20 Menit


Karya: Sayoga R. Prasetyo

DHUAARRR !!!

Ledakan kedua. Retakan pada kaca jendela semakin parah. Langit-langit mulai mengeluarkan debu-debu halus.


“Lantai 14 !!!” teriak seseorang dengan seragam merah kekuningan. Pelindung kepalanya sudah mulai miring, keringat tak henti-hentinya mengalir dari wajah orang itu.


“Berarti ledakan berikutnya akan terjadi 20 menit lagi di lantai 12 !!! Kita harus tiba di sana dalam kurun waktu sepuluh menit! Butuh waktu setidaknya 10 menit untuk evakuasi korban !!!”, teriak orang yang satunya lagi. Orang itu memakai seragam yang sama dengan orang pertama, hanya saja tubuhnya lebih kurus dan lebih tinggi.

Seseorang dengan seragam yang sama seperti mereka berdua berjalan perlahan di belakang kedua orang itu sembari menggenggam sebuah walkie talkie. Matanya begitu awas memperhatikan keadaan ruangan sekitar.
“9 menit lagi kita harus tiba di lantai 12, ayo kerja lebih cepat !!!”

***

Sebuah jam dinding terjatuh. Mungkin karena getaran dari ledakan barusan terlalu kuat. Vinny memejamkan matanya, takut matanya kemasukan debu dari langit-langit ruangan. Posisinya kini terikat di sebuah kursi kayu. Tidak, ia tidak sedang diikat dengan tali, melainkan dengan kabel berwarna hijau dan merah. Sebuah kotak kardus seukuran rumah barbie tersimpan di atas paha Vinny dengan posisi vertikal. Gerry tengah mengoprek isi dari kardus itu. Keringat tak henti-hentinya keluar dari wajah Gerry. Vinny menatap Gerry dengan wajah cemas.

“Aku tak berani melihat benda mengerikan itu ... berapa lama lagi waktunya?”

Gerry langsung menatap Vinny dengan wajah serius,

“18 menit. Aku benar-benar tak mengerti bagaimana cara menghentikan benda ini.”

Gerry kembali sibuk mengoprek-oprek benda di dalam kardus itu.

“Kau ingat wajah si pelaku?” tanya Gerry.

“Tidak, mereka berlima menggunakan masker. Postur tubuhnya pun hampir semuanya sama.”, jawab Vinny.

“Apa mereka meninggalkan pesan padamu? Entah itu kode atau cara mematikan benda ini?”, tanya Gerry. Keringatnya masih bercucuran.

“Mereka hanya berkata bahwa benda ini akan meledak otomatis 20 menit setelah ledakan di lantai 14. Dan apabila kabel yang melilit tubuhku ini terputus, maka benda ini akan meledak saat itu juga.”, jawab Vinny. Sesekali Gerry menggaruk-garukkan kepalanya. Ia benar-benar bingung harus bagaimana.

“Berapa lama lagi waktunya?”, tanya Vinny dengan nada yang semakin gelisah. Ia takut benda itu benar-benar akan meledak dan membunuhnya.

“15 menit.”, ujar Gerry singkat.

“Ayolah, tak bisakah kau melakukan sesuatu agar kita berdua bisa selamat?”, tanya Vinny. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Hei, aku ini hanyalah seorang pegawai bank, aku benar-benar tak paham dengan benda yang penuh dengan puluhan kabel berwarna-warni ini.”, ucap Gerry dengan nada panik. Terdengar isak tangis Vinny. Gerry yang mendengar suara isak tangis Vinny langsung menghentikan aktivitasnya. Kemudian duduk di lantai.

“Kenapa?”, tanya Vinny seraya mencoba menghentikan tangisannya. Gerry menghela napasnya sembari menghapus air keringat yang bersarang di dahinya.

“Percuma. Buang-buang waktu. Lebih baik aku habiskan 15 menit terakhir ini untuk menikmati sisa-sisa hidupku di dunia ini.”, ucap Gerry. Vina hanya termenung menatap Gerry lalu menatap sebuah timer yang menyala dari dalam kardus.

Cukup lama mereka berdua terdiam di posisi seperti itu. Gerry sibuk menatap ke arah lorong yang ada di sebelah kanannya. Seketika ia mengingat masa lalunya, mengapa hal ini bisa terjadi ....

Gerry dan Vinny mulai mengenal satu sama lain di sebuah bank swasta. Mereka bekerja di ruangan yang sama. Kedekatan mereka semakin terlihat ketika jam makan siang. Ya, Gerry selalu makan siang satu meja dengan Vinny.

Gerry mulai menyukai Vinny. Dan ia juga tahu bahwa Vinny juga menyukainya. Tapi sayang, manajer umum bank dimana mereka bekerja menolak keras ada karyawan yang berpacaran dengan sesama karyawan. Jika Gerry berpacaran dengan Vinny, maka karirnya cenderung terancam.

Siang ini, tepat hari ini, Vinny mengambil cuti. Gerry melewati jam makan siang sendirian. Untuk pertama kalinya. Ketika Gerry mulai duduk di depan komputernya, Vinny menghubungi Gerry lewat ponsel. Dengan napas yang tidak beraturan, Vinny memberi tahu bahwa ia tengah terjebak sendirian di lantai 12 sebuah apartemen yang kini sedang dikepung bom hampir di setiap lantai.

Gerry langsung bergegas datang ke sana. Setibanya di lokasi, Gerry dihalangi oleh beberapa petugas karena khawatir ada ledakan bom berikutnya. Tapi Gerry tidak peduli. Nyawa Vinny adalah segalanya bagi Gerry. Seribu bom mengepung pun, tak akan pernah bisa menggoyangkan keberanian Gerry untuk menyelamatkan orang yang ia cintai.

“Berapa lama lagi?”, tanya Vinny tiba-tiba.

Lamunan Gerry langsung buyar. Keringat di sekujur tubuhnya sudah mulai mengering. Terdengar riuh suara sirine ambulance, mobil polisi, pemadam kebakaran, dan suara senapan. Gerry bergegas berdiri dan mendekati kotak kardus yang tersimpan di paha Vinny. Ditatapnya timer yang masih menyala itu ...

“1 menit.”, ucap Gerry singkat sembari menatap wajah Vinny dalam-dalam.

“Ya sudah, tunggu apalagi!? Cepat lari lewat tangga darurat sebelum bom ini meledak!”, ujar Vinny dengan nada sedikit panik. Gerry diam saja.

“Apa yang kau tunggu? Tak usah pedulikan aku, selamatkan dirimu sendiri!”, ujar Vinny lagi. Gerry masih saja diam. Pandangannya seolah kosong. Vinny terlihat bingung dengan tingkah laku Gerry yang seperti robot itu.

“Hei? Hei!? Kau lihat, 20 detik lagi! Lari!!!”, teriak Vinny mencoba mengaburkan lamunan Gerry. Tapi Gerry masih diam saja.

“Kau tahu apa yang akan dilakukan seorang lelaki dan wanita ketika mereka berdua tahu bahwa mereka akan mati 20 detik lagi?”, tanya Gerry tiba-tiba. Vinny terlihat bingung.

“Apa?”, tanya Vinny tak mengerti. Tiba-tiba Gerry bertekuk lutut menghadap ke arah Vinny. Sesekali ditatapnya timer yang angkanya terus berubah itu,

10 ... 9 ... 8 ...

“Vin ...”

Gerry berkata-kata dengan wajah tertunduk. Entah memang tegang menatap timer bom itu atau apa ...

7 ... 6 ...

“Apa?”

Vinny menatap Gerry dengan wajah polos. Entah mengapa kini ia tidak panik seperti beberapa waktu lalu.

5 ...

Gerry menatap wajah Vinny,

“Aku ...”

4 ...

“Aku ...”

3 ...

“Sebenarnya aku ...”

2 ...

“Aku mencintaimu.”

1 ...

...

Gerry dan Vinny saling bertatapan. Seketika tatapan mereka berdua langsung mengarah ke arah timer bom yang ada di antara mereka.

Berhenti.

Timer itu berhenti di detik ke-1 ... ada apa ini?

3 orang berseragam merah kekuningan datang berlarian melalui tangga darurat. Lalu mendekati Gerry dan Vinny.

“Kalian tidak apa-apa?”, tanya salah seorang dari mereka. Gerry dan Vinny tidak menjawab sama sekali. Mereka berdua tertunduk. Entah apa yang terjadi.

“Gawat Pak, sepertinya mereka berdua mulai keracunan udara.”, ucap tim evakuasi yang lain.

“Hey, kalian! Cepat periksa bom yang melilit wanita itu!”

2 orang tim evakuasi mendekati kardus yang penuh dengan kabel berwarna-warni itu. Lantas mereka berdua saling bertatapan sejenak, lalu menatap pimpinan mereka,

“Ini bom aktif Pak. Tapi anehnya ... tidak meledak. Timernya berhenti di detik ke-1.”, ucap salah seorang dari mereka. Pimpinan mereka langsung bergegas ke arah tangga darurat.

“Cepat evakuasi mereka berdua, debu dari langit-langit mulai memenuhi ruangan ini. Cepat!”

Ketiga tim evakuasi barusan akhirnya berhasil keluar dari apartemen tersebut dengan membawa 2 orang korban dari lantai 12. Beberapa tim evakuasi lain bergegas mendekati mereka.

“Bom di lantai 12 berhasil dijinakkan. Ada 2 orang korban, seorang wanita, seorang pria. Wanita itu tidak terluka sama sekali, hanya saja pria yang satu itu harus dibawa ke rumah sakit karena terlalu banyak menghirup gas beracun.”

***

Sirine ambulance terdengar riuh di telinga Vinny. Tubuhnya saat ini memang lemas, tetapi kondisi Gerry jauh lebih parah ketimbang dirinya. Ditatapnya Gerry yang kini terbaring lemah di hadapannya. Digenggamnya tangan kiri Gerry, agak dingin.

Tiba-tiba kelopak mata Gerry terbuka perlahan. Vinny tersenyum,

“Kau sudah bangun?”, tanya Vinny sembari tersenyum. Mata Vinny berkaca-kaca, entah mengapa.

“Ah iya, kau terlalu lemah untuk bicara saat ini.”, ucap Vinny lagi. Gerry hanya menatap Vinny dengan tatapan lemah.

“O ya, aku berhutang kata-kata padamu ...”

“... Aku juga mencintaimu ...”

Komentar

share!