Shira | Part 1

Karya: Resti Dwi H

Malam itu udara sangat dingin. Aku dan biskuit di tanganku menjadi saksi bahwa malam ini adalah malam 100 hari peringatan meninggalnya kakek.

Dengan berat hati, kututup buku hitam yang berisi banyak hal tentang kakek.  Aku pun meneguk air teh yang mulai dingin. Segeralah aku berjalan menuju tempat tidur. “Hem.. hangatnya.” kataku dalam hati.Jam menunjukan pukul 11 malam, semua irama itu telah terhenti dan membawaku kedalam mimpi yang tak bisa ku raih dengan kedua tanganku. Malam ini begitu dingin dan terasa sangat berbeda.


Aku pun segera membenarkan ranselku dan segera bergegas untuk upacara hari ini. Namaku Shira, umurku 17 tahun. Aku baru saja menapaki kelas 2 SMA. Bisa dibilang aku ini cewek aneh yang suka berolah raga. Hampir semua bidang olahraga aku ikuti. Anehnya? Hm… orang-orang selalu bilang bahwa aku punya dunia sendiri, Kalo udah megang handphone terlebih lagi kalo udah megang laptop dan bermain game, Lupa diri katanya. Bagiku itu sangat wajar, Ya lumayanlah untuk menghilangkan rasa penat di kepala.

 Aku tinggal dengan nenekku di jalan Kenaribarat nomor 24 Bandung. Aku tinggal dengan mereka sudah begitu lama, Ya kira-kira sudah sekitar 8 tahun. Waktu itu aku masih sekolah dasar,  Ibu dan ayah mengantarkanku ke rumah nenek karena mereka sangatlah sibuk. Kebetulan ibu satu kantor dengan ayah, Jadi mereka sering berbisnis bersama.

Jalan begitu ramai. Ya, ini adalah hari senin semua pengguna jalan pasti berlomba-lomba mencari celah untuk bisa menerobos jalan di depan. Setelah 45 menit aku sampai di sekolah tercinta, yaitu SMA Putri 38. Yah, sudah kuduga aku terlambat selama 10 menit. Akhirnya guru piket pun menyuruhku mendatangi ketua Osis  untuk di hukum.  Setelah sampai di ruang Osis, Kak Ferry datang menghampiriku. Kak Ferry adalah ketua Osis disekolah, Dia orang yang menyenangkan. Dia tidak pernah menyombongkan jabatannya. Semenjak dia menjadi ketua Osis, sekolah ini berubah drastis. Tadinya sekolahku hanya menerima siswa buangan saja,Tapi sekarang semua berubah ketika kak Ferry menjadi ketua Osis. “Kau terlambat lagi”. Katanya sambil tersenyum.  Aku hanya mengangguk-anggukan kepala. Akhirnya  ka Ferry pun memberikanku sanksi.

Aku pun merapihkan seragamku,  Lalu berlari menuju kelas. Di depan sana terlihat Riana temanku sedang mondar-mandir, Sepertinya dia sedang panik. Aku pun menghampirinya. ”Kenapa Na?”Kataku bertanya. ”Ra, gue lupa kalo hari ini ada festival olahraga dan gue masuk daftar untuk mengikuti lomba karate antar sekolah.” katanya panik sambil berjalan menuju kelas. ”Yaudah bilang aja kalo lo gabisa ikut.” kataku sambil menyimpan tas di meja. “Ra, lo gantiin gue ya?” kata Riana memohon. ”Loh, ko jadi gue sih? Ogah ah kagak-kagak.”kataku cepat-cepat menolak.

“Jadi, gue harus lawan SMA Putri 24? Yang selalu menang 3 kali berturut-turut? Lo gila apa?” kataku panjang lebar kepada Riana.” Ya, lo kan jagoan jadi coba lawan dulu kenapa sih?” kata Riana santai. Aku  pun berfikir sejenak,mendengar kata-kata  Ana saja aku merasa merinding. “Tapi, gue kan mengeluti olahraga tinju kalo tiba-tiba dia nyerang terus gue ngeluarin jurus tinju gue gimana? Ah gue gamau.” Kataku sambil menyodorkan baju seragam karatenya. Riana hanya mengangkat bahu.

Lapangan luas dan penuh dengan suara gemuruh teriakan para suporter, ya tak jauh berbeda dengan ring tinju yang biasa kulakukan untuk bertarung. Lalu aku pun melangkah memasuki lapangan. Di sana semua sekolah berkumpul untuk mendukung timnya masing-masing. Di kursi penonton kulihat Riana memegang spanduk yang bertulis” Shira go fight win”. “Sialan” kataku ketus.

Nomor urut menunjukkan nomor 6. Aku melihat nomorku, “nomor 9”.kataku dalam hati. Melihat pertandingan ini meruntuhkan mental batuku. Ya, mungkin

Aku sama sekali tidak mempunyai basic karate, “Ide Riana memang gila”. kataku dalam hati. Karena melamun, tak terasa nomor menunjukkan nomor 8. Riana sibuk dengan spanduk dan teman-teman lainnya. Ini semakin membuatku kacau.

Akhirnya giliranku turun ke lapang. “Ya Tuhaaaaan… jika ada apa-apa denganku salahkan saja Riana.” kataku dalam hati. Aku pun menyiapkan kuda-kuda karateku. Dengan penuh rasa cemas, kuangkat wajah panikku. Tiba-tiba hey… baru saja ku melangkah, badanku sudah terbaring di atas matras. ”Apa yang terjadi?” Kataku dalam hati.  Lawan di depanku melihatku dengan tajam. Pandanganku buram, Aku pun bangun dan menghajarnya dengan jurus tinjuku, haiiiit…bug..bug bug !!! Para suporter heran dan seisi lapang pun hening.

Wasit hanya diam menganga dengan apa yang dia lihat. Ini baru pertama kali terjadi pikirnya. Lawan pun tergeletak dan tak sadarkan diri. Aku pun sadar bahwa ini bukan pertandingan tinju melainkan pertandingan karate. Aku pun melihat ke arah Riana. Riana hanya terdiam dengan mulutnya yang menganga. ”Bagaimana ini?” kataku pada Ana. Ana hanya diam dan tak bicara. Akhirnya pertandingan pun di hentikan.  Aku pun melepas sabuk hitamku dan melemparkannya ke lantai. Aku berdiri dan menyenderkan kepala pada tiang kelas, rasanya campur aduk malu, marah, kesal apa yang harus kulakukan.

Riana hanya tertawa melihatku kebingungan. Bayangkan saja,  aku memukulnya dengan jurus tinjuku. Bahkan bukan orang yang kukenal. Dan ini bisa jadi hal yang memalukan di sepanjang hidupku. “Na, lo gila ya? Gue tau bakal kaya gini, pokonya ini salah lo.” kataku protes. “Iya-iya” kata Riana cengar-cengir.

Tiba-tiba seseorang datang dan berhenti di belakang Ana. Aku diam dan mataku tertuju padanya. Ana pun berbalik, “Sepertinya kau melukai temanku” katanya datar. “Kau Ana kan? Ikut aku” katanya datar dan pergi. “Tunggu tapi, a..aku bukan Ana” kataku terbata-bata. Dia pun berbalik dengan tatapan nya yang tajam. ”Jadi, kau merasa tidak bersalah?” katanya dingin.

Aku pun mengikutinya menuju ruang club karate di sekolahku. Ketika sampai di depan pintu, laki-laki itu berbalik dan membuka kan pintu untukku. Suasana disana ramai dan ketika aku masuk ke ruangan itu semua pandangan orang-orang di ruangan itu tertuju padaku. ”Loh, kok jadi hening?” kataku dalam hati. Laki-laki itu pun menunjuk ke arah salah satu dari mereka. Ya, lawan bertarungku tadi. Aku pun menghampirinya.

Perempuan itu mengulurkan tangannya. “Desi” katanya. “Oh Desi, maaf ya sebenarnya aku tadi tidak tau cara berkuda-kuda yang benar. Itu reflek.” kataku beralasan. Dia menatapku dengan tajam dan tersenyum. “Ya, tidak apa-apa rasanya kau memang benar-benar jujur.” kata Desi tersenyum.  Suasana disana berubah ketika aku menceritakan tentang perjanjian ku dengan Ana soal pertandingan ini. Menurutku ini ide gila tapi, entah kenapa menurut mereka ini hal yang sangat lucu. Aku melirik ke arah laki-laki jutek itu. Dia pun memicingkan matanya. sialan kataku kesal.Dia mengulurkan tangannya. “Derian.”katanya. Aku pun segera mengulurkan tanganku.” Shira”.kataku sambil tersenyum. Setelah itu aku keluar dengan membawa map hijau untuk diberikan kepada pelatih karate sekolahku.

Aku berjalan di lorong sekolah mencari pak Usman pelatih karate sekolah kami. Hanya saja semenjak ku keluar dari ruang club tadi rasanya ada yang lain, aku selalu melihat bayang-bayang Derian si ketua club karate SMA Putri 24. Memang katanya sma kami dan sma putri 24 selalu lolos ke final setiap pertandingan.

Bersambung ke: Shira | Part 2

Komentar

share!