Shira | Part 2


Karya: Resti Dwi Harini

Aku pun masuk ruang pak Usman. Disana aku meihat Ana sedang dimarahi oleh pak Usman. Matanya yang melotot dan pipinya yang merah padam. Pak Usman memang guru olahraga yang galak, ya wajar saja dia guru pembimbing club karate di sekolah kami. Segeralah aku menghampiri mereka.” Dasar kalo memang kamu tidak sanggup bertanding tidak sepantasnya menyuruh orang lain untuk bertanding!!!


Ana hanya menunduk dan tidak berbicara apa-apa. “maaf pak, ini map titipan dari club karate Putri 24.”kataku gugup.“Simpan saja disana.”katanya terdengar kesal. Aku pun melihat ke arah Ana. Ana pun tersenyum padaku. “dasar gila”.kataku bergumam dalam hati.

Aku berjalan dengan sepatu butut ku, dan melihat jalan kedepan. Tidak habis pikir sebenernya ada apa dengan Ana, kenapa tiba-tiba dia tidak ingin bertanding? Aku pun membuka tasku dan mengeluarkan beng-beng cemilan favoritku. Aku pun terus berjalan menuju taman dekat kota. Aku duduk di kursi taman, disana banyak sekali anak-anak sma seperti diriku ya, tapi ada 1 perbedaan sih mereka tidak sendiri mereka berpasangan. Dengan beng-beng yang tersisa ku amati mereka, ya seperti mononton film romance yang berjudul Kisah Cinta di Taman Kota. Aku sempat berfikir kapan ya aku mempunyai pacar seperti mereka. Sebenarnya dulu waktu smp aku pernah pacaran dengan cowok anak tukang bunga dekat pesantren. Entah kenapa kesan pertama yang kulihat adalah cara dia berbicara dengan pelanggan. Ramah dan senyuman renyah nya itu. Waktu itu  aku dengan Risa temanku mencari toko bunga di dekat perumahan Green House. Tidak sengaja Risa menemukan toko bunga itu. Kami pun membeli bunga dan menjadi akrab karena kami sering membeli bunga disitu. Ya, dan ternyata cowok itu menyatakan perasaannya padaku namanya Izar.

Aku pun terbangun dari lamunanku, aku pun mengamati laki-laki yang diujung sana.  Dia tertawa dan mencubit pipi perempuan itu.“sepertinya aku pernah melihatnya” kataku yakin. Ternyata benar itu Derian si cowok jutek tadi. Aku pun terkejut dan memperhatikannya dari kejauhan.  Disana, terlihat perempuan itu tersenyum manis dengan kursi rodanya. Sepertinya perempuan itu lebih muda setahun dariku.

Malam yang disertai hujan membuat suasana menjadi semakin sunyi. Aku masih saja memikirkan lelaki dengan sifatnya yang dingin sedingin es. "Lantas ada apa, dengan Riana yang tiba-tiba tidak ingin bertanding. Padahal, bukanya karate itu olahraga favoritnya.” kataku bertanya-tanya. Aku pun membuka jendela yang tidak begitu besar, lalu aku pun melihat nenek yang sedang menyiram tanaman kesayangannya. Setiap pagi nenek selalu berbicara dengan tanaman, kadang aku merasa kasian pada nenek mungkin ia kesepian karena kakek sudah meninggal. Angin bertiup kencang memasuki kamarku yang tidak begitu besar. Kamarku adalah istanaku, mungkin aku tipe orang yang senang berdiam diri di kamar makanya aku merasa senang dengan kamarku yang tidak begitu besar ini. Mungkin karena banyak kenangan kakek juga. Aku pun mengambil selembar kertas dan menggambarkan bintang yang indah mala mini dan tidak lupa menuliskan pesan untuknya” terima kasih bintang, sudah menerangi kamarku dengan sinar kecilmu.” Segeralah ku beranjak ke tempat tidur kesayanganku.

        Pagi ini lelaki dengan seragam putih abu bergegas keluar dengan tasnya yang tidak  begitu besar dan gelas serta isinya. Dia menuruni tangga dan menghampiri seorang gadis kecil yang sedang duduk menghadap ke jendela. “ini airnya”. Katanya tersenyum.” Terima kasih, hari ini kakak semangat sekali, ada apa?” katanya heran.  

Dia pun tersenyum dan mengusap kepala anak perempuan itu. “ kakak seneng kamu sekarang udah baikan, gitu dong minum terus obatnya kan jadi cantik.”katanya dengan senyum jailnya.” Dih, kakak ini gembal sekali hari ini. Jangan bohong ya awas !”katanya sambil mengangkat dan mengepalkan tangan tinggi-tinggi. “udah ya, kakak sekolah dulu awas ya anak kecil.”katanya sambil meninggalkan peri kecil itu. Dengan penuh rasa sesak di dada laki-laki tidak tau lagi harus berbuat apa untuk membuat adik kesayangan tersenyum seperti tadi. Rasanya moment seperti itu sangatlah jarang. Adikku Jani menderita kanker darah dan sudah masuk ke tahap yang berbahaya lebih tepatnya lagi stadium 3 akut. Aku tinggal dengan bibiku, orangtuaku pergi dan lebih memilih bisnis. Katanya untuk mempersiapkan kebutuhan hidup kita di masa depan mereka harus bekerja keras dari sekarang. Aku hanya berfikir, orangtua macam apa yang tega meninggalkan anaknya yang sedang sakit seperti ini. Kadang aku merasa sedih dengan Jani,  yang dalam keadaan seperti itu orangtuanya tidak bisa menemani disaat-saat yang sulit.

Aku pun segera turun dari angkot dan menuju gerbang sekolah. aku terus berjalan menuju kelas tanpa mempedulikan keadaan sekolah yang ramai di pagi hari, sesampainya menemukan pintu yang bertulisan ips-2  aku masuk dan menyimpan tasku yang sedikit berat.

Komentar

share!