Buah Tin



Karya: Drajat PS

Siang ini suasana begitu panas sekali, matahari bersinar sangat terik seperti ingin memperlihatkan kegagahannya, namun angin tak ingin tinggal diam, dia meniupkan semilir bagiannya untuk menemani umat manusia beribadah siang ini.


Setelah pulang dari Madrasah Tsanawi Fatih selalu menyempatkan menjadi muadzin di surau kecil di sebelah rumahnya. Dia sudah menjadi muadzin sejak dia lulus sekolah dasar. Suaranya pun sudah terlatih sehingga terdengar sangat nyaring sekali. Setiap dia selesai adzan jamaah juga langsung datang ke surau untuk beribadah.
Semua jamaah sudah mengenal benar Fatih, tubuh Fatih yang mungil menjadikannya mudah diingat oleh setiap jamaah. Apalagi jamaah di surau itu kebanyakan sudah berumur semua, jadi memang sedikit sulit jika harus mengingat.
Setiap jamaah yang beribadah di surau tua itu memanglah dapat dihitung dan bisa disebut jika hanya itu-itu saja, namun Fatih lebih nyaman jika beribadah di surau itu. Para jamaah yang sudah lanjut itu juga sudah seperti orang tuanya, mereka juga sudah dianggap guru oleh Fatih.
Fatih kini tinggal bersama neneknya, sedangkan ayahnya sudah meninggal enam tahun lalu dan itu mengakibatkan ibunya memilih untuk pergi ke luar negeri untuk bisa menghidupi Fatih dan neneknya, kini ia tinggal bersama neneknya di sebuah rumah yang semakin hari semakin rapuh saja.
Beberapa tahun awal ketika ibu Fatih berangkat keluar negeri masih sering memberi kabar, namun kini sudah tidak memberi kabar apapun lagi kepada Fatih maupun neneknya. Dulu Mak Midah panggilan Fatih untuk ibunya ketika masih di kampung selalu berpesan agar Fatih selalu menjadi orang yang sabar dan menerima.
Dan itu kini sudah melekat pada diri Fatih, dia selalu sabar ketika banyak masalah dan dia juga selalu menerima apapun yang diberikan oleh nenek untuknya.
Mbok Imah begitulah panggilan Fatih untuk neneknya, Mbok Imah sudah menganggap cucunya itu seperti anaknya sendiri, begitu juga Fatih, dia sudah menganggap Mbok Imah sebagai orang tuanya, karena memang hanya mereka berdua yang tinggal di rumah itu. Sehingga apapun mereka lakukan dengan senang hati berdua.
Setelah selesai ibadah berjamaah Fatih langsung pulang untuk segara membantu neneknya. Mbok Imah sehari-hari mengandalkan warung tua miliknya untuk mengais rizqi, ia berjualan setiap pagi sampai siang, namun ketika bulan ramadhan seperti ini Mbok Imah berjualan hanya pada saat sore hari. Jika ramadhan seperti ini ia hanya menjual kolak dan gorengan saja.
“Assalammualaikum mbok…” Fatih menyalami neneknya yang sudah ribut di dapur. “Waalaikumsalam nang…” balas Mbok Imah.
Seperti biasa Fatih langsung membantu neneknya tanpa diperintah lagi, sudah menjadi kebiasaannya dia mengabdi pada neneknya. Kini ia membantu mengupas pisang dan ketela untuk dijadikan kolak.
Dengan cekatan ia mengerjakan tugasnya, kali ini tumben sekali neneknya membuat kolak sedikit lebih banyak. Setelah selesai dengan bahan-bahan kolak ia lanjutkan untuk mengambil air di sumur untuk mencuci ketela dan daun ketela pohon.
Masih dengan penuh semangat dia harus nimbo banyu dari sumurnya, sekarang Fatih ingin mengambil beberapa ciduk untuk dijadikan kuah kolak. Dia juga sudah mahir dalam membuat api di tungku. Sembari menunggu api yang ia buat jadi dia tidak mau membiarkan waktu-waktunya terbuang sia-sia. Fatih juga memotong sayur-sayuran yang akan dijadikan isian tahu.
Saat api sudah benar-benar jadi kemudian ia letakkan ompreng yang sudah berisi air di atas tungku itu, kemudian ia tinggal untuk belajar, kemudian sekarang neneknya lah yang bekerja. Biasanya Fatih hanya sesekali dipanggil untuk membantu mengangkat air atau mungkin yang berhubungan dengan tugas laki-laki, Fatih benar-benar sudah bisa memahami apa yang neneknya minta, karena saat ini tenaga neneknya memang sudah tak sekuat dulu lagi.
Semenjak Fatih naik kelas tiga dia semakin giat saja menambah waktu untuk belajar, selain untuk persiapan ujian dia juga tidak mau mengecewakan orang-orang yang telah membantunya. Fatih bersekolah juga karena beasiswa yang ia peroleh, dia sudah mendapatkan beasiswa sejak awal masuk Madrasah Tsanawi, dia tidak terlalu pintar, tetapi dulu saat masuk Tsanawi dia menggunakan piagam, sehingga dia bisa mendapatkan beasiswa itu.
Saat sudah lulus dia berharap bisa mendapatkan beasiswa lagi, dia juga menginginkan sekali dapat bersekolah di sekolah favorite di kotanya. Betapa bahagianya jika dia benar-benar mendapatkan kesempatan itu.
Kini saat sore tiba, Fatih dan Mbok Imah sudah harus menata dagangan mereka diwarung, saat menjelang berbuka puasa seperti ini biasanya warga sudah berdatangan untuk membeli kolak Mbok Imah. Mbok Imah tidak mematok harga, ia menerima berapa pun warga yang akan membeli, biasanya mulai dari seribu rupiah sampai lima ribu rupiah. Kebanyakan langganan Mbok Imah adalah ibu-ibu yang tak sempat memasak untuk keluarganya, mereka harus bekerja sampai larut untuk proses kehidupan ini.
“Mbok Imah…kolak pesanan saya mana Mbok?” Tanya Bu Lurah. “Oh iya, ini Bu…ini tempatnya dibawa dulu saja, nanti kapan-kapan kalau mampir ke sini bisa dikembalikan” Mbok Imah menyerahkan kolaknya.
Memang Mbok Imah biasanya juga mendapatkan pesanan kolak untuk takjil, selain murah para warga juga sudah percaya dengan kolak buatan Mbok Imah yang tanpa pemanis buatan.
Sebelum adzan maghrib semua dagangan Mbok Imah pasti sudah terjual semua. Jika sisa juga tidak banyak, itu adalah satu berkah dari datangnya bulan ramadhan.
***
Hari ini Fatih harus mengikuti pesantren ramadhan, kegiatan itu wajib diikuti oleh seluruh siswa di sekolahnya. Tahun ini rencananya pesantren ramadhan akan diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut. Para peserta juga rencananya akan diajak ke salah satu pondok pesantren yang berada di kota.
Sebenarnya Fatih merasa sangat berat sekali harus meninggalkan neneknya sendiri di rumah, namun neneknya sudah paham dan merestui kegiatan yang akan diikuti oleh Fatih, karena memang kegiatan itu wajib diikuti oleh semuanya.
Saat pembukaan pesantren ramadhan Fatih masih saja memikirkan keadaan neneknya, siang seperti ini Fatih selalu membantu neneknya, namun kini dia harus berada di ruang itu. Namun perlahan kecemasan Fatih mulai berkurang tatkala sang mentor mulai memotivasi setiap peserta yang ikut, sang mentor memberi motivasi “Jika niat kita baik tentunya kita pasti akan mendapatkan kebaikan pula. Selain itu lupakan sejenak aktivitas kalian yang ada di rumah. Selama di sini ikuti tata tertib dengan ikhlas, nanti kalian pasti akan menikmati dan bahkan pasti akan betah berada di sini” tutup sang mentor.
Kegiatan hari pertama di pesantren ramadhan tahun ini adalah pendataan peserta dan pembagian ruangan sementara. Setelah semua sudah mendapatkan ruangan mereka boleh melakukan mck.
Fatih sudah seperti tanpa beban, sekarang dia tampak kompak dengan teman yang memang akrab dengannya. Mereka adalah Haq dan Ghozi, mereka selalu kompak betiga, disamping memang nyambung ketika berkomunikasi mereka bertiga juga mengidolakan salah satu ustadz kondang yang sama.
Selesai mck semua peserta harus mengikuti tadarus sore sembari menunggu waktu berbuka. Kali ini semua peserta digabung mulai dari kelas satu sampai tiga. Rupanya kali ini setiap kelompok yang terdiri dari sepuluh orang itu akan di dampingi oleh satu ustadz dari sekolahnya.
Mau diapakan lagi, Fatih, Haq dan Ghozi memang tidak dapat dipisahkan, mereka dapat berpisah jika dalam keadaan mendesak saja, namun selama tidak ada  halangan mereka pasti selalu bersama.
Setiap salah seorang membaca Al Qur’an yang lain wajib menyimak dengan saksama, selain itu juga ketika ustadz mengartikan isi dari ayat-ayat Al Qur’an itu, setiap peserta pasti tertunduk untuk mendengarkan. Fatih selalu terisak ketika arti dari ayat itu berisi tentang azab yang akan diberikan kepada manusia, selain itu ketika artinya berisi tentang siksa yang akan diterima di dunia dan di akhirat untuk orang-orang yang berbuat kebatilan. Di saat sang ustadz mengartikan beliau juga tampak terisak-isak.
Kajian seperti itulah yang sekolah Fatih terapkan, tujuannya agar para murid itu tidak hanya pandai membaca ayat-ayatnya yang bertulisan arab, namun mereka juga harus tahu apa saja setiap penggal kisah yang terdapat di dalam Al Qur’an.
Tak terasa ternyata adzan magrib sudah berkumandang, kemudian para santri diinstruksikan untuk segera membatalkan puasa dan kemudian mengambil air wudhu untuk melaksanakan jamaah maghrib. Setelah maghrib baru mereka dipersilakan untuk makan yang telah disediakan di serambi masjid.
Namun ketika yang lain hanya meminum teh hangat untuk membatalkan puasanya Albar tampak sudah meraih piring untuk makan. Ah memang dasar Albar!
***
Hari kedua di Pesantren Ramadhan….
Ternyata Fatih, Ghozi, Haq dan beberapa teman yang lain akan diajak ke salah satu pondok di kota, mereka sangat antusias sekali. Kurang lebih ada dua puluhan orang yang ikut, saat hendak naik ke dalam mobil sekolah tampak Albar juga ternyata ikut. Tapi baguslah supaya dia semakin disiplin saja.
Satu jam perjalanan mereka semua sampai di depan pondok, mereka ternyata disambut oleh beberapa santri dan terlihat juga beberapa ustadz. Fatih dan yang lain diinstruksikan untuk mengikuti pembimbing dan menyalami para ustadz dan santri yang telah berjejer rapi menyambut mereka.
Selanjutnya mereka diajak ke salah satu ruangan untuk mendapatkan arahan dari pembimbing, salah satu ustadz dari pondok itu juga memberikan sambutan serta ucapan selamat datang untuk para santri pilihan dari sekolah Fatih. Setelah selesai mereka di bagi dalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari tiga orang, selanjutnya mereka diantarkan ke kamar-kamar para santri yang telah disediakan untuk mereka.
Kali ini Fatih, Ghozi dan Haq harus berpisah, mereka berbeda kelompok semua. Fatih bersama dua temannya diantarkan ke kamar oleh pembimbingnya. Di dalam kamar ternyata para santri juga sudah menyambutnya, satu kamar ditempati oleh dua puluh orang termasuk Fatih dan dua temannya.
Para santri dari pondok itu sangat ramah sekali, jika ada perlu mereka siap membantu. “Perkenalkan saya Fatih dan ini dua teman saya Ridho dan Arif” Fatih membuka forum dalam kamar. Kemudian salah satu santri menginstruksikan teman-temannya untuk menyudahi aktivitasnya dan mereka semua tampak bangkit dan berjejer rapi. Kemudian salah seorang dari mereka memperkenalkan diri dan mengenalkan teman-temannya.
“Oh iya, kamu kelas berapa dik?” Sapa Andi sebagai ketua di kamar itu. “Alhamdulillah baru saja naik kelas tiga Mas, njenengan sudah lama Mas di sini?”. “Baru enam tahun dik, hehehe…”
Mereka berbincang saling bertukar pengalaman, terutama Fatih yang banyak belajar dari sosok Andi. Selain bertanya tentang kegiatan selama di pondok, Fatih juga tak sungkan bertanya tentang ilmu agama, pikirnya ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan.
Ketika jadwal kosong seperti ini para santri sibuk membaca Al Quran, hal itu juga bertujuan untuk menghafalkannya, karena kata Andi semakin diulang-ulang membacanya nanti pasti akan hafal sendiri. Fatih juga mengikuti kegiatan para santri ini, termasuk dua temannya.
Fatih melanjutkan bacaan Al Quran yang selama ini ia baca saat di rumah, saat ini dia telah sampai pada jus tiga puluh. Dia tampak bersemangat menyelesaikannya. Ketika ia sampai pada Surat At Tin dia membaca artinya, At Tin ternyata artinya buah tin, lantas dia berfikir apakah sekarang masih ada buah tin tersebut?
“Mas..Mas Andi maaf mengganggu, saya mau tanya Mas, apakah buah tin itu sekarang masih ada? Fatih bertanya pada Andi barang kali dia bisa menemukan jawabannya. “Saya juga kurang paham dik, tapi mungkin masih ada, seperti buah kurma, zaitun dan buah buah yang disebut di dalam Al Quran sampai sekarang kan juga masih bisa kita nikmati kan?” Jelas Andi. Fatih tampak mengangguk paham. “Eh ayo dik sekarang kita harus mengaji kitab di masjid, sekarang adalah jadwal kita” Ajak Andi.
Semua yang ada di kamar tampak sudah bersiap-siap, mereka semua sudah rajin menggunakan baju koko dan sarung yang sudah tertata rapi, Fatih dan dua temannya juga mengikuti gaya berbusana mereka, hanya saja Fatih dan temannya tampak memakai baju batik dari sekolah.
Semua santri tampak benar-benar serius ketika mendengarkan kajian kitab dari sang ustadz.
Hari ketiga di Pesantren Ramadhan…..
Kegiatan yang penuh dengan manfaat dan pengetahuan ini telah selesai, semuanya tampak gembira segera ingin pulang, namun berbeda dengan Fatih, dia tampak masih ingin berada di pondok itu. Dia masih ingin belajar banyak dari Andi dan santri-santri yang lain, dia tampak merasa masih perlu belajar, terutama belajar tentang agama. Namun apa boleh buat, dia memang harus segera kembali ke kampungnya.
Fatih sempat memberitahu alamat rumahnya jika Andi dan santri lain ingin berkunjung kerumahnya. Sebelum berangkat pulang, Andi memberi banyak sekali motivasi untuk adik barunya itu.
“Ayo semua naik ke atas mobil!” Perintah pembimbing.
***
Saat di rumah, Fatih semakin rajin saja membaca dan mengkaji Al Quran, disaat libur sekolah seperti ini dia juga sampai lupa waktu untuk belajar Al Quran, dia berharap berkah di bulan ramadhan ini semakin bertambah untuknya.
“Fatih…Fatih…” panggil neneknya. “Iya Mbok ada apa?” jawab Fatih. “Coba lihat siapa yang datang” sang nenek tampak memeluk sosok wanita itu sembari meneteskan air mata. Namun Fatih tampak masih bingung dan mencoba memandangi sosok yang dipeluk neneknya itu.
***
Sore itu tampak ada yang berbeda dengan rumah Mbok Imah, biasanya Mbok Imah dan Fatih sibuk melayani pembeli sekarang mereka tampak menikmati waktu bersama.
Fatih menuju surau untuk adzan, para jamaah juga sudah berdatangan untuk menikmati berbuka bersama di surau itu. Selesai menikmati takjil mereka langsung menyegerakan jamaah magrib.
Selesai jamaah Fatih langsung bergegas pulang untuk kembali menikmati kebersamaan yang saat ini ia rasakan. Di rumah telah terhidang menu sederhana untuk berbuka. Namun dia penasan dengan salah satu wadah. “Mak, ini apa?” Fatih bertanaya. “Itu buah Tin, coba kamu makan”.
Fatih masih saja mengamatinya, namun dia juga akhirnya percaya jika itu adalah buah tin, karena pada label tertulis tin dalam tulisan arab. Ia mencoba merasakan buah itu. “Manis manis asem ya Mak rasanya?”. “Ya memang begitu rasanya, tapi enak kan?” Fatih hanya mengangguk.
Saat ini Fatih tampak gembira sekali, dia bisa berkumpul dengan ibunya yang telah lama ia rindukan, ia juga tampak senang sekali karena dapat benar-benar melihat, makan dan menikmati buah tin yang dibawa oleh ibunya dari Arab.
Kali ini mereka bertiga tampak penuh suka cita, bisa berkumpul bersama lagi dan dapat menikmati sisa ramadhan tahun ini bersama-sama.
Kerinduan akan belaian seorang ibu yang telah terobati dan penasaran dengan buah tin yang telah tertebus.
Allah Maha Kuasa!
***
Kudus, 12 Ramadhan 1436H

Komentar

share!