Seseorang yang Kembali Pulang dan Menuntaskan Ceritanya



Karya: Reza Deni

Kau tak akan percaya ceritaku, sekalipun aku memaksamu untuk memercayainya...
Dua tahun yang lalu, sebelum meninggal di tangan begal, aku sudah menulis beberapa lembar cerita untuk kukirim ke sebuah lomba menulis cerita pendek. Waktu itu tepat bulan puasa dan aku sering ke kampus untuk buka puasa di sana, sembari menjalani kuliahku di semester pendek waktu itu. Aku tak yakin akan ingatanku: kapan aku mati, jam berapa, siapa nama pelakunya, apakah pelakunya berhasil diamankan, atau dimana aku dikebumikan, atau apapun yang menyangkut proses kematianku. Aku hanya mengetahui bahwa saat itu bulan puasa dan aku mati di tangan begal ketika aku pulang dari kampus malam-malam. Aku juga masih merasakan bagaimana peluru panas menembus dadaku, lalu perut dan juga lututku. 


Kini dua tahun berselang, sepertinya mukjizat yang dulu diberikan kepada nabi-nabi nampaknya juga ikut menghampiriku. Aku membuka mataku. Kulihat kegelapan dan juga rasa takut yang begitu mencekam. Bau tanah dan hewan-hewan pengerat menusuk kedua lubang hidungku. Kau pasti tak akan menyangka, bahwa aku belum menjadi tulang belulang setelah dua tahun aku ditempatkan di dalam sini, bersama dengan kesepian dan juga ketakutan. Aku juga begitu, tidak akan menyangka dan tidak akan pernah menyangka. Waktu aku kecil, seorang dewasa pernah bilang kepadaku, orang yang meninggal di buan puasa adalah orang yang baik. Apakah aku termasuk ke dalam golongan-golongan tersebut?
Aku mencoba menggapai-gapai permukaan dengan susah payah, juga menjebol segala yang menghalangiku: butir-butir tanah, kecoa, kelabang, cacing tanah, serta kalajengking. Kedua tanganku yang terbungkus kain kafan kupaksakan keluar. Harapanku, semoga tidak ada seseorang yang menyaksikan peristiwa ini dari atas sana, sebab aku tak tahu harus berbuat apa jika mereka pingsan setelah melihatku yang notabenenya sudah mati ini. Dua tahun lagi!

Malam hari rupanya. Aku kedinginan dan kain kafan ini sama sekali tak berguna. Kau bisa membayangkan bagaimana seseorang telanjang di tengah kuburan hanya berbalut kain putih. Oh bukan! Bukan putih, tetapi sudah kecoklatan dan baunya meruapkan aroma kadang ayam. Lebih dari itu, kain ini mempersulit gerakanku untuk berjalan menjauhi kuburan. Kucoba untuk melepaskan ikatan pada kaki, lalu kepala. Aku kesulitan pada kepala karena aku tidak bsa menemukan simpul tali itu, tetapi akhirnya bisa kubereskan juga. Kuhirup udara malam dan badanku tetap merasa kedinginan. Kupasang lagi kain kafan itu di bagian tubuh atas dan juga bawahku.
Rumah kecil dan sempit itu kutinggalkan. Kakiku melangkah gontai, seperti bayi yang hendak belajar berjalan. Menuju jalan kampung, kusaksikan semua dengan jelas lewat kedua mataku. Belum ada yang berubah. Lampu-lampu masih menyala dan rumah-rumah juga sudah sepi. Sepertinya ini tengah malam, atau mungkin menjelang sahur. Banyak orang pasti menolak kehadiranku dengan anggapan, bahwa tak mungkin ada setan yang keluar di bulan suci! Mana mungkin setan bebas berkeliaran seperti lalat di siang hari atau nyamuk di malaam hari! Aku katakan, bahwa aku bukanlah setan. Aku masih manusia dan aku dibangkitkan karena mungkin Tuhan menyuruhku demikian.
Sambil melihat sekeliling, kuteruskan perjalanan menuju rumahku. Aku masih ingat rutenya meski dua tahun aku menghilang dari dunia nyata ini. Beberapa meter dari tempatku, keramaian di kejauhan tampak terlihat samar-samar. Cahaya kuning berpendar-pendar dan suara nyaring terus menerus bersahut-sahutan. Oh, mereka anak-anak yang tugasnya membangunkan sahur. Aku tersenyum, tetapi di satu sisi, aku yakin kehadiranku akan membuat mereka lari tunggang langgang. Maka itu kuputuskan untuk bersembunyi di balik semak-semak di pinggir jalanan. Aku akan menetap di sana sampai bocah-bocah itu melewati jalan yang kulalui ini, sehingga aku tidak akan membuat perkara dan aku bisa menuju rumahku dengan tanang.
Ketika aku sudah merasa bahwa anak-anak itu terus berjalan tanpa mengetahui kehadiranku, aku kembali meloncat keluar dari semak-semak. Kuteruskan perjalanan menuju rumahku dan aku sampai di depan gerbang rumahku sendiri kira-kira lima menit setelahnya. Kubuka gerbang dengan pelan. Lalu kulangkahkan kakiku menuju pintu depan, pintu tua yang sudah sejak dulu kulihat dan tidak berubah sampai aku berdiri di sini. Aku ingin mengetuk pintu itu, tetapi rasa khawatirku kembali mencuat; apakah seseorang di dalam akan berteriak, atau pingsan, atau yang lebih parah, ia akan mendadak mati karena jantungan? Aku juga tidak tahu siapa yang ada di dalam sana; apakah adikku, atau abangku, atau ibuku?
Aku masih berdiri ketika gagang pintu itu bergerak turun, seperti ada yang membuka dari dalam. Setelah pintu terbuka, kulihat seorang perempuan dengan paras mengantuk. Ia berdiri di depanku dan tetap terlihat mengantuk saat aku melihat wajahnya. Kerudungnya begitu kusam, atau memang warnanya yang seperti itu? Beberapa saat kemudian, aku tersenyum ke arahnya, dan ia benar-benar tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. “Aku pulang bu.” kataku pada akhirnya.
Aku yakin mulutnya benar-benar terkunci, sebab ia tak pernah menyaksikan kejadian aneh ini dalam hidupnya. Aku kembali mengulang kalimatku, tetapi ia tetap tidak bersuara. Baru setelah kalimat ketiga, perempuan itu menitikkan air matanya, lalu memelukku. Aku membalas pelukannya. Aku tak tahu apa yang menyebabkan perempuan tua itu, yang kuanggap sebagai ibuku, tidak ketakutan dan malah menyambutku dengan pelukan. Ingatanku sendiri masih samar-samar, bahwa dua tahun yang lalu, sebelum aku meninggal, abangku sudah menikah, adikku sendiri juga sudah kuliah semester empat. Ayahku? Ah, aku tidak tahu dimana lelaki itu, bahkan ketika aku masih hidup dulu.
Setelah kumasuki pintu rumahnya, perempuan itu memberikanku pakaian yang pantas. Ia tidak tega tampaknya dengan penampilanku. Aku pun menerima semua pakaian itu, memakainya dan kemudian menemaninya menyantap sahur. Awalnya ia mau keluar rumah untuk membeli lauk, tetapi akhirnya kami memasak lauk seadanya, membuat teh hangat dan juga memotong buah semangka. Perempuan itu tidak banyak bicara dan aku tak tahu harus berbuat apa agar ia mau bciara. Di meja makan, setelah kami berdua menyelesaikan sahur kami, akhirnya aku berani bertanya, “Kemana yang lain, bu?”
Ia diam dulu sebentar, mengelap mulutnya dengan lap bersih, lalu meneguk air teh yang berada di depannya. “Mereka sudah pada pergi.” katanya pelan. “Meskipun aku tahu mereka belum mati, tetapi rasanya aku seperti benar-benar ditinggal untuk selamanya.”
Nampaknya benar, bahwa perkiraanku mengenai sisa anggota keluargaku sudah pada tak tahu kemana. Tadi aku hanya berasumsi saja, kau tahu, dengan menggunakan sisa ingatanku waktu aku masih hidup dulu. Dan memang betul kata ibu, bahwa adikku kini sudah  bersama istrinya, begitu juga dengan abangku. Keduanya, kata ibu, tidak pernah sekalipun berkunjung ke sini. Namun tampaknya itu bukan keluhan, hanya sebatas informasi yang diberikannya kepadaku. “Ini sudah puasa yang keberapa?” tanyaku membelokkan percakapan.
“Lusa sudah lebaran,” katanya. “dan kuharap kau tidak mati lagi, nak. Aku tidak tahu harus berlebaran dengan siapa lagi selain dengan kau. Setahun yang lalu, aku sudah melalui ini sendirian. Pintuku selalu terbuka siang dan malam. Namun yang datang justru tetangga-tetangga, bukan mereka: adik dan abangmu. Kuharap kau tetap di sini sampai lebaran.”
Ia seperti mengucapkan wasiat, seperti menitipkan kata-kata terakhir bahwa sebentar lagi justru ia yang akan meninggal. Maka itu kuiyakan semua omonganya, meskipun aku sendiri tak tahu, apakah aku akan diberikan hidup untuk terus menerus, atau hanya untuk sebentar saja barangkali. Ibu hanya menatapku dengan paras yang mengharukan, tidak ketakutan karena melihat seorang mati bangkit kembali. Aku punya dugaan, mungkin ibu tidak takut karena ia selalu berdoa untuk keselamatanku di alam sana. Aku tak tahu juga, itu hanya dugaan belaka. “Komputerku masih ada bu?” tanyaku.
“Kemarin, seseorang datang kemari dan bertanya berapa harga barangmu itu.” kata ibu.
Aku segera melesat menuju kamarku. Kubuka pintu kamar itu. Lalu kunyalakan tombol lampu dan lampu menyala. Aku melihat komputerku masih di sana, di sudut kamar, tidak berdebu dan juga tidak usang. Pantas ada seseorang yang mau membelinya! Segera kunyalakan tombol power. Komputer itu hidup. Kucari tulisan-tulisanku dan ketemu. Itu tulisan yang akan kukirim untuk sebuah perlombaan. Namun itu dua tahun yang lalu, sebelum aku meninggal di tangan para begal. Aku yakin jika aku menulis lagi, dan isinya adalah kisah hidupku saat ini, pembaca tidak akan serta merta mempercayainya, dan aku hanya akan dianggap menggunakan imajinasi belaka.
Dari kejauhan, suara seseorang meneriakkan imsak lamat-lamat kudengar, mengalun kencang di telingaku.***

Reza Deni, Ciputat, Juni 2015

Komentar

  1. eh ini true story bukan sih? keren, serem.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung sudut pandang pembaca aja mbak Hehe. Makasih ya sudah mampir :)

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Bagus cerpennya. Suka deh... sama penulisnya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!