TSUNAMI RAMADAN*



Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Encep Abdullah


Ada Tsunami…

Aku langsung menjingkrak dari tempat tidur ketika mendapat kabar dari salah seorang kawan. Tapi, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan itu. Tak ada pengumuman dari toa masjid. Atau dari tetangga yang seharusnya geger ke sana- ke mari.



“Kamu nunggu apa? Cepat keluar!”

Ayah tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dan menyuruhku segera mengemasi barang-barang. Aku kelabakan seperti rumah kebakaran. Sepertinya kabar kawanku itu benar. Aku kelimpungan sendiri di dalam kamar. Bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku hanya mondar-mandir tak jelas arah.

“Cepat keluar!” ayah membentak.

Ayah bersama ibu bergegas keluar naik motor, sedangkan aku ditinggal sendiri. Rumah dikunci. Mereka meninggalkanku. Urusan nyawa melenyapkan kepedulian mereka terhadapku. Aku bingung hendak lari ke mana. Ayah dan ibu sudah menghilang dari jangkauan mataku. Aku bergegas menuju jalan raya. Seketika jantungku berdetak lebih kencang.

 “Ya, Tuhan…”

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

“La Ilahaillallah…

Orang-orang berteriak menyebut nama Tuhan. Beberapa kendaraan saling menyalip. Jalan raya semakin menghimpit. Aku hanya menatap mereka dengan wajah hingar-bingar di sisi jalan raya. Mereka berlalu lalang layaknya gerombolan semut yang diacak-acak di dalam toples gula. Mobil dan motor pun tak keruan seperti ambulans. Berisik. Tapi ini bukan bunyi sirine, melainkan bunyi teriakan dan tangisan orang-orang dalam mobil itu.

“Ini hanya mimpi,” ujarku.

Air laut itu menerjang rumahku. Menerjang masjid. Menerjang apa pun sesukanya. Menyapu bersih layaknya taik ayam mencret yang disiram di lantai keramik dengan seember air. Beberapa orang terseret jauh. Mereka meminta tolong. Percuma, orang-orang hanya memikirkan nasib mereka masing-masing. Aku menatap dari atas awan. Aku terbang. Melayang bersama arwah-arwah orang yang sudah meninggal. Aku lebih baik bunuh diri saja dengan membenturkan batu berkali-kali ke kepala. Cepat atau lambat sama saja akan mati. Percuma secepat aku berlari, ajal lebih cepat seribu kali lipat menjemputku.   

“Kamu nunggu apa? Nunggu mati!”

Seseorang menepuk bahuku. Aku tersadar dari lamunanku. Orang itu sudah jauh berlari dari hadapanku. Alhamdulillah, pikiranku kembali lagi ke alam nyata. Hendak ke mana kaki ini harus melangkah. Barangkali aku hanya pasrah. Ah, tak mungkin. Bisa mati konyol aku lama-lama berdiri di tempat ini. Orang-orang semakin ramai datang dari berbagai penjuru. Terutama dari arah laut itu. Laut Domas. Laut yang paling dekat di antara laut-laut yang lain dari kampungku.

“Mau lari ke mana?”

“Entah.”

“Kamu?”

“Entah juga.”

Orang yang becakap-cakap denganku itu tiba-tiba langsung merobek dadanya dengan pisau. Isi dalam perutnya berojolan. Aku menjerit. Aku berlari sekuat tenaga. Meninggalkannya. Tak peduli menolongnya. Tak peduli menolong siapa pun yang ada di sekelilingku. Meski banyak dari mereka yang sudah jompo maupun anak-anak kecil. Nyawa adalah urusan masing-masing, ujarku dalam hati.

Waktu sudah kelewat berbuka. Orang-orang tak ada yang ingat bila mereka sedang berpuasa. Begitu pun aku. Tak ada orang salawatan. Tak ada suara azan berkumandang. Dalam pikiran mereka hanya satu: nyawa.

“Sebentar lagi airnya datang!”

Orang-orang berhenti di titik paling aman. Termasuk aku. Di masjid Jami ini sekiranya kami bisa aman dari ancaman tsunami. Tapi, lama-lama masjid ini bisa roboh. Tapi, entahlah. Sekiranya kami yakin, di tempat ini, Allah melindungi kami.

Aku melihat orang-orang di bawah sana dengan penuh penghayatan…
Masjid itu tiba-tiba makin doyong. Orang-orang berteriak. Salin berpeluk dengan sanak saudara mereka. Masjid itu roboh. Orang-orang berjatuhan. Mereka tertimbun reruntuhan atap masjid yang baru setengah jadi; masih berkawat. Aku terbang lagi ke atas awan. Aku hanya melihat mereka merintih kesakitan. Bagi yang sudah meninggal, maka akan segera ada di sampingku. Berkumpul bersama roh-roh yang lain. Lebih baik aku bunuh dari saja dari masjid itu, aku sudah yakin masjid itu akan roboh. Cepat atau lambat sama saja akan mati. Percuma sehebat aku bersilat, ajal lebih cepat seribu kali lipat menjemputku.   

“Sebentar lagi airnya datang!”

Kembali aku tersadar dari lamunan ketika orang di sampingku itu berteriak. Aku bersyukur bisa kembali lagi ke alam nyata. Apa yang sesungguhnya terjadi padaku. Apakah orang-orang di sini juga mengalami hal yang sama sepertiku?

“Mana tsunaminya?”

“Iya, kok belum datang juga.”

“Iya, aneh.”

Orang–orang sedikit kesal dengan kehebohan ini. Semenjak pukul lima sore tadi sampai menjelang Isya belum ada tanda-tanda air datang. Hanya lalu-lalang orang-orang saja. Lalu-lalang penuh dengan kebisingan kendaraan, teriakan, jeritan, dan tangisan.

“Sudahlah, kita pulang saja, ngapain lama-lama di sini. Tsunami nggak jelas,” ujar salah seorang pemuda kesal sambil turun dari tangga.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kami masih berlindung di atas masjid—lantai dua. Tak ada yang berani pulang walaupun seharusnya sudah waktunya mendirikan qiyamullail.

“Pak, sudah lewat Isya. Apa sebaiknya kita salat saja?”

“Aku tidak mau. Nanti kalau tiba-tiba ada tsunami datang bagaimana?”

“Iya juga.”

“Pak, sebaiknya kita salah saja.”

Pernyataan-pernyataan itu mereka lontarkan ke seorang yang sering menjadi imam di salah satu masjid---bukan masjid yang mereka tempati sekarang. Ustaz itu bingung sendiri. Begitu pun aku. Berkali-kali aku bertanya kepadanya meskipun aku pun sedikit ragu. Hanya ingin meyakinkan diri saja seperti orang-orang yang bertanya itu bahwa memang tak ada tsunami. Ini hanya isu.

“Kamu di mana?”

“Aku di masjid.”

“Kamu pulang! Salat! Ayah sudah di rumah.”

Ayah menelepon dan menyuruhku pulang. Ah, aku jadi sangsi antara pulang atau tetap di sini. Salat di rumah atau di masjid ini—bila memang keputusan Ustaz itu mengiyakan. Rumahku cukup jauh dari sini. Semua penghuni masjid itu gelisah menunggu keputusan Ustad. Tak ada lagi yang dipercaya selain ia. Hanya Ustaz itu yang dianggap lebih mengerti akan peristiwa ini.

“Taz, apa kita tidak berdosa?” Tanya salah seorang.

“Iya Taz, apa tidak berdosa?” Tanya yang lain.

Ustaz itu bingung sendiri. Tampaknya ia juga sangsi.

“Astagfirullah, mari kita berbuka. Mari kita salat!”

Ustaz itu tiba-tiba membelalakkan matanya. Bergidik seperti kambing usai kencing. Ia pun turun dari tangga menuju lantai bawah untuk segera mengambil air wudu. Orang-orang termasuk aku tidak langsung mengikuti Ustaz. Kami masih menatap heran.

“Orang aneh.”

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh mendekat. Semakin keras. Semakin dekat. Semakin dekat. Air menyerang kami. Memorak-porandakkan masjid. Memorak-porandakkan kami. Ustaz terseret. Orang-orang terseret. Aku melihat arwah mereka. Aku melihat mereka terbang, melayang ke atas awan.

     Serang, 2013—2014


*Tulisan ini berangkat dari kisah nyata yang terjadi pada 2009 di Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kab. Serang-Banten.

Komentar

share!