Ada Rindu dalam Ramadhan


Karya: Qorirera

Ramadhan kali ini benar-benar berbeda, karena kali ini aku tidak bisa pulang ke kampung ku nan jauah di mato, ada beberapa agenda kampus yang memaksaku untuk tetap stay di perantauan. Membuatku masih terus melahap gudeg jogja, dan mengesampingkan rendang yang tersaji di rumah.




Pagi ini, seusai sahur dan sholat subuh, aku melihat ada bbm dari Arum, teman sekampungku yang juga merantau ke jogja. “Shen, entar sore anak-anak ngajakin buber tuh, bisa ikut nggak?” tanya nya.

“dimana rum? kok mendadak?” tanyaku balik, sambil memikirkan, apakah aku bisa megikuti kegiatan tersebut.

“di warung Lesehan deket kos lu noh! Sengaja gue pilih situ, biar elu kagak kebanyakan alesan trus gak bisa ikut, udah dibahas dr kemaren, elu nya aja yang enggak ngecek grup” balasnya diiringi emot ROTFL.

“haha, iye dah, insyallah ya rum, gw usahain” jawabku, diiringi dengan terkatupnya mataku dan mengantarkanku pada alam mimpi nan menawan.

Pukul 08.00 aku bangun, dan kembali kudapati bbm Arum yang belum sempat aku read karena keburu terlelap. “Aldi bakal dateng kok shen, dandan yang cantik ya, :D jam 4 udah kudu di tempat yee” begitu tulisnya, diiringi PING sebanyak 2 kali.

Ingatanku kembali menerawang, mengingat banyaknya serpihan kenangan yang tertinggal saat aku bersama Aldi, kami bersahabat sejak SMA, entah kenapa dari kelas 1 hingga kelas 3 kami satu kelas. Kami sangat dekat bahkan terlalu dekat, hingga akhirnya benih cinta itu muncul saat aku kelas 3, dikala aku sempat merasakan sakitnya dikhianati cinta pertama, dan aldi selalu ada, tapi sialnya Aldi tak merasakan hal yang sama, hal itu kuketahui karena dengan terang-terangan dia curhat sedang menyukai Dinta, anak kelas lain yang menurutku kecentilan dan jujur aku tak menyukainya, bahkan aku mengenalnya sejak kami di SMP yang sama. Aku masih ingat bahwa saat itu Dinta menemuiku di kelas di jam istirahat dan memintaku untuk menjahui Aldi, padahal meski aku menyukai Aldi, kami masih berteman dekat seperti biasa, tentu saja aku marah, karena aku jauh lebih mengenal Aldi dibanding dia, Dinta memaki ku di depan teman-teman, dan tentu aku balas memakinya serta membalas perlakuannya, namun  aku juga tidak akan melupakan, bagaimana Aldi tiba-tiba datang dan membela Dinta habis-habisan dihadapanku, dihadapan Dinta dengan wajah penuh kemenangannya, seolah mengejek dan menertawakan kekalahanku juga dihadapan teman-temanku saat itu, Arum salah satunya, seketika aku kecewa padanya, dan dalam sekejap aku mampu membencinya. Aku mulai menjauhinya, Beberapa kali dia mencoba untuk berbicara, namun aku tak bergeming dihadapannya, aku memendam segala perasaan antar cinta, sakit dan kecewa. Hingga saat kelulusan pun, kami tak saling bicara, dan saat itu aku mendengar berita akhir hubungan mereka. Sudah hampir dua tahun kami tidak bertemu. Aku melanjutkan hidup baru di sebuah kota impianku selama ini. Ternyata mimpi kita sama-sama terwujud, dulu kami saling bermimpi untuk dapat memulai hidup baru di kota ini.

Aku menyadarkan diri dari lamunan pagi, bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk menuju kampus untuk mengikuti seminar yang diadakan jurusanku. Tak lama seminar yang kuikuti, sekitar pukul 12 seminar itu telah usai, dan aku memilih untuk menuju UKM musik yang aku ikuti di kampus, berjumpa dengan teman-teman se-UKM dan disana aku bercumbu dengan gitar yang selama hampir 2 tahun ini menjadi sahabat setiaku.

Tak terasa sudah pukul 16.00, dan aku belum mempersiapkan diri sama sekali, dan jujur saja enggan untuk meninggalkan ruangan musik tersebut. Bukan karena tak ingin berjumpa banyaknya teman-teman seperjuangan SMA dulu, tapi karena aku takut ingatanku kembali menuju Aldi.

Dering HP ku membuyarkan kebimbanganku, Arum menelfonku, dan seperti biasa, dengan kecerewetannya dan kemampuannya meloby, akhirnya membuatku mau untuk bergegas mempersiapkan diri. Aku menuju kos, dan mulai bersiap-siap, beberapa kali aku mencoba baju agar sesuai dengan penampilan hari ini. Sudah pukul 17.00 aku siap untuk menuju lokasi buber, dan sialnya, begitu aku menuju parkiran, ternyata motor yang kukendarai bocor, dengan menggerutu dalam hati dan mengomel karena kesialan yang menimpaku. Kuletakan motor di bengkel yang memang searah dengan tempat buber, kutinggalakan dia, dan aku memilih untuk menggunakan becak menuju lokasi, karena memang waktunya yang hampir buka.

Setelah tiba, aku disambut riuhnya suara mereka, ternyata cukup banyak juga yang mengikuti, ada sekitar 13 orang bersamaku, dari total 20 orang teman SMA ku yang kuliah di jogja. Setelah berbasa-basi dan menjelaskan keterlambatanku, Aku duduk di pinggir, di dekat Arum, dan aku mulai melihat wajah-wajah temanku yang mulai banyak terlihat dewasa. Mengabsen mereka satu persatu dalam hati dan mengingat nama-nama mereka dan segala kenangan yang pernah terjadi diantara aku dan mereka. Namun, aku tak menjumpai sosok Aldi, ada sedikit kecewa sebenarnya, karena memang ada rindu yang terbesit, namun ada juga sedikit kelegaan, karena aku tak perlu mengingat kembali sosoknya yang sempat kulupakan. Makanan sudah tersaji di atas meja, karena memang kami memesan paket yang tersedia, dan tak terasa, adzan sudah berkumandang, do’a buka puasa dipimpin oleh Rahmat, yang dulu juga sempat menjadi ketua kelasku saat kelas 3 SMA.

Setelah memulai bersantap ria, aku dikagetkan dengan hadirnya seorang laki-laki yang akhirnya duduk tepat dihadapanku, iyaa... Aldi datang. Dan membuka kembali ingatanku tentangnya. Dia menjelaskan alasannya terlambat, dan memulai kelakarnya. Aku mencoba untuk tertawa ala kadarnya, dan mencoba tak banyak bicara. Aku tau, dia mencoba bersikap sebiasa mungkin di hadapanku, dia berusaha menggodaku agar aku bisa ikut terbiasa kembali dengan hadirnya. Dan aku mencoba untuk mengikuti keinginan tersiratnya itu.

Aku mencoba mencuri pandang ke arahnya, memperhatikan dia sedikit seksama, dan melihat perubahannya selama 2 tahun ini, dia masih terlihat tampan, hanya kini ada sedikit jerawat yang menghiasi wajahnya.
“Aelah shen, ngapain liat-liat?” ucapnya sambil tertawa dan kembali membalas tatapanku, yaampun, aku ketauan, ujarku dalam hati. Untungnya teman-teman saling berbicara, sehingga ucapan Aldi tak terlalu mereka hiraukan.

“siapa juga yang liat elu” ucapku ketus, dan dia hanya membalas dengan tawa.

Usai makan, kami berbicara banyak hal, melalui buka bersama ini, kita juga bernostalgia dengan masa-masa SMA, berbicara kesibukan, kapan pulang ke kampung halaman serta berbagai pencapaian selama ini.aku mulai mampu mengikuti suasana, meski sebenarnya ada sedikit kecanggungan dalam hati.
Jam menunjukkan pukul 19.00, dan kami mulai bergegas membayar, dan keluar.

Aku berbisik kepada Arum untuk mengantarkan aku pulang

“yaah...gue mah cuma dianter abang tadi, ini lg otw dijemput, udah sama Aldi aja” jawabnya, dan belum sempat aku menjawab apa-apa Arum mulai berceloteh “Aldi, anterin Shena pulang dong, motornya bocor di deket sono” aku tambah sedikit rikuh, dan mengatakan ingin jalan sendiri, tapi teman-teman mulai meledek dan menyuruhku ikut Aldi saja.

Aldi mempersilahkan aku masuk ke mobilnya, aku bahkan baru tau kalo dia ke jogja diperbolehkan membawa mobil. Dan aku hanya memintanya untuk ke bengkel. Dan sayangnya, bapak di bengkel tersebut mengatakan,untuk menunggu sebentar lagi, karena tadi banyak yang mengantri, sempat kesal karena aku meninggalkannya sudah lama, namun belum selesai juga. Untungnya Aldi mengerti, dan dia menemaniku untuk menunggu.

“inget gak sih, dulu pas SMA kita juga pernah nunggu lama di bengkel gini?” ucapnya tiba-tiba.
“hmm oh yang waktu itu gue suruh ndorong motor lu yang bocor ya?” jawabku diiringi tawa kita bersama, banyak hal yang mulai ia tanyakan, dan ia turut menceritakan kehidupannya setelah lama kami tak bersua.

“shen...aku kangen kamu” ucapnya. Dan aku mulai kaget bercampur haru serta jantungku berdetak lebih kencang.

“apa kita nggak bisa kembali kayak dulu lagi? sulit buat aku ngelupain kamu gitu aja, aku sadar aku salah, dan rasanya sudah cukup kamu bikin aku tersiksa selama dua tahun ini, kamu menghindari aku, tanpa ngasih aku kesempatan kedua, itu nggak adil shen”

Kami sama-sama terdiam sejenak, aku mulai menghela nafas, namun mulutku seolah masih terkunci.
Diiringi dengan ucapan bapak bengkel yang mengatakan motorku sudah selesai. Dan aku mulai membayar dan bergegas untuk pergi. Aldi kembali menahan langkahku, dan mencoba menatap, tanpa mengucap apa-apa.

please shen” ucapnya seraya memohon akan kesempatan itu.

“oke, kita coba ya, makasih udah nemenin” jawabku, sambil tersenyum dan bergegas pergi.

Begitulah ramadhan kali ini, campur aduk rasanya, dan menurutku, cukup manis untuk kembali memulai petualangan hubungan kami selanjutnya, entah nanti bagaimana. 

Komentar

share!