r o m a n p i c i s a n


Karya: Just-Anny

Aku mau minta ganti rugi. Karena menyayanginya setelah dihitung-hitung rasanya sangat amat memakan waktu. Dalam kurun waktu empat tahun, aku memujanya. Memandanginya adalah candu. Memikirkannya seperti menikmati kudapan renyah sehari-hari.

Kalau satu tahun itu dipatok ada 365 hari. Kemudian satu hari itu ada 24 jam. Lalu dalam satu jam itu ada enampuluh menit. Dimana satu menit itu ada enampuluh detik. Terus, ada berapa banyak detik yang aku punya hanya untuk seorang dia? Jangan lupa kalikan empat karena aku melakukannya selama empat tahun.
Kalau waktuku yang lalu bisa aku tabung, kemudian bisa dikonversikan ke dalam mata uang dollar, aku sudah jadi jutawan. Itu waktu yang aku gunakan hanya untuk memikirkan dia. Belum dihitung dengan berapa lama dalam sehari aku melihatnya dari jauh.
Sudah diputuskan. Aku harus minta ganti rugi.
Tapi hey, bukannya aku menyukainya tanpa bayaran? Lantas mau bagaimana lagi. Semua yang dilakukannya tetap saja selalu terlalu menyilaukan. Melihat dia tersenyum, hati tak karuan. Melihatnya tertawa, aku mau pingsan. Ah, aku ini. Selalu berlebihan ketika sudah berhubungan dengan dia.
Kalau aku melihat dia, bawaannya ingin merayu. Merangkai jutaan kata puitis hanya untuk menggambarkan bagaimana hati ini menari karena dia. Sibuk berkata-kata seolah menyembunyikan jutaan kupu-kupu yang terbang di dalam perut.
Akhir-akhir ini aku semakin berubah. Aku seperti menjadi salah satu tokoh dalam novel roman picisan. Dan hal yang patut menjadi sorotan adalah, itu semua hanya karena aku jatuh hati. Jatuh, sejatuh-jatuhnya.
.
.
Harus lihat bagaimana setiap dia di kampus. Kemeja hitam lengan digulung, celana bahan jeans gelap, sepatu warna senada dengan kemeja. Baju itu yang sering buatku iri. Seharian menemani dia. Saat dia belajar di kelas, baju itu yang bersamanya. Saat dia ujian di siang hari, baju itu juga yang mengikutinya.
Aku benar-benar menyukainya. Rasanya sudah seperti lebih dari sekedar candu. Sudah sampai tahap menggilai. Memujanya dari hari ke hari. Selalu dia lagi, dia lagi.
Saat suaranya terdengar dari jarak lima meter, aku sampai berhenti mengerjakan tugas. Degupan hati karenanya sudah menyapaku dari jauh mula. Seolah di kepala ada antena yang sinyalnya bisa menguat saat ia mulai mendekat.
Saat dia sudah datang dan baru berjarak tiga meter, wanginya langsung menyibak hidungku. Aku ingat setiap senti dari wangi yang selalu menyelimuti raganya itu. Aku ingat setiap hal tentangnya. Setiap inci dari dirinya. Aku memejam matapun, aku pasti selalu tahu kapan dia datang.
Lama-lama ini berbahaya. Dia lebih-lebih dari sekedar candu. Dia bisa berubah jadi obsesi. Obsesiku tentangnya. Bukan hanya sekedar ingin memiliki, tapi juga ingin selalu didekatnya dari hari ke hari. Bersamanya selalu.
Aku, benar-benar telah jatuh.
.
.
Aku akan minta ganti rugi. Bukan hanya untuk waktu yang aku genggam hanya untuk memikirkannya. Tapi untuk semua obsesi yang lama-kelamaan semakin mengikat diriku. Aku harus minta ganti rugi. Untuk setiap detik, setiap menit, dan setiap jamku yang kuhabiskan untuk memujanya.
“Kania sayang, kalau suatu hari nanti setelah kita lulus aku melamar kamu, kamu mau?
Dan untuk setiap ganti rugi yang akan aku ajukan itu, tidak ada alasan untuk berkata tidak karena pertanyaannya saat ini. Aku, akhirnya tersenyum mengangguk.
Canduku, sayangku, tetaplah kamu menjadi titik yang selalu ingin aku puja. Tetaplah menjadi alasanku untuk meminta ganti rugi itu.

END

copyright © 2015 by just-anny
cerita ini juga dipublikasikan di http://www.wattpad.com/story/31217285-serenade-rindu oleh penulis yang sama.

Komentar

share!