SIA


Karya: Just Anny


a song fiction by http://www.wattpad.com/user/just-anny (flash fiction mode)
[song title: A Thousand Years by Christina Perri]


I have died every day waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more
--


Dear Digara Mahendra,
 
Aku ingin menjadi hijaunya dedaunan di hutan luas
Tempatmu lari dari penat mencari kedamaian
Aku ingin menjadi birunya air di laut lepas
Tempatmu menghilangkan lelah mencari ketenangan
Tapi, pada akhirnya aku hanya ingin menjadi aku
Tempatmu datang untuk alasan apapun
--
Gadis berumur sembilan belas tahun itu tersenyum kecil seusai menulisi kertas berwarna merah muda dengan beberapa bait kalimat puitis. “Kode 999.” Lea bergumam kecil saat menuliskan ucapannya pada balik kertas.
--
Diga, ini perjuanganku yang ke-999. Itu artinya hampir genap seribu hari aku menyukaimu sendirian. Kamu dengan tangan yang selalu ingin aku genggam. Kamu dengan punggung yang sulit aku gapai. Jangan kira aku akan nyerah. Aku masih punya cukup umur untuk menyukaimu, bahkan untuk seribu tahun lagi.

Leana Putri
--
Diga, begitulah Lea memanggilnya. Bukan Lea namanya saat satu hari miliknya hilang tanpa memikirkan Diga. Bukan Lea namanya saat satu hari waktunya habis tanpa ingat akan Diga. Diga, Diga, Diga, dan Diga. Seolah prioritas lain itu nomor sekian, selalu ada Diga dalam benak Lea.

Kalau ada yang ingin tahu apa warna kesukaan Diga, tanya saja Lea. Kalau ada yang ingin tahu makanan apa yang Diga benci, tanya saja Lea. Semua orang bilang begitu. Selalu Lea yang paling tahu tentang Diga.

“Le, mau sampai kapan kamu kayak gitu terus? Hidup kamu itu kurang variasi, monoton, dan membosankan. Diga lagi, Diga lagi. ” Arin—sahabat Lea—berkomentar selepas mendudukkan dirinya di kasur kamar Lea.

“Sampai Diga balik sama aku!” Lea mendengus semangat dengan kedua tangan yang ia kepal erat. Kemudian ia tersenyum dengan mantap.

Arin hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan sahabatnya itu.

Lea membuka laci meja belajarnya. Di sana terdapat banyak sekali serpihan bunga yang sudah mengering. Lea menatapnya dengan getir. Lalu, dirinya beralih ke kardus di samping meja belajar. Ada banyak sekali pernak-pernik lucu di sana. Semua serba merah muda.

Lea menarik satu boneka kelinci putih dengan warna merah muda di bagian perutnya. Lalu beralih ke kertas putih kecil yang digantungkan pada telinga boneka itu.

--
Kode 1001. Aku tunggu kamu sore ini di depan gerbang sekolah kita.
PS: Kalau gak dateng lagi, aku bakal nguntitin kamu besok seharian.
--

Lea tersenyum getir. “Ini hadiah terakhir dari Diga, Rin. Bertepatan dengan hari dimana dia meninggal kecelakaan. Hari dimana bahkan aku masih jadi orang bodoh dengan gengsi tinggi yang gak pernah ngeliat sebesar apapun dia berjuang. Hari dimana aku menyadari pentingnya perjuangan dia.”

Arin hanya bisa tersenyum prihatin. “Le, meski sekarang kamu merasa ini giliran kamu yang berjuang buat dia, semuanya percuma. Dia gak akan dateng lagi.”

Lea tersenyum membenarkan. "Seribu hari Diga berjuang untukku, lalu seribu hari juga aku berjuang untuknya. Tapi pada akhirnya kita semua tahu. Perjuangan kita berakhir sia-sia."
--
I have died every day waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more
--

END

copyright © 2015 by just-anny
Cerita ini terinspirasi dari tulisan Origamiara dan Serenade Rindu (Diga) yang ditulisoleh penulis yang sama pula.

Komentar

share!