Ramadhan Di Perantauan


Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Mister Kacang

Hidup di perantauan memang tidak semudah yang kita pikirkan, ada banyak hal yang belum kita ketahui ketika pertama kali datang di kota perantauan. Juni 2013 aku memutuskan merantau dan bekerja di kota besar sudah menjadi keputusanku. Ini demi memperoleh kehidupan yang lebih baik, bukan hanya untuk aku tapi untuk keluargaku juga. Berbekal ijazah S1 dengan nilai IPK yang menurutku tidak mengecewakan, pikirku akan gampang mencari pekerjaan. Tapi ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan, sudah puluhan kali aku melamar dan sudah puluhan kali juga aku ditolak. 


Zaman sekarang berbekal Ijazah S1 saja belum cukup, tetapi harus mempunyai skil dan pengalaman tentunya. Saat itu aku tetap yakin, akan ada satu perusahaan yang akan mau menerimaku. Singkat cerita akhirnya aku menemukan pekerjaan baru di salah satu perusahaan swasta nasional. Aku langsung memberi kabar baik itu pada Ibuku, Ibuku sepertinya sangat senang mendengar kabar baik itu. Ibuku pun menanyakan juga alamat tempat sekarang aku tinggal, aku langsung memberi alamatku di perantauan.
Juli 2015, ini kali ketiga aku menjalankan bulan Ramadhan seorang diri di perantauan, walaupun begitu disini ada teman-teman kantorku yang setia menemaniku. Saat kuning mentari lumer menjadi orange, kemudian tandas dilibas gulita, datanglah rona sendu dalam sapaan bulan, seraya memanggil untuk pulang dan beristirahat dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan ini. Sepulang bekerja sore ini teman-teman kantorku mengajakku untuk berbuka bersama, aku pun mengiyakan ajakan mereka. Saat waktunya berbuka aku merasakan suasana keakraban dengan teman-teman kantorku, kehangatan suasana ini menjadikan mereka keluarga kedua aku dan satu-satunya keluargaku diperantauan.
Sudah memasuki tahun ke tiga aku berpuasa tidak bersama keluargaku dan aku juga sudah lupa bagaimana suasana kehangatan berbuka bersama keluargaku, karna sudah terlalu lama aku tidak pulang. Aku bukannya tidak mau pulang, tapi kesibukan pekerjaanku disini membuat aku tidak bisa pulang dari awal datang sampai tahun ke tiga aku di perantauan. Syukurnya ibu mengerti akan hal itu, akupun sering menelpon ibuku hanya untuk melepas rindu, dan tahun ini aku sebenarnya mendapatkan libur idul fitri dan libur-libur lainnya jadi jika ditotal aku libur selama 5 hari.
Aku berencana untuk pulang tahun ini walaupun libur yang tidak cukup lama, setidaknya aku bisa melepas kerinduan dengan keluargaku disana. Aku sebenarnya berencana pulang menggunakan kereta, tapi mungkin Tuhan belum mengehendaki aku pulang tiket menuju kampung halamanku sudah habis terjual hingga H+9 Lebaran. Saat itu aku tidak terfikir menggunakan moda transportasi lain, alhasil aku pun memutuskan untuk tidak pulang. Sekarang untuk kesekian kalinya aku berpuasa dan Idul Fitri nanti tidak bersama keluarga.
Keesokan harinya telponku berdering, aku lihat itu panggilan masuk dari ibuku. Ibu pasti menanyakan aku kenapa tahun ini belum juga bisa pulang, pikirku. Tapi ternyata Tuhan memberiku kabar bahagia saat aku menjawab telpon dari ibuku, ibuku berkata ‘sedang dimana nak, bukalah pintu rumahmu sekarang’ aku langsung mengkerutkan dahi sekaligus terkejut dan tidak mengerti apa yg dimaksud ibu, akhirnya aku bangkit dari tempat tidurku dan langsung menuju pintu, ketika pintu aku buka. Ibu, aku langsung reflek memeluk ibuku yang sudah tiga tahun lamanya tidak bertemu. Ibuku diantarkan adik laki-lakiku untuk mengunjungi aku, kerinduanku sudah terobati sekarang. Tapi bagaimana ibu tahu alamat aku disini, pikirku bingung. Ibu menjawab kamu sendiri yang beri tahu ibu waktu dulu, saat tahun pertama kamu disini. Aku langsung teringat, ternyata aku dulu pernah memberikan alamat aku kepada ibu, mungkin sudah lama juga tidak bertemu jadi aku pun lupa akan hal itu.
Lalu aku juga menanyakan kenapa tidak mengabariku dulu kalo mau berkunjung, biar aku jemput tadi di stasiun. Ibu mau kasih kejutan buatmu mas, jadi ibu tidak mengabari mas sebelumnya dan bapak tidak bisa ikut karna ada pekerjaan disana, sahut adikku. Sungguh Ramadhan yang tak terduga, di balik tidak bisa aku pulang karna tiket habis, ternyata Tuhan punya rencana yang lain. Di hari Idul Fitri nanti benar-benar kesempurnaan yang aku tidak dapatkan selama 3 tahun terakhir. Sungguh Berkah Ramadhan yg tak terduga untukku.

Komentar

share!