Nikmat-Nikmat Terabaikan



Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Didik Purwanto

“Aduuuhh bagaimana ini? Jawaban apa yang harus aku beri pada Doni? “

Wajah Lia cemas bertabur dengan bintik bintik keringat yang mulai mengalir dari pori-pori kulit kuning langsatnya. Dia bagai telur di ujung tanduk, penuh resah serta kawatir yang berjuta juta ton menggantung di hatinya, kegelisahan yang ia rasakan merambat pada psikomotornya tangan kanan menggegam tangan kirinya, sementara kadang sesekali, dua kali, tiga kali, Lia terlihat menggeleng gelengkan kepala, menengok lesu dan bernapas panjang, risau yang menggebu gebu


“Lo itu ngapain sih kaya orang gila gak karuan, lo kurang fokus, nih kalo lo lagi dapet, mending lu pergi ke mbak siti, pesen saja secangkir kopi”

Lia sudah membayangkan kata-kata apa yang akan dilontarkan Rika. Kali ini, ia tidak bisa  meminta saran,mengganggu Rika bahkan menunjukkan wajah lesunya pada Rika secara langsung, karena semenjak berteman dengan Rika, Lia sudah seringkali mendapatkan jawaban yang hampir sama, homogen, sejenis dari sobat karibnya itu. Menurut Lia, saran dari Rika memang kadang bernilai moral tetapi kadang ringan tak berbobot seperti angin sepoi sepoi yang dihasilkan kipas yang teletak tepat tegak lurus dengan bangku sekolahnya. Seeeerrrrr dingin, seeeerrr kurang dingin, seeerrr kadang tidak mempan untuk mengusir panas tubuh potensi dari kipas tua itu. Tetapi meskipun begitu, Rika bernilai lebih dan sangat lebih dari sekedar kipas tua

Lia yang semenjak tadi duduk saja di kelas mulai melamun, sementara teman-teman lainnya sibuk dengan tugas membuat makalah biologi. Untuk masalah pelajaran, Lia sudah terkenal sebagai primadona di kelas tetapi dalam urusan asmara, dia rada kacau. Ia pun mulai melamun meningat kejadian gila bersama Rika.

Waktu itu, Rika berjanji akan membawa Lia ke suatu tempat ajaib yang katanya bisa ngelupain jahatnya mantan yang telah memutuskan Lia secara sepihak. Rika sudah berkali kali bilang bahwa Alex itu cowok yang ga baik buat Lia. Tetapi Lia tetap saja menerima cinta tak berkelasnya si Alex. Hatinya Lia sudah Klepek klepek dalam hitungan jam oleh Alex tetapi buah yang didapat setelah itu bukan harumnya cinta tetapi tangisan bawang bombai Lia membanjiri pelupuk mata, hidung berlendir dalam tangisan sesenggukan dan mulut Lia hanya bergeming “ Alex, kamu ko jahat, kenapa kamu kembali pada  Riri”.
“Lo sih ga fokus dalam hal asmara, lo emang banyak gilanya,udaaaahhh  nongkrong sebentar cari kopi hangat” bujuk Rika.

Lia tidak menolak tetapi ia juga tidak menerima tawaran itu, seolah olah dia hanya ikut apa saja perintah dari Rika. Waktu itu, Lia dan Rikapun naik angkutan umum yang bisa mengantarkan mereka berdua menuju pada suatu perumahanan yang berjarak kurang lebih 20 menit dari sekolah SMA mereka.

“Terima kasih pak”sapa Rika pada supir angkot itu

“Sama sama neng” jawab bapak sopir dan mengembalikan uang kembaLian biaya transportasi umum. Len warna kuning itupun berlalu. Lia dan Rika turun memasuki area perumahan meter demi meter.  Dialog merekapun kembali renyah ketika kaca mata hitam lebar memayungi mata lia.

“Lo ngapain li, pakai kacamata hitam seperti kuda begitu” seru Rika

“Ndak kenapa napa, biar tambah cantik aja, kenapa emang?” Lia membalas

“Syukurlah kalo lo tahu kalo keloplak mata lo bengkak berapa sentimeter setelah air mata lo ngalir kemana mana”

“ih udah jangan bahas itu, ngapain juga lo pengen ngopi sejauh ini, biasanya lo hanya ke kantin sekolah ke warung mbak siti”Tanya Lia

“Udah diem saja, namanya juga tempat ajaib, lo pasti suka” jawab Rika singkat.

Merekapun melanjutkan oborlan sembari berjalan kaki. Gedung gedung rumah dengan berbagai ukuran ada disitu semua, bahkan di beberapa sudut rumah ada tempat gym, karaoke, salon lengkap dengan taman serta arena lainnya, tapi anehnya, kedua bola mata Lia tidak sama sekali menemukan kedai kopi seperti apa yang difikirkan. “Memangnya Rika mau kemana sih?” Tanya Lia dalam hati, karena kalaupun dia Tanya pada Rika, jawabannya pasti tetap sama, “tempat ajaib” itu saja ringkas!

Setelah sekian mater berjalan, mata Rika mulai tertuju pada bangunan rumah yang agak sedikit tua dengan warna cat dominan krem, dikelilingi oleh pagar besi seperti bangunan yunani, rapat melingkar dan kokoh.
“Ini yang kita cari, rumah alamat Karang 6B no 16 ini!!!” jelas Rika semangat

Lia sempat mengendus-endus memastikan adanya aneka aroma kopi ajaib yang katanya bisa mengsusir Alex dalam pikirannya. Tetapi radar penciuman dari Lia tidak menangkap sinyal aroma kopi, hanya semerbak harum bunga melati yang sedang mekar di balik pagar itu, Lia mengusap usap hidungnya yang terlihat sedikit memar,

“Ooo mungkin hidungku tidak peka akibat tertalu banyak nangis” hipotesis Lia terbesit seperti itu

***

Ting tong ting tong. Rika memencet tombol merah tombol bel rumah pada pojok siku pagar. Kurang lebih mereka berdiri 3 menit dan akhirnya terbukalah pintu rumah. terlihat oleh mereka berdua di balik celah celah pagar, ada seorang bapak yang usianya sepertinya  berusia 45 tahun menghampirinya Sreeeeek. Pintu pagarpun terbuka. Sambutan ramahpun dari bapak terlontar dengan manis dibalut dengan senyum yang penuh wibawa.

“Iya, ada apa mbak? Mungkin ada yang bisa bapak bantu?” tawar si Bapak
Bapak kenal Alex kan? Kami ini temannya Alex. Celetuk Rika

Bapak itu terdiam sesaat berdiri di hadapan mereka berdua. Bapak itu malah mencermati Lia dan Rika dengan detailnya, dan muuntnya mulai bergerak dan mengatakan kata  “iya” setelah Bapak itu menemukan identitas sekolah yang tertempel pada seragam Rika.

“Anak Bapak itu kurang ajar Pak, suka mainin perasaan cewek, mentang-mentang anak bapak terkenal di sekolah tetapi bukan berati semena-mena menganggap remeh perasaan cewek” Protes Rika yang seolah olah memaki pedas tingkah laku anak didepan bapak kandungnya. Kesal lebih tepatnya.

Rika begitu ekpresif dengan keberaniannya berontak kepada si Bapak. Sementara itu, Beberapa inci kaki Lia malah bergetar hebat, tubuhnya bak tersetrum listrik beberapa voltase, bibirnya serta lidahnya tercekat, kering tanpa berair liur, seperti ingin kabur ,kacamata hitamnya segera di regkuh dilepakan oleh tangan kakannya, sementara tangan kirinya memegang tas Rika dari belakang. “Ternyata bukan kedai kopi” gumam Lia.

Bapak itupun masih menunjukkan sikap santunnya dan malah mempersilahkan Rika dan Lia untuk masuk rumahnya. Bapak itu menjelaskan tentang siapa Bapak itu dan apa hubungannya dengannya dengan Alex. Sudah jelas sangat terkaget-kaget dan merona merah penuh malu pada wajah Lia aLias sempurna kacau hari itu. Selain bengkak mata, dia bahkan Rika harus ridho untuk meminta beribu ribu maaf, sikap spontan Rika atas protesnya pada Bapak itu berujung kacau. Memang sebelumnnya-sebelumnya, Alex pernah yang memperkenalkan identitasnya kepada Rika bahwa dia adalah anak pengusaha dan rumah keluarga besarnya hidup di alamat Karang 6B no 16. Dan kenyataanya, Bapak itu menjelaskan secara runut bahwa Alex bukan anak kandungnya, tetapi anak kos disitu dan baru pindah sekitar 2 hari yang lalu.

“Tidak apa apa ko mbk, bapak tidak marah, silahkan diminum dulu teh ya?”

“Iya pak terima kasih” jawab mereka berdua serempak

Mata Lia terpaut, menatap lekat mata Rika, mata ketemu mata, begitu banyak gejolak yang ingin mereka diskusikan secara emapt mata yang jelas, Lia memberikan sinyal bahwa kali ini Rika yang gila dan tidak fokus, memalukan dan sangat memalukan. Bukan kopi yang dia dapatkan tetapi seperti ia tercebur dalam lautan lahar gunung yang meleleh panas, terbakar dan pasrah. Inikah tempat ajaib aneka kopi itu? Aaahhh tidak tahu! Lia ingin sekali hari ini berakhir cepat. Merekapun izin dari Bapak Danu dan segera mencari angkutan umum.

“Lo it rik, bikin malu gueeeeehhhhh, sumpah kebangetan, muka lo itu tebal dan kokoh seperti tembok cina. Lha gue, terbuta dari batu kapur yang mudah hancur,ga kuat nahan malu” Gerutu Lia sambil melototin Rika di dalam angkutan.

“Sama kaliiiiiii, aku juga maluuuuu pakai bangeeeeeetttttttt. Inikan salah lo, nanggepin tangisan lo berlarut larut, ya solusinya kan gue pengen ngajakin lo untuk ketemu Alex di rumanhya” balas Rika
“Terus apa yang kita dapetin hari ini? Alex tidak, konfirmasi tidak, cinta tidak, Kopi enggak, malah dapat teh, serta yang lebih parahnya naggung malu tingkat galaksi hiih” dan bla bla bla. Dialog mereka tak ada habisnya

Mereka berduapun terlibat dalam percebatan sengit selama perjalanan pulang tetapi ada sedikit oleh oleh yang mereka dapatkan bahwa Alex itu pembohong kelas teri.  Itulah kisah yang tak akan terlupakan oleh Lia bersama Rika. Lia senyum senyum sendiri mengingatnya, Ia lupa akan kegalauan tetang doni yang ingin mengajak keluar nanti malam.Tiba tiba lamunan Liapun buyar karena tiba-tiba dewi dan suci menepuk bahu Lia dari belakang

“Duaaarrrr, makasih banyak ya, udah dipinjemi hapenya untuk mencari materi tentang rekayasa genetika, jadi ngerepotin soalnya batreku habis nih” terang dewi

“Duh kaLian ngagetin aja, terus sudah selesaikah tugas dari Pak Guntur?” Tanya Lia

“Alhamdulillah sudah, tinggal beberapa persen saja”

“Oh Lupa, selamat ulang tahun ya Lia, semoga panjang umur ya, sehat selalu dan hidupnya penuh berkah seperti keberkahan bulan ramadhan sekarang” doa dewi untuk Lia.

Belum sempat membalas doa dewi, sucipun tak kalah menyeru keras “Aaamiiiin”

Liapun kembali kepada dua sahabatnya yang baru dia kenal dalam dua bulan ini. Dewi dan suci merupakan siswa pindahan dari SMA kartini tepatnya dua bulan yan lalu.

“Bagaimana kaLian bisa tahu ulang tahunku? KaLian kan belu…” terka Lia penuh Tanya.

Suci menjelaskan bahwa dengan tidak sengaja inbox di HP Lia terbuka dan berisi tulisan ucapan ulang tahun dari temanmu.

“Nah sebagai kadonya, bagaimana kalau nanti kita ngabuburit” ajak suci penuh semangat

“Wah apa tidak merepotkan???” Tanya Lia

“Ayolah sekali kali kita jalan bertiga, di dekat rumah suci ada masjid juga kog, jadi kita nanti bisa sekalian taraweh bareng, oke?? Ya udah lo pikir-pikir aja dulu, kita mau ke perpustakaan sebentar” tutur dewi dan berlalu
Ya sudah nanti gue kabari lagi ya?

Lia membuka HPnya, membuka list daftar sms yang masuk, penasaran siapakah yang memberikan ucapan ulang tahunnya. Awalnya ia membatin, Doni yang SMS tetapi ternyata bukan. Meskipun bukan yang doni, mata Lia tertawan untuk tetap membacanya

Pengirim: Bidadari Kopi

Assalamualaikum Lia

Dear sister. Selamat ulang tahun ya

Maaf telat ngucapinnya, Maaf tak ada kado special, Maaf tidak bisa nemenin lo negbuburit seperti biasanya, Maaf tidak bisa belajar bareng. Lia moga lo panjang umur, sehat, tegap iman dan taqwanya (sok alim ya gue?), menjadi muslim yang sholihah. Aaamiiin. Oh iya, Gue dah kenal lo lama, gue hanya bisa ingetin lo dari jauh, lo mudah sekali gamang dalam masalah jodoh, cinta dan lain lain, lo kudu wajib hidup lo lebih baik dari kemarin dan ke depan lo kudu lebih baik dari sekarang. Lo pernah bilang kalau lo pas udah lulus SMA pengen punya cowok yang super setia dan pengertian? Lo masih inget tidak??? Bukan berarti gue ngebungkusin kado yang berisi cowok setia dari singapura disini hehehe. Langsung saja ya, Ini bulan suci ramadhan, selagi lo punya iman, berdoalah kepadaNya dengan penuh harap bahwa yang lo minta bukan sekedar cowok setia, tetapi mungkin calon yang mampu mengimami lo entah kapan datangnya, lo dah ga boleh nangis bombai gara gara cinta dan cowok, sudah saatnya lo dewasa dan memperbaiki diri, menyibukkan diri menjadi lebih baik lagi, Biar Allah yang sibuk nyiapin jodoh buat lo, karena Allah maha mengatur segala hal, lo dulu mungkin pengen yang tampan, yang pengertian dan lain lain…tetapi semua itu ga ada guna menurut gua mereka  akan segera tersisih dan hilang jika ada calon imam yang udah siap berani melamar lo, mereka akan tersisih jika sudah ada calon imam yang sengaja Allah kasih yang dah siap menjadikan kamu halalnya…faham kan?

HBD ya….Doakan aku semoga segara pulih yaaaa, sertakan Allah dalam segala aktivitasmu oke???

Lia menutup sms itu dengan sekaan air mata yang pelan menetes di pipinya. Alhamdulillah lirih Lia, Ia merasa beruntung sekali sengaja di taqdirkan Allah berteman baik dengan Rika. Memang frekuensi SMS atau telfon jarang dilakukan terlebih Rika tidak bisa menerima telefon, bahkan membalas ratusan SMS Lia yang rindu tak terbalas, tetapi Lia memakluminya. Cukup dengan Doa Lia menyapa sahabatnya yang hampir 8 bulan terbaring akibat kanker ganasnya. Tetapi luar biasanya, Rika tidak melupakan hari istimewanya itu, walaupun Lia sempat mendengar kabar bahwa kondisnya Rika kritis. Lia terharu, sedih, senang bercampur riuh gemuruh perasaanya saat itu.Ia sadar bahwa keshatan itu adalah anugerah yang istimewa yang tidak semua orang dapat memilikinya setiap saat. Cukup Rika menjadi teman sekaligus contohnya. Lia masih berdiam lama memikirkan betapa bodohnya kalau dia mengeluh atas hal hal sepele, sementara bersuyukur atas kesehatan yang dibeRikan oleh Allah sering ia abaikan.Lia merasa belum bisa menjadi orang dan hamba Allah yang baik. Lia berkeinginan untuk curhat kepada Allah kala itu, memang Lia tiak begitu faham agama secara mendalam, tetapi Lia sadar Allah maha mendengar. Sekilas jam tangan yang melingkar di tangannya masih menunjukkan pukul 10 pagi dan liapun bergegas mengambil air wudhu untuk ibadah dhuha, ingin bertemu dengan Allah untuk menceritakan hari istimewanya tersebut, lia ingin meminta permohonan atas kesehatan Rika dan meminta kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Ramadhan yang penuh berkah bisik dalam hatinya.

***

Usai melaksanakan 8 rakaat, Lia pun bergegas membalas sms Doni yang awalnya membuat ragu menerima cinta doni atau tidak, Lia sudah siap untuk membatalkan pertemuan dengan doni usai trawih nanti malam meskipun Lia amat sangat mengagumi doni setelah alex memutuskannya. Tetapi sms dari rika mengurungkan niat cinta semu itu

Untuk Doni

Maaf ya don, nanti malam gua tidak bisa bertemu dengan lo, dan maaf juga gua harus fokus pada jenjang pendidikan setelah lulus SMA ini, untuk pertanyaan 2 hari yang lalu yang lo tanyakan ke gue, gua minta maaf gua tidak bisa menerima cinta lo dan ga ada kata jadian buat kita. Gue lebih memilih lo sebagai sahabat gua, maaf.

Setelah melihat laporan terkirimnya, lia mematikan hanphonenya dan beranjak menuju kelasnya lagi untuk mengiyakan janji ngabuburit bareng dengan dewi dan suci.

Komentar

  1. Pesan dari ceritanya bagus.. mengingatkan nikmat yang sering saya lupakan..
    Bahasa yang digunakan uuga lumayan bagus
    Alur cerita masih bisa dikembangkan lagi..

    BalasHapus
  2. Terbesit kadang ingin merasakan kembali bersekolah

    BalasHapus
  3. Tuliskan ceritaku juga dong...

    BalasHapus
  4. Seru jg cerpennya ......

    BalasHapus
  5. Memikirkan cowok berarti membiarkan pencuri amalan itu masih dalam rumah ibadah kita, hati hati pacaran....but this is a nice story

    BalasHapus
  6. semoga bisa membawa berkah ceritanya

    BalasHapus
  7. hahahahahhahaha lebih baeknya fokus sama masa depan dari pada fokus sama pacaran yang penuh bawang bombai....lumayan menghibur lah bang ceritanya

    BalasHapus
  8. jadi doni dan rika tidak pacaran endingnya??

    BalasHapus
  9. Lumayan menghibur dan bikin ketawa sendiri intronya

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. ni ceritanya kadang sedikit nyindir kehidupanku waktu sma, tapi lucu juga :)

    BalasHapus
  12. penasaran sama wajah alex sebenrnya jika ada di dunia nyata...hahahaha

    BalasHapus
  13. perlu dikembangkan lgi endingnya, biar mkin bguuus. tapi ini sudah ckup bgus juga

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!