Trauma Sholat di Bulan Ramadan



Karya: Francana

Siapa yang tidak kenal Baldi. Seorang anak muda yang bengal dan tengil. Bulan Ramadan dan penuh suci ini sudah berlangsung selama tujuh hari. Tetap saja Baldi tidak pernah mau berubah menjadi seorang pemuda soleh seperti yang dicita-citakan oleh emak, bapak, nenek, kakek, paman, bibi, ustad, dan seantero masyarakat di desanya. 


“Nak, mengapa kamu tidak kunjung mau bertobat?” nasehat emaknya. Baldi adalah anak satu-satunya. Anak yang paling disayanginya sekaligus telah mengecewakan hatinya.
“Mak, bertobat dari apa?” tanya Baldi merasa tidak pernah bersalah atas apa yang telah dilakukannya selama ini.
“Jadi anak soleh”
“Apakah selama ini aku tidak soleh, mak?” tanya Baldi lagi. Memang selama ini perbuatan Baldi tidak ada yang merugikan orang lain. Bahkan, boleh dikatakan sering membantu masyarakat di sekelilingnya. Banyak keterampilan yang Baldi kuasai. Memperbaiki listrik, memperbaiki motor yang rusak, memanjat pohon, bernyanyi, menari, membajak sawah, dan mendaki gunung sekaligus melewati lembah ditekuninya setiap hari.
“Sholat, anakku” jawab ibunya yang sudah bosan meminta anaknya untuk mau beribadah ke masjid. Baldi memang sudah dinasehati sejak dahulu kala agar mau beribadah ke masjid. Bahkan, ustad paling beken sekalipun tidak bisa memberikan rangkaian kata-kata penggugah emosi agar bisa mencairkan hatinya yang beku dan dingin itu.
“Mak, orang yang sholat itu bukan berarti soleh” jawaban klise yang selalu diberikan Baldi.
“Nak, anak muda yang sholat saat bulan Ramadan maka kegantengannya akan bertambah dua tingkat” bujuk ibunya yang tampak putus asa melihat kelakuan anak sematawayangnya itu.
“Mak, aku tuh udah ganteng. Aku gak mau terlalu ganteng di muka bumi ini. Lagipula, sholat itu jangan karena ada maunya mak...tapi karena niat baik dari dalam” giliran Baldi menceramahi ibundanya.
Sholat hanya menjanjikan harapan palsu. Tidak ada jaminan, batinnya.
***
Ada trauma ramadan yang menyerang Baldi. . .

Ramadan sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun. Masyarakat menjalankannya dengan penuh kekhusyukan, perkumpulan, organisasi, partai politik, bahkan koruptor juga tidak mau ketinggalan. Terkhusus untuk umat Masjid Taklim, diadakan perkumpulan anak-anak muda setempat untuk mendengarkan khotbah. Bagian yang sangat membosankan bagi Baldi. Khotbah di malam hari yang membuat mata kantuk hingga benar-benar tertidur lelap sampai ngeler. Bahkan ada anak muda yang sampai semaput karena tidak tahan mendengarkan khotbah  yang berisi ajaran-ajaran Allah karena otaknya sudah dipenuhi oleh kegelapan.

Yang paling mengerikan adalah ceramah yang diulang-ulang dengan kalimat yang sama, dengan spasi yang sama, dengan tanda baca yang sama, dengan ekspresi yang datar, dengan pemahaman yang buntu selalu membuat kutu di kepala semakin aktif bergerak dan encok di badan semakin kumat.

Sepulang dari masjid untuk pendalaman Al-quran,  Baldi dan empat temannya berjalan menyusuri kegelapan malam. Mengkhianati dirinya sendiri dengan pura-pura tidak takut melewati jalan yang sudah terkenal dengan keangkerannya. Dengan menyanyikan lagu-lagu islami, bisakah? Mampukah menghilangkan rasa takut? Adakah jika selalu mengucapkan nama-NYA kita akan merasa aman? Adakah jika diminta, Allah akan langsung memberi, mengabulkannya? Bisakah hati tak sesuai dengan pikiran? Hati tidak sekuat pikiran?. Apalagi hati dan pikiran tidak sesuai dengan bunyi-bunyi yang keluar dari dalam mulut?

           Mereka berlima akan berjalan di belokan jalan besar yang sepi, tampak sangat begitu gelap, dan bernuansa horor. Kata orang-orang disanalah sarangnya hantu, bercokolnya makhluk-makhluk halus yang matinya penasaran, di sanalah kuburan-kuburan yang paling eksis, kuburan-kuburan yang berkelas, terbuat dari semen berhiaskan keramik yang berbunga-bunga, bermegahkan dengan batu akik di atasnya. Bisa dipastikan orang-orang yang mati di dalamnya adalah orang kaya berat, bergelimangan harta hingga matipun bermegah ria. Bukan hanya karena megah, disekitarnya juga di tumbuhi bunga-bunga yang indah mekar,  bunga-bunga yang mahal yang belum ada sebelumnya tumbuh di perkampungan. Sayangnya rumput-rumput dan ilalang, bahkan semak belukar dengan ganasnya melakukan ekspansi terhadap kehidupan bunga-bunga itu. Menguasai semua unsur hara di dalam tanah yang seharusnya juga menjadi milik sah bunga-bunga. Dari sana tergambar bahwa yang kuatlah yang akan menang.


Siang hari menjadi primadona yang megah, di malam hari menjadi menyeramkan, menakutkan. Siang hari dihiasi oleh cahaya matahari, malam hari dihiasi dengan lolongan anjing yang memiliki irama tertentu, kedengaran seperti nada tangisan yang telah diatur sedemikian rupa hingga membuat siapa saja yang mendengar, merinding ketakutan.

Sudah banyak korban dari malam hari, menghilang di kegelapan malam dan tak pernah lagi ditemukan. Ada sosok hantu yang menyelinap dalam kegelapan. Sosok itu digambarkan sebagai makhluk yang menyeramkan, rambut berdiri ke atas, mata merah semua, kaki tidak menyentuh tanah, dan yang paling sadisnya bisa membawa kita ke dalam maut. Tak terbayangkan rasanya tubuh terkubur di dalam tanah, digerogoti belatung, tidak akan bisa lagi merasakan sinar mentari di pagi hari yang mampu membuat aku tersenyum manis.

Sinar lampu mobil yang tajam menyebabkan mata terasa begitu sakit, sekaligus memberi efek yang menyeramkan, cahaya yang tiba-tiba datang dan menyilaukan mata, dan tiba-tiba pergi, menggelapkan pikiran. Adakah kebahagiaan datang hanya untuk sesaat saja? Di kala kita butuh, langung datang begitu saja, membuat kita lupa segalanya hingga hilang secara tiba-tiba tanpa disadari benar hingga membuat gelap mata? Mencoba mencari kebenaran di saat kebahagiaan itu muncul, tapi tak akan cukup karena derita tiba-tiba menyerang insan-insan yang tak berdaya. Mengapa tidak hanya derita saja, tak perlu kebahagiaan itu karena hanya akan menjanjikan harapan palsu. Ya...cahaya terang benderang yang dengan santainya redup, gelap, tak bisa lagi bergerak.

 Saat  suara mobil kedengaran mendekat, mobil  akan lewat dengan cahaya tajam lampunya, mereka sudah siap-siap menutup mata, atau sekadar memalingkan kepala. Mereka berhenti  tepat di pangkal belokan tajam jalan besar itu. Mereka mengalami perasaan yang sama, ketakutan, sepi, hening, mobil tak kunjung lewat untuk memberikan sinarnya yang tajam. Mereka butuh itu, walau hanya untuk sebentar. Belokan tajam yang memberi nuansa horor seratus persen. Bisakah mereka melewatinya? Bukankah mereka sudah anak-anak muda berusia labil? Darah muda darahnya para remaja. Korban film dan cerita-cerita horror. Benarkah ada bayangan-bayangan yang sedang mengintai mereka?

 “Kamu yang di depan” ucap Rio pada darsono

“Tidak mau...” Darsono menggelengkan kepalanya dengan tubuh mematung. Melihat keadaannya yang demikian, membuat Baldi merasa semakin tak terlindung di tengah-tengah kegelapan malam. Nuansa ketakutan semakin menggerayangi kelima anak muda itu.

“Kau saja”

“Kenapa bukan kau saja...?”

Mereka saling berdebat tentang siapa yang ada di depan, siapa sebagai pemimpin, siapa perintis jalan yang tentunya sekaligus sebagai korban pertama andai-andai makhluk-makhluk halus butuh nyawa. Tapi tak ada yang mau yang menjadi korban. Kalau begini terus, bisa-bisa mereka sampai pagi di jalan. Tidur di pinggir jalan. Di rumah bisa dipastikan dimarahi oleh orang tua masing-masing. Berapa kali ibu Baldi mengingatkanku bahwa hantu itu tidak ada. Itu hanya halusinasi manusia. Tapi ternyata cerita-cerita yang beredar di kalangan masyarakat, di kalangan teman-teman sepermainan lebih menguasai pikirannya.

Ada kambing berkaki tiga yang sekali datang dalam tiga tahun. Kalau kau melihatnya, kau bisa dibawanya ke alamnya. Jika kau menyentuh batu yang ada di hulu sungai itu, tanganmu akan otomatis patah, wanita penghisap darah akhir-akhir ini sedang eksis mencari mangsa, korbanya adalah bayi-bayi. Begitulah cerita yang beredar di lingkungan, seiring angin berhembus, berita juga berhembus, membabi buta tanpa ampun, membayang-bayangi pikiran terkhusus pikiran-pikiran kami anak-anak muda berusia labil yang siap menerima informasi bagaimana dunia ini, bagaimana kehidupan di dunia ini, harus bagaimana di dunia ini. Mereka sedang mencoba menerima berbagai wawasan itu sebagai manusia pada umumnya.

“Aku yang akan di depan” ucap Baldi dengan tegas walaupun sebenarnya hatinya takut juga. Bukankah lebih baik pura-pura berani dari pada selamanya bercokol dalam kegetiran?  Baldi melangkahkan kakinya...Tapi.....

“Aku tak mau dibelakang!”

“Aku juga...”

“Kamu yang dibelakang!” teman-temannya mempermasalahkan siapa yang berjalan paling belakang. Berjalan serempak tidak memungkinkan karena lahan untuk pejalan kaki hanya setengah meter. Mereka berlima harus berjalan dalam bentuk formasi satu baris!

Sial benar! Tadi permasalahan siapa yang ada di barisan terdepan membersitkan ketakutan dalam diri masing-masing, sekarang ada masalah lagi. Siapa yang berada di barisan terbelakang? Di depan tidak mau, di belakang tidak mau. Lalu harus dimana?

Baldi tak peduli, dia melanjutkan langkah kakinya. Keempat temannya berdesak-desakan di belakang Baldi karena tidak mau berada di posisi paling belakang. Berjuang, berlelah-lelah dengan sepenuh tenaga jangan sampai di posisi paling belakang.

“Sial...” ekspresi keempat temannya itu membuat ketakutan Baldi semakin menjadi-jadi. Dorongan-dorongan dari belakang itu membuatnya semakin jengkel, menambah nuansa seram, terlebih-lebih gigi darsono terdengar bergemeletukan.

  Baldi menarik satu keputusan. LARI!!!

Karena Baldi lari, keempat temannya juga lari. Mereka berlari tunggang langgang layaknya kawanan anak kerbau diserang harimau ganas di hutan yang paling liar. Setelah agak jauh dari lokasi paling terkenal oleh bayang-bayangan hantunya, mereka terhenti sambil terengengah-engah mengatur nafas yang sudah berdetak terlalu cepat. Baldi memperhatikan sejenak kawan-kawannya dalam semburat cahaya senter.

“Satu, dua, tiga,.....”

 “Tiga orang....??? Arnold dimana?????” 

Mereka bertiga menggeleng. Gelengan Darsono paling meyakinkan, paling tidak peduli, seakan-akan berkata “Peduli apa?”

Prediksi yang paling dominan di pikiran mereka berempat adalah kemungkinannya hanya satu yaitu “Ditangkap oleh hantu...karena larinya begitu lambat seperti bebek betina”

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang mengenaskan yang membuat denyut nadi ikut bergetar.

“Mamaaaaaaaaaaaaaaaa” Baldi menyorot sumber suara melalui senter. Arnold berlari dengan sekuat tenaganya. Tampak seperti layar di panggung karena sinar hanya jatuh padanya. Fokus pada ekspresi wajahnya yang merana. Close up! Dramatis!

“Huhuhuhhuaaaa” bukannya mengaturi nafas agar teratur, Arnold malah berteriak dengan sekuat tenaga seperti anak kecil yang geram karena tidak di belikan mainan oleh ibu tersayang.

“Sudah...kami tak akan lari lagi. Iyakan teman-teman...” ucap Baldi menenangkan hati Arnold yang sedang rusuh, gundah gulana, dan galau. Lengkap sudah penderitaan batin dalam dirinya.

Brandal, licik, tidak peduli, egois!. Darsono langsung melarikan diri. Yang lain ikut-ikutan melarikan diri. Berlari dari rasa nurani. Meninggalkan Baldi dengan Arnold yang sedang dikungkung oleh kengeriannya sendiri. Mengingat Darsono adalah anak muda yang rajin sholat lima waktu. Emosi Baldi  meluap-luap membentuk gelembung-gelembung panas yang siap meledak. Persepsinya mengenai sholat menjadi sinis.

“Lain kali aku tidak perlu sholat” batinnya.

Baldi tetap setia menemani langkah lambat kaki Arnold.    

***

***
              Di bawah pohon beringin yang kokoh dengan cabang-cabangnya yang kuat. Anggun dengan daun-daunnya yang hijau dan lebat. Baldi  merebahkan diri di antara akar-akarnya yang besar menonjol di atas permukaan tanah. Baldi tampak begitu terlindungi dari sengatan sinar matahari. Baldi mencoba menikmati keindahan alam. Dikelilingi rerumputan hijau, jangkrik-jangkrik sebentar melompat-lompat riang gembira di sana. Bau tanah humus lembab membuat perasaan nyaman. Hening dan sepi.
             “Nyaman sekali” batinnya. Menatap langit biru yang teduh mengingatkannya akan kekuatan yang Maha dari sang Pencipta. Hening dan sepi. Terasing. Baldi sangat menikmati keheningan itu. Bercampur dengan suasana spritual. Berkontemplasi dengan nada-nada harmonis gesekangan angin dengan dedaunan. Sendiri dan terasing dari orang lain. Baldi benar-benar merasa sangat dekat dengan Sang Pencipta “Allah Subhanawatallah”. Baldi memejamkan mata dan sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Ada suara yang bergemuruh dalam batinnya. Suara yang membuat hatinya bergetar. Suara yang menyejukkan sanubarinya di bulan ramadan kali ini.
             “Sholatlah!”

Komentar

share!