Ramadhan Dalam Batin



Karya: M Dadang Tri NurCahyono

Mungkin untuk sebagian orang Ramadhan adalah suatu momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT bersama orang-orang yang dicintai terutama keluarga.Namun, dalam  kisah ini saya akan menceritakan bagaimana orang-orang yang sebagian menjalani Ramadhan berkeinginan untuk mempunyai momen seperti orang-orang pada kalimat pembuka.Sebut saja nama karakter utama dalam cerpen saya ini adalah Putra.Dia lahir dari keluarga menengah, tidak kaya dan tidak juga miskin tetapi bisa dikatakan cukup.Dini hari itu Putra pergi bersama temannya untuk mencari santap sahur.”Sahur dimana kita put?”tanya temannya yang bernama Iwan.”Tempat biasanya aja sob,lagian sahur aja pake pilih pilih...”jawab Putra sambil tertawa kecil.Selesai sudah acara sahur mereka berdua,sahur ditempat yang sudah sangat biasa mereka kunjungi meskipun bukan bulan Ramadhan.Lalu mereka kembali ke tempat dimana teman-teman mereka masih tertidur dan menjalani bulan Ramadhan seperti halnya hari-hari biasa, tanpa puasa dan lebih “bertakwa”.Sekembalinya ke tempat yang bisa dikatakan sebagai “base camp” itu.”Aku mau tidur dulu Put”Pamit Iwan sambil merebahkan diri di sebelah tubuh Ebim.”Pemuda kok gampang tidur”sahut Putra sambil memandangi teman-teman di sekelilingnya.Pagi menyambut dan aktivitas ditempat itu pun mulai menggeliat.Satu persatu dari mereka bangun untuk mandi atau sekedar mandi “batman” termasuk juga si Putra.Mereka adalah sekumpulan pemuda yang bisa dikatakan senasib,berada ditempat sama dan bekerja ditempat yang sama serta dengan jabatan yang sama pula.Jabatan yang bisa dikatakan sangat rendah bahkan banyak orang yang tidak mau menjalani jabatan mereka.


“Put,mau rokok gak” tanya Ebim yang sudah kelihatan selesai mandi. “Orang gila,aku puasa tau” jawab Putra dengan nada canda khasnya.”Halah puasa, puasa itu untuk mereka yang mapan dan mereka yang tiap hari bisa kumpul dengan keluarga.Lagian katanya anak nakal kok puasa...haha”seru Ebim.”Yee,aku kan anak nakal yang berbudiman”bela Putra.Setelah mereka semua sudah mandi dan siap untuk bekerja,turunlah mereka semua meninggalkan “base camp” yang berada diatas gedung tersebut.Satu persatu mereka menjalani tugas masing-masing sesuai kelompoknya, ada menyapu,mengepel dan sekadar mengelap bagian-bagian gedung itu.Yah mereka semua adalah para cleaner sebuah gedung mal yang dikatakan senasib karena semua perantauan,tidur di atas gedung beralaskan kardus.Putra yang waktu itu bertugas di lobby utama menghentikan kerjanya sejenak.Dia memandang di salah satu toko dimana sebuah keluarga yang terlihat harmonis sedang berbelanja pakaian muslim.”Ahh,betapa beruntungnya mereka itu”gumam Putra dalam hati.Jam demi jam berlalu dan selesai sudah waktu bekerja mereka semua.”sob aku cari buka puasa dulu yah”pamit putra pada teman-temannya.Putra berjalan menjauhi teman-temannya melewati jejeran stan makanan dimana pembelinya banyak yang tidak sendiri,ada yang bersama temannya dan yang paling membuat Putra sedikit berlinang adalah mereka yang datang bersam keluarganya.Putra membeli sebungkus nasi dan memakannya di sudut gedung yang sangat dia hafal mana tempat untuknya menyendiri itu.
“andaikan aku tidak pergi dari rumah,mungkin sekarang aku bisa berbuka bareng keluargaku layaknya orang-orang tadi”batin Putra sambil mulai menyantap nasi buka nya setelah mendengar adzan Maghrib.Selesai berbuka,Putra mulai meninggalkan tempat itu untuk kembali bersama temannya yang sudah berada di base camp.Hari demi hari berlalu dengan selalu banyak berkata didalam batin Putra setiap kali melihat keluarga harmonis yang mengunjungi mall tersebut.Hingga tibalah hari dimana menjelang Idul Fitri itu datang.Putra sengaja menyendiri ditempat dimana dia suka melakukan “menyendiri”.Disitu dia menangis kecil sambil berkata dalam hati “Ibu,aku kangen sama ibu.Aku minta maaf atas kesalahanku bu,aku pengen pulang kerumah.Terimalah aku lagi bu.”sesak Putra dalam hati.”Maafkan aku yang pergi dari rumah dan tidak mematuhimu bu.Semoga Lebaran besok aku bisa merangkulmu bu bersama ayah dan adik”isak Putra.
Dulu Putra adalah anak dari seorang keluarga cukup,dan memilih pergi dari rumah karena tersesat dalam pergaulan “hitam” dan tertentang oleh aturan kolot dari keluarganya.Kini dia mengerti sejak kesepian akan candaan bersama keluarganya dulu tidak bisa didapatkan ditempat dimana ia harus hidup jauh dari suasananya dulu.Hidup dalam keadaan tenteram dan sekolah dengan nyaman.Ramadhan bagi Putra adalah waktu untuk menghapus “hitam”dalam diri Putra agar bisa kembali bersama orang tuanya dirumah.Hari demi hari yang dilalui Putra saat ini hanya bisa membatin penyesalan akan keputusan hidupnya yang bodoh telah meninggalkan rumah.Mungkin pesan Putra untuk pemuda yang hidup tenang bersama keluarganya adalah “nikmatin hidup kalian jangan sampai sia-siain keluarga kalian bila tidak ingin selalu membatin seperti saya apalagi ini Ramadhan”.

Komentar

share!