d i g a


Karya: Just-Anny

Namanya Diga. Pengucapannya biasa, begitupun dengan penulisannya. D-i-g-a. Panggil saja begitu.
Baginya hidup itu menyenangkan. Tak jarang ia selalu mengumbar senyuman manisnya kapanpun saat ia mau. Saat menyapa seisi ruangan ini. Saat berbincang dengan rekan sepermainannya. Atau saat ia sedang kumat jailnya. Mengerjai teman gadisnya sampai membuat gadis itu kesal.
Diga selalu tertawa. Susah senang yang penting tersenyum riang.


Ingat kemarin saat nilai ujiannya dapat nilai D. Yang lain mengeluh. Mengaduh kesal seperti orang yang  ingin marah-marah tapi bingung marah pada siapa. Tapi Diga, malah membuka laptopnya kemudian baca komik online. Sayang kalau hidup tidak dinikmati. Begitu menurutnya.
Diga hanya orang biasa. Bukan tipe pria cool yang banyak digandrungi para gadis.
Kalau ada yang suka bikin kesal perempuan di kelas, jawabannya Diga. Kalau ada yang suka banyak komentar tentang hari ini kamu pake baju apa, kemarin pake baju apa, jawabannya Diga. Iya, Diga secerewet itu. Menurutnya dia perhatian. Tapi ternyata, di kamus Diga perhatian dan kepo itu beda tipis.
Padahal, Diga seperti orang tidak pedulian. Terlebih untuk hal yang berbau dirinya sendiri.
Setiap ke kampus kaos oblong berwarna polos menempel di badannya. Hari senin warna merah, hari selasa warna hitam. Biasanya begitu.  Jaket abu tua setia menemaninya. Meski lusuh dan warnanya sudah banyak memudar. Tapi ia seolah enggan berpindah hati.
.
.
Ada hal yang tak akan disangka-sangka orang tentang Diga. Satupun, tak akan ada yang pernah menyangka. Bagaimana ketika seorang Diga melihat seorang Rena. Diga, akan menjadi tidak seperti Diga. Diga berbeda. Diga yang lain.
Lihat saja saat Rena tersenyum kecil. Diga seolah lupa sedang bertapak di bumi. Dia akan melayang dan melambung tinggi ke awan. Bahkan terkadang lupa untuk kembali. Terus melayang, melayang, melayang, dan melayang.
Mata Diga seolah selalu terpaku pada satu poros yang sama setiap kali seorang Rena berlalu di hadapannya. Memandanginya, membayangkan berjuta-juta mimpi untuk bersama.
Dan itu tidak ada yang tahu.
Tidak para perkumpulan laki-laki itu, tidak perkumpulan gadis-gadis itu. Semua seolah sudah mengingat bahwa Diga hanyalah Diga. Seorang lelaki biasa yang gemar tertawa. Dengan segala keusilan dan leluconnya.
Diga memang hanyalah Diga. Sendirian memandangi satu wanita yang sama untuk berjam-jam. Hanya puas dengan menyapa biasa. Hanya puas dengan obrolan biasa. Tanpa ada niatan sedikitpun untuk mendekati lebih jauh.
Diga berbahagia walau hanya sebatas penikmat bayangan yang sama sekali tak pernah ia miliki keberadaannya. Diga berbahagia walau hanya sebatas penikmat rindu. Bahagia walau hanya terus bermimpi.
Dan ketika aku melihat seorang Diga, aku seolah bercermin melihat bayangan diri sendiri.
Aku yang selalu tahu semua tentangnya, selalu ingat semua gerak-geriknya, berbahagia walau hanya sebatas penikmat bayangan yang sama sekali tak pernah aku miliki keberadaannya. Aku, hanya diam sendiri memandangi dia. Penikmat rindu. Seorang Diga. Tanpa ada yang tahu.

END

copyright © 2015 by just-anny
cerita ini juga dipublikasikan di http://www.wattpad.com/story/31217285-serenade-rindu oleh penulis yang sama.

Komentar

share!