DERAI CINTA BERSELIMUT LEMBUT RAMADHAN


Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Amanah Nurtasari

(Almira masih terlelap)
 “Mir, ayo bangun!!!! Sekolah hei, bangun cantik” seru ibunya sambil membuka jendela kamar Almira.
“Bunda, aku masih ngantuk!!! Kan tadi bangun malam untuk sahur” Almira masih asyik bercengkrama dengan kasur empuknya.
“Bangun, pokoknya bangun!! Kamu harus sekolah. Puasa ga boleh jadi alasan” seru ibunya Almira.



Almira beranjak dari pulau kapuknya, untuk bersiap sekolah. Almira berangkat seiring ayahnya berangkat kerja. Ayahnya bekerja pada suatu perusahaan milik Jepang. Almira mengemudi motor menuju sekolahnya. Kini Ia menginjak kelas IX di SMA Negeri 86 Jakarta Selatan. Suasana puasa cukup menyelimuti Almira dalam rasa kantuk dan lemas saat kegiatan belajar-mengajar hendak mulai. Tanpa disadari Almira terlelap di kelas. Teman sebangku Almira, Fathya membangunkan Almira saat guru mulai mengajar, namun Almira masih terbuai dan tiba-tiba…

ALMIRA!! (seru dengan nada tegas oleh Pak Burhan)
Ah? Em? Iya? Iya? (Almira kaget dan celingak-celinguk panik)
Kamu ini tidur di jam saya!!! Ini bukan kamar!! Kalo tidur di luar sana!!! (Pak Burhan menggertak)

Almira menunduk takut. Kegiatan belajar mengajar pun mulai kembali, namun rupanya Almira masih merasakan matanya seperti membawa beban 100 Ton. Tak lama kemudian…

“DUBBBRRAAKKK” (suara sangat kencang)
“Hahahahahahahahahaha” (semua tertawa terbahak-bakak menatap sumber suara kencang itu)
Apa itu???? (Pak Burhan celingak-celinguk) Almiraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!! (muka emosi)

Ternyata Almira terjatuh dari kursinya akibat tertidur, akhirnya Almira disuruh menghadap gurunya saat pulang sekolah. Pukul 12:00  WIB kegiatan-belajar mengajar telah usai, Almira pun menghadap gurunya di ruang guru. Almira dinasehati dan Ia hanya bisa meminta maaf serta berjanji tidak akan mengulanginya, namun nyatanya ini bukan pertama kalinya Almira buat kelalaian di sekolah. Ia terkadang tidak kerjakan tugas, telat masuk, dan tidak memperhatikan saat gutu menerangkan. Dampaknya Almira mendapatkan surat panggilan orang tua. Almira sempat memohon untuk tidak dipanggil orang tuanya, tapi pihak sekolah tetap mengeluarkan surat itu.
Dengan muka ditekuk Almira pulang ke rumah. Setiba di rumahnya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ayahnya kerja pulang malam, ibundanya adalah  seorang ustadzah yang cukup terkenal sehingga sibuk. Sedangkan kakak perempuannya sibuk di lab. penelitian dan abangnya terbiasa menginap di Pondok Pesantren Al Husna. Dibalik parasnya yang cantik dan harta melimpah yang keluarganya miliki, Almira selalu merasa sendiri bahkan merasa tak dianggap. Itulah yang menyebabkan sifatnya yang cenderung urakan dan tertutup. Almira hanya bisa memendam segala senang sedihnya, karena baginya tidak ada yang mau mendengar curahan hatinya. Almira memang dibesarkan di keluarga yang cukup agamis, namun Ia sering meningkalkan shalat, jarang mengaji, tetapi Ia tetap menjalankan puasa ramadhan. Terkadang dalam kesendiriannya Almira menangis menatapi kertas-kertas desain busana yang Ia buat di kamarnya. Rasanya ingin sekali Ia bisa sekedar berbicara dengan keluarganya terkait hasil karyanya. Almira terobsesi sebagai desainer, namun semua terasa sia-sia saat kesunyian yang Ia dapati tiap harinya. Saat sahur pun hanya sebatas makan bersama saja.
Esok paginya saat Almira siap-siap sekolah, Ia bertemu ayah-ibunya yang sedang bersiap-siap mau berangkat kerja. Almira ingin menghampiri ayahnya memberi surat panggilan dari sekolah, namun tiba-tiba muncul kakaknya, kak Fira yang menghampiri ayah lebih dahulu.

“Ayah!! Ayaahhh!!! Liat ini!! Aku di undang ke Olimpiade Sains di Yogya, aku ingin mengahadirinya ayah. Aku termasuk 3 terbaik sebagai delegasi kampus” seru kak Fira dengan wajah secerah mentari.
“Wah, hebat kamu yah. Bangga ayah punya anak kaya kamu, ayah izinkan kalau kamu jadi delegasi. Tapi hati-hati disana” sambut ayah dengan raut penuh bangga.

Almira mendadak ciut karena disatu sisi surat ini akan menghancurkan kebahagiaan ayah. Almira hanya menunduk. Almira akhirnya memilih mencari ibunya untuk menyampaikan surat panggilan itu, namun sayangnya saat Almira menghampiri ibu di kamarnya, ibunya sedang asyik menelepon abangnya Almira, Habibie. Dari nada pemicaraannya, ibu sedang sibuk meminta abang menemani ibu berdakwah di luar kota. Lantas Almira merasa dia tidak dapat menggangu ibunya, apalagi ibunya terlihat sangat sibuk.
Akhirnya Almira memutuskan langsung berangkat sekolah usai berpamitan dengan keluarga. Setibanya di sekolah rupanya Almira terlambat, satpam melarang masuk. Merasa sia-sia, Almira memutuskan untuk pulang ke rumah.  Perjalanan menuju rumah menempuh 45 menit. Almira membuka kunci rumah dan bergegas masuk. Terasa suasana hening dari berbagai penjuru sudut ruang. Ia membaringkan badan di pulau kapuknya,  kepalanya sesekali terasa sakit. Ia migrain akibat banyak pikiran dan lelah. Pikirannya begitu digeluti awan hitam.
Rupanya keheningan terlalu nyaman menemaninya. Waktu menunjukan pukul 17:00,  Almira menyadari 1 jam lagi waktu melepas dahaga dan lapar. Ia membuka kulkas dan mendapati makanan instan, salah satunya sarden kaleng kecil. Itu menjadi sasaran pengisi laparnya, Ia memasaknya dan juga membuat jus mangga sebagai pelepas dahaga nanti. Adzan pun berkumandang, tanda waktu berbuka puasa. Sesaat di meja makan, Almira melihat kiri kanannya. Kesunyian ini amat berbeda dari khayalannya dan terbesit suara kecil dalam hatinya kerinduan seperti keluarga pada umumnya.

“Bun, yah, ayo kita makan, selamat berbuka puasa” (Almira berbicara sendiri dan menghanyal ada keluarganya bersama dia)

Tak terasa air matanya mengalir. Ia hanya bisa mengusapnya dan melanjutkan makan. Kini dahaga dan lapar itu sudah pergi, Almira kemudian beristirahat dikamarnya sambil sesekali Ia merasa kepalanya masih sakit. Adzan isya berkumandang, ntah mengapa adzan kali ini terasa berbeda, menyentuh sanubarinya. Almira melirik pada mukenanya yang lama sekali tak tersentuh dan tersadar lama sekali jauh dari Allah. Akhirnya Almira memutuskan shalat tarawih di masjid.

“Saudara-saudari yang dirahmati Allah, ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Allah memberikan banyak sekali kebaikan saat ramadhan. Marilah kita banyak lakukan kebaikan, mensucikan diri dan mendekati Allah. Betapa kita sangat disibukan urusan dunia. Allah akan memudahkan urusan atas izinNya apabila kita dapat dekat denganNya. Manusia memang tak luput dari khilaf. Kalaupun banyak yang kita rasakan begitu menyesakan dada, curhatlah dengan Allah, apalagi ini bulan ramadhan, bulan penuh berkah. Barangkali kesedihan yang terjadi kini adalah muncul dari kesalahan atau kekhilafan diri” ungkap ustad dalam ceramah yang penuh renungan.

Almira tersentak mendengarnya dan mengangkat wajahnya sesaat mendengar ceramah itu. Teringat perkataan ibunya, ramadhan adalah bulan penuh berkah. Setelah shalat tarawih, Almira berdoa dengan khusyuk.

“Ya Allah, ampunilah aku akan segala kekhilafanku. Astagfirullah. Ya Allah, izinkan aku bisa bahagia dengan keluargaku. Aku ingin seperti keluarga bahagia lainnya, aku sangat merindukan kehangatan keluarga, harta tidak ada bandingannya dengan kasih sayang orang terdekat” Almira lirih berdoa dengan tetes-tetes airmata.

Tak lama kemudian, Almira balik dari masjid. Saat Ia berjalan menuju jalan raya Ia melihat seorang nenek dengan baju lusuh hendak menyebrang, namun dari arah kanan ada mobil dengan kecepatan tinggi yang dapat menabrak nenek itu. Almira berlari dan berusaha mencegah kecelakaan itu.

“Nenekkkkk awaaassssssss!!!!” Almira teriak dan menarik nenek itu, lalu mereka jatuh bersama ke rerumputan.
“WUUUUUUUUUUUUSSSTTTTT” (mobil itu melaju kencang) Alhamdulillah nenek itu selamat.
“Makasih ya ndo, hampir saja nenek ketabrak. Kamu anak baik, semoga Allah membahagiakanmu dan melindungimu. Aamiin” nenek itu amat bersyukur.
“Sini aku seberangi nek. Maaf yah nek, aku ga bisa antar nenek karena aku harus segera pulang” ujar Almira dengan senyum manis.

Almira mengantarkan nenek itu menyebrang dan kemudian Ia bergegas pulang, namun alangkah kagetnya Almira saat ada mobil ayahnya terparkir depan rumah, yang  tandanya ayah sudah pulang. Almira sangat senang.  Ia masuk ke rumah, tiba-tiba ayah memanggil dengan nada tinggi. Hati Almira mendadak cemas. Rupanya saat ayah mencari Almira ke kamar, ayah melihat ada surat panggilan orang tua. Ayah amat marah dan kesal. Di dorong rasa lelah habis pulang kerja, ayah menjadi semakin emosi.

“Ini apa Almira??? (muka ayah marah padam menunjukan surat panggilan dari sekolah Almira).
“itu…itu…” (Almira sangat bingung).
“APA!!! Mir..Mir..Bisa ga kamu bikin bangga ayah? Liat kakak dan abang kamu!!! Dasar anak bikin malu! Nyusahin orang tua aja!” hentak ayah.

Seketika dunia terasa roboh di mata Almira, hatinya hancur dan dia pun menangis. Perkataan ayahnya amat menusuk. Saat itu pula kak Fira pulang dan mendengar suara ribut itu, kak Fira menghampiri dan amat kaget. Segera kak Fira menahan tangan ayah yang hampir menampar Almira.

“Astagfirullaahhh ayahhh sabarrrr” (kak Fira menahan tangan ayahnya).
“Biarin kak! Biarin, aku kan bodoh!!! Selalu kakak dan abang yang hebat, aku Cuma malu-maluin!! Aku benci ayah!” (Almira menaruh mukenanya ke sofa dan pergi ke kamar. Tanpa ada yang tahu kepala Almira semakin sakit).

Almira menangis di kamar dan pintunya di kunci. Ayah beristigfar, sadar bahwa ayah sudah berlebihan. Besok paginya Almira seharian mengurung diri bahkan tak ikut sahur di meja makan, Ia hanya sahur di kamar. Seharian Almira hanya diam. Ayah sudah berusaha meminta maaf, namun hanya diam yang tampak. Sore harinya saat sendiri Almira memilih ngabuburit, namun dampak dia menangis seharian kepalanya semakin sering sakit, dia pun tidak menyadari  bahwa wajahnya pucat. Rasa penatnya memenuhi rongga hatinya, maka Ia memutuskan ngabuburit ke suatu perkampungan dimana terdapat lapangan rumput luas disana, tempat anak-anak kecil bermain. Sebelum Almira berangkat, Almira berdoa pada Allah untuk keselamatan., karena tak seperti biasanya angin begitu kencang dan mendung. Almira tetap memutuskan ngabuburit. Dia keluar dari komplek rumahnya dan mulai menyusuri jalan raya dengan motornya. Lama-lama kepalanya terasa keram begitu sakit dan seketika ada mobil avanza dari arah berlawanan yang pengemudinya pun mengantuk.

“DUUUUAAAAAKKKKKK” (terjadi tabrakan motor Almira dan mobil avanza itu, Almira terhempas dari motornya).

Almira pingsan dengan kaki bercucur darah. Orang-orang menggerimung. Tidak ada satupun yang mengenali Almira, Almira pun tidak membawa KTP nya. Namun muncul seorang bapak paruh baya yang ternyata mengenali Almira, pak Edi kawan ayahnya Almira.

“Saya kenal anak ini, dia anak dari teman saya. Ayo bawa ke rumah sakit, saya yang tanggung biayanya” ujar Pak Edi.

Almira dilarikan ke rumah sakit dengan mobil si penabrak dan motornya diantar kerumah. Saat motor itu diantar ke rumah, rupanya ada ibunya. Ibunya membatalkan acara tausyiahnya karena ntah mengapa sore itu perasaannya begitu gelisah. Alangkah kaget ibunya  saat mendapat kabar Almira kecelakaan. Namun kesalahannya adalah yang mengantarkan motor lupa alamat RS yang dituju. Ibunya panik dan meminta diantar mencari RS Almira dilarikan. Ibunya mencari dari satu RS ke RS lainnya, namun tidak menemukan Almira. Akhirnya di RS terakhir ada pasien atas nama Almira. Almira sudah siuman, namun kenyataan pahit yang tersirat  Ia lumpuh. Ayah dan kakak serta abangnya segera menyusul, Almira menangis saat ayah ibunya datang.

“Bu, kenapa Tuhan begini sama Almira bu? Ibu bilang ramadhan itu berkah? Mana bu, Tuhan bahkan buat Almira di panggil orang tuanya di sekolah, keluarga ga pernah perduli Almira dan denger curhat Almira!  Ibu tau?? Almira tadi naik motor pun baca doa bu dan sekarang justru lumpuh bu, aku cacat. Desainer ga ada yang cacat!!!! Betapa hinanya aku bu” (Almira menangis histeris).
“Nak, Allah pasti punya hikmah dibalik ini. Allah tidak jahat. Percayalah, Allah akan mencurahkan kasih sayangNya untukmu. Allah mencintai orang-orang yang bersabar. Semua akan indah pada waktunya. Dekatilah Allah nak” ujar ibu menenangkan Almira.

Keluarga Almira amat berterimakasih dengan Pak Edi. Hari-hari telah berlalu, Almira hampir 3 minggu tak sekolah karena lumpuh. Almira sudah pulang dari RS sejak 2 minggu yang lalu. Almira hanya bisa berdiam diri, betapa malu setiap Ia melihat tatapan orang selayak mengasihi dia karena lumpuh. Sampai suatu ketika Almira mencoba berdiri dengan penuh tekad, Ia tersadar perkataan ibunya, bahwa Tuhan tak jahat, akan ada yang indah nantinya. Almira berusaha berdiri, Ia berhasil berdiri dari kursi roda, Ia mulai berusaha berjalan, namun…

“CRAAAAANNNNNKKKKKKKK” (bunyi celengan Almira terjatuh tersenggol Almira) Almira terjatuh saat berusaha melangkah dan saat memegang meja justru Ia menyenggol celengannya. Ibunya kaget dan menghampiri Almira di kamar, alangkah kaget ibunya. Almira menangis terisak-isak kesakitan, ibu membantunya ke kasur untuk tiduran. Almira emosi dan memukul-mukul kakinya sambil berkata “aku wanita cacat, cacat!!”

Ibu hanya bisa memeluk dan menenangkan. Ibu pun menangis. Selama Almira sakit, ayah dan ibunya serta kakak dan abangnya senantiasa menyempatkan waktu untuk menemani Almira, untuk memotivasi Almira. Bukan perkara yang mudah memulihkan psikisnya, namun kini Almira mulai merasakan hangatnya keluarga. Disuatu malam Almira tertegun merenung.

“Apa ini cara Allah kabulkan doaku? Keberadaan keluarga memang dekat, aku sangat merasakan hangatanya keluarga dan canda tawa keluarga, ayahpun sudah sangat baik, apalagi ibu, tapi kenapa aku harus cacat??? Ya allah..” (Almira memandangi kakinya).

Almira senantiasa berusaha jalan kembali, namun Tuhan berkehendak lain. Hari demi hari berlalu. Sekolah pun kini libur. Keluarga Almira semakin hangat dan bahagia. Almira perlahan ikhlas dengan keadaannya. Almira pun semakin mendekati diri dengan Allah. Almira telah menemukan arti keluarga yang Ia cari. Sampailah menuju hari kemenangan, tak terasa malam ini takbiran. Besok orang-orang akan saling berkunjung dan memaafkan.

“Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbaar! Lailahaillah huallahu akbar, allahu akbar walillahilham” (seruan dari berbagai penjuru).

Ayah dan abang sedang takbiran dimasjid, sedangkan ibunya sedang masak sayur ketupat dan kak Fira di kamar. Ibu memanggil kak fira.

“Fiiiraaaa, Firaaaa…nak tolong matiin tv, tadi bunda lupa matikan” mamah berseru dari dapur.

Namun kak Fira sepertinya sedang sibuk di kamar, akhirnya Almira berniat mematikan tv.  Ia berusaha menuju ruang tv setelah menata kue di ruang tamu, Almira terbesit keinginan bisa berjalan dan Ia merasa hatinya berbisik untuk mencoba hal itu. Melihat keadaan yang sepi maka perlahan Almira berdiri sambil membaca basmallah. Dalam hatinya Ia tau apa yang akan terjadi, namun Almira bertekad bangun sendiri menuju kursi rodanya saat jatuh nanti.
Almira pun berdiri sambil mememejamkan mata dan berbisik “Ya allah aku yakin suatu saat akan ada yang indah dan aku syukuri atas segala hidayahMu”.

Almira mulai niat melangkah. Saat itu pula ibunya merasa heran mengapa suara tv masih terdengar, akhirnya ibunya memutuskan meninggalkan dapur dan segera menuju ruang tv sambil membawa baskom stainless untuk ditaro ke lemari peralatan. Saat ibu tiba di ruang tv…

“PLAAAANNNKKKKKKKK” (baskom stainless itu terjatuh dari tangan ibu) ibu menampakan wajah kaget dengan mata melotot, mendadak hatinya tergetar, badannya lemas, matanya terpusat pada satu arah dan tertegun dengan detak jantung semakin kencang, tak terasa air mata mengalir seiring takbiran menyelimuti saat itu.

Di belakang ibunya pun rupanya ada kak Fira yang terkaget dengan suara dari ruang tv dan segera ke sana setelah mendengar suara gaduh. Namun setibanya, kak Fira pun turut tercengang dan menatap pada satu arah yang sama dengan ibunya. Ucapan lirih keluar dari mulutnya “Masya Allah”.

Di depan mata mereka, mereka melihat Almira berjalan dengan kakinya tanpa Alat setelah hampir 1 bulan Ia di vonis lumpuh. Almira melangkah dengan pelan-pelan sambil menangis bersyukur. Ruangan itu mendadak di penuhi suasana haru dan gema takbir. Almira menengok ke ibunya dan kak Fira, Almira tersenyum bahagia dan menangis terharu. Ibunya dan kak Fira menghampirinya dan memeluk Almira.

“Nak, Allah memberikanmu berkah tiada tara! Allahu akbar!!!! Usaha kamu ga sia-sia. Allah ganti di malam penuh berkah ini” seru ibu sambil menangis terharu dan peluk Almira.
“Iya ibuuuu, Allah memberikan aku kado yang indah buuu di malam takbiran ini, ini ramadhan tak terlupa bagiku buuu, ini nyata kan buuuu????” Almira menangis penuh syukur.

Tak lama, ayahnya dan bang Habibie pulang dari masjid. Melihat itu ayah dan bang  Habibie sangat bersyukur. Semua indah pada waktunya. Setelah ibunya memeluk Almira, Almira kembali duduk di kursi rodanya. Walau Ia sudah bisa berjalan tapi Ia tetap butuh proses pemulihan secara perlahan agar sempurna. Mereka kemudian menuju ruang makan untuk makan ketupat dan sayur ayam yang sudah ibunya masak, kebahagian kini terasa sempurna. Canda, tawa dan syukur amat sangat mendalam. Almira merasa sangat bahagia, kini doa yang waktu itu Ia haturkan di masjid jadi kenyataan, doa nenek itu pun terkabul dan ramadhan kali ini baginya sungguh membawa berkah. Ramadhan telah membawa hal yang indah dan kehangatan. Begitu indah jalan Allah yang sudah direncanakan.

“Terimakasih Ya Allah, kau telah membuat kami semua paham, semua akan indah pada waktunya, bersabarlah dan tawakal” lirih doanya setelah Shalat Idul Fitri di masjid dekat rumahnya. SEKIAN.

Komentar

share!