AKU DAN BANG MAMANG




Karya:  Deni Iwan Dahlan

Plastik berisi beras itu banyak sekali. Plastik demi plastik bertumpuk-tumpuk membentuk piramida. Seumur-umur, saya belum pernah melihat keindahan dan kemegahan Piramida Giza di Mesir. Tapi dengan melihat plastik berisi beras yang menggunung itu sudah cukup mewakili gambaran tentang megahnya sebuah piramida.


Seorang ibu setengah baya berpakaian sederhana datang ke arahku. Beliau tampak tergopoh-gopoh menggendong beberapa plastik hitam berukuran besar. Melihat itu, aku pun segera menghampiri beliau untuk membantu membawakannya.
“Terima kasih.” ucap ibu itu.
Setelah menurunkan muatan itu, aku pun terengah-engah sembari menghitung berapa jumlah plastik berisi beras yang dibawa ibu itu.
Satu… dua… tiga… empat… lima. Ada lima plastik. Pantas saja ibu itu tampak kesulitan membawa beras zakat itu.
“Ini dari saya, bapaknya anak-anak, dan kedua anak saya. Yang satunya dari saudara saya yang tinggal di rumah. Mohon diterima.” kata ibu itu kepadaku.
“Terima kasih ya Bu. Semoga zakat dari Ibu diridhoi oleh Allah.” kataku sambil menjabat tangan beliau yang masih berbalut debu.
**

Jam 3 sore, aku masih menunggu orang yang mau berzakat. Menurut pengalaman lebaran tahun-tahun sebelumnya, aku menerima zakat lebih banyak pada saat sore daripada siang atau malam takbiran.
Dan memang benar. Sudah 50 plastik beras yang ada di hadapanku ketika adzan Maghrib berkumandang. Dalam hati aku mengucap syukur, terima kasih Ya Allah karena engkau telah memberikan zakat sebanyak ini melalui tetangga dan orang-orang di sekitar hamba. Tidak hanya satu kali, setiap ada orang datang memberikan beras kepadaku, aku selalu bersyukur. Apalagi, jumlah zakat yang kuterima tahun ini lebih banyak 15 plastik beras daripada tahun sebelumnya. Itu berarti ada peningkatan.
Setelah berbuka dan sholat Maghrib, aku melangkah ke teras depan. Mobil pick-up yang sudah akrab denganku sejak 20 tahun yang lalu itu ternyata sudah siap, parkir di halaman depan. Segera saja kuangkut satu demi satu plastik beras itu ke atas pick-up dibantu oleh Bang Mamang, si supir. Setelah semuanya beres dan memastikan tidak ada yang ketinggalan, aku mengajak Bang Mamang tancap gas ke tempat tujuan. Tidak lupa, kuselipkan sebuah kertas lusuh berlipat berisi beberapa nama.
**

Tempat yang kami tuju cukup jauh, berjarak 2 jam 30 menit dari rumahku. Sesampainya di sana, puluhan anak dan orangtua renta sudah menunggu kami, menyambut kami dengan wajah sumringah dan ekspresi bahagia.
“Ayo sini Pak, Bu, adik-adik sekalian.”, ajakku kepada mereka untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah seperti rumah keduaku itu. Orang-orang yang sudah menungguku itu pun mengerubutiku layaknya barikade semut yang menemukan gula.
“Iya, sabar, sabar.”, kataku sambil mengelap peluh keringat di dahi, mulai kepanasan.
“Kasihan Bang Ahmad keringetan. Dul, ambilkan kipas di lemari sana gih!” kata Mbah Paijo, seorang kakek veteran yang sudah mengenalku sejak 5 tahun yang lalu. Beliau adalah seorang yang aku bawa pertama kali ke dalam bangunan yang mungkin lebih mirip gudang bekas ini.
“Siap, Kek!” sahut di Dul, bocah 11 tahun yang tinggal bersama Mbah Paijo dan orang-orang lainnya di rumah tua ini. Aku tidak tega melihat Dul karena dia sendirian, berpakaian compang-camping dan membawa gelas plastik berisi beberapa uang receh sehingga aku membawanya dari Stasiun Kalisat ke rumah ini sekitar 6 bulan yang lalu.
Tidak berapa lama, angin segar mulai menerpa wajahku. Angin itu datang dari kipas rotan yang digoyangkan ke kanan dan ke kiri oleh si Dul, sehingga keringatku berangsur-angsur hilang. Hanya saja, sesekali aku melihat si Dul mengelap dahinya yang mulai berkeringat.
“Yak, kita mulai dari Mbah Paijo dulu. Ini berasnya, Mbah.”, kataku sembari menyerahkan sekantong plastik berisi beras kepada Mbah Paijo. Beliau senang lantas mengucapkan terima kasih kepadaku.
“Selanjutnya, Mas Rifki.”, kembali aku menyerahkan sekantong beras kepada nama yang kupanggil.
Demikian seterusnya, sampai semua orang di dalam rumah itu telah memegang sekantong beras di tangannya masing-masing. Hanya aku dan Bang Mamang yang tidak memilikinya.
Setelah kami melaksanakan sholat Isya’ sekaligus Tarawih di masjid yang masih satu bangunan dengan rumah itu, aku mengobrol santai dengan Mbah Paijo. Sementara Bang Mamang, dari tadi asyik menceritakan serunya perjalanan kami berdua ketika kami mengantarkan beras zakat dari rumahku menuju rumah ini.
“Nak Ahmad, terima kasih atas pengorbanan Nak Ahmad selama ini ya.”, ucap Mbah Paijo kepadaku.
“Iya Mbah, sama-sama.”, kataku singkat.
“Mbah jadi ingat ketika Nak Ahmad pertama kali membawa Mbah ke sini. Waktu itu Mbah sudah tidak punya anak karena sudah mendahului Mbah semua. Ketujuh cucu Mbah juga tidak disini. Mereka sudah punya kehidupan sendiri-sendiri, saking sibuknya mereka mungkin lupa punya seorang kakek tua ini sehingga Mbah cari makan di tempat sampah, kena panas kena hujan. Untunglah Nak Ahmad menemukan Mbah dan membawa serta memberikan Mbah makanan, pakaian dan tempat tinggal di rumah ini. Terima kasih ya, Nak.”, ucapnya dengan tulus.
Kami berdua mengenang masa lalu, yaitu ketika aku menemukan Mbah Paijo entah tertidur entah pingsan di pinggir jalan sudut kota. Aku merasa kasihan kepadanya sehingga aku memutuskan untuk membawanya ke rumah ini. Setelah itu, aku membawa beberapa orang lagi ke dalam rumah ini. Mula-mula hanya pengemis dan gelandangan tua renta yang kubawa, tapi akhir-akhir ini aku juga membawa remaja dan anak-anak seperti si Dul. Mereka kuberi makan, kuberi pakaian yang layak dan kusuruh mereka untuk tidak lagi berkeliaran di jalan-jalan dan tinggal di rumah ini.
Entah darimana semuanya berasal, tapi semakin aku banyak membawa orang-orang kesusahan untuk tinggal di rumah itu, bantuan tak terduga muncul. Ada yang memberikan uang untuk penambahan kamar dan renovasi rumah, ada yang setiap seminggu sekali datang membawa banyak makanan dan peralatan seperti gelas, piring, dan perkakas lain. Ada juga yang datang memberi mereka pelatihan gratis seperti pelatihan menjahit untuk orangtua dan pelatihan baca tulis untuk anak-anak dan remaja. Mereka adalah orang-orang yang tak ku kenal sebelumnya, dan mereka datang atas inisiatif mereka sendiri. Entah darimana mereka tahu lokasi rumah yang jaraknya puluhan kilometer dari kota ini. Kondisi jalan yang tak beraspal dan seperti jalan off-road ini tidak menghalangi niat baik mereka.
Aku sangat bersyukur atas kebaikan yang aku dan Bang Mamang lakukan. Aku juga bersyukur karena banyak orang yang peduli dengan gelandangan, pengemis, dan anak jalanan yang kubawa ke rumah ini sehingga secara tidak langsung aku telah meringankan sedikit beban dari mereka.
Rumah yang ditempati Mbah Paijo beserta orang-orang itu dulunya merupakan tempatku dan Bang Mamang bersembunyi dari kejaran para polisi. Di bawah tanah tempat bangunan ini berdiri, kusimpan uang milyaran rupiah dan berbagai barang berharga seperti emas dan perhiasan. Baik aku dan Bang Mamang tidak perlu khawatir karena tempat itu terlalu tersembunyi untuk.digali. Mbah Paijo atau orang lain yang tinggal di sekitar sana tidak akan mudah mengetahuinya. Kalaupun mereka menemukannya, mereka harus membuka kunci bernomor beberapa digit agar mereka bisa mengeluarkan harta dari kopor. Jadi, segalanya aman terkendali.
Kini, rumah itu telah berubah menjadi semacam panti asuhan. Melihat banyak pengemis dan gelandangan tinggal disana, aku tidak keberatan, pun demikian dengan Bang Mamang. Justru dengan kehadiran orang-orang itu, aku dan Bang Mamang bisa mengambil beberapa persen dari harta curian itu untuk kami belikan makanan, pakaian dan peralatan hidup bagi Mbah Paijo dan yang lainnya. Yah… hitung-hitung, pemberian dan amal itu bisa mengurangi dosaku dan dosa Bang Mamang atas pencurian yang telah kami berdua lakukan sejak 20 puluh tahun yang lalu.

TAMAT

Komentar

share!