Antara Reuni Teman dan Temu Kangen “Mantan”




Karya:  Anzdi Setya Pambudi

Bulan yang ditunggu-tunggu seluruh umat di dunia terutama umat muslim telah memasuki babak akhir, dalam bulan yang penuh berkah ini terselip banyak sekali cerita dalam setiap kesempatanya. Banyak orang yang mengelu-elukan bulan Ramadhan, mungkin karena bulan Ramadhan memang bulan penuh barokah. Banyak umat Islam ataupun non muslim yang merasakan manfaat yang sangat dalam di bulan Ramadhan ini. Bahkan, dalam Ramadhan, setiap umat muslim ataupun non muslim yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT dapat merasakan faedah dari bulan 1001 malam tersebut. Mereka serasa bergerak maju di jalan Allah SWT, dapat dilihat ketika masjid-masjid penuh dengan umat yang senantiasa berikhtiar kepada Allah SWT. 



Salah satu hal yang tak terlupakan ketika bulan Ramadhan adalah banyaknya reuni teman kelas, rekan kerja, sahabat, ataupun keluarga. Tujuan ini berguna untuk mempererat kembali tali silaturahmi yang sudah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan sudah tidak terhitung lagi seberapa lama mereka tidak bertemu dan saling tegur sapa.

“Siapa ini, kirim pesan malam-malam, di kontakku juga gak ada namanya, udah smsnya panjang banget, ganggu orang lagi main game aja !” gumamku dengan penuh kesal.
 Memang aku kalau main game saat tengah malam sampai menjelang pagi karena kuota internet yang tersedia di handphone hanya sebatas jam tersebut. Dan setelah kubaca pesan tersebut dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (karena kalau terlalu lama takut kalah dalam game) ternyata itu dari Rudi, sahabatku sewaktu SMA sekaligus ketua kelasku yaitu kelas 12 IPS A SMA Al-Kareem. Rupanya ia mengajak seluruh anak kelas untuk buka bersama di restoran D’Anz.
Dan Rudi mengajakku untuk menjadi koordinator acara tersebut karena sewaktu SMA, aku cukup akrab dengan banyak guru bahkan kepala sekolahku, karena dulu saat masih menjadi pelajar, aku lumayan aktif dalam segala kegiatan sekolah dalam hal membantu mencarikan donatur dan turut membantu kemajuan organisasi sekolah walaupun aku tidak pernah mau jika diajukan menjadi bagian organisasi sekolah.
“Gila lah Rudi ini, masak ajak-ajak buber kelas, mana di kelas ada mantan pacarku juga” cetusku dengan kesal.
Seketika setelah game yang kumainkan telah usai, aku pun membalas pesan Rudi dengan menolak ajakannya karena aku juga tidak mau kalau ketemu dengan mantanku itu. Mira Kusuma Wati adalah nama cewek yang kumaksud tersebut. Sudah lama aku tidak berkomunikasi dengannya semenjak aku putus cinta dengannya. Cewek yang dahulu ketika kelas 10 sangat kukagumi. Ia tak hanya cantik secara fisik, otak yang cerdik, dan pehamaman tentang agama yang kuat menjadikanku sangat terpesona dengannya.
Terutama yang kusukai darinya adalah ketika ia membaca Al-Qur’an, begitu merdu suara indahnya, tak pernah rasanya aku mendengar suara semerdu yang ia ucapkan. Sudah lama memang aku tidak mendengar suara indahnya terutama ketika ia menjadi qori’, ia memang sudah puluhan kali mengikuti lomba qori’ah, dan sejenisnya. Bahkan sudah tidak terhitung lagi piagam, piala, penghargaan yang disabetnya.
“Masyaallah, sungguh calon istri yang lengkap, bidadari surga yang bisa mengisi seluruh hidupku dengan segala keindahan, semoga aku mendapatkan istri yang sebaik, secantik, dan sholehah seperti halnya Mira” anganku dengan rasa rinduku terhadapnya.
Pernah aku menjalani hubungan asmara dengannya mungkin sekitar 1 bulan aku dan dia saling berkomunikasi baik melalui pesan singkat maupun saat di kelas. Saat di kelas itulah hal yang sangat kusukai, ketika ada mata pelajaran yang mengharuskan mengerjakan tugas secara kelompok, aku selalu berusaha menjadi teman dalam satu kelompoknya. Saat itulah, prestasiku juga menanjak naik, aku selalu berusaha mengunggulinya dalam segala mata pelajaran. Maklumlah, seorang cowok yang suka dengan cewek selalu tak mau dengan yang ia sukai.
“Sungguh saat-saat yang membahagiakan dalam hidupku bisa bertemu wanita yang spesial seperti dirinya, seakan tidak ada yang dapat menggantikan namanya di hatiku yang terdalam ini” pikirku dalam hati.
Hal indah itu berubah 180 derajat ketika aku menelponnya pada malam hari, niat dalam hati cuma tanya beberapa pelajaran yang kumengerti walaupun juga dalam hati terdalam juga merindukannya terutama suara indahnya. Saat itu, ayahnya mengatahui ketika aku menelponnya, karena ayahnya selalu melarangnya jika bertelpon malam hari dengan seorang cowok apalagi aku cukup sering telpon dengannya. Ayahnya memang cukup keras dalam mengajarinya, memang karena beliau merupakan seorang kiai di masjid Asy-Syuhada, masjid yang terhitung besar dan terkenal di kota kami.
Saat perbincangan dalam telepon sedang asyik terjadi, dan sayangnya saat itu kami sedang bercanda gurau, sehingga handphone Mira langsung diambil seketika. Aku yang sedang asyiknya mengobrol tiba-tiba mendengar suara lain dengan bernada tinggi.
“Hei, nak, jam berapa ini telepon anakku, sudah mulai kali ini jangan berkomunikasi dengan anakku lagi !” ucapnya dengan penuh amarah.
“Tapi, yah, aku kan cuma tanya pelajaran” ucapku dengan sedikit mengelak.
“Panggil yah, emang aku ini ayahmu” dengan nada kesal beliau langsung mengakhiri pembicaraan.
“Ya Allah, apa jadinya ini, salahku ini” kesalku dengan diriku sendiri.
Esoknya Mira bilang kepadaku agar menjauh darinya dan lebih fokus ke pelajaran di sekolah. Walaupun aku banyak mengiriminya pesan tapi tidak ada balasan darinya. Di sekolah pun ia selalu cuek terhadapku. Itulah yang menjadikanku kurang berkenan dalam acara reuni kelas.
Dengan berbagai alasan aku mengelak ajakan Rudi untuk ikut dalam acara reuni tersebut. Namun Rudi merayu aku berulang kali dan rupanya ia tahu alasanku tidak ingin ikut hanya karena Mira. Hingga akhirnya akupun bersedia untuk ikut karena Rudi juga sahabat terbaikku.
  Setelah aku dengan pasrah dijadikan Rudi sebagai koordinator, aku pun segera menghubungi wali kelasku, Pak Bowo tentang acara reuni yang kami adakan. Setelah banyak perbincangan dengan beliau, akhirnya Pak Bowo hanya bisa turut serta jika acara diadakan pada tanggal 20 November 2012.
Rudi pun menyetujui tanggal tersebut dan memberitahukannya kepada seluruh teman sekelasku agar dapat meluangkan waktu mereka sejenak untuk berkumpul setelah waktu yang cukup lama tidak bertemu.
Saat itu masih sebulan menjelang acara tersebut, dalam catatan Rudi sudah 25 anak dari total 35 anak yang telah membayar untuk acara reuni. Aku pun penasaran apakah Mira bisa datang ke acara tersebut. Dalam hati memang tersirat ingin bertemu namun dalam pikiran seakan menginginkan untuk menjauh darinya.
2 minggu telah berlalu dan telah memasuki awal puasa, pikiranku masih terbayangkan tentang Mira, ingin ku bertanya kepada Rudi namun takut akan di “bully” olehnya. Dan akhirnya, ku putuskan untuk mengajak Rudi keluar rumah untuk mencari alat-alat elektronika.
“Rud, kamu aja yang bonceng, daripada kamu main handphone terus dari tadi?”ucapku.
“Lagi asyik ini, ntar aja kali” ucap Rudi.
“Udahlah gantian , sini hape mu aku bawa aja” ucapku sekaligus ingin melihat catatan teman yang sudah bayar untuk reuni.
Setelah kulihat pesan Rudi dengan Mira, betapa kagetnya aku, ternyata Rudi berusaha mendekati Mira, banyak sekali kata-kata rayuan yang dilontarkannya kepada Mira. Terutama Rudi ingin mengajaknya ikut reuni dan berboncengan dengannya walaupun Mira tidak ingin mengikuti acara reuni. Dengan banyak tipu muslihat Rudi, akhirnya Mira menyetujui permintaannya. Dalam hatiku, tergambarkan betapa sakitnya ketika temanku sendiri dengan tega menusuk dari belakang. Di jalan hingga sesudah membeli alat-alat elektronika aku terus berdiam dan tidak banyak bicara.
Di rumah pun aku tak habis pikir apa yang dilakukan oleh Rudi, rasanya sudah tidak ada semangat untuk mengikuti acara reuni. Terbayang di pikiran ketika Mira dibonceng olehnya, mungkin hancur hati ini. Tiba-tiba terdengar suara telepon di handphone ku. Rupanya dari Sinta, teman akrabku saat SMP, sudah lama aku tidak tahu kabarnya.
“Hola, halo, ini bener Iwan kan ? yang dulu sukanya ngupil di kelas waktu guru lagi nerangin, hehehe ” tanya Sinta.
“Hadeh, iya bener, Sin, udah lama tak tahu kabar kau, ngelanjut dimana sekarang ?” tanyaku.
“Di Universitas Ciputra sekarang, wan, ayo ketemuan dong hari sabtu depan yah agak siang gitu lah jam 2 di Taman Keplaksari ?” tanya Sinta.
Aduh, tanggalnya pas waktu reuni kelas, ketemu ama Sinta aja biar gak sakit hati ucapku dalam hati.
“Iya deh, Sin, tapi ntar ... (tut tut tut) belum selesai ngomong teleponnya udah selesai” ucapku.
Kucoba untuk meneleponnya kembali namun sedang sibuk . Tak apalah, setidaknya ada yang menghiburku di kala kesedihanku. Hari demi hari kulalui, akupun sudah tidak terlalu memikirkan Mira dan lebih fokus untuk bertemu dengan Sinta. Pagi hari sebelum acara reuni, Rudi mengirimi aku pesan untuk bisa datang lebih awal agar bisa membantunya. Kuhiraukan pesannya karena aku muak dengan perbuatannya. Hingga selak beberapa jam, menanyaiku kembali berulang-ulang. Namun aku “ogah” untuk membalas pesannya. Setelah cukup lama, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang.
Aku segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Sinta, setelah semua persiapan terutama bunga mawar, karena kutahu kalau Sinta suka sekali dengan bunga mawar. Setelah selesai aku pun berangkat, sesampainya di tempat parkir taman, aku segera menelepon Sinta.
“Sinta, dimana kamu, aku di deket parkiran ini ?” tanyaku.
“Aku di ujung utara di taman bunga, di gazebo-nya” ucapnya.
“Oke dah, aku kesana” ucapku.
Sesampainya disana kulihat dari belakang seorang cewek berkerudung berpenampilan menarik. Dengan semangat, aku langsung mendekat kepadanya.
“Hai, cantik, sudah menunggu lama yah ?”tanyaku dengan membawa bunga.
“Lho, Iwan ? tanya cewek itu.
Ternyata cewek yang kusapa adalah Mira, betapa terkejutnya aku.
“Mira, kamu kok disini ?” tanyaku.
“Iya, aku diajak Rudi kesini terus disuruh nunggu dulu, kamu ngapain terus kenapa bawa bunga ?” tanya Mira.
“Haduh, pasti ini Rudi ama Sinta trouble maker-nya” cetusku dengan sedikit kesal.
“Cieee, balikan nihh, ciee ciee ciee” Tiba-tiba Sinta dan Rudi datang.
“Hei, apa-apaan kalian berdua, bikin orang malu aja” kataku.
“Sudahlah, wan, sekarang kan bulan puasa, kamu harus baikkan ama Mira” cetus Sinta.
“Bener tuh kata Sinta, lagian kan hari ini tepat setahun setelah kamu jadian ama Mira, kan ?”
“Kok bisa tau sih kalian berdua itu ?” tersirat rasa malu dan senang yang bercampur dalam benakku.
Di satu sisi aku senang karena bisa bertemu dengan Mira, namun disisi lain, cukup malu dengan perlakuan mereka yang memberi kejutan. Pipi Mira juga terlihat memerah dan itu juga membuatku semakin malu.
“Haduh, kalian ini, sudah ayo pulang saja” ucapku/
“Ayolah, wan, kesempatan tak datang dua kali lho, jangan sia-siakan kesempatan ini” ucap Rudi.
“Sudah lama kan kamu gak ketemu dengan Mira, masak gak kangen sih ?” ucap Sinta.
“Ya kangen juga sih” kataku dengan pelan.
“Ciee, Iwan ciee, kalo Mira gimana lho” cetus Sinta.
“Ah, kalian bikin malu aja, temen-temen” ucap Mira.
Aku pun dengan memberanikan diri meminta maaf kepada Mira.
“Mira, maaf yah kalo aku ada salah selama ini, mungkin aku bukan orang yang baik buat kamu, semoga hubungan pertemananku denganmu membaik” ucapku dengan sedikit senyum bahagia.”
“Iya, wan, aku juga banyak salah ama kamu, bukan kamu kok yang salah, jadi orang yang lebih baik aja berdasarkan agama kita, jadi temanku yang baik aja yah” balas Mira.
“Makasih, Mira, semoga kedepannya lebih baik, apalagi sekarang bulan ramadhan bulan penuh barokah”.
“Alhamdulillah, ini yang kutunggu, semoga kalian tetep istiqomah saling menjaga tali silaturahmi” ucap Rudi.
“Amiin, baikan terus yah kalian, jangan pacar-pacaran dulu, saling kenal aja dengan baik, saling mendukung satu sama lain” ucap Sinta.
“Iya Rudi, Sinta, terimakasih kalian udah mengembalikan tali silaturahmiku dengan Mira, kalian sahabat yang luar biasa.

Komentar

share!