Suara Kelestarian Alam


Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Halim Chandra Firdaus
Menjaga hutan agar tetap lestari? Atau menjaga perut kita agar tidak pernah kosong? Ironis memang, namun seperti itulah yang ada di negeri kita saat ini. Di satu sisi kita menjawab A, disisi lain alam bawah sadar kita menjawab B. Hasilnya mudah sekali ditebak. Otak kita berpikir akan kelestarian alam, namun tindakan kita pada akhirnya tidak selaras dengan pikiran kita hanya demi urusan perut yang tak kunjung terselesaikan dan cenderung berkelanjutan. Ya, itulah manusia. Akupun juga manusia, lalu apakah aku seperti mereka? Yang hanya mementingkan urusan perut? Ah hanya Tuhan dan orang-orang disekitarku yang bisa menilainya. Sekarang telah memasuki bulan Ramadhan. Bulan yang mendidik untuk mencapai ketaqwaan. Bulan yang berpeluang peunuh menuju pintu syurga. Bulan yang terdapat Lailatul Qadar di dalamnya. Bulan yang penuh dengan  pengampunan dosa. 


Bulan yang penuh dengan keberkahan. Bulan yang memiliki pahala berlipat ganda. Bulan diturunkannya Al-Quran. Namaku Ilham, namun orang-orang di sekitarku memanggilku dengan sebutan Teri, karena perawakanku yang memang kurus kering seperti ikan teri. Usiaku baru menginjak 15 tahun. Aku dibesarkan dalam lingkup keluarga yang biasa-biasa saja. Ayahku adalah seorang pekerja kebun di sebuah kebun yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Sedangkan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa pada umumnya. Dari ayahku, aku mengetahui banyak hal tentang hutan dan alam serta semua yang ada di dalam hutan. Karena alasan inilah, mungkin aku bisa lebih mencintai alam, mencintai apa yang ada di dalamnya.
****
“Il, bangun nak, sahur”. Suara lembut ibuku membangunkanku dari tidurku. Perlahan, aku bangun dan melihat muka ibuku yang sudah semakin senja usianya. Ah ibu, engkau tak pernah berubah. Aku beranjak dai dipan dan beringsut membasuh muka. Segarnya air sumur di pagi hari membuatku tak lagi mengantuk. Lalu aku bergabung dengan keluarga kecilku untuk bersantap sahur. Sahur? Ah iya sahur. Sahur bukan pengganti sarapan pagi, bukan juga penambah makan malam. Namun sahur yang penuh berkah, yang dilakukan diakhir jelang waktu fajar. Di sinilah waktu-waktu yang sangat mahal, doa dikabulkan, permintaan dipenuhi. Sehingga ketika melaksanakan sahur tidak tidak sambil nonton hiburan, tayangan yang melenakan, oleh media elektronik. Sibukkan diri dan keluarga kita dengan mensyukuri nikmat Allah dengan bersama-sama melaksanakan sunnah sahur ini dengan penuh hikmat dan kekeluargaan.

“Sahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” Begitu sabda Rasulullah saw. mengajarkan. Aku menyuap nasi dengan lahap ketika ayah mengajakku bicara.
“Bagaimana sekolahmu il?” tanyanya. Aku mengangkat muka. Memperhatikan gestur wajah ayahku yang berpeluh karena merasa kepedasan oleh sambal ibuku.
“lancar yah” jawabku sekenanya. Tak lama, dahinya berkerut, sangat dalam. Matanya menerawang jauh, seolah memikirkan suatu masalah rumit yang sulit untuk menyelesaikannya. Instingku peka. Aku ingin memastikan hal itu.
“Ada apa yah?” tanyaku menyelidik.
“Ah tidak, ” jawabnya pendek.
“kalau ayah tidak memberi tahu, aku akan mencari tahu sendiri.” Mendengar ini, ayahku sedikit terkejut, terlihat dari ekspresi wajahnya yang berubah walau hanya sepersekian detik.
“baiklah akan kuceritakan.” Dengusnya pada akhirnya. Ada nada kekalahan terselip dalam ucapannya. “Begini, di salah satu kawasan Taman Nasional akan ada penebangan besar-besaran untuk Tambang emas.” Aku terkesiap mendengarnya. Penebangan? Bukankah itu sangat berbahaya? Di alam, terjadi proses hubungan timbal balik, ketergantungan antarkomponen selalu melibatkan unsur tanaman. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Rantai makanan dan piramida makanan, misalnya. Ketiganya menempatkan tanaman pada posisi strategis, yaitu sebagai penyedia makanan atau produsen.Oleh karena itu, bila tanaman yang bertindak sebagai produsen sampai terganggu keberadaannya atau bahkan terancam kepunahan, dapat dipastikan semua makhluk hidup lain pun akan terancam kepunahan pula.
Fungsi pohon lainnya adalah untuk menahan laju air. Menurut penelitian, hutan mampu membuat lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah 60-80 persen. Dengan kemampuan ini, keberadaan pohon dapat meningkatkan cadangan air tanah. Selain dapat menahan laju air, akar pohon berfungsi erosi tanah. Tanah yang terkikis akan masuk ke aliran sungai dan menyebabkan terjadinya endapan. Bukankah begitu bahaya nya jika mereka benar-benar merealisasikan penebangan hanya untuk kepentingan perut semata? Sebenarnya mereka harus sadar, jika alam mulai bersuara. Jika banjir datang, jika longsor terjadi apa yang akan mereka lakukan? Menyalahkan tuhan? Ah sungguh tak bertanggung jawab!.
****
Siang itu, di tengah terik matahari Ramadhan, suara mesin pemotong kayu berdesing-desing memekakkan telinga. Beribu-ribu pohon ditebang hanya untuk kepentingan perut semata. Aku menyaksikan itu hanya dengan hati tak karuan. Ternyata penebangan besar-besaran itu benar-benar dilakukan. Benar-benar serakah. Mereka sungguh tak memikirkan apa yang akan terjadi jika pohon itu ditebang. Memang benar mereka memiliki ijin tertulis, namun dimana rasionalitas mereka? Hanya demi uang dan uang mereka rela mengorbankan sisi kemanusiaannya. Sungguh ironis!.
“Il, ayo kita pulang .” ajak ayahku dengan wajah lesu. Aku mengikuti ayunan langkah kakinya dari belakang yang terlihat gontai tanpa sepatah katapun.
****
Sebulan kemudian......
Hujan deras mengguyur bumi, benar-benar dasyat. Tak ada lagi pohon sebagai penyerap air, tak ada lagi pohon sebagai penadah angin, tak ada lagi pohon sebagai pencegahnya terjadi longsor. Akibatnya dapat dilihat. Tanah kelahiranku yang kubanggakan kini tertimpa banjir bandang untuk pertama kalinya dalam sejarah. Tambang emas yang sebelumnya digadang-gadang mampu mengangkat ekonomis warga sekitar, kini lenyap tertimbun longsor. Habis tak tersisa. Aku menyaksikan itu dengan pilu. Derai air mata dimana-mana. Sebuah penyesalan selalu datang di akhir. Mereka yang tak mendengarkan menuai akibatnya. Alam sudah bersuara, dan manusia hanya bisa menyaksikannya tanpa bisa menghentikannya.
Pohon,ketika hujan turun
kau mencegah banjir terjadi
kau membersihkan udara
dari polusi dan debu

tapi, kami telah mengkhianatimu
dengan menebang pohon
dan membakar hutan
membiarkanmu mati kekeringan

akibatnya,banjirpun terjadi
udara tidak lagi segar
warna hijaupun mulai hilang
polusi dimana-mana

****

Komentar

  1. Hai, Chandra.

    Ketemu lagi nih. hehehe Ini naskahmu yang kedua untuk lomba KafeKopi, ya? Aku suka cerita ini. Sempet ikutan marah juga gara-gara para penebang liar itu. Huh! Mereka pikir mereka siapa? wkwkwk

    Walau begitu, aku tetap lebih suka ceritamu yang sebelumnya. Kanker. Ceritamu yang Kanker lebih fokus ke tema Unexpected Ramadhan ketimbang cerita ini yang lebih fokus pada Pohon.

    Tapi, aku tetep suka ceritamu yang ini. Karakter "Teri" dalam ceritamu benar-benar keren. Aku salut sama dia. Keep Writing, Chandra!~

    BalasHapus
  2. Teri itu ada beneran orangnya om :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!