Antara Jali, Frends dan Ramadhan




Karya:  Anggi maulana


Hari ini, sebuah jam,  baik jam dinding maupun jam tangan jadi pusat perhatian banyak insan umat muslim di dunia entah kenapa jam menjadi artis dadakan dunia. Apalagi ketika mendekati adzan magrib. Perut meronta ronta ingin ada asupan makanan bergizi. Begitupun apa yang dirasakan jali pengalaman pertama ia berpuasa saking tak kuatnya ia menahan lapar dan dahaga, jam dinding ia bawa ia peluk erat erat. Sebentar bentar ia lihat, peluk lagi, lirik lagi.
Andi sahabat sejatinya kesal dengan apa yang dilakukan temannya. Bukan apa apa itu jam dinding punya tetangganya.



Dengan penuh kesal namun ada sedikit gurauan ia berkata

" Sekalian aja nikahin tuh jam dinding"

“Iya, nanti kamu tang jadi penghulu ok”

. Dengan sangat lemas sambil tetap memeluk jam dinding bahkan lebih erat bak seorang pengantin baru yang sedang bermalam pertama.
Kontan jony yang daritadi melihat tingkah kocak sahabatnya itu tertawa terbahak bahak. Ia aku ngerti kalau bulan puasa kaya gini, 1 hari rasanya seperti 24 jam begitulah kira kira menurut jony

         Mungkin kalau ia merasa lemas, letih dan lesu bisa andi dan jony maklumi dari sikap jali itu. Tapi kalau sampai peluk peluk jam dinding tetangga hingga seperti itu. Itu sudah kelewatan. Bisa bisa nanti jony dan andi yang dinikahi jali karena mereka tinggal ngekos serumah bahkan tetanggA tetangganya jali nikahin lagi. Nanti pas idul fitri yang bermaaf maafan disekitar rumah jali. Semuanya istri jali.

       Jali seorang mualaf baru tiga bulan ia memeluk islam dulunya ia seorang pemeluk para wanita. Awalnya ia hanya bercanda masuk islam. Berawal dari taruhan bermain pingpong kegemarannya jika kalah maka harus pindah agama. Ternyata jali kalah taruhan dari andi. Siapa sangka akhirnya ia benar benar pindah agama menjadi muslim seutuhnya. Keputusaannya sempat ditentang ayah dan ibunya. Permasalahannya hanya sepele karena ia belum bayar jam dinding yang dibawa dari tetangganya. Seiring bergulirnya waktu orang tua mendapat hidayah dan mengikui langkah baik sang anak tercinta.
Sang surya senja kala mulai turun menyembunyikan sinarnya. Walaupun dengan kepayahan jali hampir berhasil menyelesaikan shaum dihari pertama puasa. Detik detik menjelang adzan magrib telah dinanti jali beserta andi jony duduk bersantai didepan tv. Banyak makanan yang dibeli jali, mulai cendol, kolek, es campur, es jeruk, gorengan kupa,t tentu saja nasi dan laukbpauknya
Saatnya adzan magrib begitu yang terlihat dilayar kaca. Tanpa pikir panjang jali dengan lahap langsup menyantap kolek miliknya.

Smentara andi dan jony merasa ada yang aneh hingga tak lansung menyantap makanan yang sudah ada dihadapannya. Namun hal itu tak membuat nafsu makan jali luntur sedikitpun hingga sampai suapan terakhir terlihat dilayar kaca untuk wilayah surabaya dan sekitarnya

Padahal tempat tinggal mereka dibandung. Hal itu membuat kotak tertawa jony andi dikoyak koyak . Tak lama berselang adzan terdengar merdu dimasjid sekitar tempat tinggal mereka. Barulah mereka santap tanpa ragu makanan yang tadi. Mungkin karena ini hari pertama ia berpuasa ia tak bisa menahan lapar dan dahaga dari awal sampai akhir hingga konsentrasinya buyar.

           Matahari sedang berada tepat diatas kepala kita jali berlari lari kecil disekitaran halaman rumahnya. Ini diluar kebiasaannya, jony merasa curiga.

“Ngapain kamu jal.siang siang gini. Tumben! “

“Biar cape aja.”

“Terus kalau cape kenapa?”

Dengan pd ia menjawab

Kalau cape hilang konsentrasi jika konsentrasi sudah hilang maka akan mengakibatkan kelupaan dan karena lelah dan lupa jadi minum. Kan kalau minum disaat sedang puasa karena lupa itu tak masalah dan itu rezeki sambil tersenyum kecil menatap jony

Hmmm iya deh terserah kamu balas jony

 waktu terus berlalu  jali mulai terbiasa berpuasa, hari demi hari puasanya semakin membaik seperti kata pepatah kuno ala bisa karena biasa ala biasa karena dipaksa. ia sudah tak lagi mengnginkan kelupaaan dan menatap jam terusemerus karena sekarang jamnya sudah dinikahi. Hahahh

Komentar

share!