Black Terorist


Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Ah ya Tuhan ... tak bisakah kepalaku berhenti memikirkan tugas? Satu hari saja ... “, keluh Rene pada Viera. Viera yang tengah membaca buku itu langsung menutup bukunya,
“ Ah ... aku juga mulai bosan harus membaca buku – buku semacam ini. “, keluh Viera. Mereka berdua lantas menghela nafas bersamaan. Viera menatap sekelilingnya. Disana penuh dengan orang – orang berwajah serius, jarang terlihat ada orang humoris disana.


“ Aku benar – benar menyesal harus masuk ke universitas semacam ini. “, ujar Rene.

“ Sama, aku juga tak pernah mau masuk kuliah jurusan hukum ... di sini membosankan sekali. “, ujar Viera.

“ Tugas apa saja yang belum kau kerjakan? “, tanya Rene.

“ Sepanjang bulan ini. “, ujar Viera dengan jujurnya.

“ Sepertinya aku sedang mengalami titik jenuh belajar hukum. Kalau bukan karena orangtuaku, aku tak akan masuk ke universitas semacam ini. Aku tak punya cita – cita menjadi seorang pengacara. “, lanjut Viera.

“ Kita senasib. “, tukas Rene. Lantas mereka melamun berdua. Viera kembali menatap sekelilingnya, ruangan yang ia tempati sekarang cukup besar. Ada begitu banyak orang di sana, tapi anehnya tak ada seorangpun yang berbuat kegaduhan. Rata – rata orang – orang di sana doyan membaca. Bahkan saat di kantin sekalipun.

Ponsel Viera bergetar tanda ada panggilan masuk. Viera merogoh sakunya dan segera menjawab telepon tersebut,

“ Halo “, ucap Viera.

Tak ada jawaban.

“ Halo? “, ucap Viera sekali lagi.

Masih tak ada suara yang terdengar.

Akhirnya Viera me-reject telepon tak jelas barusan.

“ Siapa, Ra? “, tanya Rene. Viera menggeleng,

“ Entahlah, tak ada suara siapapun. “, tukas Viera.

“ Oh ... “, ucap Rene singkat. Mereka berdua lantas diam. Mata Rene melirik ke arah jendela,

“ Ra, kapan kau mau mengerjakan tugasmu? “, tanya Rene.

“ Entahlah ... memangnya kenapa? “, lanjut Viera.

“ Bagaimana kalau kita bersantai – santai di taman belakang sana? Di sana sepi, ada yang ingin aku ceritakan padamu. “, ujar Rene.

“ Kenapa harus di sana? “, tanya Viera.

“ Karena ... ini sedikit private. Aku tak mau ada orang lain yang mendengarkan. “, tukas Rene. Viera mengangguk,

“ Ayo.. “

***

“ Awan musim kemarau memang indah ya ... “, ucap Rene.

“ Kau mengajakku ke tempat sesepi ini hanya untuk berbicara tentang awan kemarau? “, tanya Viera. Rene menghela nafas,

“ Baiklah kalau kau mau langsung to the point ... “, ucap Rene. Terlihat ia merenung sejenak sebelum berbicara. Viera menatap mata Rene dengan tajam.

“ Aku baru saja putus dengan pacarku. “, ujar Rene. Viera menganga,

“ Hah? Pacarmu si dokter spesialis jantung itu? Kapan kalian putus? Kenapa? “, tanya Viera tak percaya.

“ Seminggu yang lalu aku melihat dia sedang berduaan dengan wanita lain. Semalam aku lepas kendali dan menumpahkan segala emosiku di depan matanya. Dia tidak terima. Dia bilang dia tidak selingkuh ... huh ... dasar lelaki tak pernah mau mengaku ... “, ujar Rene menjabarkan kronologis kejadiannya.

“ Tapi ... kelihatannya ia sangat perhatian padamu ... hampir setiap hari ia menemanimu kemanapun kau pergi. Apa mungkin orang sesetia itu selingkuh? Apa kau tidak salah lihat waktu itu? “, tanya Viera.  Rene mengangguk dengan pasti,

“ Ya, aku sangat yakin. Waktu itu aku melihatnya sedang berpegangan tangan dengan seorang wanita berambut panjang.. “, ujar Rene.

“ Huh ... tak disangka, pacar yang baik dan setia saja ternyata doyan selingkuh. Bagaimana denganku? “, ujar Viera dengan wajah sedih.

“ Kau punya pacar, Ra? “, tanya Rene tak percaya.

“ Ya, tapi sudah setahun lebih ia tidak bersua denganku ... “, ucap Viera.

“ Kenapa? Ayo ceritakan padaku ... “, ucap Rene memaksa. Viera menghela nafas sejenak. Imajinasinya mendadak melayang – layang ke masa lalu. Suara desiran angin musim kemarau membuat ingatan Viera semakin kuat akan kenangan bersama dengan pacarnya beberapa tahun yang lalu.

“ Jadi sebenarnya pacarku itu ... “, belum selesai Viera bercerita, tiba – tiba ponselnya bergetar kembali tanda ada panggilan masuk. Viera merogoh sakunya dengan cekatan lalu menjawab telepon tersebut,

“ Halo “, ucap Viera.

Tak ada jawaban.

“ Halo? “, ucap Viera sekali lagi.

Masih tak ada jawaban.

Lantas Viera me-reject telepon tersebut.

“ Huh ... daritadi aku dijahili terus ... siapa sih ini? “, ucap Viera dengan nada sedikit kesal.

“ Sudah, orang iseng jangan dianggap serius ... ayo lanjutkan saja cerita yang tadi ... aku penasaran. “, tukas Rene.

“ Baiklah ... pacarku bernama David. Aku pertama kali mengenalnya saat MOS SMA. Waktu itu aku adalah peserta didik baru, dan dia adalah panitia MOS. Sejak perkenalan, kita mulai dekat. Hingga akhirnya saat aku naik ke kelas 2 SMA, ia menjadi pacarku. “, ujar Viera menjelaskan.

“ Bagaimana sikapnya? “, tanya Rene dengan wajah penasaran.

“ Dia sangat romantis. Selama setahun kita berpacaran, aku sungguh merasa nyaman dengannya. Dia benar – benar lelaki yang penuh kejutan. “, ujar Viera.

 “ Sekarang kau masih berpacaran dengannya? “, tanya Rene lagi. Viera mengangguk perlahan,

“ Ya. Tapi hubunganya yang tidak jelas. Sejak aku menginjak bangku kelas 3 SMA, ia langsung melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi di Amerika. Ia pergi tanpa pamit.. entah bagaimana kabarnya sekarang ... aku sungguh merindukannya. “, ujar  Viera.

Tiba – tiba ponsel Viera kembali berdering. Viera menjawabnya dengan cepat,

“ Halo, siapa ini!? “, ujar Viera dengan nada sedikit keras. Sepertinya ia benar – benar kesal dengan kelakuan si penelpon jahil itu.

Hello ... “, suara itu seperti suara robot, tetapi sangat berat seperti suara laki – laki. Viera merasa sedikit ketakutan.

“ Halo siapa Anda? Mengapa Anda menggunakan private number? “, tanya Viera.

I can see you now. I know you are sitting with your friend right now, aren't you? “, suaranya masih seperti robot. Viera memeriksa sekeliling, tak terlihat ada seseorang yang sedang menelpon.

Where are you? “, tanya Viera dalam bahasa Inggris juga.

I'm on there tonight. See you..

Telepon terputus..

Viera menarik nafas dalam – dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Pikirannnya tidak karuan.

“ Ada apa, Ra? “, tanya Rene. Viera terdiam, tatapannya kosong.

“ Ra? Orang asing menelponmu? “, tanya Rene lagi.

“ Seseorang menerorku. Dia menggunakan private number dan alat pengubah suara jadi aku tak dapat mengenali ciri – cirinya. “, ujar Viera. Rene jadi takut.

“ Apa? “, tanya Rene tak percaya.

“ Ia bilang ia ada di taman ini malam ini, dan dia ingin aku menemuinya. “, ujar Viera.

“ Kita lapor polisi. “, ucap Rene sembari berdiri. Viera mengangguk,

“ Ayo “

***

Sinar rembulan menyinari wajah Viera. Rasa takut menyelimuti raganya saat ini,
“ Tenanglah, ada beberapa orang polisi yang berjaga – jaga di sekitar taman tersebut. Jika peneror itu bergerak mendekatimu hingga kurang dari 5 meter maka polisi akan menembaknya. Tenang, mereka tak akan melukaimu. “, ujar Rene menenangkan Viera. Viera mengangguk.

“ Aku akan menunggu di sini. “, ujar Rene. Viera mengangguk lagi untuk yang kedua kalinya. Lalu Viera berjalan perlahan menuju taman belakang kampusnya. Sedangkan Rene ada di halaman depan kampus. Taman belakang kampus begitu sepi apalagi pada malam hari. Viera berjalan perlahan – lahan ....

Tiba - tiba lampu kampus mati total. Viera panik. Tak mungkin polisi dapat melindunginya jika ia berada di kegelapan seperti ini. Terlihat ada bayang – bayang lelaki berpakaian hitam sedang berdiri di tengah taman. Wajah lelaki itu tertutup topeng berwarna putih. Viera mendekat dengan sangat perlahan. Lalu berhenti sekitar 10 meter untuk berjaga – jaga siapa tahu lelaki itu membawa senjata tajam yang dapat melukainya.

“ Siapa kau? Apa maumu? Who are you? What do you want? “, tanya Viera pada lelaki berpakaian gelap itu. Lelaki itu terdiam seperti sedang melamun. Wajahnyapun tidak menatap ke arah wajah Viera.

“ Tolong katakan siapa Anda!? Tolong jangan main – main dengan saya, saya orang hukum. “, ujar Viera dengan sedikit tegas. Lelaki itu menoleh perlahan.

“ Orang hukum? Apa gelar Anda? “, tanya lelaki bertopeng itu. Kini giliran Viera yang terdiam. Ya, dia baru menjalani semester pertama di kampusnya. Tentu ia belum memiliki gelar apapun.

I just want to give you something.. “, lelaki itu lantas mengeluarkan setangkai bunga mawar lalu berjalan perlahan mendekati Viera.

Tiba – tiba terdengar suara tembakan yang cukup mengagetkan. Lelaki bertopeng itu terjatuh, terlihat jelas kalau lelaki itu menahan rasa sakit di perutnya.

Viera mendekati lelaki tersebut, diambilnya bunga mawar yang sudah terjatuh ke tanah. Diciumnya bunga mawar tersebut ... harum parfum yang khas. Sepertinya Viera mengenal orang ini. Dibukanya topeng lelaki itu, dan ternyata lelaki itu adalah ... David.

“ David? “, tanya Viera tidak percaya. David tak menjawabnya karena menahan rasa sakit yang teramat sangat di perutnya.

“ David ... kenapa ... “, isak tangis Viera terdengar cukup keras.

“ Setahun lebih kita tak bertemu, I just want to make you surprised ... “, ujar David dengan nada kesakitan.

I'm back to Indonesia just to see you ... I just want you to know that I still loving you until this time ... “, lanjut David. Viera semakin terisak.

Segerombolan polisi beserta Rene datang mendekat. Mendengar isak tangis Viera, Rene langsung menghentikan langkahnya. Itukah David?

“ I love you ... too. “, ucap Viera. David tak menjawab, erangan rasa sakit dari mulut David terhenti. Viera termenung.

Tiba – tiba ponsel Viera bergetar tanda ada panggilan masuk. Viera langsung menjawabnya,

“ Halo? “, ucap Viera dengan nada masih terisak.

“ Good Bye.. “, terdengar suara robot berbicara.

Lalu telepon terputus. Viera termenung,

“ Kau benar – benar selalu punya trik yang mengejutkan. This is your last trick, and I'm very surprised ... Thank you..

Komentar

share!