Angin Ramadhan Membawa Cinta dan Horror Kocak




Karya:  Alifa Hikmafitya

“Meeet! Dipanggil Bu Ruk tuuh!!!” Teriak Ucup.
Aku yang baru datang jam 8 ketika jam kosong di kelas langsung tertegun. Bu Ruk… Ya, guru killer yang menjabat sebagai wakasek di STM tempatku sekolah. Namanya sih bagus, Rukayah, cantik pula orangnya, tapi mungkin karena kegalakannya kalo ketemu dia suasananya jadi kebawa buruk. Sering terlambat karena malam begadang tadarusan di musholla, pulang tengah malam sampai rumah langsung tidur, bangun jam 3 pagi untuk sahur, habis Subuh baru aku tidur lagi dan saat bangun sudah lewat jam 7, sekolah sampai siang, sesudah itu aku main ke rumah teman sampai sore. Jadilah tak ada waktu untuk tidur. Beginilah kehidupan anak alim..
Dengan langkah santai sambil berdo’a dalam hati aku menuju ke kantor wakasek.
“Assalamu’alaikum.” Kataku sambil mengetuk pintu.


“Wa’alaikumsalam, duduk kamu.” Perintah Bu Ruk dengan nada tegasnya.
“Kamu tahu kenapa kamu saya panggil kemari?”
“Tahu Bu, saya terlambat lagi.” Selayaknya laki-laki aku mengakui kesalahanku.
“Betul, jadi kenapa kamu telat? Kesiangan lagi? Kenapa nggak pasang alarm aja sih biar gampang bangunnya. Jadinya kan kamu nggak telat terus. Ibu aja capek marahin kamu, masa’ kamu nggak capek dihukum!”
“Ya udah Bu, Ibu nggak usah marah aja. Kan lagi bulan puasa juga, jadi kalo saya telat biarin aja Bu. Lagian saya juga udah punya alarm kok Bu, tiap saya setel bunyi 5 menit sekali. Alarmnya juga canggih lho, Bu. Tiap dia bunyi tapi saya nggak langsung bangun, dia pasti ngomel. Dan kalo dalam satu jam saya nggak bangun, langsung disiram air. Canggih kan, Bu!” Kataku dengan bangga.
“(Geram tapi juga penasaran)Alarm kamu itu mereknya apa? Kok bisa canggih gitu…”
“Mereknya MAK-GWE, alias Emak saya sendiri Bu. Saya kembali ke kelas dulu ya, Bu. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalaaam!! Rahmeeeeeet!!!”
Langsung saja aku lari tunggang langgang karena dikejar sepatu Bu Ruk yang ikut-ikutan melayang. Aku kembali ke kelas yang ternyata masih jam kosong karena guru yang seharusnya hadir malah ikut acara kawinan tetangganya. Ucup langsung menyapa.
“Met, lu apain lagi Bu Ruk? Kemarin vas bunga dilempar ampek pecah, hari ini gua liat tuh sepatu Bu Ruk yang beraksi. Besok-besok lu jangan ampek telat lagi Met, jangan-jangan ntar tuh barang-barang di kantor pada lenyap semua cuman buat nimpukin lu.”
“(Cekikikan lalu menceritakan yang terjadi di kantor wakasek)”
Ucup langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceritaku.
“Buset dah, Met. Emang cuman lu yang bisa bikin Bu Ruk darah tinggi tiap ngomong sama lu!” Kata Ucup sambil menepuk-nepuk pundakku
Sekolah pun berlanjut hingga siang hari. Aku yang bertetangga dengan Ucup jadi pulang bersama setiap hari. Dan setiap hari pula saat pulang sekolah aku selalu merasa aneh dengan rumah tua yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya di sudut gang. Hari itu saat main ke rumah Ucup aku bertanya padanya tentang rumah tua itu.
“Cup, lo tau kan rumah kosong di sudut gang itu. Sebenernya itu sejarahnya gimana sih? Kok bisa tiba-tiba kosong begitu.”
“Kenapa lo tiba-tiba nanyain soal rumah itu?” Tanya Ucup ingin tahu.
“Udah jawab aja. Gua kan anak pindahan, jadi mana tau.”
“Ya, tuh rumah udah lama banget kagak ditempatin. Yang punya rumah udah nggak tau kemana. Sekarang denger-denger tuh rumah jadi angker, katanya sih belum lama ini pernah ada satu cewek masuk ke rumah kosong itu dan ngilang gitu aja, nggak balik. Nggak ada yang berani kesana sekarang.”
“Kita masuk rumah itu yuk!” Tiba-tiba aku mulai tertarik.
 “Oy! Apa-apaan nih, kenapa lu jadi semangat gitu. Lagian mo ngapain coba masuk-masukin rumah orang nggak ijin, udah punya rumah sendiri kan lu!”
“Ya gua kan pengen tau tuh rumah beneran ada setannya atau cuman cerita orang aja, atau mungkin bisa aja kan ada orang iseng yang sengaja nakut-nakutin orang. Dan lu kan juga bilang tadi, kalo tuh rumah udah kagak ada yang nempatin. Jadi kan kita tinggal masuk aja, nggak ada yang ngelarang. Lo pasti mau kan?!” Kataku merayu.
“Idih.. Ogah! Puasa-puasa gini bukannya nyari amal malah nyari setan lu!!”
“Aah, udah jangan bawel. Ikut gua!” Kataku sambil menyeret tangan Ucup.
Saat itu sudah jam 3 sore, aku dan Ucup yang tadinya sehabis main bola di lapangan langsung menuju rumah kosong itu. Meskipun saat itu sedang berpuasa dan perut kami mulai terdengar berisiknya, kami tetap semangat ingin menyelidiki rumah kosong itu. Namun tiba-tiba di tengah perjalanan…
“Wuuuiiiihh.. Tuh cewek cantik bener Met! Belom pernah gua liat cewek mulus bener kayak gitu..” Ujar Ucup terpesona.
“Mana, Cup??? Sebelah mana??? Mana ceweknya??” Aku kebingungan mencari perempuan cantik yang dimaksud Ucup.
“Eh, tapi kok tuh cewek masuk ke rumah kosong ya?? Mau ngapain dia???
“Eh, iya lho. Ngapain tuh cewek. Ayo kita cegat, Cup!”
Aku dan Ucup lalu berlari sekencang mungkin mengejar perempuan itu. Beruntungnya, perempuan itu bisa terkejar dan akhirnya aku dan Ucup pun menanyainya.
“Mbak mbak, Mbak ngapain ke sini? Ada perlu apa Mbaknya kemari??” Tanyaku.
“Iya, Neng. Neng ngapain ke sini mau cari siapa?” Tanya Ucup sambil menepuk pundak perempuan itu.
Tiba-tiba perempuan itu seperti tersentak dari lamunannya.
“Eh, kok gue bisa di sini? Siapa yang bawa gue ke sini??” Tanya perempuan itu yang malah terlihat bingung sendiri.
“Lah dia malah nanya ke kita, Met. Nengnya gimana sih, orang tadi situ yang dateng ke sini sendiri.” Kata Ucup.
Akhirnya aku dan Ucup berkenalan dengan perempuan itu, namanya Diana dari desa sebelah. Dia lalu bercerita, ternyata dia ke rumah kosong itu bukan atas kemauannya sendiri. Bahkan dia saja lupa bagaimana dia bisa tiba-tiba sampai ke rumah kosong itu. Lalu aku dan Ucup juga menceritakan tentang rumah itu dan rencana kami yang ingin menyelidikinya. Ternyata Diana juga tertarik mendengarnya. Dia akhirnya juga mengikuti rencanaku dan Ucup untuk masuk dan mencari tahu tentang rumah itu.
Dan mulailah kami bertiga memasuki rumah itu. Saat masuk ke dalam kesannya memang agak aneh, ya maklum saja, memang sudah lama tidak ditempati. Di dalamnya sudah sangat berantakan, kumuh, terkesan amat angker. Baru saja melewati ruang tamu rumah itu dan saat mulai memasuki sebuah ruang selanjutnya, tiba-tiba Diana merasakan sesuatu.
“Aduh, kenapa tiba-tiba gue jadi pusing ya??” Keluh Diana sambil memegangi kepalanya.
“Eh, lo kenapa Di??!” Tanyaku panik.
Seketika itu Diana terhuyung dan ambruk. Aku yang berada di belakangnya langsung sigap menangkap tubuh Diana. Untungnya dia masih sadar, matanya langsung memandangi wajahku. Melihat pandangan gadis secantik itu, mana bisa aku memalingkan padanganku. Tanpa kusadari, jantungku berdegup kencang. Belum pernah sebelumnya aku melihat pandangan gadis secantik itu.
Tiba-tiba saja terdengar sesuatu, menggangu suasana romantisku saja. Aku yang merinding karena suara itu langsung melepaskan peganganku pada Diana, dan terjatuhlah dia.
“Aduh!!! Gimana sih, Met. Kok dilepasin gitu aja.” Keluh Diana.
“Eh maaf, Di. Gua denger suara serem tadi.” Kataku ketakutan.
“Hehe.. Maaf. Itu tadi suara perut gua, maklum jam segini kan laper-lapernya orang puasa. Abis lu pandang-pandangan kayak gitu kayak lu berdua aja, kan ada gua juga di sini. Nggak boleh juga pandang-pandangan gitu, kan bulan puasa. Gimana sih lu berdua!” Ucup yang kesal lalu meninggalkan aku dan Diana.
Ucup berjalan duluan meninggalkan kami berdua. Belum jauh dia melangkah, tiba-tiba dia tersungkur karena tersandung sesuatu.
“Aduh, nih apaan sih! Bikin gua kesandung aja nih kayu.” Gerutu Diana.
“Ya Allah, lo kenapa Cup. Hati-hati dong kalo jalan.” Kata Diana.
Aku agak curiga dengan kayu yang membuat Ucup tersandung itu. Kayu itu dilengkapi selot, seperti sebuah pintu kecil. Tapi buat apa ada pintu yang dipasang di lantai. Apa jangan-jangan…
“Eh tunggu. Ini persis kayak pintu. Cup, coba lo buka tuh selotnya.”
Setelah selot terbuka dan berhasil mengangkat pintu kayu yang cukup berat karena sudah tua dan lapuk. Kami bertiga menemukan tangga menuju ke bawah. Benar dugaanku, itu adalah jalan menuju ruang bawah tanah.
“Waaahh… Jalan rahasia!! Masuk yuk! Siapa tau ada harta karun disitu.” Duga Ucup.
“Hust! Ini ruang bawah tanah tau. Lagian kalo emang ada harta karunnya kan itu bukan punya kita, jadi bukan hak kita dong mau ngambil seenaknya.” Kata Diana memberi nasehat.
“Udah udah, sekarang kita masuk aja. Tapi inget, jangan yang aneh-aneh. Tetep waspada.” Ajakku.
Kami pun menyusuri jalan itu. Memang gelap di dalamnya, tapi kenapa ada obor. Aku semakin curiga bahwa memang tidak ada setan seperti cerita orang, hanya ada orang iseng yang sengaja melakukan semua tipuan ini. Dan benar saja, kami menemukan seorang pria berjaket hitam bersama seorang perempuan yang duduk di kursi diikat kencang dengan seutas tali, seperti sedang disekap.
“Akhirnya ada yang dateng juga, tolong selametin gue.” Rintih perempuan itu.
“Oh, loe! Kenapa guna-guna gua gak mempan sama loe. Udah nyampe sini bukannya masuk malah gak jadi. Sia-sia gua ngirim sihir ke loe. Sialan!” Kata pria itu sambil menunjuk ke arah Diana.
Aku yang marah mendengar perkataan pria itu langsung menyahut.
“Oh jadi loe yang bikin Diana secara nggak sadar dateng ke sini. Kurang ajar loe!”
“Dih, kenapa jadi loe yang sewot?!!” Pria itu terheran.
“Karena dia, cewek pertama yang berhasil bikin hati gua berdegup seindah adzan maghrib di bulan Ramadhan ini.” Aku sendiri tidak yakin sejak kapan aku jadi puitis seperti itu, sedangkan Diana sendiri senyum-senyum manis mendengarku berkata seperti itu.
“Met, kok lo jadi romantis gitu sih sama Diana. Gua yang temen deket lu aja gak pernah lo rayu kayak gitu. Iri tau..” Kata Ucup.
“Ih, najis gua romantis sama lu!” Ujarku merasa geli.
“Woy! Ngomong mulu lo semua. Gua kapan bebasnya nih!” Perempuan yang disekap itu mulai marah, karena mungkin dia mulai lapar karena puasa juga.
“Oh iya Mbak, maaf kelupaan.” Kata Ucup sambil cengar-cengir.
“Oke langsung aja. Lepasin dia, kalo nggak..” Ancamku sambil membentak.
“Kalo nggak lo mau apa emang?!” Pria itu menantang.
“Oke! Cup, jurus andalan loe kalo lagi laper!”
“JURUS MULAI LAPER!!!”
Maka Ucup pun mengeluarkan jurusnya saat mulai lapar. Yaitu mengeluarkan semua tenaganya lewat suatu gas.
“Uuuh.. Bau banget!! LU RESEK KALO LAGI LAPER!!! Ujar pria itu sebelum akhirnya pingsan karena bau kentut  Ucup. Beruntung sebelum itu aku dan Diana sudah antisipasi dengan menutup hidung, dan Mbaknya entah kenapa malah senang dengan bau kentut Ucup.
Akhirnya pria penipu itu kami ikat dengan tali dan kami bawa ke kantor polisi dengan kasus penipuan. Ternyata modusnya memang dia ingin menyekap gadis-gadis cantik hanya untuk kepentingan ilmu sihirnya. Tidak kusangka, di bulan Ramadhan ini masih saja ada orang yang berbuat sejahat itu.
Sebagai syukuran kecil, Diana mengajak aku, Ucup dan Mbak yang disekap tadi yang ternyata bernama Ana untuk berbuka puasa bersama di suatu restoran. Saat adzan maghrib tiba, tiba-tiba Diana mengutarakan perasaannya padaku. Bahwa dia menyukaiku sejak pertama kali bertemu di hari itu. Memang benar, indahnya suara adzan maghrib seindah hadiah yang kudapat hari itu karena berbuat kebaikan.
Dan Ucup ternyata juga mengalami hal yang sama.
“Cup, aku suka sama kamu.” Kata Ana.
“Eh, kok bisa baru ketemu langsung suka??” Ucup heran.
“Aku jatuh cinta sama bau kentut kamu..” Ujar Ana malu-malu.
Kami semua kaget bukan kepalang hingga berteriak berbarengan.
“HAH?!!!”

Komentar

share!