Ilustrasi


Karya: Sayoga R. Prasetyo

Langit berwarna biru cerah, tapi awan kumulus hitam mulai bergerak dari arah utara. Bara yang masih berumur 7 tahun itu mulai menggoreskan ujung pensilnya ke kertas gambar yang ia rebahkan di atas pahanya. Sesekali matanya melirik Feby yang tengah bermain ayunan, tapi sedetik kemudian konsentrasinya kembali ia fokuskan pada kertas gambar yang ada di atas pahanya.

“Bara, untuk apa duduk di situ terus? Temani aku bermain ayunan..”


 Bara tidak menoleh sama sekali. Otaknya terlalu fokus ke kertas gambarnya. Sesekali Bara memperbaiki posisi kacamatanya yang merosot ke hidungnya, lalu kembali fokus menggoreskan ujung pensil ke kertas gambar.

Ya, di usianya yang masih terbilang belia, Bara sudah menggunakan kacamata. Ia tidak punya keinginan untuk bergaul dengan teman sebayanya apalagi bermain bersama. Ia lebih memilih berdiam diri dan menggambar. Satu-satunya sahabat Bara adalah Feby. Feby masih berumur 5 tahun dan tidak terlihat seperti anak perempuan seperti biasanya. Feby lebih pendiam. Entah mengapa ia tak berbeda jauh dengan Bara yang tak mampu bersosialisasi layaknya anak-anak normal.

“Bara..”

Feby kembali memanggil Bara. Kini Bara mulai menoleh. Dilihatnya Feby yang tengah berjalan mendekatinya itu.

 “Aku sedang menggambar. Aku sedang tidak ingin bermain ayunan.”

Bara berkata dengan suara sedikit serak. Feby masih berjalan perlahan mendekati Bara yang tengah duduk di pinggir taman.

“Dari dulu juga jawaban kamu seperti itu. Memang kamu gambar apa sih?”

Feby mendekat. Dilihatnya kertas gambar Bara, alis Feby sedikit terangkat. Di sana terlihat ada gambar seorang lelaki sedang bermain ayunan bersama seorang wanita.

“Itu gambar kakak kamu? Lha terus perempuan itu siapa?”

Jari jemari Feby menunjuk ke arah dua tokoh yang tergambar pada kertas gambar tersebut. Bara tersenyum kecil,

“Bukan. Ini aku, dan ini kamu. Nanti kalau sudah besar, kita akan tetap bersahabat seperti ini kan?” Jari jemari Bara mengarah ke kertas gambar yang ada di hadapannya. Feby tersenyum.

“Pasti. Kita akan jadi sahabat selamanya. Aku janji.”

***

17 tahun kemudian ...

Feby melangkah turun dari mobil mewahnya. Matanya melirik-lirik keadaan sekitar. Sungguh berbeda dengan keadaan 17 tahun yang lalu. Tapi Feby merasa senang, bisa kembali ke sebuah desa kecil dimana ia dilahirkan.

Seorang lelaki berpakaian sederhana namun rapi berjalan mendekati Feby dengan mata menyipit, lalu lelaki itu memasang wajah bahagia,

“Feby?” tanya lelaki itu. Feby termenung sejenak, lalu tersenyum,

“Bara?” tanya Feby. Mereka berdua tersenyum bersamaan sejenak, lalu berpelukan,

“Wajahmu sungguh tak berubah ... haha ... 17 tahun sudah kau meninggalkan kampung ini lalu pindah rumah ke kota, bagaimana rasanya 17 tahun tinggal di kota?” tanya Bara.

“Menyenangkan. Di sini juga menyenangkan.” ujar Feby sembari tertawa kecil.

Tiba-tiba seseorang bertubuh kekar keluar dari dalam mobil, lalu berjalan mendekati Feby,

“Siapa lelaki ini?” tanya lelaki itu dengan suara berat. Feby menoleh pada lelaki itu,

“Do, kenalkan, ini Bara ... temanku waktu kecil.” ucap Feby. Lelaki yang ternyata bernama “Edo” itu langsung menjabat tangan Bara. Tak lama, Edo menatap keadaan sekelilingnya,

“Ini kampung halamanmu? Exciting ... nice view.” Feby hanya tersenyum saat mendengar kekasihnya berkata seperti itu.

“O ya, Bara, dia ini kekasihku. Kita berdua sudah bertunangan. Rencananya bulan depan kami akan menikah.” ujar Feby. Bara hanya tersenyum kecil.

“Rumah lamaku masih ada?” tanya Feby pada Bara. Bara menoleh,

“Ada. Masih di tempat yang sama.”

***

Feby dan Edo berjalan perlahan menuju rumah lama Feby. Bara kini sudah tidak bersama mereka. Feby dan Edo terlihat bergandengan tangan dengan mesranya. Sesekali mereka berdua saling menatap satu sama lain.

“Kau yakin mobilku akan aman diparkir di tempat barusan?” tanya Edo tiba-tiba. Feby menoleh perlahan sembari tersenyum,

“Orang-orang di sini sangat ramah. Aku percaya pada mereka.”

Feby dan Edo kembali melangkah. Kini dengan tempo yang lebih cepat lagi. Baru beberapa menit, mereka sampai di sebuah rumah yang tidak begitu mewah, tapi lumayan klasik dan enak dipandang.

“Ini rumahku. Bulan kemarin sih masih ada yang mengontrak di sini, tapi sekarang rumah ini kosong.”

Edo malah asyik melirik-lirik keadaan sekitar. Memang, keadaan lingkungan sekitar yang begitu asri membuatnya ingin berkeliling dan menghirup udara segar. Sesaat kemudian pintu rumah terbuka,

“Akhirnya ... ayo masuk!” ajak Feby. Edo hanya tersenyum kecil lalu masuk ke dalam rumah tersebut. Ditatapnya rumah yang benar-benar klasik itu. Baru satu langkah dari pintu, mata Edo sudah menatap sebuah vinyl tua. Kakinya kembali melangkah perlahan, lukisan-lukisan klasik di dinding kini menarik perhatiannya. Pemandangan rumah ini benar-benar klasik. Ini benar-benar pemandangan baru di mata Edo. Tapi tak lama, perhatian Edo kembali buyar. Ya, Edo memang tidak begitu suka pada hal-hal yang berbau klasik.

“Rumah yang sangat klasik ya? Ya, waktu kecil aku tinggal di sini bersama almarhum kakekku. Ia bilang rumah ini tak boleh direnovasi sama sekali. “ ucap Feby. Sesaat kemudian ia langsung melangkah ke arah ruangan lain.

“Ini kamarku. Kamarku sangat sederhana, hanya ada kasur dan meja. “ ucap Feby lagi. Edo yang baru saja masuk ke dalam kamar Feby itu langsung melongok ke langit-langit ruangan itu. Jorok. Sarang laba-laba bersarang di mana-mana. Edo jadi harus menggepuk-gepukkan rambutnya untuk memastikan tak ada laba-laba yang mendarat di kepalanya.

“Kau mau kuajak berkeliling rumah ini lagi?” tanya Feby sembari duduk di kasur. Edo menatap ke arah jendela,

“Di luar sana ada apa?” tanya Edo. Feby ikut-ikutan melongok ke arah jendela,

“Ah itu ... ada sebuah kolam. Mau ke sana?”

***

Gemericik air menghiasi gendang telinga Edo. Suasana yang sangat indah. Belum lagi pemandangan langit yang sangat indah membuat suasana menjadi semakin hangat saja.

“Dulu aku dan Bara sangat sering duduk bersama di pinggir kolam ini.” ujar Feby. Edo menoleh cepat,

“Apa yang kalian lakukan waktu itu?”

“Diam saja. Bara bukanlah tipe lelaki yang pikirannya mudah ditebak. Kau tahu, dulu sewaktu kami berdua duduk di pinggir kolam ini, Bara hanya terdiam sembari menggambar. Aku terus mencoba mengajaknya bicara, tapi sulit.” ujar Feby.

“Menggambar?” tanya Edo kebingungan.

“Ya, Bara sangat suka menggambar. Bahkan ia lebih memilih menggambar daripada berbicara denganku.” jawab Feby.

“Bodoh sekali dia, dia malah lebih memilih melakukan hal konyol ketimbang mengobrol dengan wanita secantik dirimu.” ucap Edo sembari tersenyum pada Feby. Feby membalas senyuman kekasihnya itu. Memang, pada awalnya Feby tak menyimpan perasaan apa-apa sejak pertama kali bertemu dengan Edo. Mereka berdua dijodohkan. Tapi lama kelamaan Edo semakin menunjukkan kasih sayangnya pada Feby. Feby pun begitu.

Tiba-tiba terdengar suara desikan rumput dari arah belakang mereka berdua. Feby dan Edo langsung menoleh cepat ke arah belakang mereka.

“Siapa?” teriak Feby. Tak ada jawaban.

“Sepertinya hewan. Anjing mungkin.” ujar Edo singkat. Feby kembali mengarahkan pandangannya pada percikan air yang ada di hadapan matanya.

Langit membiru. Bunga-bunga yang sudah mekar itu terlihat sangat indah ketika terpapar cahaya matahari. Edo menarik napas perlahan-lahan, lalu menghembuskannya. Ya, bagi orang kota udara pedesaan sangat menyegarkan.

“Selain di sini, dimana lagi kau dan Bara sering bermain bersama?” tanya Edo.

“Aku dan Bara paling sering bermain di taman. Di sana ada banyak mainan anak-anak mulai dari seluncuran hingga ayunan. Kau mau ke sana?”

***

Ayunan mulai bergerak perlahan mengikuti alunan angin yang lembut. Sesekali Feby merapikan rambutnya yang tertiup angin kesana kemari. Lekuk bibirnya yang indah itu sudah mulai menunjukkan senyuman. Setelah 17 tahun lamanya, akhirnya kini ia bisa kembali duduk dan menikmati angin di ayunan itu.

“Inikah yang biasa kalian lakukan? Kau duduk di situ lalu Bara mengayunkannya?” tanya Edo dengan wajah penasaran.

“Tidak. Aku memang duduk di sini, tapi tak ada yang mengayunkan ayunan ini dari belakangku seperti saat ini. Bara tidak pernah bermain ayunan bersamaku. Ia lebih memilih duduk dan menggambar di pojok taman sana ketimbang bermain denganku.” ujar Feby sembari menunjuk ke arah pojok taman yang kini penuh dengan tumpukan sampah plastik itu.

“Huh, lelaki macam apa itu..” gerutu Edo. Tangannya masih saja mengayun-ayunkan ayunan di hadapannya. Tak lama, kepalanya mendongak sedikit. Matahari sudah mulai turun dari puncaknya. Kemudian Edo menoleh cepat pada Feby,

“Eh, pukul berapa sekarang? Ingat, perjalanan dari sini ke kota bisa mencapai 4 jam. Jangan sampai kita tiba di kota terlalu larut.”

Feby merogoh sakunya. Lalu memasang ekspresi terkejut. Sekali lagi ia rogoh sakunya, ekspresinya masih tidak berubah.

“Astaga, handphone-ku tertinggal di rumah lamaku barusan!”

Feby menyegerakan berdiri lalu berjalan cepat menjauhi ayunan yang ia duduki barusan. Edo mengejarnya dengan langkah kaki santai.

“Santai saja ...” ujar Edo dengan ekspresi datar. Feby menoleh cepat dengan alis sedikit miring,

"Santai? Handphone itu adalah pemberian ibuku 3 bulan yang lalu. Kalau aku menghilangkannya, sudah pasti ibuku marah.”

Kini Edo berjalan di samping Feby dengan langkah kaki yang tak kalah cepat dengan langkah kaki Feby.

“Ya kalau hilang nanti akan kubelikan handphone baru yang sama persis dengan handphone-mu yang hilang itu agar ibumu tidak marah.  Uang di rekeningku masih cukup untuk membeli pabrik handphone” ujar Edo.

“Ya ... ibuku belum tentu marah, hanya saja aku pasti malu telah menghilangkan benda yang telah ia berikan padaku.” ujar Feby.

Beberapa detik kemudian langkah kaki mereka berdua terhenti begitu saja. Mata mereka terbelalak. 5 orang polisi tengah berdiri tegak membawa senjata api. Salah satu diantara mereka bahkan ada yang mengarahkan senjata api miliknya ke arah mereka berdua.

Jantung Feby dan Edo berdetak cepat, ada apa ini?

Nafas Edo menderu-deru. Entah, sepertinya ia sudah menduga hal ini akan terjadi.

“Sejak kita tiba di rumah klasikmu itu, aku memang merasakan ada orang yang mengikuti kita berdua. Bahkan saat di taman. Aku ... aku sungguh tak percaya ...” bola mata Edo kini mengarah ke rerumputan yang ia injak.

“Jangan bergerak! Anda kami tangkap dengan tuduhan pencurian uang di 3 perusahaan swasta.” ujar seorang polisi sembari memasang borgol di kedua tangan Edo. Nafas Edo semakin menderu-deru, bahkan kini ditambah keringat dingin yang keluar dari dahinya.

“Do?” panggil Feby tak percaya. Pandangan Edo masih kosong. Namun seketika bola matanya kembali menoleh pada kekasihnya itu,

“Maaf ...”

Mobil polisi ber-plat merah itu menjauh perlahan-lahan diiringi suara gesekan kerikil tajam. Feby hanya bisa terdiam, sungguh ia tak percaya ternyata selama ini kekasihnya memberinya uang haram.

Feby melangkah perlahan menuju rumah lamanya itu. Memang, sejak memasuki rumah itu Feby pun merasa ada orang yang mengikutinya. Ketika di kolam belakang rumah, bahkan ketika di taman bermain. Huh, seharusnya ia sadar dari dulu, Edo mengajaknya pulang kampung hanya sekedar melarikan diri dari kejaran polisi.

Feby masuk ke kamar lamanya yang penuh debu itu. Ditatapnya ponsel miliknya yang kini tergeletak begitu saja di atas kasurnya. Ia ambil benda itu, lalu ia jejalkan ke saku kiri celana jeans-nya. Seketika ia langsung duduk di atas kasur. Dan ... eh ... tunggu ... apa itu di atas meja?

Feby kembali berdiri lalu berjalan mendekat ke arah mejanya. Ditatapnya dengan seksama. Di atas meja ada setumpuk kertas yang diatasnya ada kotak cincin. Aneh, padahal seingatnya orang yang terakhir kali memasuki kamarnya itu adalah Edo dan dirinya sendiri. Lantas siapa yang menaruh benda-benda ini di atas meja?

Feby mengambil kotak cincin berwarna merah yang ada di atas meja. Dibukanya kotak itu dengan perlahan. Ya, isinya memang sebuah cincin emas. Tapi ... apa kenapa benda ini ada di atas mejanya? Apa maksud orang yang menaruh benda berharga ini di atas mejanya?

Lantas ditutupnya kotak cincin misterius itu, lalu ia ambil setumpuk kertas yang juga ada di atas meja. Tumpukan kertas itu tidak terlalu tebal, hanya beberapa lembar saja. Ia lihat apa isi dari kertas itu, gambar. Ya, semua kertas berisi guratan-guratan pensil yang sangat indah. Ditatapnya gambar di lembar pertama. Di sana tertulis,

“Kau dan Dia”

Terlihat jelas itu adalah gambar seorang lelaki yang tengah bergandengan tangan dengan seorang wanita. Tapi anehnya pada gambar itu hanya tampak bagian belakangnya saja, wajah kedua orang itu tidak terlihat sama sekali.

Feby membuka lembar kedua. Di sana masih tertulis tulisan yang sama,

“Kau dan Dia”

Terlihat jelas itu adalah gambar seorang lelaki yang tengah duduk di pinggir kolam bersama dengan seorang wanita. Tapi lagi-lagi, gambar itu hanya tampak bagian punggungnya saja, wajah kedua orang itu masih tidak terlihat.

Kini lembaran ketiga. Di sana masih tertulis kata-kata yang sama,

“Kau dan Dia”

Itu adalah gambar seorang lelaki yang tengah bermain ayunan bersama seorang wanita. Sang wanita duduk di ayunan, dan sang lelaki mengayunnya dari belakang. Dan ... lagi-lagi, gambar itu hanya tampak bagian belakangnya saja. Wajah kedua orang itu masih tidak terlihat. Feby mulai mengangkat alisnya, apa ini? Apa maksud dari gambar-gambar ini?

Kini lembar terakhir. Feby meliriknya dengan mata sedikit terbelalak. Di sana tertulis,

“Aku”

Itu adalah gambar seorang lelaki yang tengah gantung diri dengan wajah yang sangat menyeramkan. Nafas Feby mulai tidak beraturan. Kini ia tahu apa maksud dari untaian gambar ini. Tapi ... siapa yang menggambarnya?

Tunggu ... ada satu lembar kertas lagi yang ada di atas meja namun Feby belum menyentuhnya. Feby menatap kertas itu dengan seksama. Kertas itu memang berisi gambar, tapi tidak ada kata-kata apapun yang disampaikan si penggambar. Di sana hanya ada gambar seorang wanita yang duduk di ayunan, lalu ada gambar seorang lelaki di belakang wanita itu. Entah, sepertinya lelaki itu sedang mengayunkan ayunan itu. Gambar di lembar ini terlihat lebih buruk ketimbang di kertas-kertas yang lainnya. Kertasnya pun terlihat lebih kusam.

Tunggu ... ini ...

Feby melangkahkan kakinya ke luar rumah dengan cekatan, lalu melirik-lirik sekitarnya. Sepi.

“Bara? Bara?”

Kakinya melangkah semakin jauh dari rumah lamanya. Tak peduli ada banyak kerikil yang melukai kakinya, tak peduli awan sudah menghitam, ia terus saja berjalan.

“Bara!? Bara!?”

Nafas Feby mulai tak beraturan. Keringat mulai mengucur dari dahinya. Kepalanya masih saja sibuk menoreh ke sana ke mari. Aneh, kampung itu sangatlah sepi. Sepertinya awan hitam menyuruh seluruh warga untuk berlindung di rumah mereka masing masing.

“Bara ... aku tahu aku salah telah meninggalkanmu ... maafkan aku ...”

Entah pada siapa Feby bicara, yang jelas kata-kata itu terlontar dari mulutnya dengan sendirinya. Feby berhenti berjalan, mata Feby mulai berkaca-kaca. Ia merenungi semua hal yang telah terjadi di sepanjang hari ini. Kini ia sadar, Bara adalah lelaki terbaik yang pernah ia temui.

Feby kembali menoreh sekitarnya, tak terlihat ada batang hidung Bara. Sepertinya Bara sudah benar-benar menghilang. Feby merogoh sakunya, mengambil sebuah kotak cincin berwarna merah tua. Lalu ia buka kotak itu, dan ditatapnya cincin yang ada di dalamnya seraya menahan tangis.

Hujan turun. Tetes demi tetes air hujan membasahi wajah Feby. Kini air hujan yang turun telah bercampur dengan air matanya. Kini tak ada seorang pun yang tahu kalau Feby sedang menangis, terkecuali Feby sendiri ... dan Bara yang kini tersimpan di hati Feby.

Komentar

share!