Tragedi Muknah Terbakar



Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Silvia Usnayanti

Suara kembang api sudah terdengar dimana-mana menandakan Bulan Ramdhan telah tiba. Tentunya semua orang telah mempersiapkan diri masing-masing untuk membersihkan hati dan mensucikan diri. Tidak hanya mempersiapkan diri saja, segala keperluan seperti muknah, pakaian muslim, peci, sajadah, makanan untuk buka dan sahur sudah pasti telah dipersiapkan untuk menyambut bulan yang suci ini. Begitu juga dengan gadis yang akrab di sapa Mala. Ia sangat bersemangat menyambut Bulan Ramdhan bahkan jauh-jauh hari sebelum puasa ia telah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Mala sangat senang karena tahun ini ia masih bisa melaksanakan ibadah puasa bersama keluarganya. Tetapi Mala sedikit khawatir karena selama berpuasa ia tidak bisa lagi berkencan dengan kekasihnya.


Pagi-pagi sekali Mala sudah berangkat kesekolah, menggunakan sepeda motor berwarna hitam yang selalu ia bawa setiap hari. Karena ini hari terakhir masuk sekolah ia sengaja datang lebih awal agar dapat bertemu kekasihnya lebih lama sebelum libur panjang tiba. Kebetulan Mala dan Rio bersekolah ditempat yang sama bahkan mereka satu kelas dan itu mempermudah mereka untuk bertemu setiap hainya.
Tak lama dalam perjalanan akhirnya Mala sampai, ia segera memakirkan motornya ditempat parkir dan bergegas menuju kelas. Kelas Mala terlihat masih sepi hanya beberapa orang yang sudah datang, tapi itu tidak maslah bagi Mala yang terpenting Rio sudah datang dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersama dengan Rio.

“Hay Rio, tumben pagi-pagi kamu sudah dateng” Sapa Mala kepada Rio.

“Ini kan hari terakhir kita masuk sekolah, tentu saja ini juga hari terakhir ku bisa bertemu dengan mu, makanya aku sengaja datang lebih awal”

“Begitu.. BAIKLAH AKU TIDAK AKAN MENYIA-NYIAKAN WAKTU YANG SINGKAT INI!!!!!!” Ucap Mala berteriak dengan semangat sambil mengepalkan tangannya dan mengangakat setinggi2nya.
Rio dan teman-temannya tertawa melihat kelakuan Mala yang terlalu bersemangat. Mendengar teman-temannya yang tertawa Mala langsung menurunkan tangannya sambil nyengir memamerkan giginya.

Karena ini hari terakhir masuk sekolah kegiatan belajar mengajar ditiadakan, dan semua siswa diperintahkan untuk membersihkan kelas masing-masing. Mala dan teman-temannya yang perempuan membersihkan ruangan kelas, sedangkan yang laki-laki membersihkan taman didepan kelas.

Setelah semuanya dibersihkan, Mala dan teman-temannya istirahat sambil bercerita satu sama lain. Sedang asyik-asyiknya bercerita Mala melihat Rio sedang duduk sendiri di sebuah kursi yang sudah disediakan didepan kelas masing-masing. Karena kasihan melihat Rio yang sendirian Mala menghampiri Rio dan duduk disampingnya.

“Kamu kok sendirian aja, kenapa gak gabung sama temen-temen yang lain?” Tanya Mala kepada Rio.

“Gak kenapa-kenapa sih, eh kamu sendiri kenapa kesini?” Tanya Rio balik kepada Mala.

“Aku liat kamu sendirian yaudah aku kesini buat nemenin kamu” Jawab Mala.

“Oh begitu.. oya ini kan hari terakhir kita ketemu” Ucap Rio dengan suara yang terdengar lemas.

“Iya emang, tapi gakpapalah sekarang kan kita bisa nikmatin waktu yang singkat ini berdua” Ucap Mala sambil tersenyum menghadap Rio.

“Iya kamu bener.. tapi aku bakalan….” Kalimat Rio terpotong.

“WOOY SEKARANG BULAN PUASA GAK BOLEH BERDUAAN APALAGI DEKETAN KAYAK GITU!!!!”

Teriakan teman-temannya membuat semua siswa yang ada disekitar kelas memperhatikan Rio dan Mala, menyadari bahwa dirinya diperhatikan Mala dan Rio bergegas bangkit dari kursi dan menajuhkan diri satu sama lain.

“Gak usah pake teriak juga kali kan malu diliatin” Ucap Rio kepada teman-temannya.

“Haha.. sengaja. Biar kalian gak diteriakin lagi yaudah gabung sama kita aja ngobrolnya bareng-bareng kan lebih seru juga” Ucap salah satu teman Rio.

Rio dan Mala menyetujui usulan temannya, mereka ikut bergabung untuk bercerita, dan bercanda bersama. Niat Mala yang awalnya ingin menghabiskan waktu bersama Rio tidak berjalan dengan lancar, tapi Mala tidak keberatan karena ia masih bisa tertawa bersama teman-temannya.

            Malam hari setelah berbuka puasa Mala berniat untuk pergi shalat tarawih dimasjid. Tiba-tiba saja Hp Mala bergetar, setelah dibuka ternayat itu adalah pesan dari Rio.

*PESAN*

Rio : “Kita jalan-jaln sekarang yuk! Kamu mau gak?”

Mala : “Aku sih mau, tapi kalau aku bilang mau pergi sama cowok pasti aku gak di izinin”

Rio : “Yaudah kamu bilang aja mau tarawih”

Mala : “Masak aku keluar sama kamu pake muknah? Dan juga sekarang bulan puasa kita gak boleh bohong”

Rio : “Iya aku tau, tapi gakpapalah sesekali nanti kan bisa taubat”

Mala : “Yaudah deh, kamu tungguin aku diluar ya”

Rio : “Oke”

Setelah selesai membalas pesan dari Rio, Mala segera memakai muknah dan meminta izin kepada Ibunya.

“Bu aku pergi tarawih dulu yaa” Ucap Mala meminta izin kepada Ibunya.

“Iya, setelah selesai kamu langsung pulang jangan kemana-kemana” Ucap Ibu Mala.

“Iya bu, aku berangkat dulu. Assalamualaikum” Ucap Mala berpamitan kepada Ibunya.

Setelah berpamitan ia langsung pergi, didepan rumahnya Rio sudah menunggu bersama motor yang ia bawa.

“Ayok kita pergi” Ucap Mala.

“Yaudah kamu naik” Ucap Rio.

Rio menyalakan motornya dan langsung pergi meninggalkan rumah Mala.

Sampai dipantai Rio memakirkan motornya, dan mereka pergi berjalan-jalan melihat suasana pantai. Pada malam hari suasana pantai terlihat lebih indah dari biasanya, banyak juga orang berkencan seperti mereka disekitar pantai begitu juga dengan anak-anak yang menyalakan kembang api mereka jadi leluasa karena tidak ada yang memarahi mereka.

Rio dan Mala duduk dipasir menghadap ke arah air laut yang tenang.

“Buka aja muknah kamu” Ucap Rio.

“Gak ah enakan kayak gini, bisa nutup aurat juga” Balas Mala.

Rio terdiam diikuti dengan Mala, mereka berdua hanya melihat kembang api yang bertaburan dilangit. Lama mereka terdiam, tiba-tiba saja datang sebuah percikan api seperti meteor dan ternyata itu adalah kembang api yang sedang dimainkan oleh anak-anak disekitar sana, lalu kembang api tersebut menghampiri Rio dan Mala, mereka bangkit dan menajuh dari kembang api tetapi muknah Mala sudah terbakar oleh kembang api itu.

“AAAAAAAAA!!!! RIO TOLOOOONG!!!!!” Teriak Mala ketakutan melihat Muknahnya yang terbakar.
Rio membantu Mala melepaskan muknahnya dan ia berlari ke laut untuk memadamkan apinya dengan air laut.

“Untug saja muknah ku tidak habis terbakar” ucap Mala merasa lega.

“Iya untung saja” Balas Rio.

“Ini pasti karena aku berbohong kepada Ibu jadi aku mendapatkan akibatnya” Ucap Mala.

“Mungkin saja, salah ku juga sudah menyuruh mu berbohong. Maafin aku ya” Ucap Rio menyesali perbuatannya.

“Yaudah gakpapa ini jadi pelajaran buat kita, mumpung masih Bulan Ramadhan kita masih bisa memperbaiki kesalahan kita” Ucap Mala menjelaskan.

“Iya kamu bener, dan kita gak boleh ngulangin ini lagi” Ucap Rio melanjutkan.

“Iyaa, yaudah kita pulang yuk” Ajak Mala.

“Yuk!!” Balas Rio.

Mereka sadar akan apa yang diperbuat dan kejadian tadi mereka jadikan pelajaran, mereka juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

~TAMAT~

Komentar

share!