Penggoda Iman di Bulan Suci



Karya: Sigit Nugroho

Kain hitam membentang didampingi sinar bintang yang menawan. Sang dewi malam membentuk lengkungan senyuman membuat decak kagum orang yang memandang. Desiran angin malam menjadi pelengkap teman seseorang yang sedang merasa kesepian.                    “Man ayo masuk. Sudah larut malam.”, kata Emaknya dari ruang tamu. “Iya, Mak. Sebentar lagi.”, jawab Iman yang sedang duduk di teras rumah sambil memandang pesona malam. Hati Iman mengagumi ciptaan Tuhannya Yang Maha Rahman. Tak ada alasan baginya untuk mengkufuri nikmat Tuhan. 



Sedang asyik memandang langit malam, terdengar bunyi handphone yang memecahkan kesepian.

“Assalamualaikum. Ada apa, Bray?”, tanyanya kepada temannya.

“Waalaikumussalam. Lagi apa loe?”, tanya temannya balik.

“Lagi duduk di teras rumah. Loe juga lagi ngapain, Bray? ko’ kedengarannya ramai sekali?”, kata Iman.

“Ha..ha..ha.., begitu ya nasibnya jomblo. Cuma melamun di teras rumah. Gue lagi main catur di pos ronda bareng Si Awi, Ucup, Najib, dan Akil.”, tutur temannya yang menertawakan Iman bersama teman-temannya di pos ronda.

“Berasa kalian bukan jomblo aja.”, ketus Iman.

“Kami beda sama loe, Man. Kami itu jomblo happy. Ngga kaya loe yang joyan. Jomblo kesepian. Ha...ha...ha...”, ledek temannya sambil menertawakan Iman.

“Sembarangan aja loe. Ngomong-ngomong, tumben banget loe nelpon gue? udah punya pulsa ya?”, tanya Iman dengan maksud meledek.

“Sialan loe. Gini-gini gue bujang berduit.”, jawab temannya dengan nada sombong.

“Bujang boke kali. Ha..ha..ha..”, ledek Iman.

“Bisa rese juga loe ya.”, ketus temannya.

“Sorry, Bray. Gue cuma bercanda. Mau apa loe nelpon gue?”, tanya Iman penasaran.

“Begini, Man. Rencananya ada bedug keliling untuk membangunkan warga untuk sahur. Loe mau ikut ngga?”, kata temannya.

“Jam berapa,Bray?” tanya Iman yang terlihat antusias.

“Jam satu udah kumpul di depan Masjid Nurul Huda.”, jawab temannya.

“Bolehlah. Nanti gue ke situ.”, ujar Iman.

“Oke deh. Gue tunggu ya. Assalamualaikum.”, tutur temannya.

“Ya. Waalaikumussalam.”, kata Iman menjawab salam.
Iman menutup handphonenya dan bergegas ke kamarnya untuk tidur.

Dering jam berbunyi. Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Iman terbangun dan lekas berjalan ke Masjid Nurul Huda untuk berkumpul dengan teman-temannya. Tampak semangat pada raut wajahnya. Maklum, dia sering merasa kesepian di rumah sepeninggal abahnya satu tahun yang lalu. Biasanya abahnya yang selalu ada untuknya. Semasa hidupnya, dia kerap bertukar pikir atau hanya sekadar ngobrol dengan anak kesayangannya. Itulah yang membuat Iman sering merasa rindu dengan abahnya. Tapi apalah daya, takdir tidak bisa mempertemukannya. Iman hanya bisa memanjatkan do’a dan menitipkan salam rindu kepada Sang Pemilik Kehidupan. Langkah Iman semakin pasti. Walaupun jalan yang dilaluinya begitu gelap dan banyak semak belukar yang menghadangnya. Dia tetap melanjutkan perjalanannya. Keinginan untuk berkumpul dengan teman-temannya amatlah besar. Karena hanya inilah yang bisa membuatnya melupakan rasa kesepiannya.

Dua puluh lima menit kemudian, Iman sampai di depan Masjid Nurul Huda. Teman karibnya dan beberapa warga sedang menyiapkan peralatan untuk bedug keliling sedari tadi. Iman beragabung dengan mereka. Bedug besar, botol-botol kaca, dan kentongan sudah disiapkan untuk menyemarakkan sahur perdana di bulan suci dan berkah. Mereka pun mulai berkeliling kampung sambil menabuh bedug dan memukul botol serta kentongan. Tabuhan dan pukulannya begitu berirama sehingga menghasilkan suara yang indah dan harmonis. Suara yang memecahkan kesunyian malam itu juga membuat mereka bergoyang mengikuti irama tabuhan dan pukulan.
“Sahur...sahur.”, teriak mereka berulang-ulang sambil menabuh dan memukul alat yang dibawa.

Suasana malam yang gelap pun mulai kian terang akibat cahaya lampu rumah warga yang memancar. Suara bedug, botol, dan kentongan masih tetap terdengar yang terbawa oleh angin malam. Entah berapa lama suara itu bersemayam di sepanjang jalan perkampungan. Tetapi, suara itu mulai menghilang saat mereka tepat berdiri di depan tempat mereka memulai memukul bedug, botol, dan kentongan. Momen ini sebagai tanda berakhirnya bedug keliling perkampungan.

Mereka pun duduk sambil menyantap sahur bersama layaknya keluarga. Dalam hati mereka berharap sahur ini dapat menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Terutama sebagai simbol rasa taat meraka kepada Tuhan untuk menjalankan puasa yang diwajibkan baginya yang beriman. Banyolan-banyolan pun tak jarang dilontarkan untuk memancing gelak tawa dan meramaikan keadaan. Alunan adzan subuh mulai dikumandangkan dan menggema di setiap sudut perkampungan.

Malam berganti pagi. Gelap berubah menjadi terang. Mentari pagi nampak malu-malu muncul dari peraduannya. Namun sinarnya telah menyapa setiap jiwa yang hidup untuk memulai aktivitasnya. Iman pun terbangun dari tidur lelapnya. Wajahnya terlihat senang menyambut pagi ini seperti burung-burung kecil yang berkicau riang di ranting pepohonan. Tak ada kata malas baginya pagi ini. Iman harus bersiap-siap untuk berangkat ke madrasah. Pukul 06.30 WIB, Iman sudah berseragam layaknya siswa madrasah aliyah. Tas ransel hitam sudah menempel di pundaknya.

“Mak, Iman berangkat dulu.”, kata Iman sambil mencium tangan Emaknya yang mulai menampakkan kerutannya. “Jangan nakal ya, Man.”, tutur ibunya.

“Ya, Mak. Assalamualaikum.”, ucap Iman seraya pergi.“Waalaikumussalam.”, jawab Emaknya.

Iman berangkat ke madrasah menaiki sepeda jenkinya. Hitam kinclong warnanya membuat sepeda jenkinya tampak masih baru.  Padahal sepeda ini adalah pemberian abahnya enam tahun silam. Walaupun jadul, sepeda jenki ini masih kuat melewati jalanan yang terjal dan berbatu-batu. Dengan sedikit kayuhan, sepeda jenki Iman mampu berjalan cepat melewati jalan yang kanan kirinya disuguhkan pemandangan ladang hijau yang menghampar di sepanjang jalan. Iman sengaja melewati jalan ini untuk menyegarkan pikirannya bak embun pagi segar yang menempel di daun-daun padi yang menjuntai.

Bel masuk berdering. Iman segera memarkirkan sepeda jenkinya di deretan ratusan sepeda yang berjejer rapi. “Assalamualaikum, Pak Ustadz.”, ucap Iman sambil mengetuk pintu. “Waalaikumussalam. Silahkan duduk, Man.”, kata Pak Ustadz yang biasa mengajar Iman di madrasah. Iman pun duduk di deretan kursi paling belakang. Dia memang tidak suka duduk di depan. Menurutnya, dia bisa santai walaupun tetap fokus  mendengarkan pelajaran.

“Baik, kita mulai pelajaran hari ini. Silahkan kalian buka Al-Quran kalian kemudian hafalkan terjemahan Surah An-Naas ayat 1 sampai 6.”, perintah Pak Ustadz Nasir. Siswa-siswi pun mulai membuka dan menghafalkan Surah An-Naas. Satu per satu maju dan membacakan terjemahan Surah An-Naas di depan teman-temannya. Tinggal giliran Iman yang maju. Dia pun membacakan terjemahan surah itu dengan lantang dan lancar. “Bismillahirrahmanirrahim. Katakanlah : “ Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Raja Manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia. Aamiin.” Usai itu Iman duduk kembali. Iman memanglah murid yang paling pintar di kelasnya. Walau begitu, Iman tidak terlihat cupu seperti kebanyakan murid lain yang pintar.

“Sudah cukup pertemuan hari ini. Mulai besok dan tiga minggu ke depan kalian belajar di rumah. Paham?”, kata Pak Ustadz Nasir. “Paham, Pak Ustadz.”, jawab anak-anak serentak.
Iman lekas pulang ke rumah bersama Awi, Ucup, Najib, Akil, dan Anton.

Sore harinya, Iman dan teman karibnya ngabuburit berboncengan naik sepeda. Mereka pergi ke tanggul hanya sekadar melihat air yang menapaki kulit tanggul yang bemuara ke sungai kecil di bawahnya. Rindangnya pohon yang berjejer di pinggir tanggul menambah daya tarik tanggul kampung Iman. Suasana sejuk yang disuguhkan memancing orang-orang untuk datang ke tanggul ini walau cuma sekadar foto-foto.

Senja kian menampakkan kehadirannya. Matahari menyingsing ke ufuk barat untuk kembali ke peraduannya. Iman dan teman-temannya segera pulang. Adzan maghrib dikumandangkan. Kumandangnya mengangkasa dan menggugah sanubari setiap insan. Iman dan Emaknya lekas berbuka puasa dengan menceguk sedikit air putih dan menyantap takjil seadanya.

Kain hitam menutupi senja di langit. Iman dan teman-temannya melangkahkan kakinya untuk menunaikan  salat tarawih berjamaah. Kopiah putih menutupi kepalanya. Tangannya memegang erat sajadah di depan dadanya. Salat tarawih ditunaikan. Imam memimpin salat di depan makmumnya. Ayat-ayat Al-Quran dilafalkannya dengan fasih sesuai tajwidnya.

Usai salat tarawih, Iman dan teman-temannya lekas pulang. Di tengah jalan, Iman melihat Aisyah jalan sendirian. Iman meninggalkan teman-temannya dan menghampiri Aisyah. Dia mengantarkan Aisyah pulang. Iman sangat besyukur Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang penuh berkah baginya. Bagaimana tidak, dia bisa mengantarkan pujaan hatinya pulang. Berharap tiap malam dia bisa mengantarkan Aisyah pulang. Malam berikutnya, Iman juga mengantarkan Aisyah pulang. Iman sekarang lebih senang pulang dengan Aisyah dari pada pulang bersama teman-temannya. Setelah mengantarkan Aisyah pulang, iman lekas berjalan menuju rumahnya. Iman berjalan menyusuri lorong malam sepi nan gelap. Pandangannya terpaku pada bangunan tua. Cahaya bintang berkelap-kelip menghilang berganti mendung. Petir menyambar memekikan telinga. Hujan mengguyur bumi yang Iman pijaki. Iman berteduh di samping bangunan tua. Angin kencang menggoyangkan dedaunan. Suasana malam itu kian seram dan mencekam. Tiba-tiba sesosok makhluk putih muncul di pojok bangunan tua itu. Kelopak mata sosok itu amatlah hitam menakutkan. Tubuhnya dibungkus oleh kain putih yang penuh bercak darah. Iman ternganga. Imannya tergoyahkan. Dia merasa takut dengan sosok putih itu. Iman lari sekencang mungkin meninggalkan sosok itu. Tak peduli derasnya hujan menyerang tubuhnya. Baju kokohnya menjadi basah kuyup.

Tiba di rumah, Iman mengganti baju kokohnya dan duduk di tempat tidurnya sambil menyelimuti tubuhnya yang menggigil kedinginan. Pikirannya masih saja dibayang-bayangi oleh sosok makhluk putih yang menyeramkan itu. Sedang takut-takutnya, korden jendela kamarnya bergoyang-goyang sendiri. Padahal hujan kala itu sudah reda. Iman mendekati jendela dan menengok ke luar jendela. Mencari-cari apakah ada orang yang menjahilinya. Tapi ternyata tidak ada orang di luar sana. Bulu romanya tiba-tiba merinding. Iman semakin takut dengan kejadian-kejadian aneh yang dialaminya. Dia tutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena tak ingin melihat kejadian-kejadian aneh lagi. Atap rumah Iman yang berlubang tiba-tiba meneteskan darah merah yang kental ke selimutnya. Berkali-kali darah merah itu menetes ke selimut Iman hingga sedikit membasahi selimutnya. Iman melihat ke atas tapi tak ada apa-apa. Keringatnya mulai bercucuran hingga membasahi kaos tipisnya. Ditutupnya lagi seluruh tubuhnya dengan selimut dan tak mau membuka lagi selimutnya semalaman.

Keesokan harinya, seperti biasa Iman berbaur dengan teman-temannya. Mereka duduk santai di pos ronda.

“Bray, aneh banget tadi malam. Gue lihat sosok putih menyeramkan di bangunan tua itu.”, kata Iman memulai ceritanya.

“Yang bener aja loe, Man? masa iya ada hantu di bulan Ramadhan ini?”, tanya Awi dengan raut muka tak percaya.

“Sumpah gue lihat sosok putih itu di bangunan tua itu.”, tegas Iman

“Masa iya sih ada hantu di bangunan tua itu. Terus apa yang loe lakuin?”, tanya Akil yang tampak penasaran.

“Gue larilah. Gue ngga mau diculik hantu itu kali.”, ujar Iman kepada teman-temannya.

“Ha...ha...ha...”, tawa teman-temannya serentak.

“Ko kalian malah ketawa?”, ketus Iman.

“Kami ngga percaya Man sama cerita loe.”, kata Anton.

“Ko’ kalian ngga percaya? apa kalian melihat kebohongan di muka gue?”, kata Iman mencoba meyakinkan teman-temannya.

“Bukan gitu, Man. Berkali-kali kami lewat situ, ngga pernah tuh kami melihat sosok makhluk putih seperti apa yang loe omongin.”, kata Najib mencoba menjelaskan.

“Gue cerita beneran. Parahnya lagi, korden jendela kamar gue goyang-goyang sendiri. Yang lebih bikin gue takut, darah merah Bray menetes berkali-kali dari atap rumah gue.”, kata Iman mencoba menceritakan kejadian aneh yang dialaminya tadi malam.

“Udahlah kami pulang aja dari pada mendengarkan cerita loe yang ngga masuk akal.”, kata Ucup lalu dia dan teman-temannya meninggalkan Iman sendirian di pos ronda.

“Hey, kenapa pulang? gue nggak bohong.”, ujar Iman dengan nada sedikit kesal.

Iman ditinggal sendirian di pos ronda. Dia bingung kenapa teman-temannya tak percaya dengan ceritanya.

“Hey, kenapa kamu Man? ko’ melamun?”, tanya salah seorang warga yang mengagetkan Iman. Tiga orang warga itu duduk bersama Iman di pos ronda. “Ada masalah ya kamu, Man?”, tanya lelaki tua. “Begini, Pak. Tadi aku cerita sama teman-temanku tentang sosok mahkhluk putih menyeramkan di bangunan tua itu yang aku lihat tadi malam. Eh mereka ngga percaya.”, kata Iman menceritakan kejadian itu pada warga.”Yang benar Man?”, tanya lelaki tua gendut dan berkumis. “Serius Pak. Masa Iman bohong.”, ucapnya mencoba meyakinkan.”Kalau seperti ini kita harus cerita ke warga yang lain donk. Iya kan Bapak-bapak?”, tutur warga itu.

Setelah peristiwa itu, seminggu kampung Iman menjadi sepi nyenyap dan mencekam. Tak ada warga yang berani keluar malam. Mereka takut kalau keluar malam sosok putih itu akan muncul di hadapannya. Tak ada ronda malam selama seminggu itu. Ini gara-gara cerita Iman mengenai kejadian aneh tempo itu. Begitu juga dengan Iman. Selama seminggu itu, Iman menjalankan salat tarawih di rumah. Dia takut kejadian itu menimpanya kembali.

Suatu malam, Si Awi dan teman-temannya datang ke rumah Iman. Mereka mengajak Iman untuk menunaikan salat tarawih berjamaah di masjid. Sebenarnya Iman enggan menerima ajakan teman-temannya. Tetapi, karena desakan teman-temannya Iman pun mau. Dia berangkat ke masjid bersama teman-temannya. Tiba di bangunan tua itu, wajah Iman menciut karena takut. “Disini loe lihat sosok itu, Man? mana sosok putih itu? ngga ada kan? loe jangan mengada-ada deh.”, kata Awi sambil meledek. “Beneran gue lihat sosok putih itu di pojok itu.”, kata Iman sambil menunjuk pojok bangunan itu. “Udah-udah jangan ribut. Kita langsung ke masjid aja. Udah mau adzan isya nih.”, ucap Anton menengahi. Mereka pun berjalan ke masjid.

Usai salat tarawih, Pak Ustadz Ahmad memberikan ceramah kepada jamaahnya. “Warga-warga, saya lihat seminggu ini masjid ini sepi jamaahnya. Kenapa kalian tidak ada yang berangkat untuk salat tarawih?”, tanya Pak Ustadz Ahmad yang merasa heran. “Begini, Pak Ustadz. Kata Iman, dia melihat sosok makhluk putih menyeramkan di bangunan tua itu. Akhirnya, kami semua takut keluar rumah saat malam hari.”, kata warga menjelaskan. “Apa benar kamu mengalami kejadian itu, Man?”, kata Pak Ustadz sambil menatap tajam wajah Iman.”Benar Pak Ustadz.”, jawab Iman. “Astaghfirullahaladziim. Dengerin nih yah. Kalian itu makhluk ciptaan Gusti Allah yang paling sempurna. Kenapa kalian takut sama makhluk putih itu. Lagian ini kan bulan Ramadhan, mana ada setan-setan berkeliaran. Mereka semua itu dibelenggu oleh Gusti Allah.”, ucap Pak Ustadz mengingatkan. “Terus yang aku lihat itu apa Pak Ustadz?”, tanya Iman merasa heran. “Pak Ustadz kurang tau itu sosok apa.”, jawab Pak Ustadz. “Awi, kayanya kalian menyembunyikan sesuatu.”, kata Pak Ustadz yang mencurigai Awi dan teman-teman Iman yang lain karena sedari tadi cengar-cengir. “Jadi begini, Pak Ustadz. Sosok makhluk putih itu sebenarnya Si Anton yang menyamar menjadi pocong. Kami melakukan ini untuk menjahili Iman karena beberapa kali dia meninggalkan kami di jalan tanpa pamit. Malah dia lebih memilih mengantarkan Aisyah pulang.”, tutur Awi mencoba menerangkan kejadian yang sebenarnya. “Oh jadi ini ulah kalian.”, kata Iman geram. “Maaf ya, Bray.”, kata Anton mencoba meredam kemarahan Iman. “Jadi semua udah jelas kan siapa pelakunya. Anton dan lainnya jangan ulangi perbuatan itu lagi.”, ujar Pak Ustadz menasihati mereka. “Iya, Pak Ustadz.”, kata Awi dan teman-temannya serentak.

Sesudah peristiwa itu, kampung Iman menjadi tenang. Warga-warga juga sudah berani keluar saat malam hari. Ronda malam sudah kembali dilaksanakan. Iman pun menjalankan aktivitasnya kembali seperti biasa dengan teman-temannya.

Komentar

share!