SYNTHETIC LIFE



Oleh : Nurfaqih Ilham

Setiap pagi hari saat mentari menampakkan wajahnya, memperlihatkan sinarnya yang begitu lembut, manusia membuka matanya dari istirahat malam. Tapi perasaan yang gue rasakan sama dari setiap pagi sebelumnya adalah rasa kesepian. Ketika membuka mata gue kesepian, ketika menutup mata gue kesepian. Berharap setiap pagi saat terbangun dari tempat tidru gue udah kagak jomblo lagi. Tapi karena seiringnya waktu, gue sadari bahwa hal itu angan yang terlalu jauh.


Jika ketika kita melihat kehidupan di sekitar kita, saat membuka timeline twitter, halaman beranda facebook, status-status BBM, LINE dan aplikasi jejaring sosial lainnya, lo bisa lihat hal-hal yang membuat jomblo sedih. Seperti memberi ucapan selamat pagi, selamat malam, selamat menempuh hidup baru, selamat balikan lagi sama mantan, dan selamat-selamat lainnya. Para jomblo yang sudah muak akan pergi setiap pagi ke mini market terdekat untuk mendapatkan salam dari kasirnya, walau yang memberi salam mempunyai gender yang sama. Padahal masuk mini market hanya untuk beli air mineral satu botol dengan uang pas-pasan.
Hal lainnya yang membuat jomblo sedih, tapi membuat gue heran adalah fitur jejaring sosial yang berupa pencantuman status apakah dia lagi jomblo, berpacaran, menikah atau tidak jelas hubungannya.  Ada yang nulis nama pacarnya di bio, ada yang setiap menit update status “sayang kamu selamanya.” Tapi besoknya putus, ada. Dan hal yang membuat gue heran adalah: apa mereka gak ada kerjaan sampai hampir beberapa menit update melalui smartphone-nya. Gue lebih gada kerjaan, ngeliatin mereka yang update status hampir setiap menit. Sebenarnya ada apa dengan generasi sekarang? Bahasa mereka pun mulai beragam, ada yang menulis sebuah kata dengan berbagai macam ejaan, seperti “sayang” menjadi “sayank” atau “cayank” ada juga yang dari planet sebelah nulisnya “caiiank”.
Ketika akan tidur, pegang handphone. Saat bangun pagi, pegang handphone. Saat waktu senggang, pegang handphone. Saat ujian, pegang handphone. Saat pegang handphone, yang lainnya lupa dipegang, entah itu lupa pegang kewajiban atau lingkungan sosial di sekitar. Gue sering kali menjumpai beberapa teman gue yang balik lagi kerumahnya, saat jam kuliah akan segera dimulai demi mengambil handphone-nya yang ketinggalan. “Bro, kayaknya gue harus balik lagi deh.” Kata teman gue tiba-tiba datang sambil menepuk pundak.
“Emang kenapa bro?”
“Ada yang ketinggalan.”
“Apa? Buku pelajaran? Dompet? Atau kenangan masa lalu bersama mantan?”
“Ah lo lebay, handphone gue ketinggalan.”
“Tapi kan jam kuliah bentar lagi mulai, sedangkan rumah lo jauh.”
“Gak apa, gue tanpa handphone bagai burung yang tak bisa terbang.”
“Berarti sekarang lo jadi penguin?”
“Ah, udah gue balik dulu.”
“Bentar, jadi siapa yang lebay?” Pertanyaan terakhir gue yang tidak ia jawab sampai sekarang. Tapi hal ini menjadi serius dimana anak muda jaman sekarang lebih memilih ketinggalan buku pelajaran, dompet, bahkan jam kuliah daripada ketinggalan handphone. Kehidupan ini seakan berubah saat smartphone menyerang kita. Apa sekarang kalian merasa siapa yang lebih smart dan siapa yang menjadi bodoh? Perangkat atau umat?
Tidak semua revolusi menuju kearah yang lebih baik. Mungkin atmosfir akan tetap terjaga dan bumi kita akan tetap sejuk jika tidak ditemukannya kendaraan bermotor. Mungkin kita akan bisa bernafas lebih segar lagi jika sejak awal membangun pemukiman tidak harus menebangi pohon. Mungkin generasi sekarang bisa menjadi orang-orang sukses dan berpotensi mengubah dunia kearah yang lebih baik jika tidak ditemukannya sosial media bahkan gadget. Sekarang hidup kita ini terasa sintetis, tiruan. Seakan tanpa internet kita tidak bisa bernafas, padahal pepohonan yang menghasilkan oksigen. Seakan tanpa gadget kita tidak punya kehidupan, padahal keluarga dan temanmu selalu menunggu diajak untuk berbincang. Hal ini sudah terlanjur merasuk ke diri kita, dan sangat sulit untuk menghindarinya. Mungkin ada orang di balik semua era ini dan mengatakan “Welcome to Synthetic Life” berharap kita tidak akan pernah sadar dari semua syndrome ini.

Komentar

share!