CINTA AKBAR DI BULAN SUCI

Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Herman

Ramadhan, yaa… itulah bulan yang penuh berkah, bulan penuh dengan limpahan rahmat bagi umat islam yang melaksanakan ibadah di bulan suci ramadhan itu. Dalam bulan tersebut terdapat suatu malam yang nilai ibadahnya melebihi nilai ibadah di seribu bulan, malam Lailatul Qadar namanya. Aku bersyukur masih bisa bertemu, dan menyambut bulan Ramadhan. Penuh dengan suka cita, penuh dengan nilai ibadah, penuh dengan ampunan, serta penuh dengan kebaikan.



Di bulan ramadhan ini ada banyak hal yang tidak terduga yang hanya muncul di bulan ramadhan saja. Misalnya saja menjamurnya pedagang takjil atau makanan dan minuman berbuka puasa, masjid yang dulunya hanya penuh satu sampai dua saf saja tetapi di bulan ramadhan bisa penuh atau bahkan jamaah sahalat tarwih meluap sampai diluar masjid. Tak terkecuali masalah asmara atau jodohpun bisa bertemu di bulan Ramadhan seperti yang aku alami, yaa namanya juga bulan penuh berkah.
Malam itu, malam pertama ramadhan di kampung halaman yang telah 17 tahun aku tinggalkan untuk mencari ilmu, mencari pengetahuan di kota Makassar. Aku meninggalkan kampung tercintaku ini semenjak lulus dari SD. Ku langkahkan kaki dengan memakai pakaian muslim warna putih lengkap dengan sarung warna hitamku, serta sebuah sajadah warna merah, menuju ke masjid, masjid Nurul Huda. Masjid yang 17 tahun lalu menjadi satu-satunya tempat untukku beribadah. Aku bersama dengan sahabat karibku  semenjak dari kelas 1 SD. Aldi, seorang sahabat yang menurutku sangat cerewet namun ia selalu saja menyangkal atas tuduhanku itu terhadapnya.
“nahh.. gimana pendapatnya Akbar? ini masjid yang dulu kita tempati shalat fardhu bersama, masih ingatkan?.” Sahut Aldi yang berada di samping kiriku berjalan bersamaku ketika kami sampai didepan masjid Nurul Huda.
“luar biasa. Banyak perubahan yaa.” Aku hanya bisa tercengang melihat perubahan dari mesjid yang dulunya hanya berukuran 10x15 meter, sekarang telah berubah hampir 2 kali lipat dari ukuran semula. Halaman yang kini dipenuhi dengan pot yang ditanami bunga berwarna-warni masih tampak segar, tampak dari luar masjid tersebut kontras dengan cat berwarna kuning langsat kombinasi hijau muda.
“al, banyak sekali ya perubahannya. Beda banget dengan 17 tahun yang lalu.” Ucapku sambil masih terus memandangi masjid megah tersebut.
“iya, semenjak kamu pindah ke Makassar pengurus merombak habis mesjid ini hingga berubah total seperti ini”, kata Aldi sambil menarik tanganku menuju ke tempat wudhu yang berada di sebelah utara masjid.
Selesai berwudhu, kami melangkah masuk ke masjid. “wwooowww”, ucapku dalam hati. Aku masih tercengang dengan suasana di dalam masjid tersebut. Hawa sejuk langsung menyelimuti sekujur tubuhku begitu kaki kananku masuk kedalam masjid. Ku lihat di dalam masjid sudah ada sekitar seratusan orang yang akan melaksanakan ibadah shalat isya dan tarwih pertama Ramadhan.
Tampaknya keuntungan masih memihak pada kami, sekitar 5 menit sebelum dikumandangkannya Iqamah , suasana didalam masjid sudah sangat penuh, bahkan tampak dari dalam, di luar masjid masih ada beberapa orang yang belum mendapatkan tempat shalat yang akhirnya mereka akan shalat di pelataran masjid saja.
Satu jam sepuluh menit kami melaksanakan shalat tarwih. Kami berdua pulang bersama, namun tiba-tiba sekitar 10 meter dari masjid seorang perempuan menepuk pundakku dari belakang. “wwoiii..” teriaknya sambil menepuk pundakku.
Aku kaget sambil memalingkan wajahku kearahnya. “cantik banget ini cewek, seakan wajahnya bersinar dengan kerudung putih yang menyelimuti wajah dan seluruh badannya”, ujarku dalam hati sambil tersenyum melihat kearah perempuan tadi.
“mmmm… Suci?, kamu Suci Anggraeni kan?” kataku sambil menunjuk kearahnya.
“iya, kirain kamu lupa sama saya Akbar, hehehe..” ucapnya dengan melontarkan senyum terhadapku.
“yaa tadinya sih aku lupa tapi melihat paras kamu yang makin bersinar itu aku jadi ingat kembali hehehe…”, aku sedikit menggodanya karena memang dulu kami sangat akrab. Saking akrabnya pergi dan pulang sekolahpun kami selalu bersama.
“hadeuuhhh… mulai deh ngegombalnnya”.
Kami bertiga pulang bersama, sepanjang jalan kerumah kami terus bercanda mengingat masa-masa saat kami masih SD dulu. Namun, tak lupa nomor telepon dan akun sosial Facebook milik Aldi dan Suci aku minta.
Pukul 03.03 HP Nokia X2-01 yang berada disamping kiriku tidur berdering pertanda sebuah pesan masuk. “assalamu alaikum. Sudah bangun belum? Ayo sahur jangan sampai kesiangan”, itulah isi SMS yang masuk yang ternyata berasal dari nomornya Suci.
“ternyata dia masih perhatian sama saya” kepercayaan diriku sedikit meningkat sambil berbicara dengan batinku sendiri.
Sejak saat itu, aku dan Suci sering komunkasi entah itu saling SMS ataupun chatting di FB. Bahkan kami sering pergi dan pulang bersama setelah shalat tarwih. Bukan hanya itu kebersamaan kami saat pulang dari shalat subuh pun kami sempat jalan-jalan pagi melihat terbitnya mentari.
Sampai dengan hari ke 15 Ramadhan, kami masih saling berkomunikasi. Malam tarwihnya aku mengajaknya untuk shalat tarwih bersama di mesjid Nurul Huda.
“Suci, barengan ke masjid tarwih yuuk..”, isi pesanku kepadanya.
“boleh, aku nungguin kamu di rumah yaa ”. Balasnya singkat.
Sekitar 15 menit setelah kukirimkan pesan kepadanya, aku menjemputnya dirumahnya. Kami bersama kemasjid. Berjarak 3 meter dari pintu masjid, aku agak kaget ditambah keheranan.
“loh, kok sekarang beda yaa?”, tanyaku pada Suci yang berjalan disampingku.
“apanya yang beda?, masjidnya masih sama kok”, ujarnya singkat sambil berhenti.
“bukan masjidnya. Tapi kok sekarang safnya sudah banyak yang kosong yaa, berbeda banget waktu awal ramadhan”, kataku dengan menunjuk beberapa saf yang sudah kosong di bagian belakang.
“yaahhh.. wajarlah”, ujarnya sambil menghela nafas panjang.
“maksudnya?”
“biasalah kalo sudah pertengahan Ramadhan gini, semuanya sudah pada sibuk. Ada yang sibuk bikin kue, ada yang mungkin sudah mulai bosan, ada juga yang sibuk cari baju baru buat persiapan lebaran”, Suci panjang lebar menjelaskan padaku penyebabnya.
“sudahlah, yang penting kita masih rajin ke mesjid”, sambungnya sambil melontarkan senyum kepadaku.
Sampai dengan akhir Ramadhan, kami selalu berbarengan berangkat ke masjid. Bahkan pada saat lebaranpun aku masih sempat berkunjung ke rumahnya. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatiku, perasaan suka pada Suci belum sempat aku sampaikan. Aku takut dia menolakku dengan alasan  hanya menganggapku sebagai sahabat karibnya saja. Karena kami bersahabat mulai dari kecil sampai reamaj seperti ini.
Satu minggu setelah lebaran aku meninggalkan kampong halamanku dan kembali ke Makassar untuk bekerja disana. Meskipun aku belum sempat mengungkakan perasaanku pada Suci, tapi aku bersyukur masih bisa melihat kecantikan wajahnya. Dan salah satu kesyukuranku masih bisa bersamanya melaksanakan kewajiban di bulan suci Ramadhan bersama dengan dirinya.

Komentar

share!