“ADA YANG SALAH DIRUMAH NENEK”




Karya:  Rahmaddd Andika

Aku melirik jam tua Belanda yang masih berdiri kokoh di pojok ruang tamu dekat pintu yang masih terdapat koper dan tas bajuku. Kulihat pukul satu lewat tiga puluh menit. “Artinya 5 jam lagi” gumamku. Jarang-jarang nyonya besar mau bertemu dengan cucu termudanya. Ini mungkin salahku karena aku datang terlalu awal ke desa ini padahal nasehat demi nasehat terus bercucuran dan berdenging di otak, tapi aku tetap teguh akan pendirian dan intinya, aku tidak ingin terlambat apalagi sampai ketinggalan berbuka puasa untuk pertama kalinya. Kulihat teko dan gelas kosong yang di suguhkan masih tertata dengan apik di meja nenek, mengingatkanku akan suatu peringatan. Kini ku alihkan pandanganku oleh coklatnya dinding rumah berlapiskan boneka kayu. Kini ada yang lebih aku khawatirkan dibandingkan boneka kayu yang tersusun dengan ciamik itu, nenek tidak kunjung pulang dan waktu berbuka tak lama lagi. Tiba-tiba ponsel bergetar, Aku mengambilnya dari saku bajuku dan kulihat 5 persen untuk baterai. Berharap menemukan stop kontak, aku melirik ke arah pintu dan dinding rumah. Sudut demi sudut rumah aku telusuri dengan seksama. Dengan tatapan tajam, Seorang pria tambun berambut pendek menggenggam golok di tangan kirinya dan tali ditangan kanannya. Degup alat pemompa darahku semakin kencang dan berdetak melewati batas karena sekarang, ia tepat berada dihadapanku.


Dalam keadaan terikat dan mulut tersumbat, aku dilemparnya kedalam bilik sempit yang hanya berisikan perkakas tua berkarat dan berdebu, diriku mengedarkan pandangan dan sialnya, tidak ada alat pemotong yang berguna. Ternyata aku tidak sendirian, aroma bangkai entah mungkin datang dari sudut mana menusuk hidungku dengan sadisnya, sehingga menemani sekaligus memperburuk keadaanku sekarang ini, betul-betul si brengsek itu jenius memilih lokasi sandera yang ternyata hanya ada satu ventilasi dan jendela tertutup balok yang sudah dalam keadaan tertancap paku disana-sini.
Azan berkumandang, aku terbangun untuk kemudian pergi mencuci muka. Keluar dari kamar mandi, aku melongok ke arah meja makan dan menyaksikan hidangan tersusun dengan rapi dan manisnya, ayah dan kakak mempersilakanku untuk duduk dan memimpin do’a untuk berbuka puasa. “Sial, itu hanya mimpi !”.  Dari dalam kamar, ponselku kembali berdering, aku mendapati pesan singkat yang ternyata ini dari nenek. Dan kini, ia menyuruhku agar Ramadhan tahun ini lebih baik dihabiskan dikampungnya saja, besok ia akan mengirim uang dan aku akan menunggu dirumahnya, sampai ia pulang …….…….. Lagi.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!