Catatan Raqib



Karya: K.N Rosandrani

Seorang gadis mengusap-usap layar sentuh smartphone dengan jemarinya. Ia asik bermain game.
“Halah ! Kalah lagi ! Sebel deh !” Ia mendengus kesal. Berkali-kali ia memainkan game itu, namun tak pernah menang. Padahal, ia sudah menghabiskan berjam-jam di depan smartphone-nya.
“Minta kiriman nyawa ah ..” ia tersenyum, mendapatkan sebuah ide. Jemarinya kembali asik mengusap-usap smartphone.


Sesaat ia memperhatikan jam di dinding kamar. Lalu, tiba-tiba saja mem­-pause kemudian keluar dari permainan. Masih ada beberapa menit lagi, pikirnya. Keluar dari game, ia membuka aplikasi lain, sosial media. Beberapa menit berlalu, ia masih asyik masyuk dengan timeline sosial medianya, sesekali tertawa dan bergumam sendiri.
Adzan Maghrib berkumandang. Lagi, gadis ini melewatkan salatnya.
Gadis itu menghentikan kegiatan. Kembali melihat jam. “Wih, dah maghrib” gumamnya. Ia berjalan keluar kamar sambil menenteng smartphone-nya.,
Gadis itu bernama Nisa. Sudah hampir 18 tahun, aku selalu memperhatikannya. Sejak ia tumbuh dewasa, aqil baligh. Aku mencatat semua niat, pemikiran dan perbuatan baiknya. Aku Raqib. Sang Pencatat Amal Baik. Seperti saat ini, buku catatan ku masih kosong. Di ujung ruangan, ku lihat Atid mencatat cepat apa yang telah terjadi. Nisa melalaikan salat Dzuhur dan Asharnya.
***
Aku lebih suka diriku yang disibukkan dengan pekerjaanku. Mencatat hal baik yang dilakukan Nisa. Catatan baik Nisa selalu ku penuhi saat ia kecil. Nisa kecil selalu membuatku takjub dengan hal-hal baik yang dilakukannya.
 “Sebelum pulang, Ibu akan kasih pertanyaan dulu,” kata seorang guru berwajah damai.
“Wuuuuuuu,” hampir seisi kelas protes kecewa.
“Eit ! Kan sudah pulang lebih awal dari biasanya. Jadi, nggak papa dong kita main sebentar” Ibu guru membela diri.
Beberapa murid bersungut-sungut. Mereka sudah bahagia di awal karena tahu akan pulang lebih awal, namun malah diundur-undur oleh si Ibu guru.
“Raka .. hayoo nggak boleh manyun” tegur Ibu guru. Anak laki-laki yang ditegur makin manyun. Ibu guru menggeleng kepala, geli.
“Hei, Raka! kamu nggak boleh gitu !” Nisa kecil mengingatkan teman sebangkunya
“Ibu guru nyebelin !” kata Raka pelan. Hanya Nisa yang bisa mendengarnya.
“Raka, nggak sopan tahu ! Kata Bunda nggak boleh ngatain orang tua kayak gitu. Ibu guru  selama ini udah baik mau ngajarin kita. Nanti, kalau bisa jawab pertanyaan Ibu guru kita juga bisa pulang, kok” jelas Nisa
“Pasti nanti aku yang terakhir keluar kelas, Nis” Raka berujar sedih. Oh, begitu. Nisa tahu permasalahan temannya sekarang.
Ibu guru mulai dengan pertanyaan pertama.
“Sebutkan nama kitab-kitab Allah yang diwahyukan ke para nabi ?”
Beberapa tangan teracung ke atas. Tangan Nisa turut meramaikan, namun Ibu guru memilih anak lain. Anak lain itu tak bisa melengkapi jawabannya. Beberapa tangan kembali teracung, termasuk tangan Nisa. Lagi-lagi Ibu guru tak memilihnya. Teman kedua yang ditunjuk Ibu guru bisa menjawab pertanyaan. Ia boleh pulang lebih dulu.
“Pertanyaan kedua. Sebutkan nama-nama malaikat beserta tugasnya!”
Hanya ada dua tangan teracung. Ibu guru memandangi dua anak yang mengacungkan tangan. Melihat Nisa yang bersemangat, Ibu guru tersenyum. “Nisa boleh menjawab” kata Ibu guru.
“mmm... Jibril membawa wahyu dari Allah, Mikail membagi rezeki, Isrofil .. atau Izrail ya ? –Nisa sempat bingung dengan jawabannya— mmm ...”
“Nisa hafal nggak lagu yang dahulu ibu ajarkan tentang tugas-tugas malaikat ?” sela Ibu guru.
Kening Nisa berkerut, mencoba mengingat.
Jibril membawa wahyu ilahi ~~~” Ibu guru mencoba mengingatkan bait pertama lagu.
“Eh.. Nisa tahu, bu ! Nisa hafal”
Jibril membawa wahyu ilahi, malaikat Mikail membagi rezeki, malaikat Isrofil meniup sangkakala, malaikat Izrail mencabut nyawa. Munkar dan Nankir di alam kubur, Raqib dan Atid mencatat amal kita, malaikat Malik menjaga neraka, malaikat Ridwan menjaga surga”
“100 buat Nisa !” seru Ibu guru sambil bertepuk tangan yang diikuti teman sekelas Nisa.
Nisa tersenyum,”Tapi, Bu guru. Nisa tetap di kelas aja. Nggak papa pulang terakhir” kata Nisa tiba-tiba.
Bu guru bingung dengan maksud Nisa,”Loh, kenapa ? teman-teman Nisa semua pada mau pulang duluan.”
“Nggak apa-apa, Nisa pulang terakhir aja, biar Raka yang pulang duluan, Bu” ucap Nisa. Ibu guru, tersenyum mengerti maksud Nisa.
“Baiklah kalau begitu. Karena Nisa sudah menjawab dengan benar sambil bernyanyi. Semua boleh pulang, tapi ...” Ibu guru menekankan di kata terakhir agar anak-anak tidak kecewa lagi.
“Kita nyanyikan bersama lagu yang tadi Nisa nyanyikan”
Sekali lagi, lagu itu berkumandang serempak. Aku mencatat amal baik Nisa kecil, suatu ketulusan dan pengorbanan.
***
Seiring berjalannya waktu, Nisa tumbuh dewasa. Entah mengapa ia semakin jauh dari kebaikan. Bisa jadi karena ia mulai mengenal kebahagiaan-kebahagiaan semu duniawi. Nisa remaja mulai suka berbohong. Ia melupakan mushaf kesayangannya yang dahulu rajin ia baca, dan yang paling parah adalah ia sudah berani untuk tidak lagi menegakkan tiang agama. Nisa secara sengaja melalaikan salatnya.
Dahulu buku-buku catatanku selalu penuh dibanding Atid. Dalam sebulan mungkin aku mengganti lima sampai sepuluh buku baru. Sebaliknya sekarang, aku belum mengganti satu pun buku dalam setahun terakhir. Sebulan hanya beberapa lembar kertas yang terisi. Atid selalu menang telak. Ia selalu sibuk mencatat. Sehari saja ketika Nisa tak melakukan salatnya karena sengaja, Atid sudah bisa mencatat lima amal buruk. Bayangkan ketika Nisa tidak salat selama sebulan, 150 amal buruk. Entah akan seperti apa murka Tuhan pada gadis itu, aku bergidik ngeri.
“Nisa, sudah salat ?” tanya Bunda. Ia melihat Nisa sedang tiduran di sofa ruang tamu, asik bermain smartphone
“Ya, nanti, Bun”jawab Nisa sekenanya.
“Jangan nanti-nanti ! Nanti nggak sempat malah keburu kiamat !”seru sang Bunda. Tidak ada toleransi untuk menunda salat bagi Bunda.
“Ya kali kiamat, Bun,” Nisa bangun dari sofa, melangkah setengah hati.
Nisa ke kamar mandi, mengambil wudhu sembarangan. Tak lama Ia masuk kamar dan menguncinya.
Kembali hanya ada kami bertiga di kamar Nisa. Aku sudah hendak mencatatkan niat Nisa yang hendak salat namun, Nisa kembali tiduran di kasur dan memainkan smartphonenya. Ia melirik jam di kamar.
“Masih lama juga waktu isya” sungutnya.
Aku tak jadi menuliskannya. Di sudut lain kamar, Atid menanti waktu subuh untuk menuliskan amal buruk yang lagi-lagi akan dilakukan Nisa.
***
“Kamu mau tarawih ngapain bawa hape ?” tanya Bunda, sekilas melihat cahaya dari balik mukena Nisa.
“Kalau ada update penting, Bun. Nanti Nisa ngga tahu” Nisa beralasan.
“Sepenting apa sih ? tarawih juga paling nggak lama. Jam delapan juga udah selesai”
“Ih, Bunda. Cuma Nisa bawa doang kok hapenya. Nggak dimainin pas salat”
“Gimana caranya kamu main hape pas salat? di luar gerakan salat dong ? Mending nggak usah salat sekalian, di rumah aja main hape ! kalau nggak dimainin ngapain dibawa hapenya, Nisa?” cerocos Bunda.
Nisa tak menjawab, tapi juga tak meninggalkan smartphone-nya. Bunda hanya menghela nafas.
Berjejer duduk di mushala, Nisa meletakan smartphone di bawah sajadah. Sesekali ia mengecek smartphone kala jama’ah lain salat sunah.
Tepat rakaat terakhir ada beberapa anak kecil berlari-larian mengitari shaf Nisa. Pelan, Nisa mendengar suara benda keras yang terinjak. Nisa punya firasat tidak enak. Ia tak bisa serius dengan salatnya. Anak-anak kecil itu berlarian ke shaf lain.
Selesai salam, Nisa langsung mengecek smartphone-nya. Benar firasatnya, layar smartphonenya retak.
***
Selesai tarawih, ia pamit pada Bunda pergi ke counter smartphone untuk memperbaikinya. Nisa berjalan sendiri di tengah kerumunan pasar malam. Posisi Nisa lengah, ia sibuk memperhatikan sekitar. Tiba-tiba ada yang menarik dan membawa kabur tasnya. Sadar dijambret, Nisa berteriak kencang. Tak banyak orang yang memperhatikan. Nisa berlari mengejar jambret.
Di persimpangan lampu merah, jambret terus berlari. Nisa pantang meyerah terus mengejar. Ia menyeberang saat lampu merah, namun tiba-tiba lampu berubah hijau. Semua kendaraan bergerak maju ketika Nisa berada di tengah jalan. Nisa panik, ia maju dan mundur menghindar motor dan mobil yang mulai ramai mengklakson.
Bebas dari motor dan mobil sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan. Nisa tak sempat berlari. Truk itu menghantam tubuhnya. Semua menjadi gelap.
***
Nisa terbangun. Ia bangun dari posisi berbaringnya. Tapi ia masih mendapati Bundanya menangis tersedu-sedu di sampingnya.
“Bunda, kenapa nangis ? Nisa udah bangun kok” katanya. Bunda tidak menggubrisnya. Ayah menangis dalam diam, mencoba menguatkan Bunda. Ayah juga tak menyadari keberadaannya. Nisa sadar, selain kedua orang tuanya ada sosok asing di ruangan ini. Ia bergidik ngeri, mencoba untuk mengabaikan keberadaan sosok di pojok ruangan. Di luar ruang ICU Nisa sekilas melihat teman-temannya menangis berpelukan.
Nisa mencoba kembali berbaring, namun merasa aneh. Ia kembali duduk hendak membetulkan bantal. Kaget bukan main, ia melihat sesosok gadis mirip dengannya yang dipenuhi luka retak di kepala, tak sadarkan diri. Suatu kemungkinan terburuk terlintas di benak Nisa. Kematian kah ini ? Izrail kah sosok itu ?
“Nggak ... nggak mungkin ! Aku nggak mungkin mati !” elak Nisa.
“Anissa Fitria. Semua manusia pasti akan mati” sebuah suara menggema di ruangan. Hanya Nisa yang mendengar itu, karena Ayah dan Bundanya tak bereaksi apa-apa.
“Nggak ! Aku masih muda ! masih banyak hal yang harus diurus”seru Nisa.
“Kematian tak pernah memilih saat kau tua atau muda, kaya atau miskin, senang atau susah, bahkan saat kau sehat atau sakit. Karena kematian itu suatu kepastian dan bisa kapan saja, hanya Allah yang tahu itu.”
Nisa mulai tersedu. “Bunda.. Ayah tolong Nisa ! Nisa nggak mau mati sekarang ! dikubur gelap, dikubur sempit, dikubur Nisa sendirian !”
“Ayah dan Bundamu tak akan bisa membantumu. Tak ada yang bisa membantumu, Anissa Fitria. Selain amal perbuatanmu semasa hidup”
“Hidupku sangat singkat bagaimana bisa dibandingkan dengan amal perbuatan kehidupan orang lain ?”
“Raqib dan Atid telah menyerahkan catatan mereka selama menemanimu hidup. Mereka tak pernah sedikitpun melewatkan catatan amal perbuatanmu semasa kau hidup. Amal baik dan amal burukmu. Untuk itu Tuhanmu telah menyerukan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga, walaupun dengan hidup yang singkat kau tetap banyak mencatatkan hal baik dalam buku hidupmu”
Makin tersedu-sedu lah Nisa. Ia sadar masa mudanya tak pernah ia manfaatkan untuk kebaikan. Ia banyak menghabiskan waktu untuk kebahagiaan-kebahagiaan semu duniawi.  Semua memori saat ia baru lahir hingga tumbuh dewasa terputar dibenaknya. Ia sungguh menyesali segala apa yang telah ia perbuat, dan merindukan sosok Nisa kecil yang rajin salat dan mengaji.
“Sudah waktumu, Anissa Fitria” Izrail mengakhiri percakapan Nisa di dunia.
Mesin komputer di samping Nisa tak lagi menayangkan detak jantungnya. Mesin itu berbunyi nyaring, bersahutan dengan tangis Bunda.
***
Nisa terbangun dari tidurnya. Ia berkeringat dingin. Tangannya terasa panas dan kebas, ia masih menggenggam smartphonenya yang membuka aplikasi sosial media. Nisa pasti jatuh tertidur saat asik stalking timeline sosial media.
Hanya mimpi. Mimpinya benar-benar suatu peringatan penting. Ia bergidik ngeri mengingat mimpinya. Mengamati sekeliling, teringat bahwa ada Raqib dan Atid yang siap mencatat setiap amalannya. Matanya berhenti di jam dinding. Sudah hampir sepertiga malam. Masih sempat untuk salat Isya dan Tahajud. Nisa segera menyegerakan mengambil wudhu.
Kali ini Nisa berwudhu dengan khusyu’. Ia mencoba mengingat-ingat kapan kali terakhir ia benar-benar berwudhu. Selepas wudhu ia langsung menunaikan salat Isya dan dilanjut salat Tahajud. Kali pertama di masa mudanya, Nisa salat khusyu’.
Kali pertama pula ku catat amal baik seorang Anissa Fitria setelah beberapa lama. Semoga ini merupakan sebuah awal untukku menyibukkan diri. Di seberang pandanganku Atid mengangguk. Jika harus memilih, Atid pastilah lebih senang untuk tidak mencatat apapun. Karena, setiap amal baik yang dilakukan manusia merupakan ketaatan pada Allah SWT. Sebaliknya, setiap amal buruk adalah suatu keingkaran pada Allah SWT.
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS 2:148)

Komentar

share!