7 Hal yang Identik dengan Ramadhan



Karya: Dini Astrianis

Tahun ini, Ramadhan 1436 H adalah tahun terakhir gue berpuasa di rantauan sebagai mahasiswa. Mudah-mudahan... Jangan sampai puasa tahun depan masih menyandang predikat sebagai mahasiswa deh, amit-amit.



Bulan yang suci ini, selalu saja disambut meriah oleh semua orang. Sebelum Ramadhan tiba saja, suasana puasa sudah terasa karena mulai munculnya iklan sirup menggoda iman dan acara hafiz qur’an serta pemilihan dai di berbagai stasiun televisi.

Oh ya, perkenalkan, gue Dini, mahasiswi semester 8 di Fakultas Biologi Unsoed. Kalian tahu Unsoed kan? Oh please bilang saja iya. Karena gue sudah lelah menjelaskan di mana letak Unsoed setiap kali orang bertanya gue kuliah dimana. Unsoed itu Universitas Jenderal Soedirman, kalian pasti tahu lah nama itu, itu kan nama tokoh pahlawan yang patungnya ada di jalan dengan nama yang sama di Jakarta. Unsoed itu berada di Purwokerto, Jawa Tengah. Purwokerto itu dimana ya? Sudahlah, kalian beli peta saja sana dan cari sendiri.

Puasa Ramadhan, menurut gue sangat identik dengan 7 hal, yaitu sahur, mager alias malas gerak, posting foto makanan, ngabuburit, buka bersama, takjil gratis, dan tarawih. Puasa tahun ini pun banyak kejadian lucu dan tak terduga yang gue alami bersama dua teman kostan gue, Milda dan Vania.

Pertama, sahur. Puasa tahun ini entah kenapa terasa berat gue, Milda dan Vania. Purwokerto mendadak dingin banget dan berkabut, kayak di Korea. Oke, gue belum pernah ke Korea sih, tapi mungkin dinginnya hampir sama dengan ini atau mungkin lebih. Yang jelas rasa dingin yang menusuk ini membuat kami enggan untuk keluar kostan mencari makan sahur. Kami pun memilih DO (delivery order) untuk sahur dan memesannya sekitar pukul 2 atau setengah 3 pagi. Sahur yang terlalu dini hari ini, membuat perut gue cepat lapar saat pagi harinya, tepatnya pukul 9 pagi.

Akhirnya gue mensiasati membeli makanan sehabis sholat tarawih untuk sahur besok. Gue pasang alarm agar sahur sekitar pukul setengah 4 subuh. Tapi... kenyataannya gue malah bangun tepat ketika adzan subuh berkumandang pukul setengah 5 subuh. Ternyata semalam saat sebelum tidur, gue salah memasang alarm, harusnya pukul 03.30, malah jadi 04.30. Mungkin gue terlalu lelah gara-gara bacaan sholat tarawih yang lama. Akibatnya seharian gue terkulai lemas di kamar sambil memandangi makanan sahur di atas meja belajar. Pedih men...

Kedua, mager, males gerak. Berdasarkan ilmu biokimia yang gue pelajari di semester 2 (ceileeeh..), kenapa puasa membuat kita lemas, karena tubuh kita menggunakan glikogen yaitu makanan cadangan yang tersimpan di dalam tubuh. Udah ga sahur, perut kosong, makanan cadangan habis, cuaca dingin, lengkap sudah cobaan hari itu. Bawaannya pengen tidur dan bangun-bangun udah adzan magrib aja gitu.

Ketiga, posting foto makanan di social media. Ini entah kenapa orang-orang jadi pada rajin banget memposting foto berbagai makanan di facebook, path, instagram, twitter dan line (apa ada social media yang masih ketinggalan gue sebutin?) di siang bolong. Maksud mereka apa coba? Mereka pikir gue bakal tergoda? Hahahahaha... ya iyalah.

Oh tolonglah, hal seperti itu tidak ada lucunya sama sekali dan tidak patut. Lebih baik mereka memposting kalimat-kalimat kultum atau info masjid mana yang takjilnya enak. Gue rasa itu lebih bermanfaat.

Keempat, ngabuburit. Kegiatan yang satu ini paling dinanti-nanti oleh semua orang. Biasanya gue dan teman kostan gue, sudah keluar kostan dari pukul 16.30 untuk ngabuburit. Bukan, bukannya kelaparan dan gak sabar pengen buka. Tapi, karena sepanjang jalan diwaktu menjelang adzan magrib pasti macet. Kalo kami terlalu sore keluar untuk membeli takjil, bisa-bisa nanti buka ditengah jalan.

Sepanjang jalan di depan gedung pusat Unsoed, diramaikan oleh berbagai stand pedagang takjil. Saking banyaknya pilihan aneka takjil, kami pun bingung dan akhirnya malah tidak jadi beli apa-apa. Kami pun hanya menikmati pemandangan hiruk pikuknya dede-dede gemes yang bingun membeli takjil apa. Itu aja udah cukup manis buat buka puasa, hehehe...

Hal kelima lainnya yang identik dengan puasa Ramadhan adalah takjil gratis. Ada satu masjid besar di sekitar lingkungan kampus Unsoed yaitu Masjid Fatimatuzzahra atau biasa disebut Mafaza, yang sepanjang Ramadhan tidak hanya menyediakan takjil, tapi juga makanan berat. Menggiurkan bukan untuk jadi rajin datang ke masjid? Makanya gue, Milda dan Vania berniat untuk buka puasa di sana. Ini pertama kalinya untuk kita bertiga. Kita pikir, karena Insya Allah ini adalah puasa terakhir kita di Purwokerto, apa salahnya untuk nyobain buka puasa di sana.

Kami pun bersiap-siapa dari pukul 4 sore untuk berangkat ke sana. Si Milda dan Vania malah norak banget, mereka bingung mesti pake kerudung panjang dan rok – kayak anak rohis – atau enggak. Mereka takut kalau kelihatan banget ke sana cuma untuk nyoba buka puasa gratis. Mereka juga bilang ke gue kalo mereka deg-degan, tepat ketika kita akan berangkat ke masjid. Haduuuh... mereka pikir ini perjalanan suci ke Mekkah apa? Orang cuma mau buka puasa di masjid doang. Ckckck...

Saat kami tiba dan masuk ke dalam masjid, ternyata banyak mahasiswa yang sudah duduk di dalam masjid. Sebagian ada yang sedang tadarus Al-qur’an dan sebagian besar lainnya duduk manis menunggu adzan magrib seperti kami. Hahaha. Well, kita juga dengerin ceramahnya ustadz kok, plus dengerin suara ngaji cewek yang duduk di samping gue. Dapat pahala juga kan?

Takjil di sana berupa segelas air dan 3 buah kurma, sunah Rasul banget nih. Barulah setelah sholat magrib, dus-dus makanan berat dibagikan kepada setiap jemaah. Oh ya, jumlah jamaah pria yang datang mungkin 3 kali lipatnya jamaah perempuan. Mungkin masih ada para mahasiswi yang malu dan gengsi buka puasa gratis di masjid. Rugi banget padahal kalau ga nyobain. Bagaimana engga, lauk tiap dusnya saja beda-beda, ada yang ayam bakar, ayam goreng, ikan dan telur (disamping nasi dan sayur). Tapi ternyata yang namanya mental mahasiswa ga bisa dibohongi. Begitu dapat dus makanan, sebagian besar jamaah yang ternyata mahasiswa ini malah langsung pulang. Karena gue, Milda dan Vania ini cewek sholeha yang tahu tata krama, kami pun memutuskan untuk menghabiskan makanan di masjid. Kami pun sudah membuat kesepakatan untuk buka puasa di sini 2 hari sekali. Biar ga ketahuan banget ngincer gratisannya. Hahaha.

Keenam, buka bersama atau biasa disingkat bukber. Agenda ini paling hits saat Ramadhan. Biasanya dipertengahan dan akhir Ramadhan. Malahan puasa belum mulai, jadwal bukber sudah diagendakan. Kalau tawaran bukber sudah mulai berdatangan, siap-siap aja duit di dompet bakal habis secepat kilat. Mulai dari acara bukber teman SMA, teman kampus, bukber UKM, bukber teman KKN, bukber teman ospek, atau bahkan mungkin ada bukber ama teman TK dan PAUD. Yang jelas, niatnya bulan puasa mau ngirit pengeluaran, eh malah lebih boros daripada bulan-bulan biasanya.

Bukber ini jadi ajang reuni juga, temu kangen sama teman lama, apalagi buat mahasiswa atau yang udah kerja. Mungkin cuma di acara setahun sekali ini, kita bisa ngumpul bareng teman-teman dan nostalgia seru bareng. Undangan bukber yang banyak dari berbagai ‘kalangan’, otomatis bikin kita pusing untuk ngatur jadwalnya biar ga bentrok dengan undangan bukber lainnya. Mengatur ‘schedule bukber’ ini sama susahnya kayak ngatur jadwal kuliah. Begitu ada yang bentrok, terpaksa deh yang satunya dikorbankan. Terlepas dari euphoria itu semua, bukber selalu menjadi salah satu momen menyenangkan di bulan puasa.

Ketujuh, tarawih. Atau teraweh? Ah ga tau deh mana yang benar tulisannya, yang jelas ini adalah kegiatan ibadah yang hanya ada di bulan Ramadhan, sangat spesial. Gue pribadi menganut paham ‘tarawih 11 rakaat’. Oleh karena itu, gue mencari masjid yang menganut paham yang serupa. Untungnya di dekat kostan gue, ada mushola yang sholat tarawihnya 11 rakaat. Mushola ini menyatu dengan halaman PAUD, jadi jamaah perempuan kebagian shaf sholat di halaman PAUD. Malam pertama tarawih, gue dan teman kostan gue sholat di sini. Enak banget deh. Tarawihnya selesai jam 8 kurang. Bacaan suratnya pendek-pendek, tapi tidak terlalu cepat kayak sholat tarawih 23 rakaat dalam waktu 10 menit, yang diberitakan di televisi. Itu sih kebangetan, sholat apa lagi dikejer-kejer deadline revisi pembimbing? Hahaha.

Namun, malam kedua gue sholat tarawih di sana, mulai ada hal yang gak enak. Tiba-tiba aja mushola kedatangan santri pondok gitu. Mungkin ini sejenis musafir yang keliling antar daerah selama bulan puasa. Mungkin loh ya, ini sih hipotesis gue aja. Si musafir ini mengimami kami dari sholat Isya hingga sholat tarawih. Dari sholat Isya aja, teman gue, Milda, merasakan ada yang aneh.

“Din, kok bacaan suratnya lama banget ya?” kata Milda.

“Ah masa? Gue ga ngeh tuh.” sahut gue.

“Gawat nih, kalau sholat tarawihnya bacaanya kayak gini.” ujar Milda.

Eh benar saja, sholat tarawih malam itu beda dari hari pertama. Lama banget. Sekitar jam setengah sembilan baru selesai. Tapi yang parahnya, tiap selesai 2 rakaat sholat tarawih, ibu-ibu yang di samping malah pulang.

“Duh, suwe nemen bacaannya. Sikile pegel[1]!” keluh ibu-ibu di sebelah kanan gue, kemudian dia pulang.

Gue cuma ketawa dalam hati, kemudian menggeserkan sajadah gue ke samping kanan, agar rapat dengan shaf sebelah kanan. Lalu setelah selesai sholat rakaat yang ke-4, ibu-ibu di sebelah kanan gue, ngeluh lagi gara-gara sholatnya kelamaan, kemudian dia juga pulang, seperti ibu-ibu sebelumnya. Gue dan temen-temen gue ketawa. Lah ini kita sholat geser ke kanan mulu, lama-lama posisi kita sholat yang tadinya di tengah halaman jadi di ujung pagar deh. Dan benar saja, 2 rakaat selanjutnya, ibu-ibu sebelah gue, juga pulang (lagi). Tak hanya itu, jamaah yang kebanyakan ibu-ibu dan nenek-nenek ini malah jadi ribut ngeluh, bacaan suratnya kelamaan. Untungnya sholat tarawihnya cuma 11 rakaat. Mungkin kalo 23 rakaat, baru jalan 8 rakaat, seluruh jamaah perempuan ga ada yang tersisa lagi. Mereka pulang karena sendi-sendi mereka geser akibat kelamaan berdiri. Hahaha.

Malam besoknya, gue, Vania dan Milda memutuskan untuk tarling alias tarawih keliling. Sebenarnya sih karena kita takut kalau sholat di mushola kemaren, bacaannya lama lagi. Akhirnya kita sholat tarawih di masjid Nurul Ulum (NU) dekat kampus pusat. Kami ke sana sehabis berbuka puasa gratis di Mafaza. Kenapa kita ga sekalian sholat tarawih di Mafaza? Karena iman kami belum kuat untuk 23 rakaat disertai bacaan sholat yang lamanya setara dengan sholat tarawih di Masjidil Haram.

Ketika kami tiba di masjid NU, shaf sholat jamaah perempuannya sampai ke parkiran. Shaf sholat di area parkiran ini menggunakan terpal plastik. Untungnya masih ada shaf kosong untuk kami di sebelah kanan. Namun saat kami ingin menggelar sajadah, kami shock dengan cekungan pada terpal. Pas gue injak, ternyata satu baris paving block ga ada, berlubang, mungkin rusak. Kita bertiga bingung, kalau kita sholat di sini pasti ga nyaman, tapi kalau kita balik pulang udah terlanjur, malu diliatin jamaah yang lain. Akhirnya mau ga mau kita sholat di situ.

Sebelum mulai rakaat pertama sholat tarawih, gue mengatur posisi kaki gue agar di belakang lubang. Ketika sujud, dengkul gue pas berada di lubang. Agak sakit sih, tapi masih bisa gue tahan. Namun saat duduk diantara dua sujud, gue mulai merasakan siksaan paving block ini. Ya kalian bayangin aja, paving block kan keras, retakan ujungnya yang tajam ini bertemu dengan tulang kering gue, dan gue harus menahan itu hingga 11 rakaat! Nyeri banget sumpah! Milda saja, saat bangun dari rakaat pertama, dia hampir jatuh gara-gara lubang itu. Gue nyaris aja pengen ketawa, bisa batal sholat gue. Gue tahan-tahan deh. Pokoknya tiap selesai salam, kita bertiga langsung pada ngelus-ngelus kaki kita yang kesakitan. Gue bisa merasakan dengkul gue terkikis, jadi cekung gara-gara batu tajam. Entahlah hari itu sholat gue diterima apa engga.

Tapi diantara kita bertiga, Vania lah yang paling kesakitan. Kalau gue dan milda, paling dengkul dan tulang kering kita doang yang sakit. Sedangkan Vania, tidak hanya dengkul dan tulang kering, tapi pantat dan telapak kaki juga. Itu karena saat dia duduk ada batu yang mengganjal telapak kaki dan pantatnya. Ga kebayang sakitnya kayak gimana. Ya Allah, ternyata jadi cewek sholeha cobaannya seberat ini.

Kita pun mikir, apa mungkin ini hukuman buat kita karena kita ga sholat tarawih di mafaza sehabis bukber gratis di sana? Tapi kan kita baru pertama kali bukber di sana. Ya Allah maafin kami. Besok-besok kami sholat tarawih di mafaza deh.

Begitulah cerita Ramadhan gue bersama teman-teman gue. Bagaiman cerita Ramadhan kalian? Semoga seru dan mendapat hikmah ya. Selamat dan semangat berpuasa.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!