Hadiah untuk Sara


Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Ovi Humaira

Papa kapan pulang?
Suara mungil itu terus mencekik Yogi. Bukan apa-apa, sudah hampir setahun Yogi tak pulang. Meninggalkan istri serta anak gadisnya yang masih berusia tujuh tahun. Dengar dari istrinya, katanya sesekali Sara pernah bertanya tentang pekerjaannya. Mengapa sang papa jarang pulang? Mengapa Papanya tega meninggalkan Mama dan dirinya sendirian? Anak sekecil itu masih belum mengerti kewajiban seorang ayah dalam mencari nafkah. 


Menjadi ayah, selain menafkahi, Yogi juga harus menahan rindu dengan keluarga. Ada saatnya Yogi ingin pulang, ingin bisa dipijat oleh istrinya dan bermain dengan Sara. Menghabiskan waktu dengan keluarga, bercanda, seperti keluarga normal lainnya. Tetapi kemudian ia ingat, proyek-proyek kelautan ini pun juga tak bisa ditinggalkan. Bila ia terus memanjakan rasa rindunya dan tetap memaksa untuk pulang, dolar juga akan seret mengalir ke rekeningnya. Dan itu akan berdampak pada kehidupan keluarganya. Inilah kewajiban sekaligus beban seorang ayah.
Tahun ini sudah kedua kalinya Yogi absen di Ramadhan bersama keluarga. Makan sahur dan buka di dek kapal bersama awak-awak lainnya sudah biasa. Terkadang rasa sakitnya saking menahan rindu kepada keluarga sedikit terbayarkan karena para awak kapal lainnya juga bernasib sama dengannya. Setidaknya ia bisa membagi laranya kepada yang lain. Perasaannya pun sedikit bisa ditoleransi.
 Hari ke-15 Ramadhan, kapal bongkar muat, tak tahu sampai kapan. Terpaksa dan kesempatan pula para awak kapal mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak. Itu artinya, mereka semua boleh pulang. Namun apabila kapal sudah siap berlayar lagi, meskipun hanya satu hari, mereka yang sudah pulang tetap harus kembali lagi. Bagi Yogi, bisa pulang selama satu hari saja itu sudah cukup. Tentu saja ia berharap bisa pulang lebih dari satu hari, satu bulan, bahkan berbulan-bulan.
Emosi Yogi meluap-luap, senang bukan main seperti baru saja menerima rezeki tak terduga. Ia segera mengemasi barang-barangnya, lalu langsung ngeluyur menuju terminal. Bus tujuan Kediri.
Sebelumnya, Yogi mampir sebentar ke sebuah toko mainan. Ada beragam mainan anak-anak di sana. Sesaat Yogi ingat, di hari itu juga Sara berulang tahun yang kedelapan. Ia ingat putrinya itu pernah mengatakan bahwa dirinya sangat menginginkan replika Elsa Frozen. Kebetulan di toko mainan itu juga terdapat boneka replika Elsa Frozen. Yogi langsung membelinya sebagai hadiah ulang tahun untuk putrinya. Tak peduli seberapa mahal boneka replika itu. Baginya yang terpenting bisa membuat putrinya itu senang.
Tiket sudah di genggaman, Yogi tinggal menunggu bus yang dijanjikan. Tentu saja di tangan kanannya juga terdekap boneka Elsa untuk Sara. Yogi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri dan anaknya. Lagipula, ia juga tak mengabari bahwa ia akan pulang hari itu.
Di tengah penantiannya, Yogi melihat ada seorang anak perempuan diusir secara kasar oleh pemilik toko mainan yang tadi baru saja disambanginya. Anak itu sendirian, tidak ada orang tuanya yang menemani. Di antara pekatnya asap bus-bus yang datang silih-berganti, anak itu berjalan sambil terus menangis. Pakaiannya lusut sekali, seperti jarang dicuci. Wajahnya terlampau berminyak karena terus terpampang asap dan sengatan matahari. Melihat gadis itu, Yogi jadi teringat putrinya di rumah, Sara.
Gadis kecil itu mengingatkan Yogi kepada Sara, putrinya yang paling ia cintai. Bagaimana jika Sara adalah gadis itu? Diusir dan berjalan tak tentu arah seperti gelandangan. Tanpa orang tua, tanpa siapa pun. Apalagi sedang berpuasa. Sendirian. Apa yang akan ia lakukan sebagai ayah? Apakah dia tega membiarkan putrinya berjalan sendirian sambil menahan lapar, haus, letih, dan lelah di tengah terik dan kepulan asap bus yang memang tak punya rasa kemanusiaan?
Yogi mendekati gadis itu. Seolah terikat batin, tangis gadis itu mendadak surut. Bibirnya kembali menguntai senyum, seolah narusam tak terjadi apa-apa.
“Saya yatim piatu, Om,” kata gadis itu. Matanya tak dapat lepas pandang dari boneka replika Elsa yang didekap Yogi.
“Om, itu boneka buat anak Om, ya?”
“Iya. Hari ini putri Om ulang tahun, dan boneka ini adalah hadiahnya. Putri Om sebaya sama kamu lho, Fenty.”
“Wah, anak Om beruntung sekali punya Papa seperti Om,” sahut Fenty sambil tersenyum, meskipun dalam hatinya muncul rasa iri. Sepanjang obrolan pandangan Fenty tidak lepas dari boneka yang didekap Yogi. Boneka yang sudah lama ia inginkan, tetapi gagal ia peroleh karena uang yang ia kumpulkan tidaklah cukup.
“Om, boleh pinjam bonekanya?” pinta Fenty.
Yogi tahu, yang diinginkan Fenty adalah boneka replika Elsa yang harganya supranormal, di atas dua ratus ribu, yang sedang ia dekap ini. Makanya, Fenty diusir secara kasar oleh pemilik toko lantaran boneka itu adalah boneka paling mahal. Egonya sempat ingin menolak karena boneka itu jauh-jauh hari sudah ingin ia berikan kepada Sara. Hanya untuk Sara, tidak untuk yang lain. Akan tetapi, sebentar ia merasa iba dan membayangkan lagi jika Fenty adalah Sara. Bagaimana jika hadiah itu tak ia berikan kepada Sara? Bagaimana kalau Sara kecewa lalu menangis? Seketika ia merasa menjadi ayah yang paling gagal.
“Boleh. Buat kamu saja, Dek,” ucap Yogi sambil menyerahkan boneka itu.
Fenty terkejut. “Lho, katanya buat anaknya Om, kenapa dikasih ke aku?”
“Om bisa membelikannya kapan saja, sedangkan kamu belum tentu bisa beli kapan saja. Om tahu kamu sangat menginginkan boneka itu, tapi dana yang kamu keluarkan masih belum cukup untuk membeli boneka mahal itu. Jadi, buat kamu saja ya, Dek.”
Bocah itu langsung sumringah, kegirangan. “Waaa! Terima kasih, Om!” kemudian berlalu meninggalkan Yogi yang tersenyum melihat kebahagiaannya baru saja mendapat mainan favoritnya.
Walau begitu, Yogi tak menyesal. Ia merasa barang itu sudah jatuh ke tangan orang yang tepat. Ia masih bisa membelikan untuk Sara kapan saja.
Bus yang dinanti akhirnya tiba. Semua orang dari penjuru terminal berbondong-bondong berebut masuk ke dalam bus seperti semut-semut yang mengerumuni gula. Yogi sampai terdorong-dorong dan hampir terjatuh. Tetapi untunglah ia berpegangan tiang penyangga. Ia berhasil lolos dari desakan penumpang.
Setengah perjalanan, Yogi tersadar tasnya sudah terbuka. Dompetnya raib! Ia curiga, saat berdesakan dengan para penumpang tadi, ada orang yang sengaja mencuri kesempatan mengambil dompetnya yang ada di dalam ritsleting bagian depan. Yogi menghembuskan napasnya panjang, sembari mengelap peluh keringatnya yang mulai membulir. Panik. Banyak surat-surat berharga termasuk kartu ATM, KTP, dan uang sejumlah satu juta raib. Masih untung ia masih menyimpan selembar uang 20.000 di dalam kantong.
Hanya berselang 30 menit sebelum buka puasa, Yogi sudah tiba di terminal Kediri. Namun begitu, ia masih belum ingin langsung pulang ke rumah. Tangannya terasa hampa ketika pulang tak membawa apa-apa. Ia berpikir, barang apa yang bisa dibeli dengan hanya uang kurang dari 20.000? Ia pun memutuskan untuk pergi ke pusat grosir baju.
Selembar hijau 20.000 menjadi beberapa lembar untuk ongkos naik ojek sepeda. Tersisa 15.000. Yogi tak tahu uang sejumlah itu mau dibelikan apa sebagai hadiah untuk anaknya. Membeli pakaian termurah pun tidak mungkin bisa kurang dari 15.000. Karena Sara sangat mengharapkan kedatangannya. Karena hari ini adalah ulang tahun Sara. Yogi ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya.
Selama 15 menit Yogi berpikir, duduk melamun di pinggir trotoar sambil berpangku tangan. Apa yang sudah terjadi pada dirinya hari ini? Ia bertemu dengan Fenty yang sangat menginginkan boneka yang sebenarnya akan ia berikan sebagai hadiah untuk Sara. Ia memberikan boneka itu karena merasa Fenty lebih pantas mendapatkan mainan itu. Ia bisa membelinya kapan saja. Dan sekarang tak ada nominal uang lainnya yang ia genggam, hanya dua lembar sepuluh ribu dan lima ribu. Rasa sesal sejenak mendarat di hatinya. Seharusnya tak kuberikan ia barang yang sudah kubelikan hanya untuk Sara.
Lalu, kecopetan saat naik bus. Semua surat-surat berharga di dalamnya hilang. Uang tunai yang baru saja ia tarik dari ATM juga ikut hilang. Di kantongnya hanya tersisa selembar hijau senilai 20.000. Lima ribu habis untuk ongkos ojek sepeda. Uang sejumlah cukup untuk dibelikan apa? Ia tak mau membuat Sara sedih.
Seluruh kios pusat grosir baju sudah ia kelilingi, namun tak ada satu pun baju yang berharga kurang dari 15.000. Yogi kembali melamun di pinggir trotoar sambil berpangku tangan.
Dari arah timur datang seorang renta nan fakir menghampiri Yogi, ikut bergabung duduk bersamanya. Pak Kunto namanya. Pakaiannya lusut, wajahnya berminyak, penampilannya seperti gelandangan. Tubuhnya kurus kering. Mereka pun mengobrol banyak. Pak Kunto bercerita sudah dua hari perutnya kosong. Air mineral yang ada di tas plastiknya juga tinggal setetes. Ia benar-benar kelaparan dan kehausan. Tidak ada pula uang yang ia genggam. Saking kekurangannya, Pak Kunto sampai tidak dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Namun, ia tak berniat untuk meminta-minta.
Pak Kunto berkeliling menjajakan satu lirang pisang hasil petik pohon pisang satu-satunya di halaman rumahnya. Namun hingga seharian ini pisangnya tak terjual. Sebenarnya Pak Kunto bekerja sebagai petani. Namun karena tidak sedang dalam musim panen, ia kemudian beralih menjajakan buah pisang yang dipetik dari pohon pisangnya sendiri.
Azan magrib menggema di langit. Untuk sementara Yogi mengajak Pak Kunto menepi sejenak untuk membatalkan puasa, meskipun Pak Kunto memang sedang tidak puasa. Dengan dua lembar uang senilai 15.000, Yogi harus membaginya lagi menjadi separo untuk dirinya dan Pak Kunto. Akan tetapi, Pak Kunto menolak. Ia tidak ingin diberi oleh orang lain. Ia ingin berusaha sendiri dengan menjual selirang pisang sekadar untuk makan keluarganya. Pak Kunto tak mematok harga tertentu. Ia menerima pemberian seikhlasnya asalkan pisangnya laku. Dua ribu perak berkurang untuk membeli minuman di pinggir jalan. Tersisa 13.000. Tanpa pikir panjang, Yogi menyerahkan seluruh uangnya yang tersisa untuk membeli selirang pisang Pak Kunto.
“Alhamdulillah… terima kasih, Pak! Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan Bapak. Tiga belas ribu saja sudah lebih dari cukup bagi saya,” ucap Pak Kunto, tak hentinya sujud syukur.
Sekarang, tak ada lagi uang yang ia genggam. Niatan untuk membelikan Sara hadiah pun tak jadi direalisasikan. Yogi merutuki kebodohannya yang terlalu menggampangkan urusan. Nanti… kapan saja… tak tahu kalau akan kecopetan. Dompetnya raib saat naik bus. Semuanya sudah hilang. Ia merasa kacau ketika pulang tak membawa apa-apa. Namun, tak ada sedikit pun rasa sesal di hatinya setelah apa yang ia berikan kepada orang-orang fakir yang secara kebetulan menemuinya hari itu—jika pencopet juga termasuk golongan orang miskin. Ia berpikir, mereka lebih pantas memilikinya daripada dirinya.
Dengan raut tertekuk seperti habis kalah main gulat, Yogi melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Tidak ada uang sepeserpun di genggaman, ia terpaksa menempuh perjalanan dengan kaki sejauh 5 km di bawah sinar rembulan yang remang. Azan isya kemudian menyusul, dan sebagian orang telah siap keluar rumah memakai pakaian rapi untuk beribadah tarawih. Sementara itu, Yogi merasakan perutnya kosong melompong belum terisi makanan sejak subuh, hanya terisi cairan hangat teh yang ia beli di pinggir jalan
Begitu tiba di rumah, ia dikejutkan dengan keadaan seluruh perabot rumah tangganya sudah dikeluarkan. Dua orang laki-laki sedang mengangkuti sofa untuk dibawa ke atas bak mobil. Di dalam, ia melihat istri dan anaknya sudah bersiap-siap. Mau ke mana mereka?
“Ma, kenapa semua barang-barang diangkut?” tanya Yogi, panik. Ia takut kalau ternyata cicilan rumahnya sudah habis dan ia sekeluarga terpaksa diusir.
“Tadi ada seseorang yang mengirimkan ini, Pa. Kita disuruh pindah rumah,” jawab istrinya sambil menyerahkan amplop coklat.
Dibukanya amplop itu oleh Yogi. Ia terperanjak. Isinya adalah uang. Banyak sekali. Wujudnya seratus ribuan. Lalu di atas amplop itu terdapat surat dari si pengirim.
Pak Yogi, terima kasih telah memberikan apa yang Anda punya kepada kami. Saya sebetulnya bukan petani dan orang miskin. Anak kecil bernama Fenty yang Anda temui di terminal adalah cucu saya. Saya benar-benar kagum dengan Anda. Saya tahu, boneka itu sebenarnya ingin Anda berikan kepada putri Anda. Tetapi Anda justru memberikannya kepada cucu saya, mungkin karena cucu saya diusir dari toko mainan itu dan tidak bisa membeli mainan yang ia mau. Saya juga tahu Anda sedang kekurangan karena Anda baru saja kecopetan, tetapi Anda lebih mementingkan kehidupan saya daripada Anda sendiri dengan membeli pisang saya seharga Rp13.000, tanpa memikirkan mau makan apa Anda. Entah sadar atau tidak, pulang-pulang Anda sudah tak membawa apa pun untuk keluarga. Semoga kebaikan Anda dibalas oleh Allah. Ya, memang sudah terbalas melalui saya. Bersama surat ini, saya memberikan sejumlah uang sebagai rasa terima kasih saya. Boneka itu juga sudah saya kembalikan kepada pemiliknya, yaitu putri Anda.
Kuntowijoyo
Sungguh, rencana Allah memang tak terduga di bulan yang suci ini.

Komentar

share!