Ramadhan kali ini akhirnya pulang kampung



 Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: yandi ferdiansyah

Ramadhan tiba…
Ramadhan tiba…
Marhaban ya ramadhan..
Marhaban ya ramadhan..
Marhaban ya ramadhan..
Marhaban ya ramadhan… *sambil nyanyi*

Bagi saya, Bulan Ramdhan merupakan ajang untuk berkumpul bareng keluarga. Maklum saja, karena selama ini saya jarang pulang ke rumah karena alasan kuliah.. Kerinduan akan datangnya bulan yang penuh berkah membuat saya gembira untuk menyambutnya. Bagaimana tidak, setiap hari saya hanya disibukkan dengan aktiftias kampus yang sangat menguras tenaga. Alhamdulillah bulan ampunan segala dosa sudah tiba, ini berarti saya lebih punya banyak waktu untuk mendakatkan diri kepada sang maha pencipta, Allah SWT. Momen yang indah pada Bulan ramadhan adalah, ketika saya dan keluarga bisa berbuka puasa bersama. Disaat itu anggota keluarga lengkap, ada ayah, ibu, kakak, dan adik. Bulan Ramadhan tahun ini akhirnya saya bisa berkumpul bareng keluarga. kangen suasana kebersamaan, kangen masakan ibu dan kangen suasana yang tentaram dengan suara orang tadarusan.

saya suka masakan ibu pas bulan puasa karena sangat khas. saya tidak usah melihat lagi pasti sudah tau bahwa ini merupakan masakan ibu. yang saya tau ibu kalo udah masak sambel, pasti seisi rumah seperti terkena gas airmata. indah banget Bulan Ramadhan 1436 H kali ini. 



sebagai anak kost, sahur biasanya bangun sendiri. lalu jalan keluar kamar untuk mencari nasi dan lauk untuk disantap. dalam kondisi ngantuk, harus tetap semangat menyusuri jalan-jalan yang masih sepi di iringi suara mobil yang sekali-kali lewat. cobaan semakin besar, jika warteg tempat biasa saya makan ternyata tutup. alhasil sahur cuma makan mie rebus dan segelas teh panas. namun beda banget kalo di rumah, saya begitu dimanjakan. makan tinggal ambil, sahur kadang dibangunin, dan berbuka puasa adalah momen yang paling berharga yang terkadang bisa meneteskan airmata. 

hidup di perantauan kadang begitu pahit. saat sedang sakit, cuma bisa berdoa dan minum obat tanpa ada yang nemenin. biasanya kalo di rumah. sakit dikit aja ibu langsung panik dan repot harus bawa ke dokter walaupun sakitnya cuma demam. ya itulah ibu saya, orang yang paling mengerti kondisi anaknya. harus selalu ada dan memberikan nasehat bagi anakanya dalam kondisi apapun. ibu selalu siap siaga kapanpun. Terimahkasih ibu yang paling tak terhingga. semoga kebaikanmu selalu dibalas sama Allah. seperti kita tahu semua, Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, dan bulan untuk kita bertobat atas segala macam dosa. dengan bulan ini saya harap ibu makin sehat dan bertakwa. Amin..

Tiga hari sebelum puasa, akhirnya saya bisa pulang kerumah. saya pulang menggunakan kapal kayu menyebrangi teluk jakarta dengan rasa haru dan bahagia. angin sangat kencang menerpa sampai terombang-ambing menghamtam badan kapal. ombak begitu kencang, air laut banyak yang masuk mengenai para penumpang. kita semua tertawa tanpa rasa takut, karena bagi saya kondisi saat itu sudah biasa. ternyata banyak juga yang pulang kampung tahun ini bukan cuma saya. kadang ada yang bercerita dia baru pulang setelah 5 tahun bekerja. Subhanallah, akhirnya ada waktu juga untuk betemu sanak saudara di kampung.

dan ini beberapa hal yang ditunggu pas bulan puasa adalah :

1. Ngabuburit




Banyak cara untuk menunggu bedug mahgrib, biasanya saya dan teman-teman melakukan ngabuburit mengelili sekitar kota, atau menyusuri trotoar jalan sambil membeli takjil utuk keperluan buka puasa. Ngabuburit merupakan istilah yang berasal asli dari bahasa Sunda, yaitu burit yang berarti waktu menjelang sore hari. Jadi ngabuburit yang biasa disebut-sebut pada Bulan Ramadhan ini adalah menunggu atau menghabiskan waktu hingga menjelang waktu Adzan Maghrib datang, ringkasnya menunggu saat berbuka puasa, dan kalaupun istilah ngabuburit ini berasal dari bahasa Sunda tapi sangat populer dan tak asing lagi bagi masyarakat indonesia. maka tidak aneh ketika atau saat-saat menjelang magrib di jalanan pun selalu ramai di penuhi orang-orang yang hendak ngabuburit, terbukti di daerah saya sendiri pada waktu sore pasti sudah banyak orang yang lewat dengan maksud hendak ngabuburit terutama kalangan anak-anak muda. 




2. Sholat Tarawih





 Ketika sudah buka puasa, saya biasanya bersiap-siap menuju masjid untuk sholat maghrib, isya dan kemudian dilanjutkan oleh sholat tarawih. Pada puasa hari pertama kondisi masjid sangat penuh, dengan antusias warga yang mengisi sudut-sudut masjid, bahkan sampai keluar jalan dengan koran sebagai alas sholat agar tidak kotor. Yang sangat disayangkan pada sholat tarawih adalah, banyaknya sendal yang hilang, anak-anak ada yang bercanda kesana-kemari yang membuat saya tidak khusyu ketika sholat. Memang sih, ini merupakan pengalaman saya waktu kecil, suka bercanda juga, perang sarung, main petak umpet, dan bahkan menyembunyikan sendal punya temen. Hari kedua, ketiga sampai seminggu kondisi yang sholat masih lumayan banyak. Memasuki minggu kedua, orang-orang pada menghilang sebagian. Kini suara teriakan bocah bercanda sedikit berkurang, mungkin karena bosan atau capek untuk sholat. Dibagian depan hanya diisi bapak-bapak tua, anak mudanya juga hanya sedikit yang terlihat. Ternyata bocah yang biasa berisik dimasjid, kini ganti tempat nongkrong yaitu diluar jalan dengan main kembang api, dan ada juga dirumah sibuk dengan aktifitas nonton televisi.


 3. Bangunin Sahur





Ketika sholat tarawih selesai, saya biasanya makan kue-kue sisa yang tidak habis ketika buka puasa. Kemudian dilanjutkan dengan nongkrong bentar terus tidur biar bisa sahur dengan kondisi badan bugar. Nah, momen sahur yang membuat suasana begitu menyenangkan. Walaupun mata masih merah, dan belum puas tidur. tetap harus dipaksakan untuk bangunin orang sahur pada jam setengah tiga shubuh. Berbekal peralatan sederhana, seperti kentongan, bedug musholla, pipa paralon, dan alat dapur lainnya, saya berkeliling komplek teriak dikesunyian udara pagi. Sahur… sahur.. ibu-ibu, bapak-bapak, bangunnnnnnnn… mari kita sahur… sahur, sahur…. makin shubuh, makin banyak yang datang untuk ikut meramaikan acara sahur, ada anak kecil sampai dewasa. Ketika rasanya sudah cukup muter-muter komplek, biasanya saya kemudian membubarkan diri menuju rumah masing-masing.

Itu merupakan hal yang saya tunggu-tunggu ketika Bulan Ramadhan, semua terasa indah, apalagi jika ingat masa-masa kecil ketika masih belajar puasa, makan dan minum pada saat adzan zuhur. Karena orangtua tidak terlalu memaksa, sesuai kemapuan saya. Ketika puasa sehari penuh, biasanya saya dikasih hadiah nanti pas saat lebaran. Sungguh bulan yang penuh berkah, hidayah dan ampunan. Semoga kita senang menyambutnya.


Sambutlah Ramadhan dengan gembira, seperi Rasulullah juga berucap:

اللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ

Allah Maha Besar. Ya Allah! Tampakkan bulan sabit (hilal) itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi dan ad-Darimi, lihat Shahih Tirmidzi 3/175)

Ketika doa-doa di atas dikabulkan Allah, dan kita berada di bulan Ramadhan, amat baiklah kiranya jika kita ungkapkan syukur dan kegembiraan atas hal tersebut. Rasulullah juga suka mengabarkan kegembiraan dan harapan tentang bulan Ramadhan ini kepada para sahabatnya

Komentar

share!