Serupa


Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Wah, jadi ini rumahmu Ra? Wah, megah juga ya ... “, ujar Jeni pada Kara. Kara tersenyum sombong,

“ Iya lah, ayahku kan pejabat tinggi. Rasanya rumah sebesar ini adalah hal yang biasa. “, cetus Kara menyombongkan kekayaan keluarganya.

“ Eh ... ada tamu ya ... “, ujar seseorang dari dalam. Keempat anak perempuan itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Oh, ternyata ibunya Kara.


“ Iya bu, ada temen – temen Kara. Ada Indah, Putri, sama Ayu. “, ujar Kara memperkenalkan sahabat – sahabatnya itu satu persatu. Terlihat pakaian putih abu – abu mereka belum dilepas. Sepertinya sepulang sekolah mereka berempat langsung berkunjung ke rumah Kara.

“ Ah, iya ... kalian pasti haus ya ... sebentar ya ... “, ujar Ibunya Kara. Ketiga wanita itu langsung tersenyum.

“ Yeh, dasar. Pas ada minuman gratis aja, langsung seneng. “, ujar Kara diselingi tawaan kecil. Kini mereka berempat langsung tertawa bersama.

“ Mbok! Mbok Iyah! “, teriak Ibunya Kara ke arah dapur. Anehnya tidak ada balasan sedikitpun, padahal biasanya Mbok Iyah ada di dapur.

“ Aduh, Mbok Iyah kemana ya? Pas ada tamu, dia malah hilang. “, gerutu Ibu Kara dalam hatinya.

“ Mbok! “, teriak Ibu kara sekali lagi.

“ Ada apa Nyonya? “, jawab seseorang sembari berjalan mendekati Ibu Kara.

“ Lho, saya nggak memanggilmu. Saya manggil Mbok Iyah kok. “, ujar Ibu Kara dengan logat Jawanya.

“ Anu Bu, Mbok Iyah barusan pergi ke warung. Katanya sih mau nyari obat sakit perut. Soalnya ... anu ... dia tadi makan sambal di ... “, belum selesai wanita itu berbicara, Ibunya Kara langsung memotong pembicaraannya.

“ Aduh ... ampun ... pas ada tamu kok Mbok Iyah malah sakit perut. Itu tamu kasian kehausan ... “, ujar Ibu Kara lagi dengan logat Jawanya.

“ Ya sudah saya saja Nyonya “, ujar wanita itu sambil berjalan ke arah dapur.

“ Eh, Jun ... kau tidak minder ... itu tamunya perempuan – perempuan seusiamu lho “, ujar Ibu Kara. Wanita yang ternyata bernama ‘Juni’ itu langsung tertawa kecil.

“ Yo ndak lah Bu, ndak apa apa “, ujar Juni sembari tertawa kecil. Tak lama pembicaraan diantara mereka berdua usai. Juni langsung beranjak ke dapur dan menyiapkan minuman untuk para tamu. Setelah itu Juni langsung membawakannya ke ruang tamu. Terlihat jelas disana empat perempuan sedang asik bergosip.

“ Ini minumnya Mbak “, ujar Juni pada keempat wanita itu. Keempat wanita itu langsung terdiam sejenak.

“ Oh iya Jun, terimakasih ya. Oh ya, Mbok Iyah kemana? “, tanya Kara. Juni tersenyum kecil,

“ Barusan dia makan sambal ditambah cabai di meja, jadi sekarang dia sedang beli obat sakit perut ... hehe “, ujar Juni sambil tertawa kecil. Kara tersenyum,

“ Oh, yasudah. “, ujar Kara. Juni mengangguk perlahan lalu kembali berjalan ke arah dapur seperti layaknya Mbok Iyah. Ketiga teman Kara langsung tertawa. Kara yang tidak mengerti langsung memasang wajah orang bingung,

“ Ada apa sih? “, tanya Kara pada ketiga temannya. Temannya saling tatap menatap, lalu kembali tertawa. Kini tawaan mereka lebih lantang daripada sebelumnya. Kara mengerenyitkan dahinya,

“ Aduh kalian ini, ada apa sih ketawa tiba – tiba? Ada yang aneh dengan pembantuku itu? “, tanya Kara. Indah menyeletuk,

“ Itu pembantumu? “, tanya Indah.

“ Bukan, itu anak pembantuku. Namanya Juni. Memangnya kenapa sih? “, tanya Kara.

“ Wajahnya sangat mirip denganmu “, ujar Indah diselingi cekikikan dari Ayu dan Putri. Kara masih mengerutkan dahinya,

“ Hah? Masa sih? “, tanya Kara tak percaya.

“ Iya Ra, tadinya kita pikir dia itu saudara kembarmu, ternyata pembantumu ... haha “, ujar Ayu sembari tertawa.

Di dapur Juni masih asyik mencuci piring yang belum sempat diselesaikan ibunya. Yah, meskipun ibunya adalah seorang pembantu, namun Juni tidak memiliki rasa minder. Bahkan terkadang ia membantu meringankan pekerjaan ibunya jika kondisi ibunya sedang buruk seperti saat ini.

“ Jun “, seseorang memanggil Juni dari belakang. Juni menoleh, ternyata Mbok Iyah.

“ Ya Bu? Gimana perutnya? Sudah membaik? “, tanya Juni pada Mbok Iyah. Mbok Iyah tersenyum dengan penuh percaya diri.

“ Sudah kok Nak, tenang saja. Udah sekarang kamu pulang saja, masih banyak PR kan? “, tanya Mbok Iyah pada Juni. Juni tersenyum,

“ Iya Bu “, ujar Juni sembari meninggalkan dapur. Juni langsung berjalan ke arah ruang tengah untuk mengambil kain kering. Tiba – tiba seseorang menepuk pundaknya,

“ Jun “, Juni tersentak kaget. Oh, ternyata Kara.

“ Jangan sampai hal barusan terulang lagi ya “, ujar Kara. Juni yang tak mengerti hanya bisa terdiam menatap bola mata Kara sembari mengerutkan dahinya.

“ Kau tahu, barusan teman – temanku menghinaku karena wajahku mirip dengan wajahmu. Jujur saja aku tak suka disama - samakan dengan seorang pembantu. So please, jangan muncul ketika aku sedang kedatangan tamu. “, ujar Kara. Juni tertegun,

“ Iya ... saya mengerti “, ujar Juni. Kara tersenyum kecil,

“ Sudah, jangan terlalu kaku. Kau selalu ingat kalau kita waktu kecil pernah bersahabat kan? “, tanya Kara pada Juni. Juni terdiam sejenak,

“ Seandainya dulu kau tidak pergi meninggalkanku selama bertahun – tahun , mungkin kini kau telah menjadi sahabat terbaikku. “, ujar Kara. Juni tersenyum,

“ Kurasa hal itu bukanlah permasalahan. Kau sudah punya teman baru kan? “, tanya Juni pada Kara.

“ Yah, tentu. Tapi sejauh ini aku masih belum bisa menemukan penggantimu. Kau tahu, perasaanku sangat hancur berkeping – keping ketika aku membaca surat perpisahan darimu. Aku merasa kesepian selama berbulan – bulan hingga akhirnya aku masuk sekolah dan bertemu dengan banyak teman baru. “, ujar Kara. Mata Juni mulai bergelimang air mata karena mengingat masa kecilnya bersama majikannya itu.

“ Dulu aku sangat menyayangimu, aku selalu menganggap kau adalah bagian dari keluarga. Sayangnya kau menghilang begitu saja. “, ujar Kara dengan wajah resah. Pikiran Kara dan Juni bersama – sama melayang ke masa kecil mereka.

“ Ku harap kau masih yang dulu. Aku yakin seiring dengan berjalannya waktu suasana akan mencair lagi “, ujar Juni dengan penuh senyum.

“ Ya, kuharap juga begitu. “

****

“ Bu, apa ibu tidak apa – apa? “, tanya Juni sembari menggoyang – goyangkan tubuh ibunya. Mbok Iyah langsung terbangun,

“ Jun? “, ucap Mbok Iyah. Juni tersenyum dengan mata penuh air mata,

“ Ibu sejak tadi malam mengigau tidak jelas, tubuh ibu terasa panas, dan ibu kelihatannya menggigil terus ... padahal ibu sudah memakai 2 selimut. “, ujar Juni menjelaskan. Mbok Iyah tak membalas kata – katanya,

“ Ibu sepanjang hari ini beristirahat saja ya bu, biar Juni yang bekerja. “, ujar Juni pada ibunya.

“ Tapi ... “, belum selesai Mbok Iyah berkata, Juni sudah memotong pembicaraannya.

“ Tenang saja, hari ini kan hari minggu. “, ujar Juni sembari tersenyum kecil. Mbok Iyah membalasnya dengan senyuman penuh makna.

“ Jam berapa sekarang Jun? “, tanya Mbok Iyah.

“ Jam 6 bu “, jawab Juni.

“ Ya sudah cepat sana kamu pergi ke rumah Kara. Jangan lupa pakaian yang di keranjang merah adalah pakaian – pakaian yang mudah luntur. Jangan dicampur dengan pakaian yang di keranjang biru. “, ujar Mbok Iyah menjelaskan. Juni mengangguk,

“ Tentu saja Bu, Juni paham. “, jawabnya. Tak lama Juni langsung berangkat menuju rumah Kara. Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Ia berharap ia tidak datang terlambat.

“ Lho, kok yang datang kamu Jun ... Mbok Iyah memang kemana? “, tanya Ibunya Kara.

“ Ibu sedang sakit, jadi hari ini saya saja yang membereskan rumah. “, jawab Juni sembari melambaikan senyum.

“ Ah baiklah kalau begitu. Ah iya Jun ... sebelum membereskan rumah, tolong bangunkan Kara dulu ya. Lalu suruh dia segera mandi. “, perintah Ibunya Kara. Juni mengangguk,

“ Iya bu “

Juni pun langsung bergegas ke kamar Kara. Diketuknya pintu berwarna biru muda itu. Namun anehnya tak ada yang membukakan pintu.

“ Kara? Kara? Sudah pukul 6 lebih nih ... ayo bangun ... kata ibumu kamu harus segera mandi. “, teriak Juni dari luar. Masih tak ada suara sama sekali,

“ Kara? Kara? “, teriak Juni lagi. Aneh, apakah semua orang kaya selalu sulit dibangunkan di pagi hari? Akhirnya Juni memberanikan diri membuka pintu tersebut. Ah, tak dikunci. Ia langsung masuk ke dalam, dan ternyata ... kasurnya sudah tertata rapi. Oh, berarti dari tadi Kara sudah berada di kamar mandi. Pantas saja tak terdengar suara jawaban dari dalam kamar.

Juni menatap kasur di kamar Kara. Terlihat cukup mewah dan sepertinya empuk untuk ditiduri. Entah kenapa Juni ingin sekali berbaring sejenak saja di kasur tersebut untuk merasakan betapa nikmatnya tidur di kasur orang kaya. Yah, mungkin karena semalam Juni tidak tidur. Semalam ia terlalu sibuk mengontrol keadaan ibunya yang terus mengigau. Jadi sekarang ia merasa sedikit mengantuk.

Perlahan – lahan ia merebahkan diri di kasur tersebut ... lalu terlelap seketika.

****

“ Kara! Kara! Ayo bangun! “, mata Juni langsung terbuka kecil,

“ Eh, bu ... “, belum selesai Juni bicara, Ibunya Kara sudah memotong pembicaraannya,

“ Aduh kamu ini kok masih tidur saja. Ayo cepat ambil handukmu dan segerakan mandi. Bukankah hari ini kamu ada acara reuni teman SMP? “, tanya Ibunya Kara. Juni tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“ Reuni? “, tanya Juni dalam hati. “ Reuni apa? “

“ Ayo ayo ... jangan banyak bengong “, perintah ibunya. Juni langsung bangkit dari kasur tersebut. Ibunya Kara langsung pergi meninggalkan ruangan.

“ Padahal setengah jam yang lalu ibu sudah suruh Juni membangunkanmu, tapi entah kemana ia sekarang. “, ujar Ibunya Kara sembari bergerak menjauh dari ruangan kamar Kara.

“ Astaga, mengapa Ibunya Kara mengira aku adalah Kara? “, tanya Juni dalam hati. Juni langsung berjalan ke arah kamar mandi. Ternyata benar ... disana tidak ada siapa – siapa. Lantas Kara ada dimana?

Juni melirik ke jendela, keadaannya sudah terbuka dan ada tali yang menggelayut ke arah taman di bawah. Juni menarik nafas panjang ... sekarang ia mengerti ....

Andai orangtua Kara tahu hal ini, pasti suasana akan ribut dan serba panik. Juni harus melakukan sesuatu ...

****

Juni keluar dari kamar Kara menggunakan pakaian Kara yang ada di lemari. Ia berlaga seperti Kara. Sungguh, ia terlihat seperti Kara yang asli.

“ Aduh, sudah cantik ya ... “, puji Ibunya Kara. Juni tersenyum, nampaknya penyamarannya benar – benar berhasil.

“ Ah iya ... ayo kita berangkat! Kasihan kan teman – temanmu menunggu terlalu siang. “, lanjutnya. Juni mengangguk, lalu berjalan a la Kara ke arah luar rumah. Lalu ia dan Ibunya Kara masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil Juni dan Ibunya Kara saling diam. “ Kemana aku akan dibawa pergi? “, tanya Juni dalam hati. “ Mudah – mudahan saja tidak ke tempat yang aneh – aneh. “

 Ibunya Kara terlihat agak bingung,

“ Kara? “, tanya Ibunya Kara. Juni menghapus lamunannya,

“ Ya Bu? “

“ Kok bengong? Biasanya kamu paling semangat kalau mau reunian sama teman SMP ... “, ujar  Ibunya Kara. Juni tertegun sejenak,

“ Eh ... ya ... Bu ... “, belum selesai Juni berbicara, Ibunya Kara sudah memotong pembicaraannya,

“ Mau disini saja? Itu teman – teman SMP-mu kan? “, tanya Ibunya kara. Juni terdiam,

“ Aduh ... apa yang harus kulakukan disini? “, tanya Juni dalam hati.

Juni turun dari mobil. Tak lama mobil itu meninggalkan Juni.

“ Hey, itu Kara! “, teriak seseorang.

“ Kara!? Kau datang? Haha ... “, teriak seorang laki – laki. Suasana mendadak menjadi cukup heboh dengan kedatangan Juni yang berlaga seperti Kara. Bahkan orang sebanyak itu tak ada yang sadar kalau wanita itu bukanlah Kara.

“Hey Kara, kau datang tepat waktu. Barangnya sebentar lagi datang, kita akan berpesta pora sepanjang hari ini! “, ujar seseorang dengan wajah gembira. Juni ikut memasang wajah bahagia meskipun tak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘barang’ dan ‘pesta’. Bukankah ini suatu reuni?

“ Ayo kita masuk “, ajak seseorang pada Juni. Juni mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam suatu gedung yang cukup besar.

Di dalam gedung itu Juni hanya bisa diam, diam, dan diam. Tak sepatah katapun ia keluarkan dari mulutnya. Ia benar – benar tak tahu harus berimprovisasi apa, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.

Tiba – tiba seorang laki – laki duduk di sebelah Juni lalu merangkul tubuh Juni. Awalnya Juni terkejut, namun ia mencoba untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan. Lelaki itu langsung menyulut sebatang rokok di bibirnya.

“ Ahm ... perjanjiannya tidak kau lupakan kan? “, bisik orang itu tiba – tiba. Juni mengerutkan keningnya,

“ Perjanjian? “, tanya Juni kebingungan.

“ Astaga, nampaknya kau terlalu banyak mengkonsumsi barang itu jadi daya ingatmu semakin turun saja. Bukankah kemarin lusa kau berjanji akan membayar semua hutang – hutangmu padaku setelah pesta ini usai? “, tanya orang itu lagi. Juni masih mengerutkan keningnya,

“ Hutang? “, tanya Juni lagi. Orang di sebelahnya itu langsung tertawa kecil. Asap rokoknya berhembus kearah wajah Juni.

“ Astaga ... sudahlah Kara ... jangan berpura – pura lupa seperti itu. Aku sudah memesan kamar hotel malam ini “, ujar lelaki itu lagi. Juni tertegun. Kamar hotel? Apa maksudnya ...

Tiba – tiba seseorang berwajah tampan muncul dari luar gedung. Banyak wanita langsung tertegun dengan kedatangan lelaki itu. Pakaiannya cukup rapi. Matanya memandang Juni dan lelaki yang duduk di sebelahnya. Sepertinya lelaki itu melakukan eye contact dengan Juni. Sepertinya lelaki itu menyuruh Juni melakukan sesuatu ....

“ Huh, mantan pacarmu itu benar – benar belagu. Matanya menatapku seolah – olah ingin kuhajar. “, ujar lelaki yang duduk di sebelah Juni. Nadanya seperti orang yang sedang kesal. Juni menghiraukan perkataan lelaki itu. Matanya terus menatap lelaki tampan yang barusan lewat di hadapannya.

“ Mantan pacar? Benarkah itu mantan pacarnya Kara? Jadi, Kara pernah berpacaran dengan lelaki setampan itu? Wow .... “, ujar Juni dalam hati.

“ Barangnya datang sebentar lagi. Sebentar lagi pesta dimulai. “, ujar lelaki di sebelah Juni sembari berdiri dan melangkah ke arah kerumunan orang. Juni mulai resah, ia mulai membaca situasi ... sesuatu yang tak beres terjadi disini ....

Juni beranjak ke kamar mandi. Setelah mengunci pintu kamar mandi, ia menarik nafas perlahan ... lalu menghembuskannya. Ia mulai tahu apa yang sedang terjadi, dan ia merasa ... harus segera pergi dari tempat itu sekarang juga.

Tiba – tiba ia melihat sebuah jendela kecil di kamar mandi. Ia mendekati jendela itu, ia lihat ke luar, ternyata jendela kecil itu mengarah ke sebuah gang sempit. Namun gang sempit itu langsung mengarah ke jalan raya. Ya, Juni bisa kabur melalui jendela sempit itu.

Akhirnya setelah berusaha agak keras Juni bisa keluar dari jendela sekecil itu. Memang, gang yang sekarang ia pijak hanyalah berupa jalan setapak. Juni langsung cepat – cepat berjalan ke arah jalan raya.

Tiba – tiba tangan Juni ditarik seseorang dari belakang, lalu disekap mulutnya dengan kasar,

“ Hey, mau kemana nona cantik? Mau kabur dari perjanjian ya? “, tanya lelaki itu. Ternyata lelaki itu adalah lelaki yang barusan duduk di sebelahnya.

“ Ciaaat! “

BUUGGG .... !!!

Lelaki itu langsung terjatuh seketika. Nampaknya seseorang telah memukulnya. Juni langsung menatap ke arah orang yang memukul lelaki itu, terlihat jelas wajah Kara disana, dengan tangan kanan menggenggam stik baseball.

“ Kara? “, tanya Juni tak percaya.

“ Huh, nampaknya tidak sia – sia aku belajar baseball dengan Ayahku dulu. “, ujar Kara sembari melempar stik baseball itu ke tanah.

“ Kara, cepat jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi! “, ujar Juni dengan nada sedikit kasar.

“ Harusnya aku yang bertanya mengapa kau ada di tempat ini! “, tanya Kara dengan wajah tak kalah sangar. Mereka berdua saling bertatap mata.

“ Tak penting mengapa aku ada disini. Aku hanya mencoba membuat orangtuamu tidak panik ketika aku tahu kau kabur dari rumah. “, ujar Juni.

“ Jadi ceritanya ... kau sedang menyamar menjadi diriku? “, tanya Kara. Juni mengangguk,

“ Okey, sekarang kau harus jelaskan apa yang seharian ini aku alami. “, ujar Juni. Kara menarik nafas panjang,

“ Kau tahu, setelah kau pergi ke luar kota, aku langsung hidup menjadi seorang anak kecil yang kesepian. Bahkan ketika masuk Sekolah Dasar pun aku nyaris tak punya teman.  Tak ada yang mau  berteman dengan seorang anak perempuan culun yang tidak tahu pergaulan, mode, dan zaman. Terkecuali kau. Aku jadi sangat kehilangan. Hingga akhirnya saat kelas 3 SMP aku mengenal dunia obat – obatan terlarang. Aku merasa hidupku menjadi lebih indah, aku merasa benar – benar menikmati kehidupan. Aku tak pernah merasa pesimis dalam hidup, aku tak pernah merasakan kesepian, dan aku tak pernah merasakan sedih yang mendalam ketika ditinggal seorang sahabat tanpa sebuah perpisahan. Kau hanya memberiku sehelai kertas yang tak membuatku terkesan, yang tak bisa membekas di hatiku. Kau sungguh tega ... ini semua karena kau Jun, karena KAU! “, ujar Kara menjelaskan. Juni tertegun, sesekali tetesan air mata mengalir dengan perlahan dan membasahi pipinya ketika khayalannya melayang – layang ke masa kecilnya.

“ Lantas, siapa lelaki itu? “, tanya Juni.

“ Kau tahu, harga obat – obatan terlarang itu cukup mahal. Jadi aku selalu berhutang pada lelaki ini hingga hutangku menumpuk. Dan hari ini, aku berjanji akan melunasi semua hutang – hutangku itu dengan cara menyerahkan keperawananku. Ku harap sekarang kau paham mengapa aku kabur dari rumah ... aku tak mau semua ini terjadi .... “, ujar Kara diselingi isak tangis. Kini Kara dan Juni sama – sama menangis. Seolah – olah ada telepati diantara mereka untuk mengekspresikan emosi yang sama.

“ Jun ... maafkan aku telah menjerumuskanmu pada kehidupan gelapku hari ini. “, ujar Kara sembari berjalan perlahan mendekati Juni. Mereka berdua lantas berpelukan. Mata mereka berdua tertutup rapat mencoba menikmati hangatnya pelukan yang sudah belasan tahun tak mereka rasakan.

Tiba – tiba tubuh Kara terasa semakin berat, semakin berat, semakin berat, lalu terjatuh. Lalu terlihat darah mengalir perlahan. Juni tertegun. Ia melihat laki – laki yang barusan pingsan sudah terbangun lagi dengan sebuah pisau penuh darah digenggamnya.

“ Wah ... wah ... sudah lama pisauku ini tidak bersimbah darah. “, ujar lelaki itu sembari tersenyum kecil. Juni tertegun melihat mayat Kara yang penuh darah di sekitarnya. Di pipi mayat Kara masih terlihat jelas bekas tetesan air matanya. Lelaki itu terus saja tertawa menikmati kemenangannya,

“ Ahm ... jadi ... ada kembarannya? Ohohoho ... rasanya pasti sama ya ... huahahaha ... ha ... “

BUUGGGG....!!!

Lelaki itu langsung terjatuh pingsan lagi. Juni langsung menoleh untuk melihat siapa yang barusan memukul lelaki brengsek itu.

Ternyata ia adalah lelaki tampan yang barusan lewat di hadapan Juni. Lelaki itu menggenggam stik baseball yang barusan digenggam Kara.

“ Kara sudah tiada “, ujar Juni dengan nada sedih. Lelaki itu menundukkan kepalanya sejenak, lalu menoleh ke arah Juni.

“ Kau adiknya? “, tanya lelaki itu. Juni menggeleng,

“ Bukan, aku pembantunya “, ujar Juni sembari menghapus air matanya.

“ Kau tahu, aku sudah memaksa Kara untuk berhenti mengkonsumsi barang haram itu. Tapi ia terus menolak. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, ia pasti akan mati mengenaskan. “, ujar lelaki itu. Juni terdiam sejenak,

“ Siapa kau? “, tanya Juni.

“Namaku Jo. Aku adalah seorang pengacara. Aku adalah ... mantan kekasih Kara. “, ujar lelaki itu memperkenalkan diri.

“ Astaga entah kenapa aku tak bisa menghentikan tangisanku. “, ujar Juni sembari terus mencoba berhenti menangis.

“ Wajahmu mirip dengan Kara. Mungkin kau memang memiliki kontak batin yang sangat kuat dengannya. Menangislah jika kau ingin menangis. “, ujar lelaki itu. Entah mengapa Juni langsung berjalan perlahan mendekati Jo lalu memeluknya sembari terus menangis ....

****

Semilir angin berhembus ke telinga Jo dan Juni. Nuansa angin yang khas membuat mereka bisa menikmati suasana di pinggir lapangan golf itu. Pemandangannya ternyata cukup indah. Terlihat jelas di pinggir lapangan tersebut Jo dan Juni sedang duduk bersebelahan.

“ Dulu aku selalu memimpikan bisa bertemu dengan jodohku secepat mungkin. Aku selalu dihantui rasa penasaran siapakah jodohku nanti. “, ujar Juni sembari tersenyum.

“ Lalu sekarang? “, tanya Jo.

“ Aku merasa sangat lega. Intinya aku sangat senang ... haha “, ujar Juni sembari menggenggam sebuah undangan pernikahan berwarna merah hati bertuliskan 'Jo & Juni'.

Komentar

share!