UNEXPECTED RAMADHAN


Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Reski Ulpiya

Aku adalah Syakinah, gadis bergigi tongkos, yang selalu menjadi bahan ejekan orang, aku memiliki rambut keriting, badan yang gendut, rumah ku terletak di perbatasan desa. Sekarang umur ku telah genap 35 tahun. Sejak 10 tahun yang lalu, saat usia ku 25 tahun aku tak berani lagi menampakkan wajah ke halayak banyak, hinaan dan cibiran tentang diri ku si tongkos kremes yang sejak kecil aku terima bukan membuat aku tebal telinga, semakin hari mental ku semakin turun, apa lagi sekarang gelar ku bertambah dengan dengan sebutan perawan lapuk.


Aku selalu menangis apabila di hina orang, tidak ada juga satu priapun yang menyukai ku, malah selalu meludah saat melihat ku, begitulah kira-kira, sudah 10 tahun aku tak berani keluar rumah.

Setiap hari pekerjaan ku hanya di rumah membantu ibu membuat kue, aku selalu kwatir akan nasib ku, apabila kedua orang tua ku telah tiada, siapa yang akan menghidupi ku.

Saudara-saudara ku selalu mengajak ku keluar tapi aku tidak mau, di rumah aku selalu menonton tv, aku selalu iri melihat sinetron percintaan, apa lagi sampai melihat adegan bermesraan, sungguh batin ku tidak kuat, maka dari itu aku menghapus semua channel dari digital ku, yang ada hanya siaran dakwah, yang selalu menguatkan hati ku yang masih sendiri.

Adik-adik ku sering kali membawa pacar mereka ke rumah, setiap kali pertama pacar mereka melihat ku, selalu saja mereka memanggil ku dengan sebutan bibi. Hati selalu ingin menangis. Bahkan karena kesalnya, aku tidak memberikan izin pada adik-adik ku untuk membawa pacar mereka ke rumah. Hari ini aku membantu ibu lagi membuat kue.

“bu, jodohkan aku lagi dengan seseorang bu, aku sudah tidak tahan menjomblo”

“kamu ini bicara apa?” ibu sudah banyak menjodohkan mu dengan pria-pria yang berbagai jenis, mulai dari yang kaya, sampai pengemis sekalipun, tak ada yang menyukai mu”

“ibu!” kok bicara seperti itu?”

“lalu, ibu mau bilang apa lagi?” ibu juga ikut-ikutan malu Kina, cobalah menunggu jodoh dari Tuhan, tidak usah mencari lagi”

“mau sampai kapan bu?” teman-teman ku sudah hampir punya cucu semua”

“diam kau!” lebih baik kau menampakkan diri pada orang lain, mana tahu ada yang iba pada mu!”

“ngak mau!” ibu jahat sekali pada ku!” aku ini anak mu juga bu!” ibu.....”

“apa lagi Syakinah?”

“duda juga aku mau bu?” ibu ku melotot

“iya bu, duda bertongkat aku juga mau” ibu ku langsung berdiri, dan memukul kepala ku.

“dasar bodoh, lebih baik kamu mati suci, dari pada kau menikah dengan duda bertongkat” akpun merajuk, dan melemparkan tepung ke lantai. Kemudian aku dan ayah ku berpapasan, ayah ku tersenyum, dan menanyakan apa yang terjad pada ibu ku. Aku berjalan perlahan menuju kamar ku, kamar ku terletak di lantai dua rumah ku, aku sengaja meminta kamar itu, agar dapat melihat orang-orang dari atas.

Setelah sampai di kamar ku, aku menghempaskan tubuh ku ke atas kasur, ku raih hp ku yang ada di atas meja sebelah tempat tidur ku, ku buka akun facebook ku, ohhh... ayang sekali status yang aku update tadi pagi satu suka atau komenpun tak ada yang merespon, bibir ku hanya menjadi manyun, ku baca kembali status ku yang berisi “ yang jomblo, merapat dong”

“sial...., ngak ada satu orangpun yang sudi melihat status ku, ya ampun Kina, apa Tuhan harus menghukum mu sampai sedalam ini?” status baru, “dimanakah kau berada jodoh ku?” saat aku melihat status teman-teman ku yang berjumlah 25 orang, 5 di antaranya adalah adik ku sendiri, 20 orang lainnya, yang berjenis sama dengan ku, sama-sama jomblo lapuk. Sudah banyak yang aku mintai pertemanan, tapi tak ada yang mau menkonfirmasi. Adik ku datang mengejutkan ku.

“kakak, sebentar lagikan ramadhan, kakak mau sholat di Mesjid mana?”

“Humairah, kenapa bertanya?” memangnya sejak kamu lagir, kamu pernah melihat kakkak keluar rumah?”

“kakak, kenapa harus mengurung diri terus?” bagaimana dapat jodoh?” bahkan kalau kakak di rumah kita ini, kucingpun tak mau pada kakak”

“Kenapa?” aku bertanya dengan mimik yang serius.

“kucing kitakan sudah punya istri, si Manis”

“si Manis?” siapa itu?” adik ku menggelengkan kepalanya.

“coba lihat dirimu kakak, si Manis saja kakak ngak kenal?” dia adalah kucing tetangga kita, sekarang mereka telah memiliki anak kembar” ya Tuhan...... bahkan nasib kucing lebih indah dari nasib ku? Itulah gumang hati ku.

“Humairah, kucing dan manusia itu berbeda, jangan samakan aku dengan kucing”

“memang tidak sama, tapi kakak tidak sebanding dengan kucing”

“Humairah!!” keluar kau dari sini!” dasar anak nakal” Humairah adik ku yang paling bungsupun pergi. Nah! Datang lagi si Aisyah, yang selalu mendakwah ku.

“ada apa Aisyah?”

“kak, aku punya teman di facebook, aku kenalin dia sama kakak, pertama aku tunjukkan poto kakak padanya, eh.. ternyata dia tertarik!” mendengar perkataan adik ku aku merasa kegirangan sekali, adik ku bilang kami akan bertemu dengan pria itu di kafe besok hari. Aku sudah tidak sabar, segera aku tidur.

Keesokan harinya, aku dan Aisyah, bersiap-siap ke kafe, aku pergi dengan menggunakan gaun merah mudah sampai ke lutut, sementara adik ku Aisyah memakai baju tangan panjang dan rok panjang, dia berhijab.

Sesampainya di kafe, kami memesan minuman, seperti biasa aku memesan cocolate, adik ku hanya jus, tak lama adik ku melambaikan tangan ke arah seorang pria, waw... tampan sekali, pria itupun mendekati kami. Setelah pria itu ada di hadapan kami, kami berkenalan, namanya Agus, pria tinggi bertubuh L-Men, berparah tampan, aku tidak menyangka, penantian ku yang lama ternyata untuk dia. Aisyahpun meninggalkan kami berdua, kami bicara cukup banyak, mengenai usia, pekerjaan sehari, hobi dll. Aku sangat tersanjung sekali dan tidak percaya sekali di dekatnya. Hingga akhirmya kami mengarah ke pembicaraan yang lebih serius.

“itu..., maaf Syakinah, apa yag di lakukan Aisyah setiap hari?” ha????? Aisyah??? Dalam benakku, apa yang sebarnya terjadi? Tapi aku tetap mencoba berpikir positif.

“ada apa dengan Aisyah?”

“begini Kina, aku melihat dia sangat sopan dan sederhana, aku berniat ingin melamar dia, bagaimana menurut mu?” karena aku harus meninta izin apada mu dulu bukan?” ya Tuhan... hancur dunia ku untuk yang 110 kalinya, teganya pria ini, tapi aku mencoba tetap tabah, aku menjawab dengan berkata tanyakan sendiri pada Aisyah, aku merasa pusing sekali, hingga aku memutukan untuk pulang. Setelah di rumah, aku tidak mau lagi keluar kamar, aku terus menangis, bahkan Aisyahpun tak dapat menenangkan ku, Aisyah terus meminta maaf.

Setelah tiga hari aku mengurung diri, ayah ku datang mengetuk pintu kamar ku.

“Syakinah, sudahlah keluar nak! Inikan sudah Ramadhan, ayo ikut holat tarwih, kata guru ayah, ramadhan adalah bulan yang berkah nak, selama ini kaukan tidak pernah sholat, kau marah pada Tuhan, kau tidak lebih hebat dari Tuhan nak, ayolah sayang, berlembut hatilah, agar Tuhan lembut pada mu.” Aku merasa yang ayah katakan masuk akal, akupun keluar dari kamar, dan memintamaaf pada ayah ibu dan adik-adik ku, kamipun turun ke meja makan dan makan bersama, setelah itu kami berangkat untuk sholat ke Mesjid.

“hei kos, kamu keluar?” udah lama ya?” kelihatannya kamu makin semok” Dian mengoceh ku, tapi adik ku terus mengingatkan ku, agar tetap sabar. Kamipun masuk ke dalam mesjid, kami sholat tarwih berjamaah, seelah selesai, aku tidak mau pulang buru-buru, akupun mengambil Al- qur’an, ku baca surah al-baqoroh, aku menangis, dan meminta ampun kepada Tuhan.

“ya Tuhan ku, ya Allah, maafkan aku yang telah melupakan mu, aku marah karena cobaan yang engkau berikan, maafkan aku Tuhan, tolonglah Tuhan, berikan aku jodoh secepatnya, yang baik menurut ilmu mu, sudahi cobaan ini Tuhan,” setalah aku selesai berdo’a, adik ku Aisyah datang dan memberikan kata sabar pada ku. Aku memeluk adik ku.

“Aisyah, aku telah bersalah pada Allah”

“Allah pasti akan memaafkan kakak” ayo kak, kita tadaruan rame-rame yuk.”

“iya Aisyah” kami bertadarus dengan orang-orang banyak, orang-orang selalu tertawa melihat ku setiap kali mengaji, karena gigi ku tidak bisa ku tutup. Begitulah aku selalu di perlakukan, tapi berkat saudara, dan keinginan berubah ku ke dalam yang lebih baik saat ramdhan ini, aku tetap tabah.

Setelah selesai makan sahur, aku keluar rumah untuk menghirup udara segar, rasanya hidup ku lebih baik dari pada sebelumnya. Saat aku berjalan-jalan, aku melihat seorang wanita tua, berpenampilan lusuh, aku mendekatinya.

“ibu ini siapa?” kenapa kotor sekali ibu?”

“ibu kesasar nak” ibu baru di kota ini, ibu dari kampung, ibu mau menemui anak ibu, tapi ibu kecopetan nak”

“ya Allah ibu, ayo bu ke rumah saya bu” akupun membawa ibu tua itu ke rumah kami, keluarga ku merasa heran sekali melihat ibu itu, aku memandikan ibu tua itu, lalu meminjamkannya baju, ibu tua itu sama gendutnya dengan ku, lalu aku memberi ibu itu makan, setelah tenang aku menanyakan, siapa nama anaknya tersebut.

“nama anak ibu Muhammad nak Syakinah, dia bekerja di sebuah perusahaan, ibu tidak tahu perusahaan apa namanya nak, kalau anak mau membantu, ini poto anak ibu” wah tampan sekali, pasti orang sukses. Kemudian aku menanyakan nama lengkap anak ibu itu. Ibu itu mengatakan Muhammad Al- Amin, mendengar namanya hati ku bergetar, dan bulu kuduk ku merinding.

“ibu tenang saja ya, Insya Allah Kina bantu, sementara belum ketemu, ibu tinggal disini saja ya?”

“apa tidak apa-apa nak?”

“tentu saja tidak bu, keluarga ku juga sudah setuju, ayo bu, ibu tidur di kamar ku.” Aku membawa ibu Muhammad ke kamar ku, lalu aku mengambil hp ku, lalu ku buka akun facebook ku, ku ketik nama di kotak pencarian, Muhammad Al- Amin, alhamdulillah, ketemu juga orangnya, aku melihat kronologinya, di situ aku lihat status “ibu, semoga kau baik-baik saja”, mulai dua hari yang lalu, statusnya hanya mengenai ibu. Ku lihat lagi di tentang data pribadinya, ternyata dia lebih muda dari ku 5 tahun. Lalu aku mengirim pesan padanya

“Assalamu’alaikum Muhammad, maaf, ini saya Syakinah, ibu anda bersama dengan saya saat ini, ibu anda bernama Sitikan? Kalau benar datanglah ke jalan mangga 5 blok 2 rumah berlantai 2, terimakasih.” beberapa menit kemudian ada balasan dengan isi “benar sekali mbak, baiklah, sekarang juga saya akan datang ke rumah mbak.” satu jam kemudian terdengan dari luar rumah ucapan salam. Assalamu’alaikum, akupun turun, dan membuka pintu, wa’alaikumussalam.

Masya Allah, inikah ciptaan mu? Sempurna sekali Tuhan, ya Allah, berikanlah aku keberkatan ramadhan agar aku dapat berjodoh dengan ciptaan mu ini.

“maaf, apa ini rumahnya mbak Syakinah?”

“iya itu saya” Muhammad menyalam ku, “mari masuk, silahkan duduk, saya akan memanggil ibu anda.”

“baiklah, terimakasih mbak” hati ku riang sekali melihat ciptaan Tuhan tersebut, aku bergegas mebangunkan ibunya Muhammad dengan lembut, dan membawa ibu Muhammad menemui Muhammad. Muhammad memeluk dan besimpuh pada ibunya. Ibunya menangis, setelah mereka tenang, kami mengobrol, keluarga ku juga meminta mereka untuk berbuka puasa bersama, Muhammad dan ibunya tidak menolak, buka puaapun tiba, kami semua berbincang-bincang, ibu Muhammad selalu memuji kebaikan ku padanya.

Selesai berbuka Muhammad dan ibunya berpamitan pulang, kamipun pergi menuju ke mesjid untuk sholat Isya dan tarwih, setiap hari aku selalu memikirkan Muhammad, aku tak berani meminta nomor telphonnya, aku selalu menangis dan meminta pada Tuhan di setiap sholat ku, agar aku di pertemukan dengan Muhammad. Sampai suatu malam, aku sholat Tahajjud, di situ aku dengan khusuk meminta pada Allah, agar Allah mnegirim Muhammad untuk ku, besok adalah puasa ramadhan ke 29 aku merasa hampa sekali, iang harinya aku hanya duduk diam di rumah, begitu juga dengan semua keluarga ku, adik-adik ku yang telah menikah juga sudah pulang kerumah, jam 16:00 setelah selesai sholat Ashar, ada yang mengetuk pintu dengan ucapan Assalamu’alaikum, ayah ku membukanya, ternyata itu Muhammad, dia datang bersama ibunya, setelah satu jam berbincang dengan ayah ku, ternyata Muhammad ingin menikahi ku seminggu setelah lebaran tepatnya hari jum’at, rasanya aku bahagia sekali, inikah hal yang tak terduga, yang di sediakan Tuhan untuk kita. Muhammad menikahi ku dengan alasan, karena aku sudah mau dengan tulus merawat ibunya, sebelumnya, orang yang pernah berhubungan dengan Muhammad, tak pernah mau bersikap baik pada ibunya, karena ibunya sama jeleknya dengan ku.

Komentar

  1. dalam kesabaran selalu ada kekuatan, yaitu kekuatan Doa dan Harapan. aku yakin doa bisa merubah segalanya, sebab doa adalah salasatu cara kita meminta dari kepada Allah sang pembolak balik hati manusia (selamat menunaikan ibadah puasa)

    BalasHapus
  2. Semoga yang baru saja saya kirim di terima juga.

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!