Ruangan Tertutup


Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Maaf pak, tapi seingat saya Aristoteles tidak pernah mengucapkan teori itu. “, ucap Galuh dengan aksen Bataknya yang khas itu. Pak Ridwan menatap mata Galuh dengan tajam,

“ Saya ini dosenmu, saya sudah membaca ratusan buku dan inilah faktanya. “, ucap Pak Ridwan dengan tegasnya. Galuh tak berani berkata – kata lagi. Masalahnya karisma Pak Ridwan begitu tinggi. Belum lagi Pak Ridwan terkenal sebagai dosen cerdas di kampus. Huh ...



“ Masih berani mengelak, Luh? “, tanya Pak Ridwan. Galuh menggeleng dengan datarnya.

“ Baik, semuanya ... apakah sudah mengerti dengan teori Aristoteles yang satu ini? Ada yang ingin menambahkan apa yang sudah saya sampaikan barusan? “, tanya Pak Ridwan pada seluruh mahasiswa yang ada di kelas saat itu. Semuanya tak ada yang berani bicara.

“ Oke, kalau begitu terimakasih untuk hari ini ... selamat siang. “, ucap Pak Ridwan sembari mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.

“ Hey mahasiswa baru! “, panggil seseorang dari belakang. Galuh menoleh,

“ Ya? “

“ Lancang sekali kau barusan berkata bahwa ucapan Pak Ridwan itu salah. Pak Ridwan itu adalah salah satu dosen cerdas di kampus ini, ucapannya selalu berdasarkan fakta. “, ucap lelaki itu. Galuh mengangguk perlahan tanda mengerti.

“ Untung saja barusan Pak Ridwan tidak melakukan apapun padamu. “, ucap seseorang lagi. Galuh menoleh pada orang kedua, lalu tersenyum kecil.

“ Oh ya, nama saya Ferdi. Saya asli orang betawi. “, sapa lelaki pertama yang ternyata bernama ‘Ferdi’ itu. Galuh dan Ferdi berjabat tangan dan saling melontarkan senyum.

“ Kenalkan, Ini sobat saya sejak SMA. Namanya Oki. “, ucap Ferdi lagi. Galuh dan lelaki yang bernama Oki itu langsung saling melempar senyum.

“ Oh ya, sebelumnya kau dari universitas mana? “, tanya Oki.

“ Saya dari salah satu universitas negeri di Bandung, jurusan sejarah. “, ujar Galuh. Ferdi dan Oki mengangguk bersamaan.

“ Mengapa pindah ke sini? “, tanya Oki.

“ Entahlah, jurusan sejarah di sana terlalu membosankan. Makanya saya langsung pindah ke sini dan mengambil jurusan sosiologi. Mudah – mudahan sih lebih seru. “, ucap Galuh. Ferdi dan Oki kembali mengangguk bersamaan. Mereka berdua kompak sekali.

“ Hey, bagaimana kalau kita ajak si mahasiswa baru ini keliling – keliling kampus? Jam kuliah berikutnya masih 2 jam lagi kan? “, tanya Oki. Ferdi mengangguk,

“ Ya, sekalian ... aku lapar Ki ... kita ke kantin hehe ... “, ajak Ferdi sembari memegangi perutnya.

“ Ah, kau ini lapar terus. Jangan – jangan kau makan 10 piring sehari ya? “, ujar Oki menyindir Ferdi. Ferdi tertawa kecil,

“ Sudahlah jangan banyak bicara, ayo kita keluar. “, ajak Ferdi pada Oki dan Galuh. Mereka bertiga lantas berjalan keluar ruangan.

“ Hey Luh, kau harus tahu, kampus ini cukup luas. Kalau perlu kau gunakan peta saja. Siapa tahu ketika kau ingin ke kantin malah sampai di toilet ... haha. “, ucap Oki.

“ Ah benar, kali pertama aku mengunjungi kampus ini, aku pernah tersasar dan tidak dapat menemukan pintu keluarnya ... haha ... “, tawa Ferdi. Galuh hanya tersenyum kecil.

“ Ah, aku sudah terbiasa bepergian dan mengunjungi tempat yang tidak kukenal. Orang Batak selalu punya feeling untuk menjelajah. “, ujar Galuh sembari menepuk – nepuk dadanya tanda menyombongkan diri. Mereka bertiga tertawa bersama.

“ Hey Luh, kenapa kau merantau ke pulau Jawa? Bukankah di Sumatera Barat sana juga banyak universitas? “, tanya Ferdi.

“ Yah, memang ... tapi menurut ... “, belum selesai Galuh berucap, tiba – tiba ada seseorang menabrak Galuh dari belakang. Anehnya orang itu terus saja berlari sembari melompat – lompat tak jelas setelah menabrak Galuh.

“ Kau tak apa? “, tanya Ferdi. Galuh langsung berdiri tanpa dibantu kedua kawan barunya itu, matanya terus tertuju pada lelaki aneh yang baru saja menabraknya.

“ Namanya Ian. Dia mengalami gangguan mental sejak lahir. Kelakuannya seperti anak – anak, mulai dari berlari kesana kemari, melompat – lompat, bergumam sendiri, senyum – senyum sendiri, dan perilaku idiot lainnya. Kalau kejadian seperti tadi terulang lagi, anggap saja hiburan. Toh kita harus mampu memaklumi orang – orang seperti itu. “, ucap Ferdi pada Galuh. Galuh menghela nafasnya sejenak,

“ Kenapa orang semacam itu bisa menjadi mahasiswa di sini? Bukankah ada sekolah khusus untuk orang – orang yang mengalami gangguan mental ya? “, tanya Galuh. Mereka bertiga mulai berjalan lagi perlahan.

“ Dia adalah anaknya Pak Ridwan. Berhubung Pak Ridwan adalah salah satu dosen yang disegani di kampus ini ya ... tentu tak ada yang tak mungkin ... “, ucap Oki.

“ Lantas apa ia bisa mengikuti mata kuliah dengan baik? “, tanya Galuh lagi.

“ Entahlah, yang kutahu ia sudah kuliah di sini selama belasan tahun dan tak pernah wisuda. “, jawab Oki. Galuh mengangguk kecil. Tak terasa mereka bertiga sudah tiba di kantin. Ferdi yang sudah sangat lapar langsung bersemangat memesan makanan.

“ 3 mangkuk mie ya! “, teriak Ferdi dengan semangatnya.

“ Yang satu pakai nasi! “, lanjut Ferdi.

“ Sudah berapa hari kau tak makan, Fer? “, tanya Oki diselingi tawaan kecil.

“ Ah, aku sedang lapar sekali Ki. “, ucap Ferdi.

“ Hey Luh, di Sumatera sana apakah ada kantin seperti ini? “, tanya Ferdi dengan polosnya. Galuh dan Oki jadi tertawa,

“ Ah, kau ini lugu atau apa ... Ya tentu ada lah! Kau pikir Sumatera itu semuanya hutan belantara!? Hahaha ... “, tawa Galuh. Oki juga ikut tertawa. Hanya Ferdi yang terdiam seperti orang lugu.

“ Nanti kalau aku pulang kampung kau harus ikut Fer. Kau harus tahu kalau Sumatera itu tak jauh berbeda dengan di sini. “, ucap Galuh sembari tertawa.

“ Ah, uang darimana Luh ... “, ucap Ferdi masih dengan wajah polosnya.

“ Ya nabunglah ... Sumatera itu banyak yang unik – unik lho ... “, ujar Galuh membujuk Ferdi.

“ Termasuk orang – orangnya ... ya kan? Haha ... “, tawa Oki. Galuh mengerutkan keningnya,

“ Apa maksudmu? “, tanya Galuh tak mengerti.

“ Maksudku ... orang – orang disana memiliki sesuatu yang unik ... “, ujar Oki. Galuh masih mengerutkan keningnya,

“ Contohnya? “, tanya Galuh.

“ Ah ... Luh, siapa namamu? “, tanya Oki. Galuh semakin mengerutkan keningnya,

“ Apa? “, tanya Galuh.

“ Nama lengkapmu ... “, ujar Oki.

“ Galuh Simbolon. “, jawab Galuh singkat. Oki dan Ferdi langsung tertawa terbahak – bahak,

“ Bwaahahahah ... sudah kubilang kan, orang Batak pasti namanya aneh ... huahahah ... “, tawa Oki.

“ Sial, aku dijahili ... “, ujar Galuh dalam hati.

Setelah percakapan itu suasana mendadak hening. Tak ada satupun diantara mereka bertiga yang membuka mulutnya.

“ Untuk apa sumur itu? Kampus sebesar ini tak mungkin menggunakan sumur untuk mendapatkan air kan? “, tanya Galuh tiba – tiba sembari menunjuk ke arah taman di sebelah kantin. Ya, memang di sana ada sebuah sumur yang kelihatannya tidak berfungsi.

“ Aku juga tidak tahu pasti. Tapi aku memang pernah mendengar cerita, katanya kampus ini dulunya adalah sebuah pemukiman. “, ucap Oki.

“ Waw, tahu darimana kau Ki? “, tanya Ferdi tak percaya.

“ Ahaha ... itu hanyalah gosip antar mahasiswa, belum tentu benar kan? “, jawab Oki singkat. Tiba – tiba seseorang datang mengantarkan 3 mangkuk makanan.

“ Ah, terimakasih. “, ucap Oki. Ferdi langsung tersenyum cerah saat menatap makanan di depan matanya.

“ Punyaku yang ada nasinya. “, ujar Ferdi. Tangannya langsung cekatan mengambil mangkuk mie yang ada nasinya. Oki dan Galuh tertawa kecil, lalu mereka bertiga makan bersama.

***

Selesai makan, mereka bertiga masih saja duduk di kantin. Ferdi sudah bersendawa berkali – kali.

“ Apa kau masih mau menambah lagi? Kau sudah menghabiskan 2 piring mie plus nasinya ... “, ujar Galuh sembari tertawa kecil.

“ Sekalian saja mangkuknya kau makan. “, tawa Oki.

“Aheemm ... sepertinya perutku kekenyangan, mau berdiripun sulit. “, ujar Ferdi. Tak lama ia langsung bersendawa lagi.

“ Ya sudah, kita tunggu sampai kau bisa berdiri ... haha “, ujar Oki. Galuh terlihat sibuk merogoh tasnya.

“ Cari apa Luh? “, tanya Oki.

“ Sepertinya bukuku tertinggal di kelas ... kalian tunggu disini ya, aku akan kembali. “, ujar Galuh sembari beranjak dari duduknya.

“ Hey tunggu dulu Luh, kau ingat jalannya tidak? “, tanya Oki. Galuh menghentikan langkahnya sejenak.

“ Sudahlah tenang saja, aku orang Batak. “, ujar Galuh sembari meninggalkan Ferdi dan Oki. Ferdi dan Oki saling bertatapan ...

Akhirnya Galuh tiba di kelas. Ya, terlihat jelas bukunya yang setebal 3 cm itu masih tergeletak di atas mejanya. Galuh bernafas lega, untung saja tak ada yang mengambil bukunya. Galuh berjalan ke arah bangkunya dan langsung mengambil bukunya. Tunggu ... sepertinya ada kertas yang terselip di bawah buku Galuh ...

AKU ADA DI RUANGAN TERTUTUP

Begitulah tulisannya. Singkat dan membingungkan. Galuh menatap sekitarnya, sepi. Sepertinya tak ada yang bernafas di ruangan itu selain dirinya sendiri.

“ Galuh! “, teriak seseorang dari ambang pintu. Galuh terkejut dan langsung menoleh cepat ... oh, ternyata Ferdi dan Oki.

“ Kau tidak tersesat sama sekali? Orang Batak memang mengagumkan ... “, ujar Ferdi.

“ Kenapa kalian mengikutiku? “, tanya Galuh.

“ Kami takut kau salah jalan ... ternyata tidak, daya ingatmu keren sekali. “, puji Ferdi. Galuh tidak tersenyum sama sekali. Ia langsung berjalan cepat ke luar ruangan.

“ Hey, kenapa kau Luh? Kenapa wajahmu mendadak pucat begitu? “, tanya Oki kebingungan.

“ Ah, sudahlah. Sekarang aku ingin pulang ke kost-an. “, ujar Galuh. Ferdi dan Oki saling bertatapan lagi.

Keesokan harinya ...

“ Fer, tidak mau makan banyak lagi? “, tanya Oki.

“ Tidak Ki. “, ujar Ferdi dengan santainya.

“ Nah, kalau begitu kau traktir aku dan kawan baru kita ini. “, ujar Oki memasang wajah sinis. Ferdi langsung membuang muka,

“ Astaga, kita semua ini  anak kost ... tidak ada kata ‘traktir’ dalam kamus besar anak kost. “, ujar Ferdi.

“ Ah, sudahlah ... aku saja yang traktir ... “, ujar Galuh. Ferdi dan Oki langsung menoleh cepat,

“ Benarkah? “, ujar Ferdi dan Oki bersamaan.

“ Hanya mie. Kalau kalian pesan makanan lain aku enggan bayar. “, ujar Galuh.

“ Okelah ... Fer, pesankan kita 3 mangkuk mie. “, ujar Oki. Ferdi mengangguk,

“ 3 Mangkuk mie ya bu! “, teriak Ferdi.

“ Hey, apa kalian tahu dimana letak ruangan tertutup di kampus ini? “, tanya Galuh. Ferdi dan Oki mengerutkan kening mereka.

“ Hah? Ruang tertutup? Apa maksudmu? “, tanya Oki.

“ Entahlah, kudengar di kampus ini ada ruangan tertutup. “, ujar Galuh. Mereka bertiga lantas diam, semuanya berpikir.

“ Fer, apa kau pernah dengar nama ruangan itu? “, tanya Oki pada Ferdi. Ferdi menggeleng.

“ Aku yakin kau salah menerima informasi Luh. “, ujar Oki singkat. Galuh menghela nafasnya sejenak. Kalau tidak ada ruangan tertutup di kampus tersebut, lantas apa maksud ‘ruangan tertutup’ di kertas yang ditemuinya itu? Apakah itu berarti ...

“ Ini mienya. “, ujar seseorang sembari menaruh satu persatu mangkuk mie di atas meja.

“ Wah, terimakasih bu. “, ujar Ferdi.

“ Ibu lihat kalian bertiga makan mie terus, tidak takut kena gizi buruk ya? “, tanya orang tersebut.

“ Ah, kita sih ... “, belum selesai Ferdi berkata – kata, Galuh tiba – tiba berdiri,

“ Astaga, bukuku tertinggal lagi di kelas. Aku ke kelas dulu ya, kalian makan saja di sini. “, ujar Galuh sembari beranjak dari kursinya.

“ Hey, kami ikut bersamamu. “, ujar Oki sembari ikut berdiri. Galuh menghentikan langkahnya, berpikir secepat mungkin bagaimana caranya agar kedua kawannya ini tidak mengikutinya. Aha ...

“ Tidak usah. Aku ingin setelah aku kembali dari kelas, mie-ku masih utuh di situ. Kalian harus jaga mie-ku. “, ucap Galuh. Huh ... mudah – mudahan dengan alasan itu Ferdi dan Oki tidak akan mengikutinya.

Galuh berjalan cepat ke arah kelas, ia mengerti apa maksud dari ruang tertutup ... yaitu ruangan kelas dengan pintu dan jendela tertutup rapat. Revealed!

Akhirnya Galuh sampai di ruang kelasnya. Lantas ia menutup pintu dan jendela – jendela yang ada disana hingga ruangan benar – benar terisolasi dari cahaya luar.

Ketika menutup jendela terakhir, tiba – tiba saja ruangan mendadak menjadi dingin, seperti ada AC yang tiba – tiba menyala. Namun ... tak ada AC sama sekali. Galuh menatap sekeliling, ruangan mendadak jadi aneh.

Tiba – tiba terlihat sosok wanita berpakaian merah dengan rambut panjang muncul, berdiri di radius 10 meter dari Galuh. Galuh menatap wanita itu dengan tajam. Namun karena takut, ia langsung memalingkan pandangannya.

“ Ku mohon, jangan takut padaku ... “, ujar wanita itu dengan nada perlahan. Galuh jadi merinding,

“ Apa maumu? Dan apa maksudmu menyuruhku menutup seluruh celah di ruangan ini? Siapa kau? “, tanya Galuh dengan nada gemetar. Ya, ia benar – benar ketakutan.

“ Aku akan ceritakan padamu, tetapi sebelumnya aku butuh bantuanmu ... “, ucap wanita itu. Galuh kembali mencoba melihat wanita itu. Kini wanita itu berada di radius sekitar 3 meter dari tubuhnya. Wajahnya tertutup rambutnya yang panjang itu. Wanita itu jadi terlihat sangat seram.

“ Bagaimana aku mau membantumu? Menatap rupamu saja aku tak mampu! “, ujar Galuh. Kakinya mulai ikut – ikutan gemetar. Rasa takutnya semakin membuatnya hilang kendali.

Tiba – tiba wanita itu menyibak rambutnya dan menampakkan wajahnya. Rambutnya ia rapikan.

“ Coba tatap aku. “, ujar wanita itu.

“ Tidak! “, teriak Galuh.

“ Tatap aku dulu ... “, ujar wanita itu lagi. Galuh akhirnya memberanikan diri berbalik badan dan menatap wajah wanita itu. Dan ternyata ... wanita itu sangat cantik.

“ Kenapa? “, tanya wanita itu sembari tersenyum kecil.

“ Kau pikir wajahku menyeramkan dan bersimbah darah? Ah kau terlalu banyak menonton film horor. “, ujar wanita itu. Galuh sedikit menganga, belum pernah ia melihat hantu wanita secantik itu. Kulitnya putih, hidungnya mancung, matanya bersih berkilauan, benar – benar gadis yang sempurna.

Tiba – tiba wanita itu bergerak mendekat, Galuh mundur menjauh,

“ Namaku Sinta, aku ... “, belum selesai memperkenalkan diri, Galuh langsung teriak,

“ Jangan mendekat! Menjauhlah! Hush! Meskipun kau cantik tetapi aku tahu kau adalah jelmaan hantu jahat! “, teriak Galuh pada wanita itu.

“ Bukan, bukan ... “, belum selesai Sinta menjelaskan, Galuh sudah kembali ketakutan.

“ 1 cm lagi kau mendekat, aku akan membuka jendela ini! “, ancam Galuh pada Sinta. Sinta terlihat panik,

“ Jangan! Please ... jangan ... aku butuh bantuanmu ... “, ujar Sinta. Tanpa pikir panjang, Galuh langsung mendobrak jendela di belakangnya hingga terbuka. Sinta tiba – tiba menghilang dan ruangan mendadak jadi hangat kembali. Nafas Galuh jadi kacau, ia tak percaya akan apa yang dilihatnya barusan.

Galuh langsung saja keluar ruangan dan berlari ke arah kantin. Setibanya di kantin, terlihat disana Ferdi dan Oki sedang tertawa bersama. Galuh menarik nafas panjang, mudah – mudahan nafasnya yang menderu – deru ini tidak membuat Ferdi dan Oki curiga.

Galuh berjalan perlahan ke arah mejanya ... dan ternyata ... mienya sudah habis.

“ Hey, mana mie-ku? “, tanya Galuh dengan ekspresi terkejut.

“ Ah Luh, kau terlalu lama. Jadi kupikir daripada mie-mu jadi dingin dan tak sedap dimakan lebih baik kumakan saja selagi hangat. “, ujar Ferdi polos. Tak lama Ferdi menunduk, ia tahu ia salah.

Galuh langsung memasang wajah marah. Ia ambil tasnya dan langsung beranjak pergi dari kantin tersebut. Oki langsung menggampar kepala Ferdi,

“ Sudah kukatakan kan ... jangan makan mie itu! Kenapa kau makan juga? Dasar rakus! “, ujar Oki. Wajah Ferdi pucat,

“ Ya, mana ku tahu kalau jadinya akan seperti ini ... aku baru tahu kalau orang Batak itu mudah marah. Mienya hilang dimakan orang lain saja langsung marah begitu. “, ujar Ferdi. Suasana mendadak hening. Oki dan Ferdi saling menyalahkan satu sama lain. Tiba – tiba Oki berbicara,

“ Lho, jadi ini semua siapa yang bayar? “

***

Keesokan harinya, Galuh kuliah seperti biasa. Hanya saja kini ia tidak menyapa kedua kawannya. Ia hanya diam saja, kepalanya terus memikirkan Sinta. Hantu yang misterius, ia meminta Galuh melakukan sesuatu ... tapi apa?

“ Luh ... “, panggil seseorang dari belakang. Galuh menoleh, ternyata Ferdi.

“ Maaf soal ... “, belum selesai Ferdi berkata – kata, Galuh langsung memotongnya dengan cepat.

“ Oke, kalian akan kumaafkan. Dengan syarat izinkan aku untuk menyendiri. Aku sedang ingin menyendiri. “, ujar Galuh.

Setelah galuh berbicara, suasana langsung hening. Galuh menoleh ke belakang, hanya ada beberapa orang saja.

“ Hey, mahasiswa baru! Biasanya kau berkumpul dengan si Ferdi dan si Oki, kenapa sekarang melamun begitu? Apa kau tak betah kuliah di sini? “, tanya seseorang.

“ Saya sedang ingin menyendiri. “, ujar Galuh singkat. Setelah itu ruangan mendadak sepi. Ya, kini hanya ada dirinya sendiri. Dan ia tahu, ada Sinta yang menemaninya saat ini di ruangan tersebut. Galuh menghela nafas panjang. Tiba – tiba tersirat di pikirannya untuk kembali menemui Sinta dan membantunya.

Galuh menutup pintu dan semua jendela. Saat menutup jendela terakhir, ruangan kembali menjadi dingin, suasananya menjadi mistis dan menyeramkan. Tapi kali ini Galuh tidak ketakutan. Ya, entah kenapa untuk kali ini ia merasa biasa saja.

“ Aku berubah pikiran. Aku akan membantumu. Tapi dengan syarat kau tidak mendekatiku dalam radius 10 meter. Jujur saja meskipun wajahmu cantik tetapi aku tetap takut pada penampilanmu. “, ujar Galuh.

“ Baiklah. “, ujar seseorang. Itu pasti suara Sinta.

Galuh berbalik badan. Terlihat Sinta berada di ujung ruangan, sangat jauh dari posisinya saat ini.

“ Sekarang katakan, apa yang kau inginkan? “, tanya Galuh dengan wajah serius.

“ Aku ingin kau ... “, belum selesai Sinta berbicara, tiba – tiba saja pintu ruangan berbunyi,

“ Klek ... klek ... “

“ Hey, apa itu? “, tanya Galuh dengan wajah panik.

“ Entahlah, sepertinya seseorang mencoba membuka pintu itu. “, ujar Sinta.

“ Bukan ... sepertinya ... “, Galuh berjalan perlahan mendekati pintu ... lalu mencoba membukanya. Ternyata ...

“ Sial! Seseorang dari luar mengunci pintunya! “, maki Galuh. Sinta hanya menatapi Galuh yang sedang emosi itu.

“ Ya, memang ... biasanya kalau kampus ini sudah sepi dan pintu kelas sudah ditutup, berarti kelas tersebut sudah kosong. Dan biasanya ... petugas kampus akan menguncinya ... “, ujar Sinta dengan polos.

“ Ya lantas mengapa kau tidak memberitahuku untuk segera keluar!? Kenapa kau tidak langsung katakan apa maumu hingga aku bisa keluar dari ruangan ini secepatnya!? “, ujar Galuh dengan nada sedikit berteriak.

“ Maaf, orang Batak kalau marah suka membentak. Jangan sakit hati ... “, ujar Galuh.

“ Tidak apa – apa ... “, ujar Sinta. Galuh menghela nafas dan mencoba mengendalikan emosinya.

“ Oke, sekarang kita berdua terjebak di ruangan ini. Kurasa marah – marah hanya akan membuang – buang energiku. “, ujar Galuh. Tak ada jawaban dari Sinta. Terlihat jelas Sinta sedang meringkuk di sudut kelas. Galuh memberanikan diri mendekat,lalu langkahnya terhenti di dekat Sinta. Huh, cukup menegangkan berada di dekat seorang hantu.

“ Sudah kubilang, orang Batak itu suka membentak ... jangan diambil hati lah ... “, ujar Galuh. Tak lama ia langsung ikut meringkuk di sebelah Sinta.

“ Kenapa kau ikut meringkuk? “, tanya Sinta.

“ Kau tahu, setiap kau datang, suhu ruangan ini jadi turun. Entah mengapa ... “, ujar Galuh.

“ Oh ya? Aku tak tahu ... “, ujar Sinta.

“ Dulu waktu aku masih hidup, aku bisa merasakan dingin. Tapi sekarang ... “, Sinta terlihat merenungkan sesuatu. Galuh menoleh cepat,

“ Apa!? Kau pernah jadi manusia!? Kau kan hantu ... “, ujar Galuh tak percaya.

“ Apa kau mau mendengarkan aku bercerita? “, tanya Sinta. Rambutnya kembali ia sibakkan, kecantikan wajahnya kembali terpampang.

“ Cerita saja. “, ujar Galuh.

“ 10 tahun lalu aku adalah mahasiswi tercantik di universitas ini. Hampir setiap lelaki ingin berkencan denganku. Aku merasa hidup ini begitu menyenangkan, aku bisa berpacaran dengan lelaki – lelaki kaya ... dan asyiknya lagi kecantikanku membuatku begitu mudah memilih lelaki. “, ujar Sinta menjelaskan.

“ Tetapi ternyata si idiot Ian menyukaiku. Saat Ia melihat aku tengah berjalan bersama seorang lelaki, ia pasti tiba – tiba marah dengan gaya idiotnya. Pada suatu saat, aku sedang duduk di kantin, menyendiri karena baru saja putus dengan pacarku. Tiba – tiba Ian datang, menarik kerahku sembari berkomat – kamit dalam bahasanya sendiri, merampas kalungku, lalu menjatuhkanku ke dalam sumur. “, lanjut Sinta menjelaskan.

“ Sumur? Sumur di dekat kantin itu? “, tanya Galuh tak percaya.

“ Ya ... “, jawab Sinta singkat. Galuh sedikit menganga,

“ Jadi kau mati dibunuh 10 tahun lalu dan jasadmu masih ada di dalam sumur itu? “, tanya Galuh lagi. Sinta mengangguk perlahan.

“ Selama puluhan tahun? “, tanya galuh lagi. Sinta kembali mengangguk. Galuh menghela nafasnya, lalu kembali meringkukkan tubuhnya.

“ Maka dari itu aku memanggilmu. Roh-ku akan terus ada di kampus ini jika ... “, belum selesai Sinta berucap, Galuh langsung berbicara dengan cukup keras,

“ Apa? Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa mati tenang? “, tanya Galuh.

“ Aku ingin kau mengambil kalung milikku dan melemparnya ke dalam sumur. “, ujar Sinta. Galuh tertawa kecil,

“ Kalung? Astaga, apa arwahmu gentayangan berpuluh – puluh tahun seperti ini hanya karena memikirkan sebuah perhiasan? “, tanya Galuh.

“ Jangan tertawa ... jika kau berhasil merebut kalungku dari tangan Ian, maka aku bisa tiba di alam sana dengan tenang ... tidak bergentayangan seperti ini ... “, ujar Sinta.

“ Aku seperti berbicara dengan orang konyol ... haha ... oke oke akan kuambilkan kalungmu dari tangan Ian dan akan kulempar ke dalam sumur ... “, ujar Galuh sembari berjalan ke arah pintu. Lalu Ian mencoba membukanya, dan ... tidak bisa dibuka.

“ Astaga ... aku lupa pintu ini terkunci ... “, ujar Galuh sembari kembali berjalan ke arah sudut kelas mendekati Sinta. Lalu duduk meringkuk lagi.

“ Biasanya dibuka esok subuh. “, ujar Sinta singkat.

“ Itu artinya ... aku harus menginap di sini? Aduh ... “, keluh Galuh.

“ Tenang saja, aku akan menemanimu sepanjang malam. “, ujar Sinta.

“ Kau ini hantu, aku ini manusia. Bagaimana kau bisa menemaniku? “, tanya Galuh.

“ Emm ... setidaknya aku bisa mengajakmu bicara. Jadi kau tidak begitu kesepian malam ini ... hehe ... “, ujar Sinta diselingi dengan tawaan kecil.

“ Hantu bisa tertawa juga ya? “, tanya Galuh sembari tertawa.

“ Tentu. Kurasa aku sama saja dengan manusia, hanya saja penampilanku jadi sedikit menakutkan. Jujur saja aku bosan memakai baju ini selama bertahun tahun. Aku ingin mati tenang ... “, ujar Sinta.

“ Bagaimana rasanya mati? “, tanya Galuh penasaran.

“ Dingin. Ketika terjatuh ke dalam sumur, aku merasa seperti terjun dari langit. Tak lama aku langsung tercebur ke dalam air. Aku terus masuk ke dalam air hingga nafasku habis. Tiba – tiba saja dadaku terasa dingin, dan aku merasa melayang. “, ujar Sinta menjelaskan.

“ Lalu? “, tanya Galuh meminta Sinta melanjutkan ceritanya.

“ Ya, tadinya kupikir aku hidup lagi. Tapi ternyata orang – orang tidak dapat melihatku dan tidak dapat menyentuhku. Aku merasa aneh. Ketika tersentuh cahaya matahari aku tidak merasakan rasa hangat sedikitpun. “, ujar Sinta. Galuh tak berucap apapun. Sinta menatap Galuh ... ternyata Galuh sudah terlelap. Sinta tersenyum, ia bersyukur ada manusia yang mau membantu masalah terakhirnya di dunia ini.

***

Cahaya matahari masuk ke dalam ruangan kelas. Seseorang menggoyang – goyangkan tubuh Galuh yang tengah terlelap di sudut kelas.

“ Mas ... hey mas ... “, ucap orang itu. Galuh terbangun dan menatap sekitar. Ah iya, ia baru ingat semalam ia menginap di kampusnya.

“ Mas kok ada di sini? Terkunci ya? Aduh maaf mas saya tidak tahu kalau ada mas disini ... saya kira kelasnya sudah kosong jadi kemarin saya kunci saja ... “, ujar orang itu. Galuh menatap orang itu, sepertinya ia adalah tukang bersih – bersih di kampus ini.

“ Ah, tak apalah mas ... “, ujar Galuh sembari tersenyum kecil. Galuh langsung mengambil tasnya.

“ Mas, di kampus ini ada kamar mandi tidak? Saya mau menumpang mandi ... “, tanya Galuh.

“ Oh ada mas ... mari ikut saya. “, ujar orang itu.

***

“ Luh, kau tidak ganti baju ya? Kok bajumu sama dengan yang kemarin? “, tanya Ferdi. Galuh diam saja.

“ Luh? “, panggil Ferdi. Galuh masih saja terdiam.

“ Kau masih marah soal mie kemarin ya? “, tanya Ferdi. Galuh kembali terdiam.

“ Sudahlah ... aku masih ingin menyendiri. “, ujar Galuh. Tak lama Galuh langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar kelas. Oki menepuk pundak Ferdi,

“ Gara – gara semangkuk mie saja bisa jadi penyendiri seperti itu ... hmm ... orang Batak benar – benar membingungkan. “, ujar Oki. Ferdi terus saja menatap ambang pintu, entah apa yang ia lihat.

Sementara itu, Galuh tengah berdiam diri di koridor. Ya, si idiot Ian sering berlari – lari dan melompat – lompat kegirangan di koridor itu.

“ Hari ini aku harus berhasil mendapatkan kalung itu, agar ... “, tiba – tiba saja seseorang menabrak Galuh dari belakang. Lamunan Galuh langsung buyar begitu saja. Tunggu ... itu ... Ian!

“ Hey, Ian ... tunggu dulu! “, panggil Galuh. Ian berhenti berlari, lalu menoleh.

“ Kamu siapa? Kamu bukan teman aku ... “, ujar Ian dengan terbata – bata. Lalu ian kembali pergi melompat – lompat kegirangan. Galuh menggaruk – garuk kepalanya, lalu berlari mengejar Ian.

Galuh langsung menarik kerah Ian dan meraba – raba lehernya. Tunggu ... tak ada kalung sama sekali!

“ Hey kamu ini kurang ajar dan jahat dan kamu akan dikutuk dan masuk neraka selama – lamanya! “, ujar Ian dengan bahasa idiotnya. Galuh tak mengerti apa yang dibicarakan Ian. Ia hanya terdiam lalu membiarkan Ian kembali berlari – lari kesana kemari. Kalau tidak ada pada Ian, lantas dimana kalung itu berada?
Galuh berjalan cepat ke arah kelasnya.

“ Hey semuanya, ayo kita ke lapangan! “, ujar Galuh pada semua orang yang ada dalam kelas. Orang – orang dalam kelas langsung menoleh cepat ke arah Galuh.

“ Ke lapangan? Memang ada apa? “, tanya seseorang.

“ Aku juga tak tahu, yang jelas kita semua harus ke lapangan sekarang. “, ujar Galuh berbohong. Ya, sebenarnya ia ingin mengosongkan kelas ini agar bisa berbicara dengan Sinta.

“ Baiklah, ayo kita ke lapangan ... “, ujar seseorang diikuti mahasiswa yang lain.

“ Hey Luh, kau tidak ke lapangan? “, tanya Oki.

“ Ya, nanti aku menyusul kalian. Aku ingin mencari bukuku yang hilang dulu. “, ujar Galuh. Akhirnya Oki pergi meninggalkan kelas itu.

Kelas sudah kosong. Galuh melirik ke sekitar, sepi. Dengan cekatan ia langsung menutup pintu dan semua jendela. Kembali, ruangan menjadi dingin mendadak.

“ Kau sudah dapatkan kalungnya? “, tanya seseorang. Galuh menoleh. Ya, siapa lagi kalau bukan Sinta.

“ Belum. Kalung itu tidak ada pada Ian. “, ujar Galuh.

“ Hah? Tak mungkin ... “, ujar Sinta.

“ Barusan aku sudah meraba – raba lehernya dan tak ada kalung apapun. “, ujar Galuh. Sinta terlihat berpikir keras.

“ Coba kau buat ia pingsan, lalu rogoh semua sakunya. “, ujar Sinta. Galuh mengangguk,

“ Oke, baiklah. Mudah – mudahan kali ini berhasil. “, ujar Galuh. Lalu ia berjalan ke arah pintu hendak membukanya. Tapi ... ternyata Galuh tidak membuka pintunya. Ia malah terdiam.

“ Ada apa? “, tanya Sinta.

“ Setelah aku melempar kalung itu ke dalam sumur, kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi kan? “, tanya Galuh. Sinta mengangguk.

“ Setelah melempar kalung itu ke dalam sumur, kau harus kembali lagi kesini dan menutup pintu dan semua jendela. Jika aku tak ada, berarti kau berhasil. “, ujar Sinta. Galuh terlihat termenung.

“ Kenapa? “, tanya Sinta.

“ Ah, tidak ... tidak apa – apa ... hanya saja ... kau cantik. Kalau kau manusia pasti kau telah menjadi wanita yang sempurna. “, ucap Galuh jujur.

“ Kalau aksen Batakmu hilang, kau juga akan menjadi lelaki tampan yang sempurna. “, ucap Sinta diselingi senyuman kecil. Galuh ikut tersenyum, lalu membuka pintu. Sinta langsung menghilang ...

“ Hey mahasiswa baru, di lapangan tidak ada apa – apa tuh! Kau berbohong ya? “, tanya seseorang.

“ Oh ya? Tetapi tadi saya menerima perintah dari seseorang untuk menyuruh kalian semua berkumpul di lapangan. “, ujar Galuh mencari alasan.

“ Ah, kau dijahili ... Lain kali jangan mudah percaya ya ... “, ujar orang itu. Galuh mengangguk.

Kelas kembali terisi banyak orang, sedangkan Galuh masih sibuk mondar mandir kesana kemari mencari Ian. Entah mengapa Ian menghilang dari koridor dimana biasanya ia berlarian.

Tiba – tiba saja Galuh melihat Ian tengah berlari – lari di dekat kantin. Galuh mengejarnya.

“ Hey Ian! “, teriak Galuh. Ian berhenti berlari. Seketika Galuh langsung menarik rambut Ian dan membenturkan kepala Ian ke dinding. Ian langsung pingsan. Galuh menyeret Ian ke balik semak – semak agar tak ada yang melihat. Dirogohnya saku Ian satu persatu.

Ternyata benar! Ada sebuah kalung emas di saku kanan Ian. Galuh langsung keluar dari semak – semak dan berlari ke arah taman dekat kantin.

“ Persetan jika ada orang yang tahu Ian sedang pingsan di balik semak – semak ... yang penting aku berhasil menjatuhkan ini ke dalam sumur. “, ucap Galuh dalam hati.

Tiba – tiba saja seseorang menggampar Galuh dari belakang. Galuh menoleh cepat, ternyata Ian sudah siuman,

“ Hey kamu benar – benar manusia yang jahat yang sekali! Kembalikan kalung aku! Kalung kesayangan aku! “, teriak Ian. Galuh menghiraukannya dan buru – buru berlari ke arah sumur ... lalu menjatuhkan kalungnya ke dalam sumur itu ...

“ Tidaaaakk ... tidakkk ... kalung kesayangan Ian hilang ... “, tangis Ian. Galuh tak mempedulikannya. Ia malah berlari cepat ke arah kelasnya.

“ Luh, barusan kau kemana? “, tanya Ferdi. Galuh menghiraukannya.

“ Hey semuanya, Ian menangis di taman dekat kantin! “, ujar Galuh mencari alasan. Semua orang menganga.

“ Apa!? Si idiot tukang lompat – lompat di koridor itu menangis!? Ayo semuanya, kita lihat! “, ujar seseorang diikuti oleh semua orang di dalam kelas.

“ Kali ini betulan kan? “, tanya Ferdi. Galuh mengangguk,

“ Kau harus lihat Fer, ekspresinya kocak sekali. “, ujar Galuh.

“ Benarkah? Ah, aku jadi penasaran ... “, ujar Ferdi. Lantas ia keluar kelas.

Kini ruang kelas telah kosong. Galuh langsung menutup pintu dan semua jendela. Ketika menutup jendela terakhir ... ruangan tetap hangat dan tidak terjadi apa – apa. Galuh menunduk ... kini ia tak akan pernah bisa melihat Sinta lagi ...

***

Teng ... teng ...

Bel pulang berbunyi, seluruh mahasiswa yang berada dalam kelas langsung keluar. Sebagian diantara mereka masih ada yang terkekeh - kekeh mengingat ekspresi tangis Ian. Malah beberapa orang ada yang tertawa terus.

“ Hey Simbolon ... ekspresi si idiot itu tadi lucu sekali ya ... huahahah ... “, tawa Oki.

“ Iya ... kenapa ia menangis ya? Haha ... “, tawa Ferdi. Galuh diam saja. Kepalanya masih memikirkan Sinta yang telah pergi untuk selama – lamanya.

“ Luh? “, panggil Ferdi. Galuh diam saja. Ia malah beranjak dari bangkunya dan berdiri di balik jendela.

“ Luh? Kenapa? Kau masih dendam dengan mie kemarin ya? “, tanya Ferdi. Galuh menggeleng,

“ Tidak ... aku hanya ingin menyendiri ... “, ujar Galuh. Oki dan Ferdi saling bertatapan.

“ Sudah beberapa terakhir ini kau nyaris tidak bisa tertawa ... “, ujar Oki.

“ Ya, karena aku sedang ingin menyendiri. “, ujar Galuh lagi. Oki dan Ferdi langsung berjalan perlahan menuju pintu,

“ Kau yakin tak mau pulang bersama kami? “, tanya Oki. Galuh menggeleng,

“ Ya sudah kami pulang duluan ... tapi sebelumnya ada yang ingin kutanyakan ... “, ujar Oki. Galuh menoleh,

“ Apa? “, tanya Galuh.

“ Mengapa aksen Batakmu tiba – tiba hilang sepanjang hari ini? “, tanya Oki. Galuh mengerutkan keningnya,

“ Benarkah? “, tanya Galuh. Oki mengangguk,

“ Lidah orang Batak memang handal beradaptasi ... “, ucap Ferdi. Galuh masih bertanya – tanya pada dirinya sendiri.

“ Aku juga tidak tahu. “, ucap Galuh singkat.

“ Ya sudah, kami pulang duluan ya ... “, ujar Oki. Galuh mengangguk.

Ferdi dan Oki meninggalkan ruangan itu. Galuh masih saja melamun di balik jendela kelas. Teringat masa – masa dimana ia ketakutan melihat seorang hantu yang bernama Sinta lalu ia terkunci dalam kelas ... ah, semua tinggal kenangan. Kini Sinta sudah tiada.

“ Kau tidak pulang Luh? “, tanya seseorang dari belakang.

“ Tidak, aku sedang ingin menyendiri. “, ujar Galuh. Tunggu ... bukannya ruangan itu kosong ya? Kenapa ada suara wanita?

Galuh menoleh dengan cepat. Terlihat disana ada seorang wanita cantik dengan tas merah tersangkut di bahu kanannya. Dan sepertinya orang ini ...

“ Sinta? “, tanya Galuh tak percaya. Sinta hanya tersenyum. Lalu berjalan mendekati Galuh dan langsung memeluk Galuh,

“ Kenapa ... kenapa ... kau ... bisa ... jadi ... manusia lagi... “, Galuh jadi terbata – bata saking terkejutnya.

“ Entahlah, keajaiban yang melakukannya. “, ujar Sinta. Galuh tersenyum.

“ Sekarang kau bisa menyentuhku, bagaimana rasanya? “, tanya Galuh.

“ Hangat. “, ujar Sinta singkat. Tiba – tiba Galuh melepaskan pelukannya dan berkata,

“ Mau makan mie bersamaku? Hanya mie. Kalau kau pesan makanan lain aku enggan bayar. “

TAMAT

Komentar

  1. baguuuss,, tapi batak itu kan medan ya? medan di sumatera utara.. kalo sumatera barat itu padang. cmiiw

    BalasHapus
    Balasan
    1. O iya ya? Baru sadar .. haha makasih udah diingetin :) Salam kenal ya :) (Sayogand)

      Hapus
  2. bagus buat penasaran. saya kira tadi galuhnya mati juga di masukin sumur sm ian

    BalasHapus
  3. bagus buat penasaran. saya kira tadi galuhnya mati juga di masukin sumur sm ian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih :) hehe engga kok, :) salam kenal ya :) (sayogand)

      Hapus
  4. hihihihihihi kereeennn...

    onya akun wattpad ka ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. punya, sayogand :) salam kenal ya :)

      Hapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!