Good Luckly Angel | Part 2

Karya: Yuri Meiska

Besok harinya di sekolah terdengar kabar burung akan hadirnya anak baru di kelas. Semua histeris dan cepat-cepat ingin segera tahu. Saat jam pelajaran kedua, seorang murid cowo masuk ke kelasku semua mulai berbisik-bisik membicarakan si anak baru. Aku belum melihatnya aku sedang asyik membuka laptopku sambil menonton video klip boy band korea bersama yuri sahabatku yang duduk sebangku denganku. Namun tiba-tiba tangan yuri mencubit tanganku.”aww, naon sih?” ujarku ke sakitan. Melihat tatapan yuri lurus pada anak baru itu membuatku jadi penasaran dan akhirnya aku melihat wajah si anak baru itu pun. Pantas saja yuri syok berat ternyata si anak baru itu adalah “junsu”  teriaku di tengah kelas menyapanya dengan wajah terheran-heran. “eh, yuyun” sapa junsu membalas sapaan ku yang memecah keheningan kelas saat junsu hendak memperkenalkan diri. Semua mata tertuju pada kita berdua. Junsu pun melanjutkan perkenalannya di depan kelas. Semua anak memperhatikannya dengan seksama.


“Yun, dia seumuran sama kita?” desis yuri pelan bertanya padaku.

“Aku juga gak tahu, kemarin-kemarin dia bilang “siap-siap ke suasana sekolah yang baru” Aku pikir dia mau masuk SMA” jawabku pelan sambil sedikit bercerita.
Junsu duduk di belakang. Waktu istirahat semua anak cowo menghampiri unsu dan berkenalan. Namun seluruh anak cwe menghampiriku dan menanyakan kenapa aku bisa kenal dengan junsu, dimana, kapan, ada apa dsb. Aku gak bisa menjawabnya karna ini teralu mendadak.

Esoknya junsu menghampiriku setelah berkenalan dengan anak cewe yang aku yakin mereka pasti menceritakan gossip tentang keajaiban anak yang lahir pada saat bitang jatuh. “yun, gak nyangka kita sekelas. Aku pikir kamu lebih muda dari aku.”

“Hehe.. aku juga gak nyangka aku pikir kamu udah SMA”

“O iya aku denger kamu lahir pas ada bintang jatuh ya?”

“Iya kenapa gitu?”

“Mm, gini aku ada permintaan boleh gak? Jadi gini…..”

“Mm, sorry aku lagi sibuk akhir-akhir ini jadi kayaknya aku gak bisa” ucapanku memotong ucapan junsu dengan tergesa-gesa. Karna aku takut ia meminta berjabat tangan denganku agar perasaanya tersampaikan pada orang yang dia sukai. Aku pun pergi meninggalkan dia di bangkuku. Hal itu membebani pikiranku, aku mencari yuri yang sedang pergi ke kantin. Di sana Alicia langsung memeluku dan berkata ditengah kerubunan orang-orang di sekitar kantin. “maha dewi yuyun, gak sabar deh besok aku pergi nonton aku sama dia jadi makin deket. Owh maha dewi yuyun” aku yakin banyak yang mendengarnya. Dan beberapa orang dari kelas ku bertanya pada Alicia “maha dewi yuyun?” dan Alicia pun menjawab dengan entengnya. “kalian belum tahu ya, kalau berjabat tangan dengan yuyun yang lahir pada saat muncul bintang jatuh maka perasaan kita akan tersampaikan pada orang yang kita sukai, buktinya udah ada 5 orang kok termasuk aku.. hihihi..” penjelasan Alicia tersebut menimbulkan aksi masa yang meminta berjabat tangan denganku, mengingat mereka sedang percaya pada takhayul seperti itu. Sekitar 10 orang telah berjabat tangan denganku. Untungnya aku tahu siapa yang mereka suka, sehingga aku yakin bukan junsu orangnya.

Tiba-tiba yuri datang menarik tanganku dan membawaku ke toilet. “yun, kamu gila ya? Gimana kalau salah satu dari mereka ada yang suka sama junsu!”

“Aku yakin koq aku udah tahu siapa yang mereka suka.  “

“Tapi kan junsu anak baru bisa aja ada yang langsung suka sama dia. Dari pada ngurusin masalah cinta oranglain selesain dulu masalah cinta mu sendiri dengan si junsu”

Baru kali ini pendapat yuri memberikan sedikit pencerahan pada hatiku yang kacau.

“Makasih yuri, klo gitu sekarang aku pulang duluan deh.. dah”

“Hei kamu mau kemana? Pulang masih 1 jam lagi” ujar yuri menarik tanganku, hingg aku terjatuh di toilet dan mimisan. Yuri langsung teriak histeris melihat darah dan membawaku ke UKS. Aku pun pulang lebih awal di jemput oleh kakaku.

Sore harinya aku bersi keras ingin menjaga kasir sore itu. Dan akhirnya di izinkan. Aku menunggu kedatangannya sore itu. Hari yang terasa sangat panjang. “ckit..” suara rem ban sepeda berbunyi di lanjutka dengan sapaan manis dari orang yang aku tunggu “yuyun.” “sore junsu” sapa ku kembali padanya.

“Aku dengar kamu tadi mimisan ya? Koq bisa?” junsu bertanya

“Iya, tadi aku kepeleset di kamar mandi. Untung ada yuri..”

“Owh, menurut aku sih kamu jangan teralu maksain diri ya!” ucapan penanda ke khawatiranya terasa manis sekali di dengar.

“Iya, makasih ya”

“Nih koran sorenya.. dagh” saat junsu hendak kembali ke sepedahnya setelah menyerahkan koran sore langganan ayahku. Aku gak mau ini berakhir seperti ini. Aku memanggilnya “JUNSU tunggu..” keluar aku dari meja kasir. Junsu berbalik dan kembali menghampiriku.

“Ada apa?” aku mencoba menjelaskan

“Mmm, anu .. aku ingin bilang kalau waktu itu aku bilang lagi sibuk sebenarnya aku bohong.sebenernya aku gak mau dengar apa permintaan junsu” Aku mengatakanya, apa dia akan marah. Bisikku dalam hati.

“Oh gitu!” Cuma itu yang aku dengar di berbalik dan berjalan meninggalkanku menuju sepedanya. Tangan ku langsung meraih bagian belakan bajunya, menghentikan langkahnya.

“Anu, tolong beikan tanganmu!” dengan wajah memerah aku meninta tanganya.

“Buat apa?” junsu pun berbalik dan memberikan tangan kanannya sambil bertanya keheranan namun terlihat sisa wajah kecewa pada raut mukanya. Ku jabat tangan itu dengan sungguh-sungguh namun ragu dan takut. Tak berani menatap matanya.

“Nah kalau begini sudah selesai..” dengan mencoba untuk tetap tersenyum aku melepaskan jabatan tanganku.

“Eh, apanya?” nampaknya junsu belum tahu tentang gossip yang beredar tapi masasih.

“Lho junsu belum tahu? Siapa pun yang berjabat tangan denganku maka perasaannya akan tersampaikan pada orang yang dia suka. Percayalah pada maha dewi yuyun.. hehehehe sudah 5 orang koq jaminannya”

“Hah?? Maha dewi yuyun?.” Wajah tak percaya itu membuatku sedikit tenang.

“Haha.. meskipun begitu aku adalah dewi yang tidak dapat menolong dirinya sendiri” aku sedikit mengeluh pada junsu dengan wajah yang berusaha bisa tegar.

“Maksudnya?”

“Karna tidak bisa berjabat tangan denga tangan sendiri, maka aku gak bisa menyampaikan perasaanku pada junsu. Dasar dewi tidak berguna” jelas dan makianku pada diri sendiri itu membuat wajah yang berusaha tegar itu pun akhirnya meneteska air mata. Tak berani aku menatapnya, hancur hatiku saat menyadari bahwa perasaan junsu akan tersampaikan pada orang yang dia sukai. Ingin rasanya bahwa gossip itu salah.

“Hahahaha…kamu buka dewi yang tidak berguna kok!” tangan junsu mengelus kepalaku yang tertunduk dengan wajah girang. Saat aku menatap wajahnya dengan wajah tidak mengerti ia melanjutkan ucapanya.

“Buktinya perasaanku sudah tersampaikan pada yuyun” spontan aku kaget dan benar-benar tidak percaya. Atas ucapannya tersebut. Pinggangku terasa lemas dan aku terduduk jatuh tidak percaya sambil terus mengeluarkan air mata bahagia.

“Yuyun!!” teriakanya yang kaget melihatku tiba-tiba terjatuh di depannya membuatku tersadar.

“Maaf, pinggangku rasanya lemas saking tidak percayanya” junsu membantuku berdiri. Dan berkata

“Sebenarnya waktu itu aku mau bilang 'mau gak yuyun jadi pacar aku?' tapi yuyun bilang sedang sibuk ya sudah, sebenarnya aku sedikit kecewa tapi sekarang aku sudah lega”

“Benarkah?” tanyaku menyesali kejadian siang itu dimana aku berlaku tidak sopan.
Senyumannya yang penuh keyakinan menjawab tanyaku.

Ternyata sang dewi meski tidak bisa berjabat tangan dengan tanganya sendiri namun tetap bisa menyampaikan perasaannya.
:D

Cerita ini hanya fiktif belaka apabila ada kesamaan nama atau kejadian mohon di maklumi..

Komentar

share!