HAYO.. TEBAK ADA APA



Karya: Sapi

Hai.. malam ini, aku lagi surfing bahan-bahan buat LKTI. Yaah.. setelah sekian lama, kira-kira dua minggu aku vakum dari aktifitas aku yang satu ini. Buka browser, teot, teot, teot... sumpah lemmoooottt bingo.. bikin aku jadi undergo dan gak bisa let’s go, jadi cuma bisa melongo.. Aku yakin kamu bisa ngebayangin betapa frustasinya diriku.. ckckck..



Belum sempat dapet bahan-bahan yang aku cari, browserku keburu menampilkan layar proyektor putih bertuliskan problem loading page, bla-bla-bla, bla-bla-bla-bla, bla-bla-bla-bla.... Buruan aku matikan tuh server lalu aku bunuh lappy-ku, wuih sadis banget.. Ehm, sori keceplosan, maksudku laptop-ku..

Maunya sih, habis shalat tarawih ala paket Hot Rod 4G Super Cepat aku mau buka kitab suci aku, yup, bukan tidak, bukan ndak, apalagi kalau bukan Al-Quran. Tapi guys.. berhubung nih LKTI sudah H-7 so, mau gak mau nih, aku harus membuka file semi usangku di flashdisk imut aku. Nah, pas aku buka, kabel-kabel di otak aku lagi konslet, jadi, aku juga gak connect sama tulisan aku sendiri, aduh, aduh... Tapi, ya, dimana ada kemauan di situu ada jalan, jadi satu-satunya jalan ialah menuruti kemauan, otak-atik otak adu jari dan tuts-tuts.. Ayo.. bersedia.. siap.. mules... preett..... Eh, maaf, salah-salah, maksud aku, mulai! Jadi, aku klik tanda cross merah di pojok kanan atas terus aku buka azimut aku dan akhirnya aku tuliskan mantra-mantra hitam aku, hua,ha,ha.. (Kok malah jadi dukun, sich) @_@?!

Pas lagi mau masuk pintu imajinasi, ada pasukan pengganggu alam pikiran aku, akhirnya, penjaga-penjaga alam pikiran aku harus berlutut, so pasti, imajinasi aku mampir sebentar ke.... Masih Dunia Lain,, hiiiiii,hiii,hiii... Ah, lebay.. Jadi, gini guys, di otak aku ada razia oleh polisi otak, waktu itu, imajinasi aku lagi gak pakek helm, jadi ya, kena tilang deh, karena imajinasi aku kena tilang, akhirnya, pikiran aku melayang-layang deh.. Nah, pas pikiran aku melayang-layang nih guys, layangan aku nyangkut di kabel listrik lalu tersetrum listrik memori masa lalu, jreett,,, Persiapan memasuki lorong waktu, para penumpang diharap memasang sabuk pengaman, pemberangkatan akan dimulai dalam hitungan tiga,,, dua,,, satu,,, wush.......!

***

Seminggu sebelum Ramadhan tiba, ada kertas ukuran A5 fullcolour dari temanku, “Apa itu, Tri?”, kedua alisku mengerut, mataku tertuju pada kertas-kertas kecil itu, “Oh, ini, ndak tau”., jawab temanku ringkas tanpa memampirkan pandangannya padaku. “Aku mau satu dong..”, pintaku, “Nih, kalau mau, baca aja”, dia memberikan kertas kecil itu padaku. Kertas itu isinya tentang lomba desain poster, lomba mini story, dan lomba story telling, dan lagi seminar tentang remaja islami. Aku mau ikut yang mana ya, bakat gambar aku, hampir sempurna sih, cuma kurang bagus, kurang halus, kurang rapi, kurang keren, kurang ini, kurang itu, kurang gini, kurang gitu, kurang..., kurang.., dan kurang-kurang lainnya, jadi pilihan lomba desain poster: GUGUR. Loncat ke opsion berikutnya, yaitu, lomba mini story, emm, kira-kira bisa ndak ya.. lihat temanya dulu dong, Ramadhan Momentum Perubahan, aku lihat ke dalam dulu, ehm, aku gokil, aneh, lebay, resmi bisa, santai bisa, sok alim bisa, aku bisa..., aku oke..., aku bisa.., bisa.., bisa.. , dan bisa-bisa lainnya, so, aku beranikan diri: YA. Oke, lanjut ke opsion berikutnya, Lomba Story Telling, emm, temanya Daily Life of Rasulullah’s Followers. Sepertinya aku bisa deh, aku rasa aku cukup PD, aku rasa aku cukup gila untuk menyampaikan cerita dan tampil di depan umum, so.. YA.

H-6 menjelang lomba, ide untuk mini story maupun story telling masih enggan mampir di benakku. Termenung menatap Ms. Word di netbook, aku merasa malah netbook yang menatapku. Fiuh.. yang ditunggu tak datang jua, ee, malah bosan yang bersua. Akhirnya aku wafatkan laptopku lalu aku berbaring membaca majalah islami. Awalnya sih, cuma iseng, tapi, di pertengahan halaman, aku tertarik dengan kisah Ummu Umara yang berjudul Kembali dengan Satu Tangan, jadi aku baca artikel itu. Dari situlah, aku mendapatkan ide untuk lomba story tellingku, tapi masih ada satu kendala, masak aku mau menerjemahkan ke Bahasa Inggris? Jadi, aku ndak ambil pusing, aku langsung datang ke Mbah Google untuk meminta solusi atas permasalahanku. Setelah aku ceritakan masalahku padanya, akhirnya dia memberikanku banyak sekali opsi, aku sampai bingung mau pilih yang mana. Pilih dia atau kamu, pilih dia atau kamu? (Apa, coba?) Maaf, sponsor lewat. Setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku jatuhkan pilihanku kepada opsi yang terbaik. Tapi ini belum berakhir.

Bersambung...... Eh, maaf salah skenario..

Akhirnya, aku cetak opsi pilihanku supaya aku bisa memandanginya terus-menerus. Setelah aku copy ke azimut, aku tercengang, “lho, kok, buanyak banget ya? Gimana aku bisa ngafalin kalau kayak gini?”, waduh, waduh kepalaku pusing lima keliling (karena ada lima halaman jadi pusing lima keliling). Tapi, aku tetap baca pilihanku, kasihan bukan kalau ditelantarkan, hiks, hiks.. Meski ide untuk story telling sudah kugapai, tapi ide untuk mini story masih terbengkalai... Waduh, waduh, kalau ini, ya pusing tujuh keliling, Rek!

Setiap hari aku menatap laptop terpaku, tapi offline, offline.... offline, offline.. Setiap hari juga aku buka azimut Ms. Wordku, ah, meski setiap waktu bertemu tetap saja ku tak jemu-jemu menanti ide bertemu. Tapi, setiap itu juga aku tutup azimutku karena dia seperti muak melihatku jika aku tidak menuliskan sesuatu di dalamnya. Selama ini pula, aku bagai menyelam minum air, ku pandangi dengan penuh perhatian naskah cerita untuk lomba story tellingku, dan yang tak kalah dari semua itu, rasa keraguanku, “aku bisa ndak ya? bisa ndak ya?”, entah berapa banyak kalimat itu terlontar. Hal ini jelas berdampak, aku baca naskah itu setengah-setengah.

H-5 menjelang lomba, aku sudah capek memandangi naskah itu, lesu mataku, andai saja dia bisa bicara, pasti dia berkata “Aduh, aku capek. Beri aku waktu istirahat dong, tiap hari baca tulisan kecil-kecil kayak gini, apa kamu ndak kasihan?!”, seandainya mataku bisa bicara seperti itu, pasti kepalaku rame. Akhirnya, aku letakkan naskah itu di atas meja belajarku, berharap ada keajaiban agar naskah itu dengan ajaib masuk ke otakku. Mimpi kali ya. Lalu aku berbaring di atas kasurku dan memejamkan mataku, terlintas permintaanku kepada sahabatku untuk menginap di aspi (asrama putri) satu malam saja sebelum dia pulang ke kampung halamannya, tapi belum ada respon. Hening.

Keesokan paginya, aku terjaga dari tidurku walau tidak pulas dan kulihat tanganku menggenggam kertas yang sudah kusut, ah, kertas itu ternyata kertas naskah lomba story tellingku yang aku baca semalam sebelum menjelang tidur. Aku berjalan menuju kalender yang terpajang di dinding kamarku, “hari ini H-1 Ramadhan, berarti nanti malam tarawih nih, terus besok puasa”, aku masih memandangi kalender itu dengan alis mengerut, “Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan di Ramadhan tahun ini, makasih ya Allah”, kekusutan di wajahku perlahan terurai lalu terbitlah senyuman yang menyinari muka berminyakku karena belum mandi. “Ah, mandi dulu ah, bauk..”, aku menyabet handukku di jemuran lantas ke kamar mandi.

Matahari sedang terik-teriknya menyebarkan panasnya, aku sedang bersantai sambil membaca naskah dengan seabrek keraguan memutari benakku, aku tetap mencoba membulatkan tekadku, “ah, apa sih, cuma lomba ini. Aku pasti bisa..”, aku bermonolog, “bismillahirrohmannirrohiim”, kuyakinkan diriku. Saat ku merasa penat, aku berhenti sejenak, tit,tit,tit,tii..t,tit,tit,tit,tit, Hp-ku berdering mengambil perhatianku. “Assalamualaikum.. Nisa, kalau kamu mau nginep di aspi hari ini ndak apa-apa. Di sini cuma ada aku, Durroh, dan Mak Sareh. Tapi kamu minta ijin dulu ya ke ayahmu. Sukron, Anis. Wassalamualaikum”, begitulah bunyi sms dari Durri. Entah apa yang terlintas di benakku, satu sisi aku senang bisa nginep di aspi, di sisi lain, aku kuatir tidak diijinkan oleh orang tuaku, yaa.. sebagai seorang anak yang sudah tinggal kira-kira 16 tahun dengan mereka, aku taulah karakter mereka, apalagi kalau bukan: overprotective. Yaa, aku bisa maklumi itu, karena aku merupakan seorang gadis serta anak sulung di keluargaku. Muantap abis, Cak!

Aku perlu berpikir seribu kali untuk mengutarakan maksudku kepada kedua orang tuaku, tidak pandang ayah dan ibu, keduanya sama. Ya.. setelah berfirkir dan memantapkan hati, keesokan harinya, aku bilang deh, ke mereka. Hayo tebak, apa yang mereka katakan, yup! Mereka mengizinkan. Aku sih agak kaget denger pernyataan mereka, karena sebelum mengizinkan, mereka itu menginterogasi aku, waduh, waduh... tapi ya.. ndak apa-apalah.

Pukul setengah lima sore, aku menyiapkan barang-barang yang akan kubawa. “Emm, peralatan mandi, handuk, alat sholat, baju ganti, uang, buku, hp, apa lagi ya?”, aku menggigit bibirku,“oiya, Al-Quran sama naskah buat lomba. Aduh, kok bisa lupa ya?”, aku memukul jidadku. Semua barang-barang itu aku masukkan ke dalam tas ransel coklat mudaku. Lalu aku bersiap-siap untuk berangkat. “Yah, ayok berangkat.”, aku duduk di kursi ruang tamu sambil menunggu ayahku. Saat duduk, aku berfikir, “aku jadi ndak ya ikut lomba? Sekarang sudah H-3 buat lomba story telling”, aku termenung, “aku juga belum nemu ide buat mini story-ku, deadlinenya sudah Kamis, sekarang sudah hari Rabu, haduh..”. Lamunanku terbuyarkan oleh panggilan dari ayahku, “Ayok, Nis!”, ucapnya sambil mengeluarkan sepeda motor. “Oh, iya, Yah”, spontan aku sadar dari lamunanku tentang kedua dua lomba itu, lantas aku bangkit dari kursi, “Buk, Nisa berangkat dulu ya!”, aku mencium tangan ibundaku lalu aku berangkat diantar ayahku, “Assalamualaikum!”.

Sesampainya di aspi (asrama putri), aku langsung berpamitan dengan ayahku, “Yah, aku berangkat dulu ya...”, aku mencium tangan ayahku, lalu ayahku membelokkan sepeda motornya, dan berlalu. Tok, tok, tok.., aku mengetuk pintu hijau asrama,“Assalamualaikum! Durri!”, aku berdiri di depan pintu. Kletek, “Waalaikumsalam! Masuk, Nis”, Durri membukakan pintu asrama lalu mempersilahkan aku masuk. “Kamu cuma sendirian, Dur, di sini?”, aku bertanya sambil membuka kaos kakiku sebelum melewati batas suci. “Iya, Nis, aku sendirian di sini, yang lainnya sudah pulang semua”, Durri berdiri menungguiku. “Kamu kok ndak pulang?”, tanyaku setelah melepas kedua kaos kaki. “Ndak, Nis. Aku pulang tanggal 20 habis rapotan”, aku dan Durri berajalan menuju kamar no.10. “Jadi, kamu pulang hari Sabtu ini?”, tanyaku. “Iya, Nis”, ucapnya.

Hari ini, malam pertama tarawih karena besok sudah mulai puasa. Seumur hidupku, inilah pertama kalinya aku mengawali Ramadhanku bukan bersama keluarga, tapi, itu ndak masalah. Menjelang waktu Maghrib, aku dan Durri bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib.

“Dur, ambil wudlu’ yok, shalat Maghrib dulu..”, ajakkku kepada Durri yang tengah mengemas pakaiannya ke dalam kardus. “Oiya, Nis. Ayok”, Durri berdiri, “Kamu ambil wudlu’ di kamar mandi 3 dan 4 ya”, sambil berjalan di depan ku. “Oiya. Emangnya kenapa kalau di kamar mandi 5 dan 6? Kamar mandi 1 dan 2 juga kenapa?”, aku bertanya sambil berjalan di belakangnya. “O.. aku ndak ngisi kamar mandi 5 dan 6. Kalau kamar mandi 1 dan 2, airnya habis”, “ayok, kamu ambil wudlu’ duluan, aku nunggu di sini”, ucapnya sambil mempersilahkan aku. “Iya, Dur”.

Usai mengambil wudlu’, kami berdua segera ke kamar untuk shalat Maghrib berjamaah. “Dur, kamu jadi imam ya..”, pintaku deng nada bergurau. “E.. ndak ah, kamu aja , Nis”, ucapnya sambil menggeserku ke kiri. “Lho, kok? Ndak, kamu aja, Dur..”, aku masih melihatnya dengan bingung. Sejenak aku dan Durri saling melempar peran untuk menjadi imam shalat Maghrib, tapi akhirnya, Durri memberikan solusi, “Sudah, gini aja, sekarang kamu jadi imam. Nanti shubuh kamu lagi yang jadi imam, Dzuhur dan Asar aku imamnya. Gimana?”, ucapnya sambil memegang pundakku. “Emm, okelah kalau begitu”. Kemudian kami menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah. “Allaahuakbar!”.

***

Selesai menunaikan shalat Maghrib, aku dan Durri membaca Al-Quran dengan bertadarrus. Setelah itu, kami segera bersiap-siap untuk shalat tarawih. “Dur, kita mau tarawih dimana?”, tanyaku. “Tarawih di masjid Al-Falah, gimana?”, tawar Durri. “Emm, kalau aku sih, oke-oke aja, tapi kamu tau ndak itu di mana?”, aku melipat sajadahku. “Hehe, ya aku ndak tau, Nis, kamu tau itu di mana?”, tanya Durri. “Aku juga ndak tau”, jawabku lalu aku duduk di kasur, “gimana kalau kita shalat tarawaih di musholla belakang ini?”, saranku. “Ya ndak apa-apa sih. Musholla yang dimana itu ya?”, sambil mengerutkan alis, “yang di dekat rumahnya Helda itu, tah?”, tanyanya sambil duduk di sampingku. “Iya, gimana?”, tanyaku sambil melihat Durri. “Ya dah, ndak apa-apa”, jawab Durri. “Tapi, kamu tau kan jalan ke sana?”, tanyaku kepada Durri, “kalau lewat dalem, bisa? Biar lebih cepat”. “Ya, aku tau, Nis”, jawabnya sambil berdiri, “ayok berangkat, sudah jam setengah tujuh”. Lalu, kami pun berangkat menyusuri lapangan rumput sepak bola di belakang sekolah kami, melewati gang-gang kecil nan sempit, lalu ke lorong hingga akhirnya sampailah kita di masjid. Yaa.. sebenernya, ini lebih pantas dikatakan musholla karena ukurannya kecil dan jamaahnya hanya sebatas muslimah dengan kapasitas terbatas.

“Ayo, Dur, cepet!”, aku dan Durri segera mencopot sandal dan menempati shaf paling belakang. Meski sudah berusaha secepat mungkin, tapi akhirnya, kita tetap menjadi makmum masbuq, walah, walah...

Di perjalanan pulang sehabis shalat tarawih, “Dur, kamu ngerasa ndak, kalau tarawih di musholla barusan cepet banget?”, tanyaku. “”Iya, Nis. Tadi itu cepet banget. Aku nyampek ndak bisa ngikutin bacaannya imam”, ujarnya. “Aku ndak ngerasa sholat tadi, habis, cepet banget sih..”, keluhku. Guk, guk! Guk, guk!, terdengar suara anjing menggonggong ketika aku dan Durri melintas di depan rumah orang non-muslim yang minim penerangan. “Astaghfirullahaladziim.. aduh kaget aku, Dur”, ujarku sambil mengusap dada, “itu anjingnya, kok menggonggong ke kita ya?”, sambil menunjuk ke arah anjing itu, “kamu lihat kan anjing itu, Dur?”, tanyaku. “Iya, Nis. Anjingnya kok lihatin kita ya?”, Durri melihat anjing yang terus menggonggong ke arah kami, “biasa, Nis, anjing kan memang kayak gitu kalau lihat orang yang ndak dikenal”, ujarnya dengan nada bercanda. “He-eh, bener kamu, Dur”, aku menepuk pundak Durri dengan tertawa kecil, “Ngng, Dur, kamu cium bau singkong rebus ndak?”, aku bertanya ke Durri setelah melintas di depan rumah suram tadi, suara gonggongan anjing semakin terdengar. “Iya, baunya tajam banget, Nis”, ujarnya sambil mengusap-usap lengan kirinya, “ngng, Nisa.. kamu jangan nakut-nakutin aku dong...”, Durri memegang tangan ku erat-erat sambil merapatkan diri kepadaku. “Aku ndak nakut-nakutin kamu, tapi memang bau singkong rebusnya nih tajem banget, suara anjingnya juga tambah keras”, kataku, “tapi ya, Dur, setauku sih, kalau bau singkong atau kentang rebus, itu tandanya ada genderuwo, terus, kalau anjing menggonggong terus-menerus meski orang asing sudah pergi, itu tandanya ada makhluk halus lho, Dur”, uraiku kepada Durri meski tak bermaksud menakut-nakutinya. “He~e, Nisa.. ayo cepet aku takut”, suaranya bergetar, Durri memejamkan matanya rapat-rapat, jalannya semakin cepat, badannya semakin merapat, dan dia juga menutupkan wajahnya ke pundakku. Waduh.... aku cuma bisa merangkulnya dan mengelus lengan kanannya, ckckck..

***

Sesampainya di asrama, aku melepas mukenahku lalu mengambil naskah lombaku. Meski saat itu aku lagi ndak mood, tapi tetep aja harus aku hafalin. Melihat Durri memegang laptop, aku jadi tertarik untuk untuk melirik apa yang dia ketik. O.. ternyata Durri mengetik artikel islami. Aku memang mengajaknya untuk mengirim artikel islam ke redaksi bulletin di daerahku, melihat pengalamanku yang hampir rutin untuk mengirim artikel islamiku dan Alhamdulilllah diterima, dan lagi artikel kirimanku kali ini akan diterbitkan di minggu kedua bulan Ramadhan..

Melihat laptop, aku jadi teringat, lomba mini story yang akan kuikuti, akhirnya, “Dur, aku boleh minjem laptopmu buat nulis cerpen?”, ujarku dengan bumbu senyuman termanis di bibirku. “Oh, iya, Nis. Ini ndak apa-apa”, sambil memberikan laptopnya padaku. “Yee.. makasih ya, Dur!”, aku menerima laptop dari Durri.

“Hmm, aku mau nulis apa ya?”, aku masih bingung apa yang mau aku tuliskan dengan tema Ramadhan Momentum Perubahan. Aku memandangi sekelilingku, dan akhirnya aku menemukan ide. Aku mengawali cerpenku dengan kata ‘Pintu’. Kemudian aku membiarkan jari-jariku menari di atas keyboard laptop mungil itu menciptakan suatu karya. Tak terbayangkan, deadline cerpen ini sudah besok pukul tiga sore, sedangkan aku baru memulai membuat cerpen pada malam harinya. Ya Allah...

“Eh, Dur, judulku bagus ndak?”, tanyaku. “Iya, Nis. Sudah bagus kok. Lanjutin aja..”, ujarnya. Sebenarnya aku masih diliputi keraguan, tapi, berhubung deadlinenya sudah besok, jadi.. mau gimana lagi. Hadapilah semua rintangan yang ada!

Huoaaii, duh.. ngantuk nih..”, buru-buru aku menutup mulutku yang tengah menguap karena mengantuk. “Iya, aku juga, Nis. Kita tidur yuk”, Durri mengucek-ngucek matanya, “cerpenmu udah?”, sembari memberikan selimut kepadaku. “Sudah, Dur. Mau aku kirim besok”, aku membaringkan badanku di atas kasur. “O.. baguslah kalau begitu, mudah-mudahan sukses. Aamiin..”, ujarnya dengan memberiku semangat, “ya udah, yuk tidur”, “bismillaahirrohmaannirrohiim...”, kami berdua berdoa lalu memejamkan mata. Selamat tidur....

***

“Dur, Dur, ayo bangun.. sahur”, aku menggeliat lalu membangunkan Durri yang masih tidur. Karena tidak ingin membuang waktu, kami langsung menyiapkan makan sahur kami tanpa menghiraukan rasa kantuk yang masih menggandol di sepasang pelupuk mata kami. Setelah sahur, kami langsung mengambil wudlu’, menunaikan shalat tahajjud lalu kami pungkas dengan bertadarrus. Kami terus mengaji hingga menjelang waktu shubuh, setelah itu, kami melaksanakan shalat Shubuh berjamaah.

Pagi ini, aku dan Durri lagi santai, setelah mandi, shalat duha, ngaji, buang sampah ke TPA (tempat pembuangan akhir), sekarang waktunya istirahat. Durri yang masih melanjutkan mengemas barang-barangnya kedalam kardus, ternyata mengamati aku, “kamu kenapa, Nis, kok lihatin naskahmu segitunya?”, tanya Durri. “Ndak, Dur. Aku males aja, aku masih ragu mau ikut lomba apa ndak”, aku melihat naskah lombaku dengan malas. “Lho, kok gitu?”, sejenak Durri berhenti,“ndak, kamu pasti bisa kok”, dia tersenyum, “ikut ya lombanya, Insyaallah bisa”, dengan senyum yang semakin melebar di raut wajahnya, dia memberiku semangat untuk terus maju dan berkarya. Durri memang sahabatku yang Insyaallah selalu ada untukku di segala suasana, saat sedih dialah yang menjadi pelipur, saat aku jatuh dialah yang mengulurkan tangan untuk memberi bantuan dan dorongan motivasi, saat aku khilaf dialah yang mengingatkanku akan kebesaran Allah SWT, saat aku bahagia dia turut berbahagia dan tetap mengingatkanku untuk bersyukur kepada Allah SWT dan jangan pernah puas, saat aku marah dialah yang mengingatkanku untuk bersabar dan meredam gejolak emosi, intinya dia selalu ada. Terimakasih sobat.

Hari Jumat, tiba saatnya aku untuk pulang,“Dur, aku pulang dulu ya..”, aku berpamitan. “Iya, Nis. Hati-hati, semangat buat lomba besok, jangan lupa besok rapotan lho..”, ujar Durri. “Iya, Dur. Makasih ya.. maaf aku ngerepotin, Assalamualaikum!”, aku bersalaman dengannya. “Ndak, Nis. Aku juga maaf kalau ada salah”, kata Durri sambil mengelus bahuku, “Waalaikumsalam!”, dia menjawab salamku. Aku pulang.

Hari ini terasa berlalu begitu cepat. Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, aku menantikan esok pagi lalu kantukpun mulai hinggap, dan akhirnya aku tertidur. Aku menunggumu, esok pagi.

Dalam keadaan puasa, aku bersiap untuk mengikuti lomba story tellingku hari ini. Aku akan bercerita tentang kisah Ummu Umara dalam perang Uhud, praktis, aku harus berkostum seperti orang yang akan pergi berperang, serta properti-properti lainnya yang mendukung. Malangnya, aku belum bikin properti! Buru-buru aku bikin properti dari kardus bekas seadanya, aku sudah pasrah. Semua properti yang kubuat memakan waktu setengah jam, dan aku baru siap-siap pukul setengah delapan sedangkan lomba dimulai pukul delapan. Oiya, satu lagi, aku belum mencetak naskah untuk diserahkan ke panitia. Bisa dibayangkan?

Hati siapa yang tidak gelisah memikirkan empat hal yang semuanya bikin resah. Wow. Pertama, aku menunggu giliranku sambil memegang naskahku dengan gemetaran karena aku belum hafal naskah itu, tapi aku faham sih intinya. Kedua, aku memikirkan pengumuman juara mini story. Ketiga, pagi ini, jam 10, rapotan, jelas disertai pengumuman ranking kelas, aku di semester 1, peringkat 1, gimana kalau rangkingku turun? Haduh, ndak kebayang deh. Keempat, gimana respon ortuku kalau peringkatku turun? Haduh, mumet kepalaku, Ya Allah..

Tibalah giliranku untuk tampil. Tidak ada panggung, hanya ruang siaran radio, artinya lomba ini live streaming alias disiarkan langsung, jadi kalau gugup atau salah langsung ketahuan. Bermodal persiapan secukupnya dan basmalah aku memulai penampilanku dengan salam selamat pagi dalam Bahasa Inggris. Durasi 15 menit sudah berlalu, aku bercerita dengan lancar dan baik meski tidak sesuai naskah, tapi lebih lengkap daripada naskah. Dan lagi, dewan juri bilang kalau aku benar-benar menghayati dan dapat menghanyutkan mereka dalam cerita, mereka merasa ikut berperang dan terbawa ke jaman Ummu Umara. Alhamdulillah...

Sekarang sudah jam 10.30 pagi WIB, sedangkan pembagian rapot dimulai pukul 10. Ini sudah lewat setengah jam. Syukurlah, ayahku dengan adikku segera datang menjemputku, kemudian kami langsung pergi ke sekolah.

Sesampainya di sana, sekolahku sudah ramai dibanjiri para siswa dan ortu masing-masing. Ini indikasi kalau pembagian rapot baru bubar. Kami langsung menuju kelas X MIPA-1, “Yah, kalau aku ndak ranking 1, ndak apa-apa ya?”, aku berjalan dengan kepala tertunduk. “Apa kamu, Nis. Sudahlah, tenang aja, ayah yakin kamu pasti ranking 1”, ayahku meyakinkanku.

Di kelas, kami langsung menghampiri Pak Sukri selaku wali kelasku, dan aku lihat di daftar peringkat kelas dengan jantung berdebar, dan hasilnya... aku ranking satu lagi. Aku sangat terkejut dan begitu bersyukur, karena rata-rataku naik menjadi 3,46, padahal, aku merasa selama ini nilaiku tidak begitu bagus, tapi yaa.. Allah berkehendak lain. Alhamdulillah..

Entahlah, apa yang aku khawatirkan selama ini tidak menjadi kenyataan. Aku tetap peringkat 1 di kelas. Tapi, masih ada sesuatu yang mengusik pikiranku, yaitu pengumuman kejuaraan besok, Minggu 21 Juni. Hari ini terasa sangat lama..

Di acara yang bertempat di aula SMK di kotaku, aku datang terlambat. Satu setengah jam menuju pengumuman kejuaraan. Hayo, coba tebak.. aku tidak pernah berfikir apalagi berharap memperoleh juara lomba story telling apalagi juara lomba mini story. Kenapa? Karena minimnya persiapanku menghadapi kedua lomba itu. Tapi, inilah hasilnya, aku juara satu story telling dan juara 2 lomba mini story. Meski hadiahnya tidak seberapa karena berupa buku dan peralatan sekolah, tapi hari ini,Minggu 21 Juni, aku bisa memberikan hadiahku di hari ulang tahun adikku. Sungguh, semua ini hadiah yang luar biasa dari Allah SWT. di bulan Ramadhan. Hayo, siapa yang bisa menebak ini akan terjadi? It’s really Unexpected Ramadhan.

Komentar

share!