Ramadhan Bersama Sholeh



Karya: Sely Oktaviolita Asri

Halo semua! Namaku Sandi.Aku tinggal di kota yang ramai dan keren. Sekarang sudah duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar bertaraf Internasional. Teman-temanku up to date sekali. Mereka sudah mempunyai Iphone, tab, dan alat super canggih lainnya sama sepertiku. Teknologi yang super canggih itu membuat waktuku banyak digunakan untuk mengoperasikannya.



“Sandi, main Poin Bleng, yuk! Aku barusan dibeliin Papa tab ini. Gimana? Keren kan? Kita main one by one. Nanti aku ajari cara mainnya.” bujuk Anto seraya memamerkan tab keluaran terbaru itu.

Oh ya, Anto adalah teman sepermainanku. Dia adalah laki-laki yang sangat mencintai teknologi. Robot kecil buatannya sangat banyak, sampai-sampai Papa nya memberikan Anto ruangan khusus untuk menyimpan robot buatannya. Ada robot yang tugas nya menulis, menyapu, dan lain sebagainya. Atas kecerdasan yang dimiliki Anto, Papanya rela membelikannya apapun untuk membahagiakan anak kesayangannya itu. Termasuk mengganti tab nya setiap minggu dengan yang lebih baru.

“Boleh! Apa sih itu Pom Bleng..eh Poin Blang itu?” jawabku polos.

“Jadi begini…”

Anto menjelaskan panjang lebar dan kami mulai memainkannya,

Satu jam.

Dua jam.

Lima jam.

“Waduh, San. Baterai tab ku habis. Kita sudahan dulu ya mainnya. Aku pulang dulu. Sudah dicari Papa untuk makan malam. See you next time, my friend!” ucap Anto sembari berlari dan melambaikan tangannya.

Aku membalas lambaiannya dan bergeleng-geleng keheranan. Dasar anak teknologi!

***

Malam yang larut aku habiskan untuk membaca artikel pengetahuan kesukaanku. Menjelajahi dunia dengan maya memakai teknologi internet yang sangat mudah dijangkau untuk anak kelas 6 Sekolah Dasar sepertiku. Ayah sudah memperingatkan aku untuk tidak mengakses hal yang tidak jelas. Kata ayah, “Kalau kamu lihat yang aneh-aneh, ayah akan mencabut akses internetmu selama setahun!”. Aku bergidik dan sangat mengingat perkataan ayah itu.

Tok tok tok.   

Pintu kamarku berbunyi.

“Siapa?”

“Ayah, nak!”

Ayah sudah pulang! Aku sangat senang melihat kedatangan ayah. Maklumlah, ayah bekerja sampai larut malam. Sehingga dengan kegiatan setiap malamku yang seperti ini membuatku melihat kepulangan ayah. Segera ku bukakan pintu.

“Ayaaaaaah!” aku berlari dan memeluk erat sosok pahlawanku itu.

“Kamu belum tidur, nak? Ngapain malam-malam begini?” tanya ayah keheranan.

“Aku nunggu ayah.” ucapku sambil tersenyum.

“Ayah ada sesuatu untuk kamu. Coba kamu merem.”

Sesuatu? Aku berharap sesuatu itu adalah tab atau hal lain yang lebih bagus dari kepunyaan Anto.

“Ini dia….” Ayah menyodorkan tiket pesawat jurusan Semarang kepadaku.

“Hah, yah! Ngapain kita ke Semarang? Terus kenapa ini tiket cuma 2 biji?”

Bingung.

“Kamu dan Bibi akan berlibur di rumah buyutmu di Semarang selama bulan puasa dua hari lagi.”

“Tapi, yah, sekolahku…..”

“Ayah sudah mengajukan cuti untukmu, nak. Sudah sekarang matikan komputermu lalu kamu tidur, ya. Selamat bobo buat jagoan ayah.” Ayah mengecup kening dan memasangkan selimut ‘Superman’ kesukaanku. Berjuta pertanyaan menghampiri dan terngiang memenuhi kepalaku. Sampai-sampai aku tertidur.

***

“Jadi begini, Bi. Saya sudah beli dua tiket tujuan Semarang untuk Bibi dan Sandi. Saya harap Bibi bisa jaga Sandi selama satu bulan di sana. Saya ada project yang tak bisa ditinggalkan di Jerman selama 29 hari.” Ucap Ayah kepada Bibi. Aku yang kebetulan lewat di belakang mereka bisa mendengar dengan jelas perkataan mereka. Sedih. Pikiranku mengada-ada mengenai ayah. Ayah sudah tak menyayangiku lagi!

Besoknya, aku tak bicara kepada ayah. Padahal ayah selalu mengajakku bercakap.

“Sandi, kamu sudah menyiapkan semuanya untuk keberangkatan besok?”

“Belum,” jawabku singkat.

Ayah langsung datang dan memelukku. “Nak, apapun yang terjadi kamu harus berangkat besok. Buyut, paman, dan tante sudah menunggumu, lho!”

“Kenapa, yah? Ayah mau pergi kan? Ayah sudah tidak sayang kepadaku sehingga aku disuruh pergi menemui Buyut bersama bibi tanpa ayah!”Aku menangis sesenggukan. Takut ditinggal ayah. Takut sendirian di sana.

“Tidak, sayang. Ayah berjanji akan membelikanmu komputer terbaru ketika kamu sudah di Semarang, ya.”

Aku mengangguk. Pasrah.

Besoknya aku dan bibi diantar ayah menuju ke Bandara. Jarak dari kota ku ke Semarang hanya satu jam saja memakai pesawat. Namun jika menggunakan mobil, waktu yang dibutuhkan sekali jalan ke Semarang adalah 48 jam.

“Titip Sandi ya, bi. Tolong jaga pola makan dia jangan sampai telat makan ya.” ucap ayah pada bibi.

“Sandi, semangat ya besok puasa pertamamu. Ingat kalau kamu tidak bolong sehari pun, apapun yang kamu minta pasti ayah belikan.”

“Janji ya, yah?” ucapku sambil memeluk perut ayah.

“Yah, cepat-cepat jemput Sandi ya di Semarang. Sandi bakal kangen ayah.” isakku datang namun ku sembunyikan.

Handphone ku bergetar. Aku membukanya.

From: Anto (0812421410)

Sandi kamu dimana? Rumahmu kok sepi?

Aku mau main.Aku habis dibeliin tab lagi

sama papa. Lebih bagus dari kemarin!

Aku cuma ngekek kecil. Dasar anak teknologi!

***

Satu jam kemudian.

“Ternyata Semarang panas ya, Bi. Sama aja kayak kota kita.”

“Iya, den. Kan Semarang pinggir laut utara.”

Setiba bandara, aku dan bibi menaiki taksi sampai ke terminal. Menggunakan Bus Patas selama dua kali, lalu angkutan satu kali, selanjutnya andong (kereta kuda) satu kali, dan berakhir dengan jalan kaki. Kamu tahu? Ini bukan Semarang namanya. Namun sebuah desa yang jauh sekali dari pusat kota. Motor pun jarang sekali. Yang ada hanya andong dan sepeda, jalan setapak tak beraspal. Sejauh mata memandang hanya hamparan padi dan pohon rindang yang terlihat. Sungguh, keren! Lebih keren dari kotaku. Aku teringat handphoneku dan segera membukanya. Sial, tidak ada signal! Ahh..

“Bi, berapa kilo lagi kita harus jalan kaki?”

“Sabar, den. Bentar lagi sampai kok.”

Dijalan kami bertemu dengan beberapa orang yang memanggul cangkul, menggendong ember dari kayu yang entah apa namanya, dan membawa kendi berisi air berjalan dari arah yang berlawanan.

“Sugeng Enjang, Bu, Dik! Badhe tindak pundi?”  (“Selamat pagi, bu, dik. Mau kemana?”)

Ngomong apa sih?

“Mekaten, Pak, Bu. Kulo kaliyan Sandi badhe wonten dhalemipun Buyut Sarjo.” (“Begini, pak, bu. Saya dan Sandi mau ke rumah Buyut Sarjo.”) Bibi menjelaskan dengan bahasa yang tak kupahami itu dengan jelas.

“Owalah. Niku lho, Bu. Dhalemipun Buyut Sarjo. Wonten gang belok kiwe.” (Oh. Itu bu rumahnya Buyut Sarjo. Ada gang belok kiri.”)

“Nggih matur suwun sanget, pak, bu.” (“Terima kasih banyak, Pak, Bu”)

Setelah itu mereka saling melempar senyum dan sama-sama meninggalkan percakapan.

Langkah kami terhenti tepat di rumah pertama setelah gang kecil itu. Aku heran. Ini rumah siapa? Seumur hidup aku belum pernah menapaki tempat ini. Apa kalian tahu? Rumah itu tak jauh berbeda dengan gubuk. Tidak ada genteng tanah liat, lantai keramik maupun pintu jati. Yang ada hanya atap berdaun kering yang tak ku ketahui namanya, lantai tanah, dan pintu dari kayu lapuk.

“Assalamu’alakum” ucap Bibi dengan perlahan. Dan pintu pun dibuka oleh anak seusiaku yang tak ku kenal.

“Wa’alaikumsalam. Nyari siapa bu?” jawab anak itu.

“Dik, ini rumahnya Buyut Sarjo kan?”

“Nggih, bu. Leres.” (“Ya, bu. Betul.”)

“Sebentar ya, bu. Aku panggil bapak dulu.” Anak itu berbalik dan langsung memanggil bapaknya.

“Weladalah! Dik Sandi dari kota sudah datang. Masuk, masuk, mangga!” sapa seseorang yang aku tebak itu adalah bapak dari anak tadi.

Oh ya, anak itu ternyata bernama Sholeh. Benar saja dugaanku, bapak yang tadi adalah bapaknya Sholeh, namanya Paman Warjo. Ada buyut Sarjo juga, umurnya kira-kira 100 tahun. Rona wajahnya masih kuat, semangatnya masih tinggi. Dan tak pernah berhenti untuk bercakap semenjak kedatangan kami. Gubuk ini ditinggali oleh 4 orang. Buyut Sarjo, Paman Warjo, Tante Simi, dan Sholeh. Tante Simi masih bekerja di sawah sehingga belum bisa bergabung dengan kami. Sholeh anaknya pendiam dan jauh sekali dari standar anak kota. Wajahnya lusuh. Namun rona wajahnya sama seperti buyutku. Kuat dan semangat tersimpan di balik tubuhnya yang ringkih. Aku tak yakin betah tinggal bersama mereka disini. Tanpa komputer, tanpa gadget. Hanya ada Sholeh, orang yang paling berpeluang untuk menjadi temanku disini.

“Dik Sandi, di ajak Sholeh nonton dugderan di lapangan. Mau?” ajak Paman Warjo.

“Eh, emm, mau, paman.” Jawabanku seadanya dengan beribu pertanyaan. Dugderan? Apa lagi itu?

Akhirnya aku dan Sholeh pergi berdua. Di sepanjang jalan, hanya suara jangkrik yang terdengar. Kita sama-sama diam. Mungkin Sholeh malu untuk berbicara. Sedangkan aku juga malas untuk memulai. Aku lebih suka memandang pemandangan hijau yang tak pernah aku lihat lagi di kota.

“Emm, San. Kamu sudah tahu apa itu dugderan?” ucap Sholeh untuk yang pertama kalinya kepadaku. Aku geleng kepala tanda tak tahu. Lalu dia menjelaskan.

“Oh, gitu.” Aku angguk-angguk seusai mendengar penjelasan dari Sholeh.

“Sandi, nanti malam mau nggak begadang bersama ku? Aku akan ajak anak-anak di desa ini. Kamu pasti belum pernah ikut bangunin orang sahur, kan?”

***

Malamnya, suasana riuh sekali. Banyak anak-anak seumuranku memegang botol, kentongan, dan alat musik buatan sendiri. Mereka bergerombol menjadi satu didepan gang dekat gubuk Buyut Sarjo. Ku lihat mereka masing-masing memakai celana selutut dan sarung yang di sampirkan seperti medali yang dikalungkan. Mereka sepadan dan seirama memainkan lagu yang mereka buat sendiri, “Sahuuuur..sahur..” diiukuti dengan suara yang muncul dari botol-botol dan kentongan itu. Salah satu dari mereka memegang obor untuk pencahayaan di sekelilingnya.

“Yah, beginilah, Sandi. Suasana memang selalu seperti ini di desaku. Menarik, bukan?”

Tentu menarik.

“Sholeh, mrene lho. Melu keliling ora?” (“Sholeh, kesini. Ikut keliling tidak?”) seru salah satu anak diantara gerombolan anak lainnya. Menghampiri Sholeh dan aku, lalu memandang asing ke wajahku.

“Iki lho, Bud. Iki sodaraku. Sandi namane.” (“Ini, Bud. Ini saudaraku, Sandi namanya.”) ucap Sholeh sembari memperkenalkan aku pada anak tadi, Budi namanya. “Aku Sandi.” Ucapku.

Akhirnya aku ikut bergabung bersama mereka. Ingin sekali aku berfoto ria dengan mereka menggunakan handphone yang aku bawa di saku kanan celanaku. Namun aku mengurungkan niat. Aku tidak mau menghancurkan pengalaman terbaikku dengan teknologi yang aku miliki.

“Yok, konco-konco mulai keliling….” Seru Budi, leader disitu kepada teman-temannya.

“Sahuuuur, sahur.” Tekotek tekotek.

“Sahuuuur, sahur. “ Toktoktoktoktek.

Aku mengikuti mereka dari belakang sambil ikut berteriak membangunkan orang-orang. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang janggal didepan rumah salah satu warga di desa itu. Sesuatu yang bergerak dibalik jemuran baju. Pandangan sengaja ku fokuskan mencari asal muasal wujud itu. Langkahku terhenti. Sholeh pun kebingungan mencari keberadaanku dan menyadari aku berada jauh dari kerumunan anak-anak. Sholeh menghampiriku. “Ada apa?” tanyanya.

“Ada sesuatu. Yuk, ikut aku.”

“Jangan, nanti kalau ada apa-apa bagaimana?” ucap Sholeh dengan cemas dan was was.

Aku tidak memperdulikan ucapan Sholeh. Langkahku mantap dan sembunyi-sembunyi menghampiri ‘wujud’ tadi. Langkahku sepelan bermain petak umpet. Pelan dan sangat pelan. “Ssttttt.” Aku memperingatkan Sholeh agar tidak terlalu berisik. Semakin mendekat dan dekat. Hatiku campur aduk. Takut, waspada, penasaran. Jangan-jangan itu adalah hantu jahat seperti yang pernah aku baca di artikel itu. Bulu kudukku berdiri. Aku yakin Sholeh merasakan hal yang sama sepertiku.

“Ada pencuriiiii!” teriakku dan Sholeh bersamaan. Pencuri itu memindahkan baju yang sedang di jemur ke dalam plastic besar. Kami sangat ketakutan kala itu. Kamu tahu? Pencuri itu membawa pistol. Akhirnya ku putuskan untuk lari. Namun Sholeh tak sempat berlari. Dia didekap oleh pencuri itu. Sholeh berteriak ketakutan dan teriakannya sangat keras. Aku tetap berlari mencari bantuan sambil berteriak “Ada pencuri. Tolong!”.

Panik, dan sangat panik. Aku berhenti di pertigaan. Disitu aku melihat ada tempat tongkrongan seperti pos kampling di desa ini. Sambil berteriak aku menghampiri tempat itu. Untungnya masih ada bapak-bapak paruh baya yang sedang menyantap makanan sahurnya. Aku menghampiri dengan nafas terengah-engah.

“Pak..pak..to..long pak ada pencuri! Dia mendekap saudara saya, Sholeh!” tuturku terbata-bata karena nafas yang tak teratur.

Bapak itu kaget dan langsung meninggalkan makan sahurnya. “Dimana dik, dimana?”

Aku segera berlari dan diikuti oleh bapak pos kampling tadi.

“Tadi disini, pak. Sholeeeeeh, dimana kamu?” teriakku tak karuan.

Bapak itu langsung pergi mencari keberadaan pencuri itu. Lama sekali mencarinya namun nihil.

Tiba di perbatasan desa dengan hutan, aku mendengar suara minta tolong. Aku dan bapak baik itu langsung ke sumber suara. Ternyata suara itu adalah suara Sholeh yang terbelit mulutnya dengan kain. Dan diikat tangannya dengan tali. Spontan aku memeluk Sholeh. Bersyukur semuanya baik-baik saja.

Setelah Sholeh terlepas, dia menceritakan semua kejadian, dan arah kepergian pencuri itu. Bang Juri (nama bapak itu yang ku ketahui setelah Sholeh menceritakan semuanya) langsung menghubungi seluruh warga yang ada. Bersama-sama mencari keberadaan pencuri itu. Segerombolan anak tadi tak lepas dari rombongan investigasi itu. Aku dan Sholeh diantar pulang oleh beberapa warga.

“Pulanglah, nak. Buyutmu, dan orang tua mu sudah menunggumu cemas di rumah.” Bujuk salah satu ibu penghuni desa itu. Kami mengangguk lantas pulang menuju rumah.

Setibanya dirumah, Sholeh menangis di balik pelukan Paman Warjo. Aku yang paling tahu kejadian itu langsung menceritakan kejadian tersebut di depan keluarga kecilku. Apakah kamu tahu? Mereka sangat mengkhawatirkan kami.

***

Beberapa hari kemudian, pencuri itu tertangkap di sebuah pondok kecil di tengah hutan. Dia bersembunyi ketakutan. Polisi setempat juga sudah mengamankan pistol yang ternyata hanya pistol mainan di salah satu saku celananya. Aku mendengar berita itu langsung menghela nafas lega. Setidaknya aku sudah membantu menemukan pencuri pakaian itu.

“Bagaimana tentang peristiwa dulu, Sholeh?” tanyaku sambil tertawa mengejek.

“Kamu tuh ya. Aku nggak mau lagi ngikutin kamu!” jawabnya diikuti dengan tawa khasnya.

“Kamu tahu, Sholeh? Ini adalah pengalamanku yang sangat berharga.” Jawabku sambil memandang bulan purnama tanggal 15 Ramadhan.

“Sama. Tapi kok kamu berani juga ya?” ejek Sholeh.

“Iya, dong. Emangnya kamu, penakut!” jawabku tak kalah.

Sholeh langsung memukul bahuku pelan.

Malam Ramadhan yang sangat indah.

Tepat hari terakhir Ramadhan, ayahku menghampiri ku ke desa ini.

“Ayah datang! Yah, Sandi kangen ayah.” Pelukku erat sekali sampai-sampai ayah tidak bisa bergerak.

“Senang kamu nak, disini?”

“Senang ayah!” jawabku dengan semangat.

Mataku mengedip kea rah Sholeh. Pertanda agar tidak menceritakan kejadian malam pertama Ramadhan kala itu.

Sholeh balas mengedipkan mata di lanjut dengan suara khas tertawanya.

***

Ini adalah ramadhan paling indah dalam hidupku. Sholeh, keluarga buyut Sarjo, bang Juri, dan pencuri pakaian itu membuat pengalamanku menjadi-jadi. Memberikan pelajaran terhebat tentang arti kebersamaan, tanggung jawab, dan bekerja sama. Aku akan merindukan desa ini. Karena di sepanjang hidupku, baru kali ini aku merasakan arti keluarga yang sesungguhnya, Arti kebahagiaan di tengah-tengah para tetangga. Serta arti-arti lainnya yang membuat hidupku lebih berwarna.

Ramadhan tahun depan akan ku ajak Anto kemari, Dia akan berdecak kagum dengan seluruh pemandangan yang Allah berikan di tempat ini. Dia pasti akan merengek memintaku memintanya mencari tempat yang mempunyai signal cukup bagus untuk membuka tab nya (walaupun itu tak mungkin). Dia akan sama sepertiku, sama-sama ingin mengulangi ramadhan yang sama di tempat ini. Tempat yang jauh dari kata ‘teknologi’, tempat yang jauh dari bangunan beton yang menjulang tinggi. Tempat paling damai dalam hidup ini.

Komentar

  1. Perbanyak cerita bergenre anak-anak seperti ini. Semangat! :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!