Janji Makan Soto


Karya: Yuri Meiska O

Suatu hari aku duduk di dalam bis jurusan tasikmalaya, seorang lelaki tua berpakaina rapi duduk di sampingku. Beliau bertanya “Mau kemana nak?” dengan penuh keramah tamahanya. “saya mau pulang ke tasikmalaya pak. Bapak sendiri?” tanyaku ramah kembali. “saya hanya ingin menemani anak saya dan mengajaknya makan makanan terenak yang dulu saya janjikan di kota tasik.” Beliau pun menceritakan sebuah soto yang cukup terkenal di tasikmalaya, 1 porsinya yang berharga 6000 rupiah dengan jumlah terbatas selalu jadi rebutan para penggemarnya setiap malam. Tertarik dengan cerita dari bapak tersebut aku jadi penasaran ingin mencicipinya, aku pun menanyakan lokasi serta segala sesuatu tentang soto tersebut. Penuh semangat belia menceritakanya kembali dengan rinci bahkan hingga cita rasa yang terdapat pada soto itu yang sepertinya sudah sangat melekat di lidahnya.


Bis pun mulai berangkat, sang kondektur bis mulai berjalan menagih uang karcis. Namun bapak tersebut terlihat resah sambil mengodok-ngodok sakunya. “ada apa pa?” tanya ku penasaran. “dompet saya hilang nak. Aduh bagaimana ini?” jawabnya dengan penuh kecemasan karna bis sudah jauh berjalan tidak mungkin untuk menurunkanya di tengah jalan, sungguh tidak tega. Saya pun mengeluarkan 2 lembar uang 10.000 untuk membayar 2 karcis. “pak, ini untuk berdua” aku serahkan uang itu pada kondektur bis. “terimakasih nak. Sebagai gantinya saya akan antar kamu ke tempat soto tersebut” “terimakasih pak” balas ku.

Sesampainya di pool bis tasikmalaya, aku dan beliau turun. Kemudian terdengarlah Adzan berkumandang. “nak mari kita shalat” tegur bapak itu. Kami pun mengambil air wudhu dan shalat berjamaah. Bapak itu menjadi imamku dengan pelafalan ayat suci Al-Quran yang fasih dan sepertinya tidak asing di telingaku. Seusai shalat, bapak itu menghampiriku. “nak lihat warung soto di sebrang sana? Di sanalah soto yang enak itu” sebuah warung dadakan berdiri di sebarang jalan. Mengingat aku belum makan siang aku berniat makan malam disana bersama bapak itu, karna entah kenapa aku merasa dekat dengan bapak itu. Rasanya masih lama waktu yang ingin ku habiskan bersamanya.

Kami pun menyebrang dan duduk di warung tersebut. Aku mengangkat tanganku dan memesan 2 porsi soto untukku dan beliau. Sambil menunggu, bapak itu kembali bercerita tentang pengalaman hidupnya semasa muda yang sangat menarik. Saat soto itu tiba, kami melahapnya dengan nikmat. Benar saja kata bapak tersebut soto itu sangat nikmat, citarasa sangat menempel di lidahku. Aku berkata sambil menikmati soto tersebut “soto ini enak sekali, aku berjanji suatu hari akan aku ajak anak dan istriku makan di sini” setelah mendengar ucapanku bapak itu menangis. “saya doakan itu terwujud nak. Terimakasih sudah menemaniku makan di warung ini, sekarang tujuanku sudah selesai. Saya harus kembali, assalamualaikum To” beliau pun pergi meninggalkan kursinya dan keluar warung. Aku terkejut saat mendapati ekspresinya yang tiba-tiba aku simpan uang bayaranya di atas meja dan pergi keluar mengejar bapak itu. Ternyata sudah tidak ada. Wajahnya selalu terbayang di benakku “rasanya bapak itu tidaklah asing. Sepertinya aku pernah bertemu denganya sebelumnya. Suaranya juga tidaklah asing di telingaku. Aku yakin!” ujarku dalam hati sambil berjalan pulang.

Sesampainya dirumah, aku di sambut hangat oleh anak dan istriku. Senyum mereka mengingatkanku kembali pada bapa itu dan janjiku untuk mengajak istri dan anakku mencicipi soto tersebut. Ku simpan tas ku di meja tamu dan menatap gambar-gambar yang ter pajang di dinding. Foto keluarga besarku. 1 foto yang sedikit usang kecoklatan ada pada paling atas. Kuperhatikan baik-baik ternyata pria di foto itu sama seperti bapak yang aku temui tadi. Teringat di kepalaku janji ayahandaku untuk mentraktirku makan soto yang paling enak di tasikmalaya yang pernah beliau ceritakan padaku saat masih kecil. Sebelum beliau wafat malam itu. Lututku lemas dan aku terduduk lemas, menyadari betapa rindunya aku pada sosok hangat itu.

Komentar

share!