Abel & Handsun




Karya:  Jeje


Di jalan dusun yang dulunya sunyi, dalam sekejap menjadi ramai karena suara tembakan yang bersaut-sautan, darah, teriakan, tangisan dimana-mana. Hampir di setiap sudut wilayah. Bahkan, lereng gunung yang sepi menjadi tempat berlindung penduduk. Para koloni Belanda terlihat jelas mondar-mandir sibuk mencari tempat teduh sambil menyiksa kaum yang lemah. Mereka tertawa di pulau Kalimantan yang subur. Merampas segala SDA (Sumber Daya Alam) yang ada. Belum lagi melemahkan Islam dengan upaya Kristenisasi kian maju. Buktinya, ide-ide Barat mampu merasuki para petinggi negara agar tetap tunduk kepada para koloni.


Awal-awal bulan Juli memang puncak musim panas. Dalam kondisi seperti ini tentu orang-orang akan memilih beristirahat di rumah. Menyalakan pendingin ruangan sambil menunggu adzan Maghrib tiba. Dan berbuka shaum bersama keluarga. Sama seperti anak-anak pada biasanya. Abel dan Handsun, pasti menginginkan demikian. Akan tetapi, harapan itu hancur semua. Pupus menjadi abu terbawa oleh arus air, terbawa oleh semilir angin, dan terbakar oleh kobaran api. Ekpansi Belanda ke negeri ibu pertiwi pada tahun 1902, tepatnya kampung mereka. Memberikan sayatan luka bagi rakyatnya dalam kurun waktu 350 tahun. Perhiasan langit yang gemar menerangi malam bersama bulan menghilang, langit mengelam hitam menjatuhkan sedikit demi sedikit air hujannya. Langit pun menjadi sedih dengan keadaan bangsa ini. Hari kemenangan menuju fitrah yang suci harus ternodai dengan mayat yang berjatuhan.
“Kalau kita, orang Belanda, ingin tetap tinggal di Jawa dan hidup dalam damai dan menikmati keindahan serta kekayaan pulau tercinta ini, maka ada satu tuntunan, yaitu bahwa kita harus selalu memperlakukan orang Jawa sebagai saudara kita.” Van Lith menyemangati rekan-rekannya untuk menempatkan diri dengan orang Jawa. Kalian percaya? Dengan tipu daya seperti itu. Mereka hanya para bedebah yang akan menggeruk segala kekayaan Indonesia. Tujuan mereka tiada lain hanya Gold, Gospel, dan Glory.
Para misionaris menjadikan Indonesia sasaran yang empuk bagi misi zendingnya. Tak lain, karena Indonesia mempunyai selat Malaka sebagai jalur perdagangan. Kairo, Mekkah, dan negeri-negeri Timur Tengah pastinya akan hancur total. Ajaran Nabi Muhammad pun mungkin tak akan pernah menggakar di negeri ini. Tak akan ada lagi shaum Ramadhan, tak akan ada lagi shalat Tarawih, tak ada lagi Hari Raya Idul Fitri. Di dusun Kalimantan, masyarakat harus memiliki jiwa yang tangguh untuk mempertahankan hidupnya. Para penjajah makin brutal, sibuk mencari kaum marginal untuk dijadikan penyiksaan.
***
Jeritan petir memekik keras menusuk dua gendang telinga yang bersaudara, Abel dan Handsun. Mata mereka lelah karena harus mengangkut kayu, tebu, dan singkong. Baju mereka begitu compang-camping. Bukan sederhana! Tiba-tiba terdengar suara langkahan kaki dengan sepatu hitam yang sudah tak asing menghujam badan mereka.
Bukkk.. bukkk
“Anak-anak Moor* yang kotor, kalau kalian tak becus bekerja. Akan kami siksa sampai binasa. Ambil payung!” tentara belanda itu membentak mereka berdua. Wajah bulenya terlihat sangar dengan rambut gondrong yang tebal, mengalahkan suara sambaran petir yang tak henti memekik dingin. Abel dan Handsun menunduk ketakutan. Pil pahit dalam kehidupan mereka rasakan kembali. Rasa nyeri yang menghujam badan mereka menyeruak makin dalam, menghimpit dada mereka, membuat sesak napas.
     Pukul 10 malam, di saat anak-anak tertidur pulas di kasur yang empuk. Ditemani kasih sayang ayah dan ibunya. Abel dan Handsun malah disuruh mencari kayu kering untuk dibuat api unggun. Para koloni itu memperkerjakan mereka dengan seenaknya. Mencari kayu kering yang berceceran di hutan. Di saat gelap gulita, rintihan hujan pun turun membasahi mereka. Hampir dipastikan mustahil kayu kering itu ditemukan. Badan mereka basah kuyup menahan dinginnya malam. Ketika siang mereka harus menahan panasnya bulan Ramadhan yang membakar dosa-dosa anak Adam. Ketika malam mereka harus menahan dinginnya angin yang menusuk tulang. Abel sibuk memilah kayu dan memasukannya ke dalam karung berwana coklat. Si kecil Handsun hanya bersandar di pohon. Tak ada satu makanan pun masuk ketika matahari terbenam. Bukan karena dia tidak ingin segera berbuka. Para koloni senantiasa menjauhkan berbagai macam perkara yang berhubungan dengan Islam. Tentu tiada lain agar risalah yang dibawa Nabi Muhammad lenyap di bumi pertiwi ini.
“Handsun begitu lapar Kak. Apalagi kita belum berbuka.” Suara tangisnya memecah malam, rintihan hujan pun mulai berhenti. Handsun menahan dua rasa sakit dalam perutnya. Pertama, karena belum berbuka shaum. Kedua, tendangan keras menghujam perutnya yang kecil.
  • Muslim
“Bertahanlah dulu, biar kakak carikan makanan untukmu yah Dek!”
Meskipun lampu petromaks tetap setia menemani Abel mencari makanan. Dia tetap terlihat bingung. Hanya beberapa orang saja dari penduduk dusun mampu menjambah hutan. Yang terbesit di hatinya sekarang bagaimana cara membawa makanan untuk adiknya yang tecinta.
“Ya Allah, kalaulah saya harus memilih. Mudahkanlah hamba untuk mencari makanan untuk adik saya ya Allah. Dia adalah saudara hamba satu-satunya. Aku memohon akan pertolonganmu ya Allah. Mudahkanlah hamba mencari makanan untuknya” setetes embun dingin mengalir dari matanya.
Hal yang diluar nalar manusia dan jauh dari logika memang tak bisa diterima. Namun, kebesaran Allah itu datang. Begitu cepatkah dia mendengar permohonan hambanya yang beriman. Di depan mata Abel bergelinangan buah-buahan. Dia petik satu persatu dan membopongnya. Berlari menghampiri Handsun dengan riang dan gembira. Lalu memberikan makanannya.
“Darimana kakak mendapatkan makanan ini?”
“Dari Allah swt, ayo kita makan.” Mereka pun berbuka dengan sedikit keterlambatan waktu. Karena kenyang, Handsun tertidur di samping Abel.
***
Abel tidak akan pernah lupa kejadian Ramadhan tahun lalu, yang membangunkannya dari mimpi indah. Tentara Belanda datang mendobrak pintu rumahnya dan menyeret ayahnya yang sedang khusyuk membaca Al-Qur’an di dalam kamar. Di waktu yang sama, sang ibu yang sedang menyiapkan buka shaum di tarik paksa ke halaman rumah. Abel menyaksikan itu semua dari balik lemari baju dengan tubuh gemetar dan menangis. Handsun tidak mengetahui itu semua karena matanya ditutup oleh tangan sang kakak. Dia tidak mau Handsun kecil mengetahui kejadian yang menggenaskan itu.
Semenjak itulah Abel dan Handsun harus berjuang menafkahi hidup. Semua keluarga, sahabar karib, sanak saudara, harta benda lenyap oleh tentara Belanda. Namun, Abel masih bersyukur dengan cobaan yang diberikan Allah, hidupnya tetap bahagia karena Sang Khalik tak mengambil kecintaannya pada adik dan tanah air. Abel dan Handsun memang pekerja keras. Di saat anak kecil sekarang seumuran mereka bermanja-manjaan dengan orang tuanya, tidur di kamar yang empuk dengan selimut yang hangat, dan merasakan hari kemenangan bersama ketika bulan Ramadhan. Mereka harus berjibaku dengan namannya perbudakan.
Waktu sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Handsun tampak begitu lelah, dia tertidur pulas. Moga dia bermimpi yang indah bertemua orang tuannya yang tercinta. Abel menahan kantuknya, dia takut ada serangga kecil yang menyakiti adiknya. Akan tetapi, tubuh Abel mengigil disertai bersin-bersin.
Suara langkahan kaki kian mendekat.
Plakk.. Satu tamparan keras mengenai wajah Abel yang terlihat mengantuk. Wajahnya memerah bersimbah darah dan memar. Tentara Belanda menyeret kaki Handsun yang sedang tertidur pulas.
“Dasar anak yang tak tahu diuntung. Disuruh bekerja malah enak-enakan tidur.” Bocah yang baru berumur 12 tahun itu menangis kesakitan, berteriak-teriak meminta pertolongan. Meskipun terdengar tangisan yang semakin membuncah. Tak ada seorang pun yang berani menolongnya. Ia hanya berharap ada kejaiban Allah untuk keluargannya dan tanah air. Dilubuk hatinya paling dalam, dia ingin agar Indonesia merdeka. Abel yang melihat adiknya disiksa langsung adiknya yang penuh luka, tapi ia tetap tegar. Tak meneteskan setetes pun air mata. Ia tidak mau meneteskan air mata untuk para penjajah.
“Kalian boleh mencabik-cabik kulitku, memukul badanku, patahkan tulangku!! Tapi jangan pernah menyentuh adikku.” Wajahnya memerah tapi tetap menahan amarah. Dia takut pahalannya akan berkurang di bulan penuh pengampunan.
Tanpa mengiyakan dan membuang-buang waktu, kelima tentara Belanda menghantam punggung Abel bertubi-tubi dengan tongkat panjang. Abel kehabisan napas.
Setelah kelelahan menumpahkan emosi kepada Abel. Tentara Belanda meninggalkan mereka dengan penuh luka. Abel menolong adiknya berjalan pulang melewati sela-sela pohon. Rasa sakit dan nyeri kian terasa dengan siksaan yang diberikan oleh tentara Belanda. Abel sudah tak kuat berjalan. Handsun berusaha mengangkatnya namun tak bisa. Mereka mendapati satu gua di sebelah timur dekat dengan pohon jati yang menjulang tinggi. Mereka memutuskan untuk istirahat disana.
“Bertahanlah Kak.” Handsun mengambil air di sela-sela batu gua. Ia lalu merobek sedikit bajunya, mengusap luka-luka kakaknya.
“Kapankah ini berakhir Kak?”
‘Entahlah Dek, kakak berharap Ramadhan tahun ini kita mampu melewatinya bersama. Kakak harap kita dapat merasakan hari kemenangan dan hari kemerdekaan.” Abel berdahak, namun siksaan dari mereka tak seberapa dibandingkan dengan siksaan dari Allah swt. Handsun hanya menangis. Air mata bercucuran dari dua bola matanya yang indah.
“Kamu itu kan laki-laki, tak baik menangis seperti itu.” hibur Abel. “Lebih baik kita tidur dulu, waktu sahur kan masih lama.” Handsun hanya manut saja.
Mereka tertidur dengan begitu pulas. Semuannya kembali dalam rasa lelap. Dalam lelap, Abel melihat hidangan yang istimewa disajikan di atas meja makan. Dia begitu terkejut dengan raut wajah yang tak asing ada di hadapannya sekarang. Ayah, Ibu, dan tentu si kecil Handsun berada disana. “Nak mari kita sahur bersama” ajak ayah. Belum pernah Abel melihat wajah ayah dan ibunya bercahaya. Pakaian mereka begitu bersih dan putih. Harumnya yang semerbak mengalahkan minyak parfum ternama di dunia. Seketika itu pun ia bangun.
Gema lonceng kemerdekaan dibunyikan oleh kepala dusun hingga terdengar ke pelosok nusantara dan menyebar ke seluruh Indonesia. Proklamasi diucapkan Soekarno dengan lantang. Bendera merah putih karya ibu Fatmawati dikibarkan. Semangat yang berkobar-kobar juga dikeluarkan rakyat Indonesia saat menyanyikan lagu Indonesia raya, lagu kebangsaan Indonesia. Dibarengi dengan suara takbir yang bergemuruh. Membuat Abel sedikit bingung.
“Handsun.. Handsun bangun!”
“Apa Kak?”
“Sudah berapa lama kita tidur?” Abel tak sadar luka lembam di sekujur tubuhnya sudah hilang. Handsun hanya menggelengkan kepalannya. Isyarat tidak tahu. Hari kemerdekaan dan kemenangan, mereka rasakan bersama-sama.




Bandung, 17-07-2015. Terinspirasi kisah Ashabul Kahfi

Komentar

share!