3 In One




Karya:  Fadlun Suweleh

Dua minggu setelah lamaran darinya, aku justru semakin ragu dan sempat terbesit penyesalan karena telah menerima pinangan dari orang yang diam-diam sudah enam tahun kusukai ini. 


“Maksudnya tanggal 17 Agustus?.  Mas kamu nggak bercanda kan?.”  Aku bertanya kaget.
“Apa salahnya memilih tanggal itu, di desa kita belum pernah ada yang melakukan hal  luar biasa seperti ini.” Dia tersenyum dengan bangga.
“Bukan cuma di desa kita, tapi di seluruh pelosok negeri ini sepertinya belum pernah ada yang melakukan hal kayak gini Mas.” Aku menarik nafas dalam-dalam, masih tersentak dengan idenya. 
“Di seluruh pelosok negeri ini? Kalau begitu, aku jadi semakin yakin memilih tanggal itu. Bagaimana ? aku akan langsung membuat undangan, atau…”
“Atau kita nggak jadi menikah!!.” Aku memotong pembicaraannya tanpa berpikir dua kali. Hening seketika. Air mataku tertahan. Kenapa dia bisa seegois ini.
“Niken.. Niken tunggu, kenapa kamu jadi egois begini?. Kamu sudah tau kalau itu impianku sejak lama.” Suara mas Soehadi melemah. Tiba-tiba aku teringat dengan ucapannya delapan tahun yang lalu di SMA. Tepat tanggal tujuh belas Agustus, sebelum upacara kenaikan bendera, dia mengatakan pada teman-teman sekelas bahwa kelak ingin menikah di tanggal tujuh belas Agustus. Andai saja waktu itu aku tahu kalau aku yang akan menjadi mempelai wanitanya, aku tidak akan tertawa dan mengamini ucapannya.
“Aku egois? Kamu yang egois Mas. Mas hanya memikirkan dirimu sendiri. Bagaimana dengan aku, orangtuaku, orangtuamu, tetangga? Apa mereka semua akan setuju?. Lagian, agustusan tahun ini masih masuk bulan Ramadhan Mas. Aku mau pernikahan kita dilaksanakan bukan pas bulan Ramadhan.”  Suaraku mulai meninggi. Jujur aku sebenarnya tak ingin bertengkar.
“Bagaimana kalau orangtua kita setuju. Lalu tetangga, aku justru bisa meminta bantuan mereka dan meminta bantuan panitia-panitian agustusan nanti.” Dia berkata begitu seperti tak ada beban. Aku memilih untuk tidak melanjutkan pertengkaran kecil ini. Aku akan kembali ke rumah dan membicarakan dengan orangtuaku.
Seharusnya aku sudah tahu sejak awal kalau semua akan berantakan seperti ini. Sudah limabelas tahun lebih aku mengenal mas Soehadi, dia dari dulu sampai detik ini memang tidak pernah berubah. Ada dua hal yang selalu kuingat dari dirinya. Pertama, dia tak pernah absen menjadi ketua panitia untuk lomba-lomba agustusan atau apapun yang berhubungan dengan negeri tercinta ini. Soehadi yang tergila-gila dengan Indonesia. Tergila-gila dengan kemerdekaannya, dengan beragam budayanya, dengan beragam bahasanya, dengan aneka makanan-makanannya, dengan orang-orangnya, dengan pemandangan alamnya, dengan pahlawan-pahlawannya, dan semua tentang Indonesia. Lihat saja namanya yang kejadul-jadulan, jaman sekarang sudah ada huruf ‘u’ tapi namanya masih menggunakan huruf ‘oe’, dan dia sangat bangga dengan nama yang kejadul-jadulannya itu.
Lalu yang kedua, dia tak pernah absen menjadi pengurus masjid ketika bulan Ramadhan. Mengatur jadwal kajian rutin setiap sore sebelum berbuka puasa, sibuk menghubungi ustadz atau tokoh-tokoh masyarakat yang bisa mengisi kajian rutin tersebut, membacakan jumlah infaq masjid sebelum sholat tarawih, membangunkan saur, dan seabrek kegiatan yang hanya ada dalam satu bulan itu. Ya, dia juga tergila-gila dengan Ramadhan. Baginya hanya ada dua bulan spesial, bulan Agustus, bulan kemerdekaan yang juga merupakan bulan kelahirannya dan bulan Ramadhan, bulan paling suci dan bulan yang paling dicintai umat Muslim.
Aku mendesah panjang untuk yang ke sekian kalinya. Waktu lamaran dua minggu lalu keluarga kami memang belum membicarakan tanggal dan hari pernikahan kami, hanya saja Mas Soehadi sejak awal ingin sekali pernikahan ini dilaksanakan bulan Agustus. Tapi aku tak menyangka diantara tigapuluh satu hari di bulan Agustus dia justru memilih hari tersibuk se-Indonesia dan masih dalam bulan Ramadhan, yang akhirnya kami juga ikut sibuk bertengkar mengenai tanggal pernikahan kami.
Aku bisa memahami kalau mas Soehadi sangat ingin melaksanakan pernikahan di hari itu, momen yang sangat berharga akan terjadi di bulan agustus dan juga bulan Ramadhan, pasti akan menjadi hari yang spesial untuknya. Tapi dia tak memahami atau mungkin lupa, kalau aku benci menjadi pusat perhatian. Membayangkan menjadi ratu sehari di pernikahanku saja sudah deg-degan, ditambah lagi kalau pernikahan kami diadakan di lapangan desa dibarengi dengan perlombaan-perlombaan Agustus seperti impian konyolnya itu, sudah pasti akan lebih banyak lagi sepasang mata yang tertuju kearah pelaminan kami.
Keputusanku sudah bulat. Aku lebih baik membatalkan pernikahan ini jika mas Soehadi tetap ingin melaksanakan pernikahan kami di hari Kemerdekaan Indonesia.

Dua bulan setelah pertengkaran kecil itu……
Suasana di hadapanku benar-benar ramai. Hampir di setiap sudut lapangan ini aku bisa melihat berbagai kegiatan seru dan menyenangkan. Rupanya puasa bukan menjadi halangan untuk terus meramaikan hari spesial ini. Di sebelah kiri tempat dimana aku duduk, para ibu-ibu menyemangati anak-anaknya yang sedang berebut uang koin. Uang koin tersebut ditancapkan di beberapa buah jeruk Bali, lalu berbeda seperti tahun sebelumnya yang menggunakan gigi, tahun ini mereka harus bisa mendapatkan koin yang tertancap itu dengan sumpit. Ada juga yang sedang berkonsentrasi penuh hanya untuk melihat lubang jarum agar bisa memasukkan benang kedalam jarum. Selain itu, beberapa anak-anak yang tengah lapar dan haus masih tetap nekat berlari dengan karung, berebut menuju garis finish. Jarak lari lomba balap karung ini tak sejauh tahun sebelumnya. Pasti karena bulan Ramadhan, panitia perlombaan membuat aturan-aturan baru yang memudahkan anak-anak untuk mengikuti lomba. Dan tahun ini sudah pasti tidak ada lomba makan kerupuk. 
Kehebohan lain terdengar dari teriakan girang para istri yang menyaksikan suaminya bermain bola dengan menggunakan daster milik mereka. Sebaliknya, di ujung selatan lapangan tampak beberapa bapak-bapak duduk dengan takzim di dekat kolam kecil berukuran 7x3, menunggu kailnya di tarik oleh ikan-ikan yang sengaja diletakkan di kolam tersebut oleh panitia, lumayan bisa dibakar dan dimakan ketika buka puasa nanti. Lain lagi di tengah lapangan, sebuah kayu tinggi dan licin, dibawahnya anak-anak remaja sedang berusaha keras menuju pucuk kayu tinggi tersebut demi beberapa hadiah kecil seperti baju koko, sarung, peci, atau sekaleng Khong Guan, yang sebenarnya mereka bisa mendapatkannya di toko dengan mudah tanpa harus berebut, jatuh dan bangun menuju pucuk kayu itu. Ah, tapi memang berbeda rasanya kalau bisa mendapatkan hadiah-hadiah kecil itu dengan perjuangan.
Bibirku tak hentinya tersenyum menyaksikan rangkaian aktifitas di hadapanku, bertepuk tangan girang dan sesekali berteriak kecil lalu tertawa. Sampai tak sadar kalau laki-laki yang duduk di sampingku sedang memandangku.
“Dari wajahmu, sepertinya aku nggak usah nanya ‘bagaimana perasaanmu sekarang?’, karena aku sudah tau jawabannya.” Dia tersenyum manis sambil menggenggam tanganku lembut. Tiba-tiba aku merasa malu. Bukan karena dia menggenggam tanganku atau memandangku , tapi karena hal lain.
“Maaf ya Mas, aku jadi malu. Kalau saja dulu aku langsung menerima idemu ini. Tapi waktu itu.…” aku tak berani melanjutkan kalimatku. Tidak seharusnya permintaan maaf mengikutsertakan kata ‘tapi’, karena bisa saja akan merusak tujuan awal.
“Tapi waktu itu..” dia justru melanjutkan kalimatku yang sengaja kuputus, “karena calon istriku belum tau apa tujuan awal ide calon suaminya. Bahkan sampai sekarangsepertinya  belum tau juga.” Dia tertawa kecil. Aku tak mengerti kalimat terakhirnya.
“Maksudnya gimana Mas? Tujuan awalnya apa?” tanyaku cepat.
“Lihat sekelilingmu.”  Dia memalingkan wajahnya ke lapangan, aku mengikutinya, memalingkan wajahku dan melihat sekelilingku.
“Meskipun lapar dan haus, mereka semua sibuk dengan perlombaan yang ada. Berusaha menjadi yang tercepat, yang terbaik, menjadi nomer satu atau juara, lalu mendapatkan hadiah dan tepuk tangan. Tidak ada satupun yang memperhatikan kita berdua yang duduk manis disini. Bahkan mungkin mereka sudah lupa kalau hari ini kita berdua adalah raja dan ratu sehari. Pengantin yang seharusnya menjadi pusat perhatian malah terabaikan dengan perlombaan-perlombaan itu.” Dia tertawa lagi, memamerkan sederet gigi putih dan lesung pipinya.
“Apa kamu nggak cemburu dengan perlombaan-perlombaan di depan kita sekarang ? Seharusnya kita lho yang menjadi pusat perhatian.” Dia menggodaku. 
 Aku mulai menyadari sesuatu. Benar sekali, daritadi aku tak merasa orang-orang memperhatikanku. Bahkan para tamu undangan pernikahanku juga sibuk memperhatikan perlombaan meriah yang ada di lapangan. Meskipun jarak antara tempat duduk para undangan dan tempat perlombaan cukup jauh, tapi tetap saja perhatian mereka teralihkan. Dadaku tiba-tiba berdegup kencang, rona merahmuda di pipiku juga sepertinya tak mau bersembunyi.
“Jadi, tujuan awal ide ini karena mas pengen kita nggak jadi pusat perhatian ya.” Aku tertunduk malu. Romantis sekali laki-laki yang kini menjadi suamiku ini. Dia ternyata ingat kalau aku punya penyakit aneh. Meskipun belum separah penderita social anxiety disorder pada umumnya, atau biasanya disebut phobia sosial, tapi aku memang selalu menghindari menjadi pusat perhatian.
“Sebenarnya konsep pernikahan ini sudah kupikirkan sejak sembilan tahun yang lalu. Sejak kamu memarahiku karena memilihmu menjadi MC di acara pembukaan tujuh-belasan sembilan tahun yang lalu. Sejak pertama kali aku tau kalau kamu tidak suka menjadi pusat perhatian. Sejak pertama kali aku suka padamu.” Mas Soehadi berkata begitu sambil tertunduk, sepertinya dia malu. Aku semakin kaget dengan penjelasannya. Jadi sudah sembilan tahun dia suka padaku dan merencanakan konsep pernikahan seperti ini.
“Niken, kamu mungkin nggak ingat waktu pertama kali aku berdiri di lapangan, sebelum upacara dimulai dan mengatakan ingin menikah di tanggal tujuhbelas Agustus. Sebenarnya itu kuucapkan setelah aku sadar kalau aku suka padamu. Aku mulai berfikir bagaimana supaya kita tidak menjadi pusat perhatian ketika kita menikah kelak, makanya ide menikah di hari Kemerdakaan sudah kupikirkan, meskipun aku tak menyangka bisa bertepatan dengan bulan yang paling suci juga... Hahaha. Kenapa dulu aku yakin sekali kalau kita akan menikah.” Dia tertawa lagi, kali ini sambil menekan pelan hidungnya. Jelas sekali dia ingin menutupi raut wajahnya yang kini merona. Aku masih terdiam, bingung mau berbicara apa. Aku sangat terharu.
“Aku ingat Mas...” aku tersenyum, kuberanikan menatap matanya.  “Terimakasih banyak dan sekali lagi maafkan aku karena dulu…”
“Tidak usah dibahas lagi ya. Yang penting sekarang tujuan Mas…eh maksudnya aku… tujuanku….emm.. Enaknya aku manggil Niken saja, atau pakai Dek.                                   Dek Niken Aku..Em”  Tiba-tiba dia tergagap. Aku sengaja membiarkannya.  Lucu sekali.
Sayup-sayup aku mendengar suara panitia menyebut nama-nama peserta yang telah terpilih menjadi juara. Sepertinya  sudah sesi pengumuman pemenang. Ah, cepat sekali. Padahal aku masih sangat ingin menikmati suasana hari ini lebih lama lagi.
 “Sekali lagi terimakasih banyak Mas, konsep pernikahan ini menjadi konsep terindah yang pernah ada.” Aku sengaja membicarakan topik sebelumnya, agar rona di wajah kami tidak semakin memerah.
“Tapi masih ada satu kejutan lagi yang mungkin kamu… Maksudnya, mungkin dek Niken nggak akan suka.” Ekspresi wajahnya berubah seketika, yang tadinya malu kini berubah iseng. Ide apa lagi yang direncanakan. Aku hanya bisa mengerutkan alisku dan melototinya. Awas saja ya kalau macam-macam. Tak lama kemudian terdengar suara salah satu panitia yang memandu acara pernikahan  kami dan acara perlombaan. 
“Tidak terasa ya hari sudah menjelang sore, pastinya sudah tak sabar menanti buka puasa. Nah sebelum kita berbuka puasa bersama, bagi adik-adik yang tadi namanya dipanggil sebagai juara pertama, kedua dan ketiga. Silahkan naik ke panggung untuk foto bareng kak Niken dan kak Hadi. Ini bonus hadiah, spesial khusus Agustusan edisi tahun ini. Ayoooo, naik…naik… waktunya foto bareng pengantin kitaaa.” Suara heboh pemandu acara menjawab rasa penasaranku. Jadi ini kejutan lain dari Mas Hadi. Dia sengaja menyuruh panitia untuk memanggil pemenang lomba dan berfoto bersama kami.
Senyum bahagia tak hanya dirasakan olehku dan mas Hadi, tapi juga kami semua. Setelah berfoto-foto ria, panitia mengarahkan kepada para tamu undangan, anak-anak yang mengikuti lomba dan seluruh masyarakat desa untuk menuju belakang panggung. Hidangan berbuka puasa telah siap untuk disantap. Acara pernikahanku ini pun di akhiri dengan buka bersama seluruh warga desa. Buka puasa ternikmat yang pernah kurasakan.
Terimakasih Robku sang Maha Pengatur segalanya, karena telah mengatur pernikahan yang terbaik untukku. Hari ini benar-benar hari spesial. Tiga momen spesial terjadi dalam satu hari penuh. Hari pernikahanku, bertepatan dengan hari kemerdekaan dan juga dilaksanakan di bulan paling suci, bulan yang penuh berkah. Semoga kita menjadi hamba Nya yang selalu bersyukur dan bisa dipertemukan di bulan Ramadhan mendatang. Amiin.

Komentar

share!