AWAL BULAN RAMADHAN



Karya: Yosi Anggraeni Wisnu Kusumaningtyas


Di sebuah desa kecil, angin segar berhembus sepoi-sepoi menandakan desa itu masih begitu dekat dengan alam. Belum ada gedung pencakar langit atau kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi laiknya di sebuah kota. Sebagian besar mata pencaharian penduduk desa tersebut adalah petani. Baik petani padi, sayur maupun buah. Tak perlu ke jauh-jauh ke kota untuk menjual hasil panen mereka, karena para tengkulaklah yang membeli ke desa dan kemudian di jual ke kota.



Suasana islami di desa tersebut begitu kental, memang mayoritas penduduk beragama muslim. Namun toleransi umat beragama pun jelas ada. Penduduk tak membeda-bedakan tetangga menurut agama, khas atau suku. Ya, ada beberapa penduduk yang berasal dari luar suku.

Desa tersebut memiliki sebuah masjid yang sangat ramai oleh anak-anak TPA seusai sholat ashar. Meraka belajar membaca kitab suci umat islam, yaitu Al-Qur’an. Mereka mempunyai beberapa ustadz-ustadzah yang tidak lain adalah muda-mudi desa tersebut. Juga memiliki sesepuh yang sering mereka panggil dengan sebutan Kakek. Usia beliau hampir 80 tahun, namun fisiknya masih kuat tak mecerminkan usia beliau yang telah renta.

Biasanya Kakek membantu para ustadz-ustadzah membimbing para santri TPA seminggu sekali. Sang kakek akan menceritakan sebuah cerita islami seusai semua santri TPA belajar membaca Al-Qur’an. Inilah yang membuat para santri begitu menyanyangi kakek tua ini. Kini mereka telah tenang duduk manis di masjid. Anak laki-laki duduk di shaf depan dan anak perempuan di belakang dengan didampingi para ustadz-ustadzah mereka. Sang kakek duduk di bangku kecil yang telah disediakan didepan para santri.

“assalamu’alaikum anak-anakku” kakek membuka salam

“wa’alaikumsalam walohmatullahi wabalokatuh” jawab anak-anak kompak dengan penuh semangat.

waras kalian?” kakek menanyakan kabar mereka dengan senyum menenangkan.

walas Kek” jawab mereka kompak lagi. Sepertinya mereka kompak kalau jadi tim paduan suara. Hehehe

“Kakek hali ini mau celita tentang apa Kek?” Tanya salah satu santriwan yang ga sabar. Rambutnya pendek agak ikal. Namanya Sony.

“iya Kek, saya sudah ndak sabal pengen dengelin celita Kakek.” Imbuh Ani juga ga kalah sabar.

“Sony, Ani sabar. Kakek mau cerita tapi kalian ngomong terus kapan Kakek mau mulai??” Widya, yang sudah beranjak dewasa menenangkan mereka.
Kakek tersenyum mendengar celotehan santriwan-santriwati kesayangannya itu.

“kalian pengen dengar cerita apa hari?” Tanya Kakek sabar

Spontan kemudian masjid menjadi heboh karena para santri langsung meneriakan cerita apa yang ingin mereka dengar seakan tak mau kalah dengan yang lain. Ini langsung menjadikan para ustadz-ustadzah muda desa tersebut sibuk menenangkan mereka.

“semangat sekali kalian ingin dengar cerita Kakek?” Kakek senang sekali “hari ini kakek tidak akan cerita, tapi akan menjawab pertanyaan yang kalian berikan” lanjut Kakek

Santriwan-santriwati itu bingung, saling pandang satu dengan yang lain. Tapi ada satu sanriwan yang langsung mengacungkan jari mengerti maksud Kakek.

“mau tanya apa kamu Dimas?” tanya Kakek begitu melihat Dimas mengacungkan jari. Para santri yang lain langsung melihat ke arah Dimas.

“Kakek Dimas tanya, sebentar lagi kan kita puasa ramadhan. Bagaimana menentukan bulan ramdhan itu? Dulu bulan Desember, terus Oktober, Agustus. Kenapa ganti-ganti terus Kek?” tanya Dimas Kakek.

Kakek lagi-lagi tersenyum tenang. Para santri yang lain mengiyakan pertanyaan Dimas. Muka mereka serius melihat Kakek menantikan jawaban dari Kakek. Lucu deh muka polos mereka kalo serius gitu. Hehehe

“menurut kalian, satu tahun ada berapa bulan?” tanya Kakek memancing mereka berfikir kritis.

“duabelas kek” jawab mereka berbarengan.

“iya bener. Pinter kalian semua. Satu tahun ada dua belas bulan baik menurut kalender masehi juga kalender hijriyah.” Kakek memberikan kalimat yang belum mereka dengar agar mereka bertanya lagi.

“kalender masehi dan kalender hijiyah itu apa Kek? ” tanya Pita mewakili santri yang lain.

“kalender masehi itu kalender yang ada di rumah kalian masing-masing. Dari bulan Januari sampai bulan Desember. Kalender mahesi dihitung berdasarkan kala revolusi bumi terhadap matahari.” Kakek berhenti sejenak memikirkan kalimat yang tepat agar mudah dimengerti para santri. “kala revolusi bumi itu waktu bumi mengelilingi matahati satu putaran. contohnya kalian lari mengelilingi sebuah lapangan, kalian memerlukan waktu bukan?” tanya Kakek retoris. Para santri langsung mengangguk. “waktu kalian berlari itu selama satu tahun, para ahli zaman dulu sepakat menamainya tahun masehi yaitu dari bulan Januari sampai Desember dengan setiap bulan ada 30 atau 31 hari. Sedangkan tahun hijriyah atau bisa disebut tahun islam, dihitung berdasarkan kala revolusi bulan terhadap bumi. Yaitu bulan mengelilingi bumi. Lama kalian lari mengelilingi lapangan menurut kalender hijriyah adalah 29 hari 12 jam. Dan itulah kenapa tahun masehi dan hijriyah tidak bersamaan. Tahun hijriyah lebih cepat karena hari berganti menurut hijriyah setelah matahari terbenam sedang masehi mulai tengah malam, jam dua belas malam.” Lanjut Kakek

Para santri mangut-mangut mendengar penjelasa Kakek. Entah merka paham yang disampaikan oleh kakek atau tidak. Walau Kakek telah menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin. Namanya juga anak-anak.

“Kek, tapi kok kadang awal puasa berbeda-beda. Contohnya kita puasa hari kamis, ada yang memulai puasa hari Rabu bahkan ada yang hari Jum’at?” tanya Dimas lagi seakan pertanyaannya tadi belum terjawab.

Kakek tersenyum lagi mendapat pertanyaan sebagus itu. Cerdas anak ini, batin Kakek memuji Dimas.

“bulan Ramadhan itu termasuk dalam tahun hijriyah atau tahun islam. penentuan tanggal 1 bulan baru dalam tahun islam dengan melihat hilal. Kalian tau apa itu hilal?” tanya Kakek

“tidak” jawab mereka polos dengan datar.

“hilal itu fase awal bulan di langit. Bentuk bulan ada bermacam-macam. Bulan purmana, bulan sabit, gerhana bulan dan hilal itu sendiri. Hilal itu bentuk bulan seperti bulan sabit tapi lebih tipis. Dan hampir tidak kelihatan. Hilal bisa di liat hanya dengan mata, bisa juga dilihat dengan menggunakan alat seperti teleskop atau teropong. Melihatnya setelah matahari tenggelam. Bila hilal terlihat, maka petang itu juga adalah tanggal 1, namun bila tidak terlihat maka tanggl 1 adalah hari esoknya. Seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang artinya:”berpuasalah kamu kerena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah menjadi  30 hari.” Cara ini disebut dengan rukyatul hilal. Cara ini digunakan oleh sebagaian organisasi islam yang ada di tanah air kita ini. Sedang cara yang lain yaitu dengan wujudul hilal. Cara ini menggunakan dua prinsip yaitu: Ijtimak telah terjadi sebelum matahari terbenam dan bulan terbenam setelah matahari terbenam, maka  pada petang hari tersebut awal bulan baru yaitu tanggal satu, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat  matahari terbenam. Cara ini juga di gunakan untuk membuat kalender hijriyah. Dasarnya adalah Al-Qur’an surat  Yunus ayat 5 yang artinya:”Dialah yang menjadikan matahari bersinar  dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” Cara ini juga digunakan oleh beberapa organisasi islam. Bisa berbeda-beda dikarenakan mereka mempercayai dasar mereka masing-masing. Baik cara rukyatul hilal dan wujudul hilal. Kedua cara ini benar dan memiliki dasar. Yang terpenting adalah niat kita untuk menjalankan puasa Ramadhan hanya untuk Allah SWT. Selebihnya adalah Allahu Alam bis-Shoowab. Jelas anak-anak?”

“jelas Kek” jawab mereka kompak dengan raut wajah yang berbinar seakan puas dan mengerti maksud penjelasan sang kakek.

“ingat bulan Ramadhan tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni 2015, hari kamis besok. Kalian harus mempersiapkan diri menyambut bulan suci ini. Puasa ini wajib kecuali ada halangan seperti sakit atau berpergian juga halangan yang lain. Kalian siap menyambut puasa tahun ini?”

“siaaaaaapppp” jawab para santri semangat.

“Alhamdulillah, mungkin itu dulu dari Kakek, sudah hampir magrib. Kalian sebaiknya segera ambil air wudhu. Seperti biasa kita sholat magrib berjamaah.”

Setelah itu, Kakek meminta salah satu uztadz untuk mengumandangkan adzan. Para santri langsung berlari mengambil air wudhu dan segera membuat shof yang rapi. Banyak warga yang datang ke masjid memenuhi panggilan sang muadzin. Sholat magrib berjamaah pun di mulai. Alunan bacaan sholat Kakek begitu merdu laiknya murotal. Nuansa islami begitu tercipta di desa ini. Betapa indahnyaaa.

SELESAI ≈

Komentar

share!