Behind The Scene


Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015

Karya: Tofan Aditya

Matahari sudah berada di antara timur dan barat. Anginpun berhembus dengan suara-suara merdunya. Disaat manusia lain sibuk mengerjakan pekerjaan untuk membiayai keluarganya, manusia ini malah sibuk dengan gadget-nya untuk mencari foto-foto makanan untuk berbuka. Ya itulah aku. Sudah 3 hari ramadhan berjalan, dan selama itu pula aku tidak memiliki pekerjaan apapun. Tapi semua itu berubah, ketika aku tak sengaja membuka akun twitternya @infolombanulis dari gadget-ku. Mengetahui ada lomba cerpen yang sedang diadakan oleh @kafe_kopi. Tanpa pikir panjang aku segera membuka layar laptopku.


2 jam sudah aku duduk didepan layar laptop, tapi aku belum mendapat inspirasi apapun. Ah sepertinya aku membutuhkan bantuan Bobby, teman sebangku-ku. Bobby dikenal sebagai kutu buku oleh teman-temannya, sehingga aku sering meminta saran-sarannya dalam menulis cerita. Segera aku menelpon Bobby dan mengajaknya untuk bertemu ditaman kota. Diapun menyetujuinya.
Sore harinya di taman kota…
“Eh bro, udah lama disini?” Kata seseorang sambil menepuk punggungku
“Kemana aja lo? Gue udah nunggu dari tadi!” Sentakku kepada Bobby
“Eh sorry bro, tadi gue nganterin temen gue dulu” Alasannya
“Ah alasan aja lo?!” Jawabku tidak percaya
“Iya deh bro, sorry bro. Ngomong-ngomong lo mau ngomong apaan?” Kata Bobby sambil duduk disebelahku
“Gue mau minta bantuin lo, tolong bantuin gue cariin tema yang pas buat cerpen gue, syaratnya sih harus ada unsur Ramadhannya” Pintaku pada Bobby
“Kalo ramadhan, ya religi dong bro” Saran Bobby
“Ah, terlalu mainstream bro. Itu mah udah gak jaman banget” Jawabku menolak
“Ohh, kenapa gak romance aja bro, kan lucu nyeritain orang pacaran” Sarannya lagi
“Masa gue nyeritain orang pacaran, tapi gue sendiri masih jomblo, kan nyesek ke guenya” Alsanku
“Horror aja bro, kan anak muda sekarang suka cerita horror-horror gitu” Kembali Bobby memberi saran
“Mana ada hantu bro di bulan ramadhan” Ucapku
“Ah, lo mah bro banyak maunya, yaudah TeenLit aja” Sarannya yang membuatku bingung
“Apaan itu TeenLit?” Tanyaku
“Itu loh cerita yang nyeritain kehidupan remaja” Jelasnya
“Wah boleh juga tuh. Tapi ngomong-ngomong ngapain sih lo megang-megang telingan gue mulu!” Jawabku sambil menyentaknya
“Apaan?! Lo tuh yang dari tadi megang-megang telinga gue!” Jawabnya sambil balas menyentakku
Akhirnya aku dan Bobby pun menengok ke belakang, ketika kami melihat ke belakang, tiba-tiba…
“WAAHHH!!! BENCOOOONNGG!!!” Teriakku dan Bobby bersamaan sambil berlari menjauh dari bencong tersebut
“Woy! Jangan lari lo!” kata bencong tersebut dengan  suara jantannya sambil mulai mengejar kami
“Ahh! Lo ngelakuin apa sama tuh bencong?!” Teriakku pada Bobby sambil tetap berlari
“Aahhh! Gue juga gak tahu!!” Jawab Bobby yang kelihatannya lebih ketakutan daripada aku
“Waahhh! Lo lupa bayar kali tadi malem!” Teriakku kepada Bobby
“Gila aja lu!!” Balas Bobby
“Oh iya baru inget gue, tadi pas lagi berangkat ke sini, gue gak sengaja nyenggol tuh bencong! Waahh!” Lanjutnya sambil tetap  berteriak
“Lo mah ada-ada aja!! Sekarang kita sembunyi aja di sana!” Teriakku sambil menunjuk rumah kosong yang ada di ujung jalan
“Waahhh!!” Teriaknya sambil berlari ke rumah kosong tersebut
Akhirnya kami berdua bisa sampai di rumah kosong tersebut. Kami langsung bersembunyi di belakang pagar rumah tersebut. Cukup lama aku bersembunyi disini, dan akhirnya kami bisa lolos dari bencong tersebut.
2 hari setelah kejadian tersebut, aku masih belum menemukan genre dan alur yang cocok untuk cerpenku. Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba untuk menulis cerpen romantis, dengan alasan bahwa saat ini aku sedang dekat dengan salah satu wanita.
Adinda Natasha, adalah nama lengkap wanita tersebut. Tapi aku lebih sering dipangggilnya Natasha. Dengan wajah cantik, rambut bergelombang, hidung mancung serta warna kulit putih seperti salju inggris, tak sulit baginya untuk menjadi siswi tercantik di SMA-ku. Yang pernah aku dengar juga, dia pernah menjadi model salah satu majalah remaja terkenal.
Mungkin Natasha adalah satu-satunya wanita yang aku suka sejak pertama bertemu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajak ia ketemuan di taman kota, tempat aku dan Bobby dikejar-kejar bencong 2 hari lalu.
 Tak berapa aku menunggu, tiba-tiba…
“Eh udah lama nunggu ya?” Kata wanita tersebut sambil menepuk punggungku
“Lama banget. Nih liat, sampai tumbuh kumis” Kataku sembari menunjukkan kumis tipisku
“Hahaha, maaf banget, tadi dijalan macet banget, banyak yang dagang soalnya” Alasannya
“Iya gapapa kok, itung-itung ngabuburit” Kataku padanya
“Ngomong-ngomong kamu mau ngomong apaan?” Katanya sambil duduk disebelahku
“Ehm, boleh gak aku jujur sama kamu?” Kataku dengan gugup
“Boleh kok, apa sih yang enggak buat kamu” Timbalnya yang membuat aku semakin ge’er
Sempat aku ragu untuk menyatakan perasaanku. Tapi setelah mendapat ucapan seperti itu darinya, aku seperti mendapat kekuatanku lagi.
“Sebenarnya aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanyaku kepadanya sambil menatap matanya dengan penuh perasaan
“Aduh gimana ya?” Kata Natasha ragu-ragu
“Ayo dong terima dong… Ayo dong… Ayo dong…” Kataku dalam hati sambil tetap menatap matanya
“Aduuhh, maaf banget, baru aja kemarin aku ditembak sama Bobby”  Jawabnya padaku yang membuat aku sangat kaku
“Kita temenan aja ya?” Lanjutnya yang membuat hatiku semakin rapuh
Yang aku herankan kenapa makhluk se-sempurna Natasha harus berpacaran dengan makhluk se-absurb Bobby. Sungguh ini egois, wanita yang selalu aku impikan, harus berpacaran dengan temanku sendiri.
Andai saja aku tahu bahwa Bobby akan menembak Natasha kemarin, mungkin saat aku dan Bobby di kejar bencong, aku tak akan menolongnya dan dengan senang hati menyerahkan Bobby kepada bencong tersebut.
Kalo dibilang sakit ya sakit, kalo dibilang nyesek ya nyesek. Tapi mau bagaimana lagi. Bobby telah mendapatkan hati Natasha. Bagaimanapun juga aku harus fair dan ikhlas akan cintaku yang telah pergi.
Ah Natasha, andai saja bisa menjadi apapun yang aku mau, mungkin aku akan menjadi tangan kananmu, yang selalu menyuapimu. Menjadi bantal gulingmu, yang selalu menemani tidurmu.  Menjadi tulang punggungmu, yang selalu menyangga indah tubuhmu. Menjadi jari tanganmu, yang selalu membersihkan noda hidungmu. Menjadi rumahmu, yang selalu menaungimu. Bahkan, akupun ingin menjadi klosetmu hanya untuk bisa menampungmu.
Akhirnya, setelah diam beberapa saat, akupun mengajak Natasha untuk pulang dengan alasan sebentar lagi akan berbuka. Diperjalanan pulang, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padaku. Cerpen yang ingin aku buat dengan genre “Romantis” mungkin akan menjadi “Tragis” apabila aku tetap menulisnya. Tapi aku percaya, bahwa cinta tragis yang kualami ini akan membuatku menjadi lebih dewasa lagi.
Dihari-hari selanjutnya, aku sudah tidak ada mood untuk menulis cerpen. Tapi, setelah 3 hari mengurung diri dikamar, aku mulai merasa boring dan ingin jalan-jalan keluar. Akhirnya, akupun memutuskan untuk ngabuburit menyusuri alun-alun kota sembari menenangkan hatiku yang masih sakit hati ini.
Dan akupun mengajak Rudi teman sepermainanku ketika kecil. Meskipun memiliki wajah cukup lumayan, tapi Rudi adalah orang paling konyol yang pernah aku temui. Tapi anehnya dibalik sikap konyolnya itu, Rudi selalu masuk peringkat 10 besar disekolahnya.
Karena aku takut dibilang gay kalo jalan berdua bareng Rudi. Akhirnya aju menyuruh Rudi untuk mengajak Shinta, teman sepermainanku juga. Saat ini dia sudah menjadi remaja wanita yang cantik, baik juga banyak memiliki prestasi. Sempat aku jatuh cinta padanya. Tapi entah kenapa, tak tega rasanya aku menjadikan Shinta sebagai pacarku.
Kami bertiga pun berjalan kaki menuju alun-alun. Sampai tiba-tiba aku bertemu dengan Natasha dan Bobby di taman kota, tempat yang bersejarah bagiku dalam satu minggu ini. Mereka tersenyum dan tertawa gembira. Aku bahagia melihat Natasha tersenyum bahagia, tapi aku pun sedih ketika ingat bahwa dia tersenyum bukan karena aku. Sebelum semakin nyesek aku pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Tak terasa sampailah kami di alun-alun. Ramai sekali alun-alun ini, berbeda dari bisanya. Kamipun segera duduk dibangku yang sudah disediakan. Kami mengobrol tentang hal-hal yang kami alami di SMA.
Rudi bercerita bahwa sekarang ia telah mengikuti klub Stand Up Comedy di kotanya. Dia juga berhasil menciptakan klub Stand Up Comedy disekolahnya dan dia ditunjuk menjadi ketua dari klub tersebut. Sedangkan Shinta bercerita bahwa ia telah menjuarai turnamen Voli di kotanya, dan dia mendapat gelar pemain terbaik dalam turnamen tersebut. Dia juga bercerita bahwa dia terpilih sebagai salah satu anggota Porda untuk cabang Voli.
Belum sempat aku bercerita tentang pengalamanku di SMA, tiba-tiba terdengar suara adzan ashar. Sebelum kami melanjutkan obrolan kami lagi. Kamipun memutuskan untuk sholat dahulu di masjid yang ada di depan alun-alun.
Selesai sholat, mood-ku untuk menulis telah kembali. Akupun mulai punya keinginan untuk melanjutkan menulis cerpenku. Akupun berdoa kepada Tuhan agar aku diberi kemudahan untuk menyelesaikan cerpenku. Selesai berdoa, aku segera keluar dari masjid, tapi anehnya aku tidak menemukan sendalku.
“Rud, lo liat sendal gue gak?” Tanyaku pada Rudi
“Sendal lo yang mana?” Tanya balik Rudi
“Yang warnanya abu-abu burik itu” Jawabku
“Gak liat tuh, kayaknya sendal lo dicuri ” Jawab Rudi
“Ah masa sih, kan sendal gue itu jelek, bagusan juga punya lo.” Kataku sambil tetap mecari sendalku
“Terus gue pulang pake apaan?” Lanjutku
“Yaudah, nanti gue gendong deh” Saran Rudi sambil mengambil posisi untuk mengendong
“Gila aja lo, nanti gue dikira gay lagi” Timbalku sambil menendang punggung Rudi
“Ada apa sih ribut-ribut?” Tanya Shinta sambil menghampiri kami
“Ini sendal gue dicuri” Kataku pada Shinta sambil tetap mencari sendalku
“Oh yaudah kita beli lagi aja” Saran Shinta
“Kita patungan 5 ribu 1 orang” Lanjut Shinta
Akhirnya kita patungan. Rudi dan Shinta mencarikan sendal untukku, sedangkan aku disuruh untuk tetap dimasjid.
Tak berapa lama merekapun kembali, sambil membawa sendal.
“Sorry bro, tadi sendalnya cuma nyisa yang gini” Ucapnya sambil menunjukkan sendal capit berwarna pink bermotif Hello Kitty
“Ah bohong, dia aja tuh yang mau liat lo pake sendal warna pink. Hahaha..” Sanggah Shinta sambil tertawa
Dan akhirnya kamipun pulang. Dijalan mereka hanya tertawa karena melihat aku memakai sendal berwarna pink. Aku sih nyantai-nyantai aja. Alasannya, sudah lama aku tidak menghibur sahabat-sahabatku seperti ini. Sempat menyesal juga ketika aku lupa sahabat lamaku ini.
Keesokkan harinya, aku memikirkan untuk melanjutkan menulis cerpen lagi. Aku sempat diam beberapa saat didepan laptopku. Sampai tiba-tiba, aku terpikir untuk membuat cerpen tentang perjalananku mencari cerpen itu sendiri.
Akhirnya aku mulai menulis, aku menuliskan semua pengalaman yang telah terjadi saat pembuatan cerpen ini. Seperti saat aku dikejar-kejar bencong bersama Bobby, ditolak cintanya oleh Natasha, serta kejadian konyol bersama Shinta dan Rudi.
Walaupun tidak semua dari kisahku ini bahagia, tapi bagaimanapun aku harus berterima kasih kepada mereka. Berkat mereka aku menjadi lebih dewasa dan dapat menyelesaikan cerpen ini.
Dan akhirnya, cerpen yang menyimpan begitu banyak cerita saat proses pembuatannya ini bisa selesai juga. Aku pun segera mengumpulkanya ke e-mail resmi Kafe Kopi.

Komentar

share!