AURA SEBUAH KEMENANGAN.




Karya:  DHINI KHATULISTIYANI

Memandang ke atas, melirik bunga yang mulai tumbuh dan mekar. Memperhatikan setiap detil tumbuh kembang bunga-bunga itu menjadi bijian yang beragam. Ramadhan ini bertepatan dengan musim semi negara tropis. Antara dinginnya angin dan hangatnya mentari. Aura tersenyum, hanya simpul, Sejak kecil Aura memang senang melakukan itu. Hening, tenang, berjalan kaki nampaknya menjadi momen magis tersendiri saat melewati sebuah jalan berpohon yang sama setiap harinya. Tak tentu apa yang dipikirkan, pohon selalu mengingatkannya pada kebebasan. Bayangan itu muncul, sosok Aura kecil yang selalu menginginkan saudara laki-laki, berlari kekanan-kekiri kesana-kemari.  Aura kecil selalu senang berpetualang, sekedar mengetahui ada jalan pintas sempit menuju rumahnya sudah cukup membuat si petualang Aura merasa dia-lah petualang sejati. Sekali waktu ia menceritakan dengan riang pada ibunya,


“ibu, ibu, tahu tidak aku tadi habis menyusuri jalan belakang rumah. Situ bisa tembus ke seberang sungai tanpa harus menyeberangi jembatan” atau,
“tadi aku menemukan sarang keluarga iguana di kebun belakang, mereka baik-baik” semua ia kata kan penuh semangat. Terkadang Aura kecil mendapat pujian mungil yang dapat membuatnya bahagia dan selalu ingin mencoba, namun tak jarang pula ia mendapat omelan atau kata yang mengecewakan,
“iya sudah tahu, itu memang sengaja di buat” juga,
“iya memang ada” kecewa, karena bukan Aura-lah yang menemukan pertama kali.
Akhir tahun, hujan, libur panjang, dan puasa pertama Ramadhan Aura. Semua pohon mangganya berbunga lebat, selanjutnya ia pasti membayangkan buah mangga yang lebat tanpa sehelai daun di pohon. Berkali-kali ia lirik kapan bunga itu mekar dan menjadi buah. Hari demi hari seperti keajaiban, hanya berselang semalam selalu ada yang ia temukan. Mulai dari tonjolan kecil,  tunas bunga, bunga kuncup kecil, bunga kuncup besar, kuncup terbelah, mengembang, mekar, gugur, sampai akhirnya menjadi bulatan kecil bakal buah. Semua di rekam erat-erat di memorinya. Sampai akhirnya Aura kecil sanggup berpuasa penuh tanpa mengeluh. Katanya,
“tak terasa kog kalau puasa” sejak saat itu Aura kecil selalu menantikan puasa Ramadhan untuk menemukan segala hal baru. Sempat ada kekecewaan di hati Aura, awalnya Aura kecil berpikir bahwa puasa Ramadhan selalu bertepatan dengan akhir tahun yang artinya ada hujan juga penuh hari libur. Tak ada lagi mematut-matut diri di depan cermin berdoa agar lekas dewasa memakai gincu merah, tas belanja, sepatu tinggi, ah, rasanya bahagia jika melakukan hal-hal yang dilarang untuk anak kecil. Kata ibu,
“Ramadhan itu bulan pengabul segala doa”, berdoa terus supaya selalu bahagia.  Mula-mula ia sedih, lambat laun Aura mulai sadar tak ada hal yang selalu berulang di waktu yang sama seperti apa yang dipikirkan.
Perlahan bayangan Aura kecil pudar. Ia berpikir, menengok ke belakang sambil menghela nafas panjang, sebuah gedung bujur sangkar pencakar langit berlantai 12 tidak besar namun tak bisa di bilang kecil. Masih terasa ada yang mengganjal di sini. Tempat tak diduga, keputusan yang diselali, keadaaan yang tak di harapkan, sering kali menjadi tidak pasti. Sudah banyak hal baru yang ia lewati semasa Ramadhan kali ini. Salah satunya pohon tempat dia diam berdiri tanpa tahu apa yang akan di perbuat.
Saat Ramadhan pertama menjadi mahasiswi rantau, sebuah beban yang pada akhirnya menemukan keluarga baru. Ada lagi Ramadhan saat kelulusan, kelegaan yang terasa saat berdesak-desak di bis sehari sebelum lebaran. Juga saat Ramadhan yang harus berpindah kota untuk melanjutkan kuliah tanpa di duga-duga, dengan tergesa-gesa. Ada Ramadhan yang menyedihkan saat kehilangan seluruh tugas akhir di dalam tas yang dicuri orang waktu melakukan sholat berjamaah di masjid kampus. Ramadhan ini, bukan hanya satu hal baru dan sudah puluhan kali ia melakukan sesuatu yang baru. Sekali lagi, yang ia bisa hanya menghela nafas panjang. Menyesal karena telah sengaja memutar kenangan.
Tak melulu mendapat keceriaan, bayangan Aura kecil tentang Ramadhan bahagia perlahan mengecil tapi masih tersisa. Dan ia masih berharap. Sisa-sisa remahan penuh semangat tak terduga masih bisa di kumpulkan.
“masih banyak waktu” gumamnya pelan. Memang masih banyak waktu namun kita tak akan pernah sadar kapan waktu akan berjalan cepat dan berlalu begitu saja tanpa permisi, terlebih berpamitan. Bahkan bunga jambu diatasnya sudah berubah menjadi primadona lalat, utuh, entah di dalam. Seperti dirinya.
Ingin berhenti namun sudah di tengah jalan, di maki pun masih sempat di lakukan. Seolah Aura sang penemu jalan kini sudah kehilangan kompas alaminya. Mungkin ini Ramadhan terberat Aura. Sudah di tengah, tapi belum berjalan kemana-mana. Mengira-ngira kemenangan apa yang akan di dapat pada akhir. Masih berharap bukan impian seperti ia mendambakan saudara laki-laki, sudah tidak mungkin. Tapi menjadi dewassa sudah ia rasakan, mulai hari ini.
Satu mimpi itu sederhana. Tak banyak mau, tak banyak tingkah. Yang berlebihan adalah pendapat orang. Berharap Ramadhan ini bisa terkabul nyatanya tak bergerak satu inchi pun. Ada salah dari bulan ini. Kenapa? Atau jangan-jangan saat bumi mencapai titik terjauhnya dari matahari saat itu pula semua terasa terbentang. Terjarak. Langit yang dicintainya hanya memberi dua bintang kejora di barat. Sebentar, sebentar saja mereka terbit tak lama lalu terbenam lagi.
Apa yang di lakukan tak pernah di rencanakan, mengalir seperti air sungai merindukan lautan. Aura juga rindu pada Lautan. Dulu ia pikir akan jadi yang pertama mengucapkan selamat tinggal, sekarang ia yang di tinggal. Benar-benar, bahkan ucapan selamat tinggal tak disampaikan. Mulai benci, bolehkah. Katanya Ramadhan akan terlalu melimpah berkah yang diturunkan. Dapatkah? Ini Ramadhan pertama Aura, tanpa teman, tanpa keceriaan, tak di harap seperti biasa. Gedung belakang ini, membuat Aura berpikir mau seperti apa lagi hidup Ramadhannya. Angin yang meniupkan diri mencoba menggugurkan helai-helai benang bunga jambu,
Bruk!!!
Buah kecil mendarat kasar di kepala Aura. Aura tersenyum,
“terima kasih telah menyadarkan ku” dilirik lagi gedung itu. Masih menghela nafas panjang. Mencoba menerima apa saja yang akan datang secara tak terduga untuk hari-hari kedepan. Mencoba untuk tetap bertahan meraih kemenangan, sendirian.
Seberapa banyak hal yang perlu kita lakukan untuk menjadi sesuatu menurut Aura adalah sesuatu yang tidak akan pernah kita tahu tanpa pernah kita mencobanya. Mungkin nanti atau Ramadhan ini, siapa yang tahu. Seoptimis apapun, menghilangkan sedih tak semudah menghilangkan bahagia dengan kesedihan.

Komentar

share!