nunggu dosen,  sore, internetan, gazebo, banyak teman, masak, kos, patungan, 5000, nasi, sayur asem, tempe, tahu, ikan asin, olah raga, lari, lapangan, mandi,  rapat, organisasi, ngerjakan tugas, makan malam, musik, tidur, pagi, dan kembali lagi siklus ini. 


Sekarang, Juni, Juli, kota, panas, ramai, kampus, kos, teman, bersama, sahur, putar alarm, masak, patungan, 5000, nasi, minum, pagi, penjual koran, dingin, ngantuk, mandi, sabun, shampoo, kamar mandi, dingin, jalan, kuliah, belajar, bebas, sehari, pagi, internetan, siang, tidur, sore, internetan, terjaga, gazebo, banyak teman, menahan, lapar, sore, ngabuburit, jalan, berburu, ke masjid, kajian agama, mendengar, bertanya, kupon berbuka, ambil takjil, tarhim, sirine, magrib, kurma, sholat, kotak nasi, sedikit demi sedikit, es campur, es cendol, buah, nasi, kare, tempe, tahu, telur, daging, ayam, tarawih, masjid, baca quran, ngerjakan tugas, tidur, dikamar, sahur dan kembali lagi siklus ini hingga ke masjid yang lainnya.
Suatu hari aku dapat undangan untuk mengikuti pelatihan administrasi TOR dalam organisasi universitas. Aku ikuti acara tersebut dari pagi sampai sore. Wah laparnya.
Tapi aku tetap semangat. Ini demi UKM yang kupimpin empat bulan ini agar menjadi top markotop. Wiiw,  perut berkeroncong terus, melilit-lilit. Pokoknya hari itu lain dari biasanya. Lemes sekali. Sampai-sampai aku ngumel terus. Ih, ini kalo pelatihan umumnya, datang, absen, tanda tangan, masuk dapat minuman, snack, satu bendel kertas materi, pulpen, dan buku kecil. Tiiiiiiiiiiit. Istirahat, keluar, absen, dapat nasi kotak. Nyaman banget. Kalau puasa seperti ini gimana ya?
Eh ternyata. Acara ini memang didesain sampai sore agar semua peserta bisa dapat jatah konsumsi. Tak kuduga kalau ada jadwal berbuka bersama. “Nanti adik-adik jangan pulang dahulu, kita berbuka bersama disini. Jangan khawatir, pasti puas,” Pak Suharyono mengumumkan pada jam istirahat.
Jeng! Tapi apa yang terjadi?
Satu pemateri tak bisa hadir. Jadinya agenda acara maju satu jam. Yah, tak sampai maghrib dong. Aku sempat kecewa. Kecewa sekali. Kesempatan makan enakku hilang.
“Ya Allah, semoga panitia bisa bijak ya Allah!” Doaku dalam hati, meski aku berprasangka buruk sekali kalau nasi lezat itu akan melayang.
Ooooh, Allah mengabulkan doaku. Setelah acara ditutup, semua peserta disuruh keluar ruang, absen, dan …
Dan mengambil kotak putih ukuran 30x20x10 cm3. Ihiir, senangnya. Belum kubuka pun sudah tercium aroma lezat yang luar biasa. “Kira-kira apa ini isinya?” Aku menggoda Endah, sekertarisku.
Ahirnya. Pelan-pelan kuangkat bagian atas kotak. Sedikit demi sedikit kuintip sambil mencium-cium aromanya yang sedap. Tampak olehku warna kecoklatan seperti sesuatu habis digoreng, atasnya bertabur abon atau apalah, kurang jelas. Dan. Waw, ayam Gephooooook Mastrip. Besar banget. Lengkap dengan sambalnya yang hijau.
Ini adalah yang kubayang-bayangkan sejak tadi. Pasti buka puasa kali ini mantab sekali.
Aku dan Endah berjalan pulang. Kebetulan tempat kosku sekompleks dengan kos Endah. Jalan Jawa VII, Gang Ronggolawe.  Oleh karena itu aku dan dia pulang bersama. Di perjalanan saling berckap-cakap sudah pasti. Tentang apalah-apalah pokoknya pasti ada.
“Mahasiswa pasti senang sekali kalo ada buka geratis.”
“Iya lah, jadi irit uang saku kan?” Endah menanggapi.
“Itu mengapa aku selalu ke masjid setiap sore seperti ini. Berburu takjil, eh, tidak hanya takjil, tapi sekalian nasinya.” Santai sekali aku ngomong. Memang itu kenyataanya.
“Kamu serius?”
“Serius dong, makanannya selalu enak. Menjelajah dari masjid satu ke masjid lainnya. Apa Kamu tidak mau juga? Oh ya, sekarang jam berapa?”
“Masih setengah lima, kenapa?” Endah menutup lagi Hp di tangannya.
“Ini, kita kan dapat sekotak ayam Gephok, kan. Besar pula. Dan makanan ini tahan lama kan? Bagaimana kalau kita ke masjid sekarang. Waktu masih ada. Dengan begitu hari ini kita akan buka dan sahur geratis. Ini nasi kita simpan saja buat sahur, sekarang kita cari yang baru. Buat berbuka.”
“Apa? Tapi boleh juga ide kamu. Apa lagi aku juga ingin tahu rasanya berbuka di masjid. Sekalipun aku tak pernah.”
Tralaaa…
Ahirnya aku dan Endah ke kos hanya untuk menaruh kotak nasi ayam Gephok yang didapat dari pelatihan, kemudian bersiap untuk  nyus ke masjid.
Wah, tapi Endah ternyata tidak jadi ikut. Saudaranya datang.
Sendirilah aku berjalan. Kali ini kutuju masjid Sunan Kalijaga. Katanya di masjid ini tak perlu ada kajian, langsung dapat.
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggggg!!!!!!!
Maghrib pun tiba.
Emmmmm, tapi kutengok-tengok kok tak ada kotak catering tersusun ya? Hanya cup-cup es blewah yang ada dan seember kue roti gulung. Jangan-jangan di masjid yang ini tidak ngasih jatah makan? Ya?
Tak semangat ini jadinya. Sholat berjamaah pun tak ikhlas sama sekali. Aku segera keluar masjid. Kembali lagi mengamati tanda-tanda keberhasilan misi yang kubawa. Dzikir imam sampai selesai.Tapi belum ada juga.
Putus asa sudah diriku. Sia-sia sudah aku datang di masjid ini. Gagal aku berbuka dan sahur geratis hari ini. Aku hanya bisa melambai-lambaikan tanganku seakan hatiku harus berteriak, selamat tinggal, aku kecewa padamu …
Wkwkwkw.
Untung saja aku belum sampai mengucapkan salam selamat tinggal itu. Rupanya ada bapak-bapak tampak kerepotan mengusung kotak nasi di sebelah pojok selatan. Sudah terlanjur su’udzon, tapi tak apalah, ini apalah-apalah yang aku mau. Pantang malu.
Astaghfirullahal’adziiiiiiim….!
Aku kalah cepat dengan anak-anak kecil. Mereka menyerbu dengan tangkas sekali. Aku kehabisan.
Aku hanya bisa pulang dengan perut masih lapar. Mau tak mau aku harus menyukuri nikmat yang sudah ada. Ayam Gephok itu.[]

Komentar

share!