Semerbak Harum Aroma Kolak Biji Salak



Karya: Putri Balqis Assyifa

Penyakit kaki lumpuh, itulah yang sedang kualami. Aku mempunyai penyakit lumpuh ini  karena ada kerusakan saraf otot di bagian kaki. Jadi, terpaksa aku harus menggunakan bantuan kursi roda untuk berjalan.


Aku sudah berusia 26 tahun. ya, sudah terbilang matang dan cukup untuk menikah. Itulah yang sedang menjadi beban pikiranku. Sampai saat ini aku belum juga mendapat calon teman hidupku. Akhirnya aku memutuskan agar ibu dan ayahku saja yang mencari calon pasangan hidup untukku melalui ta’aruf .
Sudah 10 orang yang sudah men-ta’arufku. Tapi mereka semua mundur ketika melihat keadaanku. Melihat keadaan fisikku yang tidak mampu berjalan.Sudah pasti aku kecewa. Tapi aku harus selalu berpikiran positif kepada Allah swt. Mungkin saja Allah swt memberikan penyakit ini kepadaku ada hikmahnya.


Fajar mulai menyingsing. Cahaya matahari terbit makin lama semakin terang. Sayup-sayup suara kokokan ayam jantan pun terdengar bergantian. Udara yang sejuk pun sudah bisa terhirup. Suasana tenang dan damai pun tercipta.
Pagi yang cerah ini, aku bangun dengan semangat. Aku mulai menduduki kursi rodaku yang terletak di samping ranjang. Dengan penuh hati-hati aku mulai menaiki kursi rodaku. Alhamdulillah,akhirnya aku bisa menaiki kursi rodaku dengan usahaku sendiri. Tanpa bantuan dari ibuku.
Setelah penampilanku sudah rapi dan bersih, aku dan ibuku bersiap untuk menaiki mobil yang terparkir di depan rumah. Aku dan ibuku bersiap-siap untuk berangkat menuju panti asuhan yang didirikan oleh ayahku. Aku dan ibuku sudah lama tidak berkunjung kesana. Aku dan ibuku terlalu sibuk mengurusi ta’aruf yang hanya sia-sia saja. Apalagi, hari ini sudah mulai memasuki bulan suci Ramadhan, sayang sekali jika tidak berlomba-lomba mencari pahala.
Setelah aku dipapah oleh ibuku untuk memasuki mobil, kami langsung berangkat menuju panti asuhan. Sesampainya disana, kedatangan kami disambut oleh anak-anak yatim yang terpancar senyum diwajahnya ketika melihat aku datang ke tempat mereka. Mereka sudah menunggu lama kedatanganku.
Setelah itu, seperti biasa, aku mengajar mereka dengan sedikit ilmu-ilmu agama yang aku ketahui. Aku mengajari mereka mengkaji al-qur’an, dan mengerti huruf-huruf tajwid. Aku salut dengan semangat belajar mereka. Mereka memang masih kecil, tapi semangat mereka sungguh luar biasa. Mereka belajar dengan sungguh-sungguh untuk menggapai cita-citanya. Aku harap mereka bisa menggapai cita-cita mereka masing-masing seperti yang mereka impikan.
Setelah selesai dengan anak-anak panti asuhan, aku berpamitan dengan mereka. aku dan ibuku segera pulang. Aku kembali di dorong oleh ibu untuk menuju ke mobil yang terparkir di seberang panti asuhan. Sesudah menyebrang, aku kembali dipapah ibuku untuk menaiki mobil. Setelah itu, aku dan ibuku pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah, aku segera masuk ke dalam rumah karena aku sangat lelah. Aku ingin merebahkan badanku sebentar di kasur. Perlahan-lahan ku buka pintu kamar. Lalu aku berjalan menuju kasur. Pelan-pelan aku mengangkat badanku dari kursi roda ke atas kasur dengan tumpuan di kedua tanganku. Tapi sayangnya gagal. Aku malah terjatuh dari kursi roda. Kakiku terbentur lantai. Kedua kakiku sakit sekali. Tidak bisa bergerak. Aku teriak kesakitan memanggil ibuku. Ibuku dengan cepat datang ke kamarku.
   astagfirullah!, Zheilla! Kamu kenapa nak?!”Tanya ibuku dengan penuh ke khawatiran.
   “sakit bu..!, sakit sekali kakiku..”
   “ya Allah!. ayo bangun nak, ibu bantu..”ucap ibu sambil membangunkanku dan menaruhku di atas kasur.
   “kakiku bu.., kakiku sakit sekali..!”ucapku sambil meneteskan air mata.
   “kamu tunggu sini. Kita ke rumah sakit sekarang…”jawab ibu sambil pergi ke luar kamar.
Lalu aku segera dibawa ke dalam mobil. Kami segera berangkat menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, aku segera diperiksa oleh dokter.
   “bagaimana dokter?, apa anak saya baik-baik saja?”Tanya ibu dengan nada khawatir.
   “anak ibu baik-baik saja. Cuma ada bengkak sedikit dikakinya karena benturan. Tapi tenang saja. Ibu tidak usah khawatir.”jawab dokter setelah selesai memeriksa keadaanku.
   “Alhamdulillah.., terima kasih,dok.”
   “sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu. Permisi bu..”ujar dokter sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Tak terasa, aku di rumah sakit sudah berjam-jam. Kini 5 menit lagi adzan maghrib. Sebentar lagi waktu berbuka. Karena kata dokter aku sudah baikan, aku boleh kembali menduduki kursi rodaku kembali. Aku ingin membeli makanan untuk berbuka. Kebetulan di rumah sakit ini ada kantin yang menjual berbagai makanan untuk berbuka puasa. Tak ayal, pasti ada kolak biji salak, makanan khas ramadhan kesukaanku.
Aku mulai menaiki kursi rodaku sendiri. Ibuku hanya melihat saja dan mengawasiku jikalau aku jatuh. Alhamdulillah, aku bisa sendiri tanpa dipapah oleh ibuku. Lalu kami melangkah pergi dari ruangan dan pergi menuju kantin di rumah sakit ini. sesampainya disana, aku dan ibuku berpencar karena mencari makanan untuk berbuka. Aku ingin mencari kolak biji salak, makanan khas ramadhan kesukaanku. Siapa tahu ada disini. Benar saja dugaanku. Disini banyak yang menjual kolak. Akan tetapi, kolak itu kolak ubi. Tidak ada yang menjual kolak biji salak. Sudah lama aku mencari, akhirnya makanan khas ramadhan kesukaanku itu ditemukan di salah satu penjual. Tapi jumlahnya tinggal satu.
   “bu.., saya beli kolak biji salak nya bu.., yang tinggal satu itu..”ujarku sembari menunjuk ke arah kolak biji salak.
   “maaf mbak. Kolak itu sudah dipesan. Mbak terlambat..”jawab penjual kolak itu dengan nada medok.
   “oh, begitu. Apa tidak ada sisanya lagi bu..?”
   “waduh!, kayaknya nggak ada deh mbak. Adanya kolak ubi..”jawab si penjual sambil mengangkat satu bungkus kolak ubi.
   “yah.., yasudah. Terima kasih bu..”
Karena tidak ada makanan khas ramadhan kesukaanku itu, aku ingin berbalik arah dan memutuskan untuk membeli yang lain. Tapi saat aku menggerakkan roda dengan arah mundur, aku menabrak seseorang yang berdiri di belakangku. Dia bertubuh tinggi dan berpostur tegap. Laki-laki berhidung mancung ini terlihat memakai jas putih dan stetoskop yang disangkutkan di lehernya. Sepertinya, dia adalah salah satu dokter di rumah sakit ini.
   “yaampun!, maaf. Saya tidak sengaja..”
   “tidak apa-apa. Maaf, tadi saya mendengar percakapan kalian. Kolak itu pesanan saya. sepertinya, anda suka sekali ya, dengan kolak biji salak ini?. jika anda mau, ambil saja. Saya bisa memesannya lagi lain waktu”sahut dokter itu sambil memberikan kolak biji salak itu kepadaku.
   “tidak usah dibayar. Anggap saja ini layanan rumah sakit untuk pasien..”lanjutnya.
Aku belum sempat mengucapkan terima kasih, dokter itu sudah pergi meninggalkanku. Dokter itu kelihatannya adalah orang baik. Jarang sekali aku menemukan dokter seperti itu. Tapi yasudahlah, ini sudah waktunya berbuka. Aku harus segera membatalkan puasaku dulu.
Setelah berbuka puasa di rumah sakit, aku dan ibuku harus pulang ke rumah untuk melaksanakan sholat sunah tarawih. Kami menaiki mobil dan segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku segera berwudhu dan menunaikan sholat isya dan tarawih berjamaah dengan ibuku di rumah. Setelah itu, aku mencoba merebahkan kepalaku di bantal. Saat itu ibuku mendapat telepon dari temannya. Katanya, akan ada laki-laki yang datang ke rumahku esok hari untuk men-ta’arufku. Ibuku senang sekali mendengar kabar itu. Tapi tidak denganku. aku sebenarnya senang, tapi aku tidak mau terlalu senang karena aku takut ketika laki-laki itu melihat keadaanku dan melepas ta’arufnya.
Esok hari pun tiba. Setelah selesai makan sahur dan menunaikan sholat subuh, aku segera dirias oleh ibuku sedemikian rupa. Dan aku disuruh unuk tetap di kamar. Jam 8 tiba, terdengar suara ketukan pintu yang membuat hatiku berdebar-debar. Ibu membuka pintunya perlahan-lahan. Lalu tibalah seorang laki-laki yang berbadan tegap memakai jas hitam dan dasi di lehernya. Ia ditemani oleh kedua orang tuanya untuk men-ta’arufku. Lalu Ibu segera memberi izin masuk ke dalam rumah.
Ibu dan kedua orang tuanya mengobrol banyak. Setelah lama berbincang-bincang, akhirnya ibu membawaku keluar dari kamar dan menunjukkanku kepada orang yang men-ta’arufku. Tak disangka dan tak diduga, ketika aku keluar dari kamarku dan menuju ke ruang tamu, laki-laki itu langsung berdiri. Ia membatalkan ta’arufnya kepadaku. Ayah dan ibu nya berusaha menenangkannya. Tapi ia malah membantahnya.
   “apa?!, ternyata anak ibu cacat fisik?!, tidak. Saya tidak mau mempunyai istri lumpuh seperti dia!, mau taruh dimana muka saya jika istri saya mempunyai penyakit lumpuh!”ujar laki-laki itu sambil menunjuk-nunjukku.
Mendengar kata-kata itu, hatiku langsung terhenyak dan sakit hati. Baru pertama kali aku mendengar kata-kata yang kasar seperti itu. Selama ini, orang yang men-ta’arufku tidak pernah berkata seperti itu walaupun mereka memutuskan untuk membatalkan ta’arufannya. Ibuku marah. Ia juga merasakan sakit hati yang terlebih dalam. Ibuku langsung membantahnya.
   “tidak sopan!. pergi kamu!, aku tidak sudi mempunyai menantu seperti kamu!, anak kurang ajar!. pergi!, jangan membuat puasa saya batal hanya karena kamu!”ujar ibu dengan penuh amarah.
   “sudah,bu. Istighfar bu..”ucapku berusaha menenangkan hati ibu yang sedang marah. Tanpa sadar aku juga meneteskan air mata.
   “baik!, saya akan pergi!. Lagipula saya juga tidak sudi mempunyai istri seperti anak ibu!”sahut laki-laki itu sambil pergi dari rumahku.
“tidak sopan!”teriak ibu dengan penuh amarah di hatinya.
Tapi setelah itu ibu merasakan sesak nafas didadanya. Tiba-tiba saja ibu terjatuh. Asmanya kambuh lagi setelah 2 tahun yang lalu. Aku segera memanggil pak supir dan kami segera berangkat menuju ke rumah sakit. Sesampainya disana, ibu langsung ditangani oleh dokter. Ternyata dokter yang menangani ibu adalah dokter yang memberiku kolak biji salak kemarin. Setelah ibu ditangani oleh dokter, barulah hatiku menjadi tenang.
Dokter itu bernama Dr.Fariz. ternyata usianya lebih tua 1 tahun dariku. Setelah Dr.Fariz selesai menangani ibu, ia mengajakku berbincang-bincang tentang penyakit ibu. Dr.Fariz menyuruhku untuk selalu menjaga ibu agar tidak marah-marah. Karena itu bisa memicu penyakit stroke dan asmanya bisa kambuh. Ia juga merekomendasikan obat alami untuk penyakit kaki lupuhku ini. ia merekomendasikan jus buah mengkudu morinda agar aku minum rutin setiap hari. Ia juga terbilang dekat dengan ibuku. Aku sering melihatnya mengobrol dengan ibuku. Entah tentang apa yang mereka bicarakan. Tapi yasudahlah, yang terpenting ibu senang mengobrol dengannya.
Setelah ibu sudah boleh pulang, kami pulang dengan mobil jemputan. Kami berpamitan dengan Dr.Fariz, lalu kami pulang dari rumah sakit. Esok harinya, saat adzan maghrib sebentar lagi mau berkumandang, Dr.Fariz datang ke rumahku. Ia membawakan jus buah mengkudu morinda dan tiga bungkus kolak biji salak kesukaanku. Tapi darimana dr.Fariz bisa tau letak rumahku?, ternyata ibu yang memberitahunya. Aku senang dengan kedatangan dr.Fariz ke rumahku. Setiap minggu, dr.Fariz datang ke rumahku untuk bersilaturahmi. Ia selalu membawakan makanan khas ramadhan kesukaanku,kolak biji salak. Ia juga membawakanku jus buah mengkudu morinda untuk kesembuhan kaki lumpuhku. Tapi akhir-akhir ini dr.Fariz menjadi jarang sekali datang ke rumah. Sudah 2 minggu aku menunggu kedatangannya. Entah mengapa aku menunggu kedatangannya itu. Padahal dr.Fariz hanyalah dokter yang datang ke rumah ku untuk melihat keadaan ibuku.
Aku menjadi rindu akan kedatangannya. Setiap kali berbuka puasa, aku selalu ingin memakan kolak biji salak terlebih dahulu setelah meminum air putih. Kolak biji salak yang dulu rasanya menurutku biasa-biasa saja sekarang malah menjadi enak sekali. Padahal menurut ibu, kolak yang ibu belikan rasanya sederhana saja. Tapi entah mengapa menurutku rasanya enak sekali. Semerbak harum aroma kolak biji salak ini selalu mengingatkanku pada dr.Fariz.
Setelah selesai berbuka puasa dan menunaikan ibadah sholat maghrib, rumahku kedatangan tamu. Aku tidak tahu siapa yang datang, karena ibuku yang membuka pintunya, Bukan aku. Tetapi saat ibu melihat siapa yang datang, ibu merasa sangat senang sekali. Ibu segera memanggilku dan menyuruhku untuk merias wajahku. Aku tidak mau, karena aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi tiba-tiba saja aku disuruh ibu untuk merias wajahku. Karena saking penasarannya, aku mencoba keluar kamar. Tak kusangka, ternyata yang datang ialah dr.Fariz beserta kedua orang tuanya. Mereka berniat men-ta’aruf ku. Entah apa yang kurasakan. Perasaan senang bercampur haru yang aku rasakan saat ini. ternyata masih ada orang yang masih mau denganku. Dr.Fariz menerimaku apa adanya. Ternyata selama 2 minggu ini dr.Fariz jarang datang ke rumah karena beliau mempersiapkan ta’aruf ini. aku langsung sujud syukur kepada Allah swt. Aku turun dari kursi rodaku dan langsung sujud syukur. Saat aku bangun, ternyata aku sudah bisa berdiri. Ibuku yang melihatku langsug menangis haru. Dr.Fariz hanya tersenyum melihatku bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan kursi roda. Entah mengapa aku bisa sembuh. Mungkin karena ini adalah khasiat dari jus buah mengkudu morinda yang sering dibawa oleh dr.Fariz untukku.
Setelah itu, dr.Fariz mengucapkan akad suci pernikahan di depanku dan waliku. Kini kami sah menjadi pasangan suami istri. Allah swt telah menyembuhkan penyakitku ini melalui jus buah mengkudu morinda yang dibawakan oleh dr.Fariz. Ramadhan tahun ini, adalah ramadhan yang tak terduga. Karena kolak biji salak, aku dipertemukan oleh Allah dengan dr.Fariz. dan karena penyakit lumpuhku ini, dr.Fariz selalu datang ke rumah setiap minggu membawakan jus buah mengkudu morinda dan kolak biji salak untukku. Terima kasih ya ALLAH.., engkau telah memberiku penyakit lumpuh ini ada hikmah yang mendalam di dalamnya. Dan karena kolak biji salak engkau mempertemukanku dengan pasangan hidupku.

Komentar

share!